Melacak para pemburu orangutan di Kalimantan

Orangutan Hak atas foto Dimas Ardian/ Getty Images
Image caption Orangutan banyak diburu untuk dijadikan hewan peliharaan.

Kera besar ini direnggut dari rumahnya untuk hidup sebagai "hewan peliharaan", tetapi detektif yang menyamar menelusuri kasus ini.

Mereka bertemu dengan petunjuk tersembunyi di kafe, pasar, dan kadang-kadang di rumah mereka. Kemampuan sosial mutlak perlu; Anda haruslah seorang yang suka mengobrol agar orang terbuka bercerita mengenai para penculik di lingkungan mereka.

Para penyelidik telah membangun sebuah jaringan informan. Mereka secara rutin menerima petunjuk rahasia bahwa telah terjadi penculikan lain.

Tetapi tindakan ini bisa membahayakan. Ketika korban penculikan diselamatkan, para kriminal seringkali mencari tahu siapa orang yang telah melacak mereka, dan berupaya untuk membalas dendam. Untuk melindungi diri mereka, seluruh penyelidik memiliki cerita penyamaran, dengan cermat disusun dengan cermat untuk membantu mereka berbaur.

Ini adalah kehidupan yang dijalani para investigator kejahatan alam liar Indonesia. Selama 10 tahun terakhir mereka telah menyelamatkan ratusan orangutan yang tangkap dan dijual secara ilegal kepada penawar tertinggi.

Perdagangan ini menguntungkan, dan para investigator menghadapi perjuangan yang berat. Tetapi setelah bekerja selama satu dekade, mereka berpikir mereka mengetahui skala dan dasar masalah - dan bagaimana menyelamatkan orangutan dari kepunahan.

Hak atas foto Tim Laman
Image caption Orangutan Kalimantan sekarang terancam punah (Kredit: Tim Laman)

Edi Rahman adalah salah seorang investigator yang bekerja untuk Gunung Palung Orangutan Conservation Program (GPOCP).

Dia mengatakan sangat penting untuk meraih kepercayaan masyarakat lokal. Untuk itu, GPOCP menyediakan program pendidikan, mengunjungi sekolah, dan menjadi tuan rumah diskusi komunitas dan kunjungan lapangan.

Sekarang investigator memiliki informan di setiap desa di wilayah itu. "Jika seorang informan memiliki informasi, mereka akan menghubungi tim investigasi kami, yang kemudian akan mengunjungi lokasi untuk mengumpulkan lebih banyak informasinya untuk laporan resmi," kata Rahman.

Tetapi risiko balas dendam sangatlah nyata. "Orang yang memelihara orangutan sebagai hewan peliharaan sangat terikat dengan hewan tersebut," kata Rahman.

"Mereka telah menghabiskan uang untuk perawatan, makanan dan biaya perawatan lainnya. Ketika kasus dilaporkan dan kemudian dilakukan penyitaan, mereka marah dan seringkali mencari siapa yang menyampaikan informasi tersebut," jelas dia.

Jika itu terdengar seperti sebuah operasi yang serius, memang benar. Kejahatan alam liar diperkirakan berada di urutan keempat industri pasar gelap yang paling menguntungkan di dunia. Setiap tahun mencapai $19milliar atau sekitar RP 253 trilliun per tahun. Dan orangutan merupakan salah satu sasaran yang paling rentan.

Hak atas foto GPOCP
Image caption Perkebunan kelapa sawit di dekat bukit yang ditumbuhi hutan di Gunung Tarak (Kredit: GPOCP)

Ada dua spesies orangutan yang terpisah oleh geografi. Orangutan kalimantan hanya ditemukan Seperti nama mereka di Kalimantan. Hewan ini terancam punah. Serupa dengan orangutan sumatra, yang hanya berada di Sumatra, juga terancam punah.

Laporan terbaru yang dipublikasikan dalam American Journal of Primatology, menelusuri penyelidikan yang berlangsung selama 10 tahun terhadap kejahatan satwa liar yang berdampak pada orangutan Kalimantan.

