Negara yang punya terlalu banyak gajah

Kawanan gajah di Taman Nasional Liwonde di Malawi. Hak atas foto christophe_cerisier
Image caption Kawanan gajah di Taman Nasional Liwonde di Malawi.

Dalam sebuah upaya relokasi hewan terbesar yang pernah dicoba, satu tim tengah menjalani proses pemindahan 500 gajah ke habitat baru.

Pada sebuah pagi yang indah di Taman Nasional Liwonde di Malawi selatan, satu tim dari African Parks, sebuah kelompok konservasi, tengah mempersiapkan sesuatu yang sebelumnya tak pernah terpikirkan.

Taman nasional itu penuh dengan satwa liar, kuda nil berendam di air yang dingin dan impala serta waterbuck, sejenis antelope, berkeliaran di dekat situ.

Di kejauhan dari lokasi yang tenang ini, tengah terjadi sebuah keributan — kibasan baling-baling membelah udara, kaki-kaki raksasa berdentum di tanah, dan zebra liar pun menyingkir dari lokasi.

Setiap harinya, di langit cerah atas taman nasional tersebut, sebuah helikopter sudah mengikuti sekelompok keluarga gajah, yang terdiri dari 12 ekor, dan mendorong mereka keluar dari semak-semak lebat yang melindungi menuju padang rumput yang terbuka.

Ini adalah lokasi upaya pemindahan hewan terbesar yang pernah coba dilakukan. Pada Juni 2016, proses pemindahan 500 gajah dari Malawi selatan menuju utara dimulai.

Alasan pemindahan itu cukup mengejutkan, meski benua Afrika kesulitan melindungi spesies gajah dari kepunahan, namun di Taman Nasional Liwonde di Malawi justru ada terlalu banyak gajah.

Kelebihan stok gajah di kawasan ini berdampak negatif pada ekosistem dan menimbulkan konflik antara hewan dan manusia.

Karena ada banyak gajah, maka hewan-hewan terpaksa meninggalkan taman nasional dan berkeliaran sampai ke lahan pertanian di sekitarnya, memakan tanaman petani dan karena itu, diserang oleh warga lokal yang berusaha mencari penghidupan.

Namun, di utara Malawi, tak ada cukup banyak gajah, dan taman nasional akan mendapat keuntungan dari kehadiran gajah-gajah ini. Solusinya, menurut Departemen Taman Nasional dan Taman Afrika Malawi, adalah pemindahan gajah secara besar-besaran.

Hak atas foto African Parks/Frank Weitze
Image caption Pertama-tama gajah diberi obat bius yang ditembakkan dari helikopter.

Lewat sambungan telepon yang putus-putus antara Malawi dan Nairobi, Kester Vickery, pendiri Conservation Solutions, organisasi yang disewa untuk menjalankan proyek ini, menjelaskan soal pengalaman mereka memindahkan raksasa yang lembut ini pada saya, dari awal sampai akhir.

"Ini sangat menarik." Vickery mengawali kisahnya dengan antusiasme. "Kami mulai pada pagi hari, mencari target sekelompok gajah yang bisa dipindahkan."

Begitu mereka teridentifikasi, pilot helikopter dan Andre Uys, dokter hewan yang spesialisasinya adalah merumahkan kembali mamalia besar, mengamati dari atas, membahas taktik dari jauh.

"Mereka ingin menyasar sosok matriarknya (induk pemimpin kawanan) terlebih dulu, sisanya kemudian akan mengelilinginya dan lebih mudah disasar," katanya.

Keluarga gajah punya hubungan yang luar biasa kuat: betinanya akan berkumpul bersama bertahan hidup, membantu satu sama lain dengan anak yang baru lahir dan saling melindungi satu sama lain dari bahaya.

"Kami selalu menyasar keluarga yang kohesif. Hal terakhir yang kami inginkan adalah satu gajah yang lari dan terpisah dari grup," kata Vickery.

Dengan terbang rendah, dokter hewan Uys akan mulai membidik, menyasar bagian pantat matriark yang tebal, lewat senjata pembiusnya, dan menembak.

Bidikannya cukup jitu, kata Vickery, dan dalam beberapa saat, sosok betina besar itu akan jatuh di tanah, berbaring menyamping.

