Mengapa begitu banyak bunga bangkai mekar pada 2016?

bunga bangkai Hak atas foto Michael Hutchinson/naturepl.com

Bunga bangkai butuh mengumpulkan energi selama 10 tahun untuk mekar, tapi secara misterius, pada 2016 lalu belasan bunga raksasa itu mekar hanya saling berselang beberapa pekan.

Jumat 29 Juli 2016 adalah malam yang gerah di New York City, melengkapi bulan berudara lengket yang menyiksa.

Namun ribuan warga yang berasal dari lima wilayah membanjiri rumah kaca yang terik di Bronx. Mereka bertekad untuk melihat bunga berbau busuk yang memiliki jendela reproduksi singkat tapi spektakuler.

Amorphophallus titanum - yang diterjemahkan sebagai "penis raksasa yang bentuknya aneh" - memegang rekor sebagai bunga tidak bercabang terbesar di dunia. Tanaman ini hampir tidak ada yang dibudidaya, dan waktu mekarnya tak terduga dan langka, terjadi kira-kira sekali setiap lima sampai 10 tahun.

Ini adalah hal yang membuat orang-orang pasti berdatangan. Tapi mungkin sebagian besar orang yang berlomba mengunjungi New York Botanical Garden Jumat itu juga ingin merasakan aroma khas bunga bangkai: bau busuk daging yang tajam yang tercium selama puncak bunga mekar, yaitu selama 24-36 jam.

Aroma kuat inilah yang membuat tanaman itu dijuluki bunga bangkai.

Hak atas foto Getty Images

Ketika 'pertunjukan' berakhir, 25.000 pengunjung larut dalam kegembirasan karena sukses mencium aroma busuk bunga sambil mengambil 'selfie' untuk kenang-kenangan. Lainnya memilih untuk nonton lewat siaran langsung di Internet (live streaming). New York Botanical Garden yang terakhir kali menyaksikan bunga bangkai mekar pada 1939, menyatakan spesimen itu sebagai "permata hortikultura yang butuh 10 tahun untuk dilihat."

Tapi beberapa hari kemudian, bunga bangkai juga mekar di Indiana, Florida, Carolina Utara, Wisconsin, dan Distrik Kolombia.

Tiga hari setelah itu, sebuah tanaman di Colorado mengikuti jejak mereka, diikuti oleh mekarnya bunga di Missouri, Hawaii, Washington, New Hampshire, dan Massachusetts. Sebelum tahun 2000, kurang dari 50 bunga bangkai dicatat pernah mekar dalam penangkaran selama satu abad.

Apa yang terjadi? Mengapa pada 2016, banyak sekali bunga bangkai tiba-tiba mekar?

Amorphophallus titanium ditemukan pada 1878 oleh botanis asal Italia Odoardo Beccari di pulau Sumatera, Indonesia.

Bunganya memiliki batang tebal berwarna kuning kehijauan di bagian tengah yang disebut spadix (gagang) yang bisa tumbuh tinggi hingga dua meter, dikelilingi lapisan berbentuk jubah dengan tekstur daun berkerut yang disebut spathe.

Hak atas foto Neil Lucas/naturepl.com

Terletak di dasar spandix, beberapa ratus bunga betina berukuran kecil tumbuh di lingkaran bawah lapisan melingkar ribuan serbuk sari yang kecil. Selama mekar, spathe membuka dan memperlihatkan lapisan dalamnya berwarna merah tua dan bau busuk pun memenuhi udara.

Baunya persis seperti apa?

Analisis kimia mengungkap bahwa aroma itu memiliki senyawa asam isovaleric (keju, keringat), dimetil disulfida (bawang putih), dimetil trisulphide (daging yang), indole (feses) dan trimetilamina (ikan busuk).

Aroma ini muncul menjelang malam, dan semakin intensif pada malam hari, dan secara bertahap memudar ketika pagi tiba.

Warna merah yang mencolok dan baunya yang tak sedap dirancang untuk menarik serangga penyerbuk. Menurut ahli Amorphophallus, Wilbert Hetterscheid dari Von Gimborn Arboretum di Doorn, Belanda, target utamanya adalah kumbang bangkai kecil malam yang mencari daging busuk untuk bertelur.

Selain memproduksi aroma busuk, senyawa kimia yang terkandung pada bunga menaikkan suhu tanaman itu menjadi lebih dari 36C - seperti suhu tubuh manusia - untuk menyempurnakan ilusi daging yang membusuk dan membantu melepas senyawa tak stabil ke hutan tropis yang lebat.

Ini juga yang membuat tanaman ini besar seperti raksasa. Karena A. titanum bukan penyerbuk mandiri, dia hanya dapat bereproduksi jika kumbang dan serangga lainnya membawa serbuk sari ke individu yang sedang mekar. Spandix dan spathe bertindak bersama-sama sebagai semacam pengeras suara penciuman, memikat penyerbuk dari jauh.