Tulisan itu mengidentifikasi dua faktor yang berkontribusi pada Perdagangan orangutan .

Pertama, orang lokal mengingatkan mereka sebagai hewan peliharaan. "Apa yang mereka katakan adalah mereka menemukan nya di hutan dan memeliharanya di rumah karena mereka 'merasa kasihan terhadap hewan Itu," kata Cathryn Freund, yang pernah bekerja di GPOCP dan sekarang di Wake Forest University di North Carolina, AS.

Kedua, hutan tempat mereka hidup telah ditebang, seringkali untuk pwekebunan kelapa sawit. Kondisi ini memicu lebih banyak perburuan dan karena Itu Perdagangan hewan. Lebih banyak hutan yang hilang untuk kelapa sawit, lebih mudah untuk mendapatkan orangutan.

"Di satu sisi perburuan merupakan sebuah dampak tidak langsung dari deforestasi," kata Freund.

"Hewan tidak mati oleh deforestasi, (tetapi) secara tidak langsung itu mendorong perdagangan dengan memberikan lebih banyak akses ke hutan bagi semua orang."

Para pemburu tidak secara khusus mencari orangutan, fokus untuk mencari daging. Tetapi jika orangutan ditemukan, mereka dibawa untuk dijual sebagai hewan peliharaan. Memelihara kera besar juga dilihat sebagai "simbol status" diantara kelas yang kaya, kata Freund.

Hak atas foto GPOCP
Image caption Orangutan muda dijadikan hewan peliharaan. (Kredit: GPOCP)

Freund dan koleganya juga memperkirakan skala perdagangan orangutan illegal.

Selama periode penelitian 10 tahun, ditemukan 145 orangutan yang dipelihara secara ilegal.

Ini hanya menggambarkan sekitar 11-14 orangutan per tahunnya, tetapi studi hanya fokus pada sudut kecil di Borneo Indonesia yang disebut Kalimantan. "Jika Anda menghitung kemungkinan angka tersebut, sangat banyak orangutan," kara Freund.

Faktanya, dalam laporan Organized Crime and Corruption Reporting Project 2013 memperkirakan bahwa orangutan lebih banyak diburu dibandingkan dengan kera besar yang lain.

Dari 2005 sampai 2011, sekitar 1.019 orangutan diambil dari alam liar - dibandingkan dengan 643 simpanse, 48 bonobo dan 98 gorila.

Angka ini bahkan mungkin tidak menggambarkan secara penuh skala masalahnya. Laporan yang sama bahwa "Sejauh ini lebih banyak kera yang tewas dalam perburuan dibandingkan yang mati di dalam kurungan kecuali yang berhasil disita; dan pejabat penegakan hukum mengakui hanya sedikit dari semua penyeludupan yang berhasil disita. "

Banyak orangutan juga mati untuk dikonsumsi, sebuah praktik yang lazim di Indonesia selama ribuan tahun.

Kendati demikian, banyak orang di Indonesia mungkin tidak begitu sadar bahwa ini merupakan masalah.

Hak atas foto Dimas Ardian/ Getty Images
Image caption Jika ada yang menemukan orangutan seringkali dijual untuk dijadikan hewan peliharaan.

Dibandingkan dengan hewan lain yang diburu, secara relatif hanya sedikit orangutan yang tewas per tahunnya.

Sebuah desa mungkin hanya menemukan sebuah kasus pembunuhan setiap dua tahun sekali.

Semakin dekat hutan dengan permukiman, maka semakin terpencil mereka. "Tidak ada internet, listrik yang terbatas dan banyak komunitas sangat miskin,: kata Terri Breeden, direktur program GPOCP.

"Sangat sulit untuk menjangkau komunitas yang terpencil ini. Mereka tidak mengetahui (orangutan) terancam punah… mereka tidak tahu hukum, beberapa masih tetap memburu mereka".

Kurangnya kepedulian ini berkontribusi terhadap kepunahan hewan lokal ini dan akan melenyapkan orangutan Kalimantan, menurut analisis strategi konservasi kera besar 2016.