Satu demi satu, Uys melanjutkan pekerjaannya, membidik dan membius sosok tertua kedua dalam kelompok tersebut, dan begitu selanjutnya, sampai yang tersisa adalah gajah kecil yang termuda.

"Uys berfokus dengan menyelesaikan tugasnya secepat mungkin untuk mengurangi stres grup keluarga tersebut, namun dia juga harus sangat akurat untuk menghindari melukai gajah-gajah tersebut," kata Vickery.

Setelah panah terakhir sudah melesat dari senjata pembius ke pantat abu-abu keriput dari bayi gajah dan semua anggota keluarga sudah terbius, Uys akan mengirimkan pesan radio ke tim di lapangan, dan memberi mereka perintah mendekat.

"Pada poin ini, saya akan menunggu di bawah bersama tim saya di beberapa mobil four-wheel drive," kata Vickery. Sampai saat gajah dibius, tim tersebut berada di jarak aman.

Hak atas foto African Parks/Frank Weitzer
Image caption Gajah yang sudah dibius kini dipastikan agar tetap bernapas dan berbaring menyamping.

Namun kini mereka harus berburu dengan waktu agar sampai di kelompok gajah ini dan memastikan semuanya berbaring menyamping dan bernapas normal, "Lima menit pertama itu sangat kritis, jika satu gajah jatuh dengan salah, mereka bisa mati, jadi waktu itu sangat penting," katanya.

Ketika mereka sudah mendapat sinyal dari tim helikopter, tim di lapangan akan bergerak melewati padang rumput menuju gajah-gajah tersebut.

"Baru-baru ini kami mendekati satu keluarga dan saat mendekati mereka, kami melihat bahwa satu gajah, ibu dengan anak gajahyang masih muda, jatuh ke bagian depan.

Dengan bobot badannya yang delapan ton menimpanya, dia bisa kehabisan napas dalam beberapa menit. Kami melompat keluar dari mobil dan berlari ke arahnya, menggunakan semua kekuatan kami untuk membalikkannya."

Badannya sangat besar, dan awalnya tim kesulitan untuk mendapat momentum membalik badannya.

"Untungnya dia mengikuti goyangan yang dilakukan dan berbalik," kata Vickery. Saat tulang iganya mengembang dan mengempis dengan lembut, seluruh anggota tim akhirnya bisa merasa lega.

Setelah semua gajah sudah berbaring menyamping, paramedis Jeremy Hancock tiba untuk memonitor gajah-gajah yang dibius dan memastikan agar tanda-tanda vital mereka normal.

Setelah puas melihat keadaan gajah yang stabil, Hancock kemudian memberitahu tim, dan kemudian mereka memulai proses berikutnya — mengangkat gajah ke atas truk.

Mengingat bobot mereka yang luar biasa, katrol pun dibutuhkan untuk memindahkan mereka.

Satu per satu, kendali yang kuat dipasangkan ke masing-masing kaki gajah untuk mengangkut mereka ke bagian belakang truk bak terbuka, di mana mereka dibaringkan miring.

Tim ini terbiasa melihat gajah yang digantung terbalik dari katrol. Mereka sudah memindahkan 250 gajah dalam dua bulan terakhir.

Segera setelah semua gajah sudah naik, truk itu pun membawa gajah beberapa kilometer jauhnya, dan dibawa di peti-peti pemulihan.

Hak atas foto Ariadne Van Zandbergen
Image caption Waterbuck, salah satu penghuni Taman Nasional Liwonde yang kaya keragaman satwa.

"Perjalanan ini butuh waktu sekitar 15 menit, dan setiap gajah datang, mereka dimasukkan ke peti dari truk menggunakan seprei tebal," kata Vickery.

Setelah di dalam, proses untuk memasukkan penawar dan membangunkan gajah pun terjadi. "Ketika masing-masing anggota keluarga gajah ini sadar, tim kami melakukan manuver agar truk transpor berada dalam posisi, berbaris, sehingga mereka bisa berjalan dari satu peti ke peti lain."

Peti pemindahan itu berupa kotak besi yang tebal, cukup tinggi sehingga gajah bisa berdiri di dalamnya. Ada celah kotak di atap dan samping agar mereka dingin.