Seperti yang Anda bayangkan, memproduksi bunga berukuran kolosal memerlukan energi yang besar juga.

Hak atas foto JEAN-SEBASTIEN EVRARD / AFP

Energi disediakan oleh umbinya - akar besar yang mengandung zat tepung dan berbobot hingga 100 kg. Selama tahun-tahun tanpa bunga, umbi menumbuhkan sebuah daun besar tunggal dengan tinggi 3-4 meter yang mirip pohon kecil.

Dibutuhkan beberapa tahun fotosintesis untuk mengumpulkan energi yang cukup untuk mekar, dan bahkan kemudian hanya bisa mempertahankan kemekaran itu dalam waktu singkat yaitu 24-36 jam sebelum semuanya runtuh.

Mekarnya bunga benar-benar terjadi dalam dua tahap selama dua malam berturut-turut. Pada malam pertama, kumbang bangkai yang membawa serbuk sari menyelam ke bawah bunga dan memasukan serbuk sari ke bunga betina reseptif. Makanan yang melimpah, dan lapisan licin yang disekresikan oleh spathe "menjaga kumbang dalam bunga untuk sementara waktu," menurut Hetterscheid.

Fase pejantan dimulai sekitar 24 jam kemudian dan pada saat ini segalanya runtuh.

Wangi memudar, cairan yang dihasilkan spathe mengering, dan serangga keluar dari bawah bunga. Saat mereka keluar, mereka melewati bunga jantan yang serbuk sarinya telah luruh, menuju ke aroma bunga mekar fase-betina yang terjadi di dekatnya.

Waktu mekar yang singkat ini tentu menjadi alasan persuasif mengapa beberapa metode penyerbukan serempak bisa bermanfaat bagi spesies ini.

"Bila Anda memiliki bunga yang hanya bertahan beberapa hari, itu seperti sebuah jendela peluang yang sempit," kata Marc Hachadourian, direktur rumah kaca di New York Botanical Garden. "Beberapa jenis pemicu yang membuat tanaman mekar di alam liar akan memastikan Anda memiliki lebih dari satu tanaman yang berbunga."

Tapi apa sebenarnya memicu serentetan bunga bermekaran pada tahun 2016? Setidaknya ada 32, sebagian besar di AS tapi juga di India, Australia, Denmark, Belgia dan Inggris - satu teori adalah bahwa semua tanaman bisa mencapai kematangan pada saat yang sama waktu.

Hak atas foto Getty Images/ Hulton Archive

Menurut Emily Colletti, spesialis Amorphophallus di Missouri Botanical Garden, banyak tanaman dalam penangkaran saat ini adalah keturunan generasi kedua dari benih didistribusikan secara luas pada tahun 1993 dan 1995, menjadikan mereka sepupu. "Kami menemukan bahwa dibutuhkan rata-rata 10 tahun untuk mencapai tahap berbunga," katanya. Skala waktu ini akan menjelaskan puncak bunga mekar sejak 2013.

Namun, Hachadourian ragu atas teori itu. "Saya sudah bicara dengan beberapa kebun raya lain dan saya tidak bisa menemukan kaitan bahwa mereka semua berasal dari sumber benih yang sama," katanya. Namun demikian, benih yang terdistribusi luas, tidak peduli nenek moyang mereka, mungkin menjadi faktor yang berperan.

Kew Gardens di London, yang mengalami bunga bangkai mekar 11 kali pada 2005-2009, dan juga sekali pada April 2016, menganggap perlakuan yang sama terhadap koleksi mereka dan peningkatan pemahaman hortikultura tentang cara terbaik merawat tanaman adalah faktor.

Teori lain, kata Hachadourian, adalah musim panas panjang yang bersifat hangat dan kering di timur laut Amerika Serikat bisa memicu pemekaran massal pada tahun 2016. Banyak spesies tumbuhan - dari bambu hingga anggrek - memiliki momen bermekaran simultan yang massal, jelasnya.

"Tiap spesies memiliki faktor yang berbeda untuk mengontrol momen ini," kata Hachadourian. "Beberapa mungkin mekar karena perubahan cuaca, lingkungannya, perubahan rotasi bulan, respons terhadap temperatur, atau pemekaran bunga massal setelah kebakaran."

Tapi riset terkait bunga bangkai masih sedikit. Karena waktu mekarnya yang singkat, butuh banyak pekerjaan untuk mengumpulkan data yang mengindikasikan hubungan - jika bukan relasi kausatif - antara iklim dan mekarnya bunga bangkai.

"Pada titik ini," kata Hachadourian, "hanya tanaman itu yang tahu."

Berita terkait