Pohon yang membentuk sejarah manusia

Ficus religiosa Hak atas foto Amar Grover
Image caption Jika sebagian besar tanaman mengubur akar mereka di bawah tanah, ara pencekik dan kerabatnya justru mempertontonkannya.

Pohon ara bukan hanya menjadi saksi sejarah, tapi ikut membentuk dan memperkaya masa depan kita.

Lebih dari 2.000 tahun lalu, sebuah pohon penting dipotong salah satu cabangnya atas perintah dari kaisar India, Asoka yang Agung. Di bawah pohon inilah, Buddha diyakini mendapat pencerahan. Asoka memberi status kerajaan pada cabang pohon tersebut, dan menanamkannya di pot emas yang tebal.

Dia kemudian membawa batang pohon itu melewati pegunungan dan turun ke Sungai Gangga di Teluk Benggala.

Di sana, anak perempuannya membawa cabang pohon itu menaiki kapal dan berlayar menuju Sri Lanka untuk memberikannya pada raja. Asoka sangat mencintai tanaman itu sampai-sampai dia menangis saat batang pohon itu dibawa pergi.

Kisah dari puisi epik Mahavamsa adalah tentang sejenis pohon ara yang oleh ilmuwan disebut Ficus religiosa. Sesuai dengan namanya, ada tradisi pemujaan yang tak terputuskan dari ribuan tahun lalu sebelum masa Asoka.

Namun F. religiosa tak sendiri, ini baru satu dari 750 spesies ara. Tak ada tanaman lain yang memiliki ikatan yang sangat kuat terhadap imajinasi manusia. Ara muncul dalam banyak agama besar dan mempengaruhi raja-raja serta ratu-ratu, ilmuwan, serta tentara.

Ara memainkan peran dalam evolusi manusia serta awal peradaban. Pohon-pohon ini bukan hanya menjadi saksi sejarah; mereka ikut membentuknya. Dan ara bahkan bisa memperkaya masa depan kita.

Sebagian besar tanaman berbunga mempertontonkan bunganya agar bisa dilihat, namun spesies Ficus menyembunyikannya di bagian dalam buah ara yang kosong. Dan jika sebagian besar tanaman mengubur akar mereka di bawah tanah, ara pencekik dan kerabatnya justru mempertontonkannya.

Strangler fig atau ara pencekik atau beringin pencekik adalah tanaman luar biasa yang tumbuh dari bibit yang dijatuhkan dari ketinggian di pohon-pohon lain oleh burung atau mamalia yang lewat.

Hak atas foto August Muench/CC by 2.0
Image caption Pohon ara yang bisa menjadi sangat besar.

Dengan tumbuh di kanopi hutan dan bukan di dasar hutan yang gelap, maka bibit beringin ini mendapat cahaya yang dibutuhkan untuk tumbuh dengan besar.

Saat tumbuh, beringin akan menjuntaikan akar ke bawah yang kemudian menjadi tebal dan berkayu, dan menutupi pohon asli atau inang dalam jalinan yang hidup. Pohon beringin juga bisa mencekik dan membunuh pohon raksasa, dan tumbuh dalam ukuran yang kolosal.

Ada dua negara yang menggunakan beringin dalam lambang negara, di Indonesia, beringin menjadi lambang Pancasila, akarnya yang banyak menjuntai menjadi simbol pulau-pulaunya.

Sementara di Barbados, pohon beringin adalah pemandangan pertama yang dilhat oleh penjelajah Portugis, Pedro a Campos, saat kapalnya mencapai pulau tersebut pada 1536.

Dia melihat banyak beringin yang tumbuh di pesisir pantai, yang disebut Ficus citrifolia. Akar-akar warna cokelat tanah yang menggantuh dari akar terlihat seperti rambut. A Campos menyebut pulau tersebut Los Barbados — "yang berjenggot".

Lebih dari 300 tahun kemudian, ahli biologi Alfred Russel Wallace menjelajahi pulau-pulau di sisi lain dunia. Menurutnya, beringin yang dilihatnya dalam delapan tahun perjalanan di sepanjang Semenanjung Melayu adalah "pohon-pohon paling luar biasa di hutan".

Cara pohon tersebut mempertahankan diri menginsipirasinya saat dia mengembangkan teori evolusi oleh seleksi alam, terpisah dari Charles Darwin.

Namun beringin sudah merasuk dalam imajinasi manusia sebelum penjelajah Eropa ini mulai melaut.

Hak atas foto Funkystock
Image caption Buah ara sudah diketahui kaya akan vitamin, serat dan mineral.

Selain F. religiosa dari Asoka yang Agung, umat Buddha dan Jain sudah menghargai spesies ini selama lebih dari dua millenia.

Pohon yang sama juga muncul di himne perang yang dinyanyikan oleh orang-orang Vedik sekitar 3.500 tahun lalu. Dan 1.500 tahun sebelumnya, pohon itu juga muncul di mitos dan seni Peradaban Lembah Indus.

Di banyak tempat di Asia — dan di banyak daerah tropis serta subtropis — ara diadopsi sebagai sumber kekuasaan dan tempat pemujaan dalam budaya.