Prosesnya agak kacau, gajah-gajah ini adalah hewan yang galak dan punya kepribadian kuat, dan tak semuanya mau masuk ke kotak besi. Mereka bisa menggerutu dan membunyikan terompet lewat belalai.

Meski semua upaya untuk menyatukan keluarga ini dilakukan, kadang ada momen-momen kekacauan.

"Minggu lalu kami memindahkan satu keluarga dan gajah terkecil tetap ada di peti pemulhan, kebingungan dan sibuk mencari ibunya. Dia sudah berada di kendaraan pemindahan, tapi melihat anaknya terlihat kebingungan, lalu berjalan keluar lagi untuk mendekatinya," kata Vickery.

"Dia menaruh belalainya di badan anaknya yang kecil, dan membawanya ke peti pemindahan bersamanya Ini menunjukkan betapa kuatnya ikatan keluarga mereka. Inilah alasan kami memastikan bahwa kami menangkap keseluruhan unit keluarga."

Ketika seluruh keluarga gajah sudah dengan aman berada di peti pemindahan, tim kemudian berkendara selama enam jam menuju Suaka Satwa Liar Nkhotakota seluas 60.000 hektare.

Suaka yang terletak di pusat negara tersebut dekat Danau Malawi berupa hutan liar yang dibelah oleh sejumlah sungai yang mengalir turun dan membentuk Danau Malawi. Suaka ini berbukit-bukit, dengan rumput tinggi, hutan kayu dan hutan hujan.

Hak atas foto African Parks/Frank Weitzer
Image caption Jeremy Hancock, paramedis di African Park, mengawasi gajah yang sudah diberi obat penenang di lapangan.

Pada tahap ini, Uys bergabung dengan tim lapangan untuk kembali memberikan obat penenang, agar tingkat stres mereka tetap rendah. "Ini seperti minum obat anti-kecemasan," kata Vickery.

Gajah-gajah masih bisa tetap bangun dan berjalan, tapi obat membantu menenangkan mereka.

Saat truk tiba di Nkhotakota, harisudah gelap. Di sini, gajah akan keluar dari peti transport mereka dan menuju boma, kandang kecil di mana Uys dan timnya bisa memastikan mereka sudah pulih dari perjalanan.

"Keesokan paginya, gerbang boma ini akan dibuka dan keluarga gajah ini akan dilepaskan ke suaka, hanya 24 jam setelah proses ini dimulai," kata Vickery.

Tim dari African Parks yakin bahwa gajah-gajah ini akan hidup di habitat baru mereka karena mereka sudah pernah melakukan hal yang sama sebelumnya. Pada 2004, mereka mengambil alih manajemen Majete Wildlife Reserve di Malawi selatan dan mengubahnya dari kawasan liar yang kering menjadi suaka satwa yang hidup.

Direktur operasional African Parks Andrew Parker menjelaskan bahwa area ini sangat kering ketika timnya mulai mengelola area Majete.

"Masyarakat merampas lahan yang dilindungi untuk bisa mendapat kayu bakar, dan hewan-hewannya sudah hampir habis diburu."

African Parks kemudian mendatangkan hampir 2.500 hewan, termasuk gajah, dan menaruh batasan-batasan yang bisa memulihkan taman tersebut.

"Kini ada hampir 15.000 hewan di Majete dan taman ini berkembang," katanya.

Seiringan dengan pemindahan tersebut, ada upaya pemagaran terhadap Taman Nasional Liwonde senilai £1,1 juta atau Rp18 miliar lebih. Ini penting dilakukan untuk melindungi manusia dan gajah, menurut manajer Liwonde National Park Craig Reid.

"Dilhat dari sejarahnya, gajah akan bergerak sangat luas melewati Malawi," katanya.

Hak atas foto African Parks/Frank Weitzer
Image caption Gajah diberi obat penenang agar bisa dipindahkan dengan aman.

"Sayangnya, koridor yang digunakan gajah untuk bergerak ini dibangun oleh manusia. Liwonde termasuk taman nasional yang kecil dalam ukuran Afrika. Bentuknya panjang dan sempit dan dikelilingi jumlah penduduk yang besar. Ini adalah pulau ekologi di lautan manusia."