Para peneliti mengkaji hampir 200 publikasi. Mereka mengatakan "Banyak saintis konservasi, Organisasi Non Pemerintah, komunitas lokal, dan pejabat pemerintah secara terbuka meragukan besarnya dan kejamnya masalah pembunuhan orangutan. "Ini sebagian karena dianggap sebagai isu "sensitif", karena banyak pembunuhan untuk dijadikan makanan.

Masalah itu semakin memburuk: pada awal 2016 orangutan Kalimantan diklasifikasikan kembali hewan yang terancam punah oleh International Union for Conservation of Nature.

Studi mengenai kejahatan terhadap orangutan di alam liar yang dilakukan Freund membuatnya sulit untuk mengabaikan masalah ini. Posisi itu merupakan tingkat risiko kepunahan yang paling parah. Studi itu juga menawarkan petunjuk bagaimana penyelamatan orangutan.

Hak atas foto Paula Bronstein/ Getty Images
Image caption Rehabilitasi orangutan di Tanjung Puting Kalimantan, prosesnya lama dan mahal.

Berdasarkan investigasinya, Freund saat ini menawarkan sejumlah rekomendasi.

Pertama, dia mengatakan pemerintah Indonesia harus segera merevisi UU perlindungan satwa liar - sesuatu yang telah dijanjikan untuk dilakukan - dan untuk membuat hukuman yang lebih berat.

Kedua, Freund merekomendasikan bahwa orang yang bekerja di penegakan hukum harus lebih akuntabel terhadap kejahatan terhadap orangutan. Ada kasus yang terjadi justru para penegak hukum sendiri yang berburu atau membeli kera untuk hewan peliharaan.

Freund merekomendasikan sebuah proses evaluasi internal untuk "memberantas orang-orang yang tidak cukup bagus dalam pekerjaan mereka dan mempromosikan yang baik".

Pada akhirnya ini akan bermuara pada kebutuhan untuk mendapatkan lebih banyak uang, terutama karena Indonesia merupakan"hotspot untuk perdagangan hewan hidup".

Penyelamatan seekor orangutan bisa menghabiskan sekitar $500 (sekitar 6,7 juta) , dan itu belum termasuk kebutuhan dana untuk rehabilitasi. Daerah setempat sangat jarang diberikan dana yang cukup. Di Kalimantan saja, tim Freund merekomendasi tambahan $3 juta atau sekitar RP. 40 milliar per tahun untuk penegakan hukum.

Akhirnya, Freund mengatakan bahwa penegakan hukum akan hanya berjalan ditempat. Sangat penting untuk mendorong masyarakat merawat orangutan dengan lebih baik. Karena itu, dia merekomendasikan program pendidikan bagi anak-anak dan orang dewasa,

Hak atas foto (Tim Laman
Image caption Hutan dihandurkan dan seringkali dijadikan perkebunan kelapa sawit.(Tim Laman)

Satu hal positif yang muncul dalam studi kejahatan terhadap orangutan adalah keadaan berkurangnya populasi orangutan Indonesia dapat djadikan sebagai sinyal peringatan bagi wilayah lain tempat pohon kelapa sawit dapat di tanam.

Satu contoh yang mengkhawatirkan yaitu rapuhnya populasi bonobo yang, bersama dengan simpanse, merupakan kerabat terdekat kita. Bonobo telah menjadi spesies yang terancam punah.

Mereka semuanya hidup di Republik Demokratik Kongo, dan habitat mereka hampir semuanya tumpang tindih dengan area yang cocok untuk perkebunan kelapa sawit.

"Itu kehawatiran utama untuk bonobo ini," kata Freund.

Ahli konservasi berharap bahwa kisah sedih yang dialami orangutan Indonesia tidak terulang dengan bonobo Afrika. Berkat informasi detail yang mereka miliki saat ini, mungkin masih bisa untuk menyelamatkan orangutan.

------------

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam On the trail of the orangutan killers atau artikel lain dalam BBC Earth.

Berita terkait