Pagar itu dibutuhkan untuk memastikan 550 gajah yang ada di taman tidak dilukai, dan gajah juga tidak melukai penduduk di sekitar kawasan taman.

Peningkatan jumlah populasi yang besar ini dilihat sebagai tantangan mendasar oleh Parker terhadap kehidupan satwa liar yang tersisa. "Isu 'gajah dalam ruangan' yang sebenarnya adalah masalah jumlah populasi manusia dan (sebagai hasilnya) hancurnya modal alamiah," kata Parker.

"Ini bukan hanya tak berkelanjutan dan masyarakat konservasi — dan masyarakat global — harus menghadapi tantangan yang dihasilkan dari populasi manusia yang tak terkendali, bukan hanya untuk masa depan keanekaragaman hayati tapi juga untuk kemanusiaan."

Sayangnya, butuh beberapa dekade untuk menghasilkan solusi terhadap masalah global ini. Dan mungkin nanti sudah terlambat, karena gajah berisiko punah.

Untuk sementara, pemindahan ke suaka-suaka yang aman dinilai efektif, menurut tim African Parks. Solusi ini dianggap yang terbaik dan dengan melakukannya, gajah mendapat rumah baru di mana mereka tak perlu harus pergi ke luar taman untuk mencari makanan.

Hak atas foto African Parks/Will Whitford
Image caption Gajah-gajah meninggalkan boma di Nkhotakota Wildlife Reserve setelah perjalanan mereka dari Taman Nasional Liwonde.

Pada saat yang sama, hal ini mengurangi tekanan pada ekosistem di selatan Malawi, tanaman petani tak dimakani lagi, konflik hewan-manusia berkurang dan Malawi utara mendapat pemasukan turisme dari hasil relokasi.

"Turisme kini menghasilkan sekitar 8% dari PDB di Malawi," kata Patricio Ndadzela, direktur African Parks Malawi, "Kami menargetkan 20-25%. Dengan membawa kembali satwa liar (dan) mengelola taman nasional, kami akan menciptakan jumlah minimum satwa yang dibutuhkan untuk membawa turis ke negara ini."

Dan semua ini menciptakan ratusan pekerjaan baru, kata Reid. "Pembangunan pagar dilakukan oleh masyarakat lokal, (proyek) ini saja bisa menyerap 1.000 orang.

"Seiring berkembangnya turisme, kami berharap ini bisa memunculkan 300 pekerjaan baru di berbagai tempat penginapan dan taman nasional di seluruh negeri." Angka ini penting di Malawi, yang berada di peringkat 18 dari negara yang paling sedikit perkembangannya dalam laporan PBB 2013.

Hak atas foto African Parks/Frank Weitzer
Image caption Vickery memonitor gajah yang sudah terbangun di truk pemindahan sebelum pergi menuju Nkhotakota.

Memindahkan gajah dengan cara ini adalah konsep yang baru. Sebelumnya, metode yang lebih kejam digunakan ketika jumlah gajah terlalu banyak. "Culling atau membunuh hewan adalah salah satu dari sedikit cara yang tersedia di masa lalu untuk mengelola jumlah gajah yang terlalu banyak. Kami berusaha membuktikan bahwa ini bukan satu-satunya solusi," kata Vickery.

"Kita bisa memindahkan ribuan dalam setahun jika ada tempat yang sesuai untuk itu. Ini adalah soal gambaran yang lebih besar. Kami membuktikan pada dunia bahwa jika ada tempat aman untuk menaruh gajah, culling tidak dibutuhkan. Ini adalah cara untuk maju."

Kembali di Taman Nasional Liwonde, saat helikopter pergi, kehidupan kembali berjalan seperti biasa. Gajah-gajah yang tersisa bisa menuju sungai untuk mandi dan minum. Kini mereka punya wilayah ekstra yang diperoleh dari pemindahan tetangga-tetangga mereka.

Sementara itu di utara, di Nkhotakota, matriark dan keluarganya yang dipersatukan kini memulai kehidupan baru, di kawasan taman nasional yang aman.

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam The country with too many elephants atau artikel lain dalam BBC Earth.

Topik terkait