Pohon-pohon ara muncul dalam banyak kisah, cerita rakyat serta ritual kesuburan. Juaranya adalah beringin India (Ficus benghalensis), pohon yang sangat besar sampai-sampai terlihat seperti hutan kecil dari kejauhan.

Beringin tumbuh sangat besar karena akar yang mereka jatuhkan dari cabang bisa menyatu menjadi pilar yang kuat dan tebal seperti pohon oak Inggris. Batang palsu ini kemudian mendukung cabang-cabang beringin yang besar, memungkinkannya untuk tumbuh lebih panjang dan menjuntaikan lebih banyak akar.

Satu beringin di Uttar Pradesh disebut abadi. Satu lagi di Gujarat disebut tumbuh dari ranting yang digunakan sebagai sikat gigi. Pohon beringin ketiga diyakini muncul di tempat seorang perempuan melompat ke kremasi suaminya dan meninggal. Pohon itu, di Andhra Pradesh, bisa menaungi 20.000 orang.

Orang Eropa pertama yang menikmati naungan beringin adalah Alexander Agung dan tentaranya, yang tiba di India pada 326 SM. Kisah mereka dan pohon ini kemudian terdengar oleh filsuf Yunani, Theophrastus, pionir botani modern. Dia tengah mempelajari ara yang bisa dimakan, Ficus carica.

Theophrastus menyadari ada serangga kecil yang masuk atau muncul dari ara. Kisah mereka menjadi yang paling mengagumkan di seluruh bidang biologi.

Lebih dari 2.000 tahun berlalu sebelum ilmuwan menyadari bahwa setiap jenis Ficus memiliki serangga pembuahnya sendiri, bahkan ada yang punya dua serangga. Dan sebaliknya, masing-masing serangga spesies ara ini hanya bisa menaruh telur di bunga dari ara yang menjadi pasangannya.

Hubungan ini sudah terjadi sejak 80 juta tahun lalu dan sudah membentuk dunia sejak itu.

Hak atas foto Photo Dharma/CC by 2.0
Image caption Anak perempuan raja Asoka yang Agung, Sanghamitta, membawa pohon ara yang suci ke Srilanka.

Spesies Ficus harus memproduksi ara setiap tahunnya untuk memastikan agar serangga pembuah ini bisa bertahan hidup.

Ini berita bagus bagi hewan pemakan buah yang, tanpa ara, akan kesulitan mendapat makanan sepanjang tahun. Bahkan, buah ara memberi makan pada banyak spesies satwa, jauh lebih banyak daripada buah-buah lain.

Ada lebih dari 1.200 spesies yang memakan ara, termasuk sepersepuluh dari semua burung di dunia, hampir semua kelelawar pemakan buah yang diketahui dan puluhan spesies primata, yang menyebar bijinya ke manapun mereka pergi.

Ahli ekologi kemudian menyebut ara sebagai "pilar utama sumber daya". Sama halnya seperti pilar utama jembatan, jika ara hilang, maka semuanya akan runtuh.

Ara tak hanya memberi makan hewan. Kehadiran ara yang matang sepanjang tahun memastikan kelangsungan hidup nenek moyang kita dulu.

Ara berenergi tinggi mungkin membantu nenek moyang kita dalam memperbesar ukuran otak.

Ada teori lain yang menunjukkan bahwa tangan kita berevolusi sebagai alat untuk menilai ara mana yang lembut, dan artinya manis serta kaya energi.

Jika manusia-manusia pertama mendapat keuntungan dari biologi ara, keturunannya menguasainya. Spesies ara adalah tanaman pertama yang dipelihara manusia, beberapa ribu tahun lalu.

Hak atas foto Stuart Black / robertharding
Image caption Pohon ficus yang bisa 'menguasai' kota-kota tua yang ditinggalkan penghuninya.

Orang-orang Mesir Kuno menanam spesies yang disebut Ficus sycomorus, yang serangga pembuahnya punah secara lokal atau tak pernah tiba.

Seharusnya, spesies ini tak menghasilkan satupun ara yang matang. Namun, entah karena keburuntungan atau karena kejeniusan, soerang petani menemukan bahwa mereka bisa menipu pohon itu untuk mematangkan buah arahnya dengan memotongnya dengan pisau.

Tak lama kemudian, ara menjadi tanaman khas pertanian Mesir. Petani bahkan kemudian melatih monyet-monyet untuk memanjang pohon dan memanen buahnya.

Pohon ara di Mesir memberi makan perut dan keyakinan. Firaun membawa ara kering dalam kuburnya untuk memberi makan jiwa mereka dalam perjalanan menuju alam baka. Mereka percaya ibu dewi Hathor akan muncul dari pohon ara mistis untuk menyambut mereka menuju surga.

Di utara dan timur, sepupu dari ara Mesir yang manis, F. carica, menjadi makanan penting bagi beberapa peradaban kuno.

Raja Sumeria, Urukagina, menulis soal buah ara sekitar 5.000 tahun lalu. Raja Nebuchadnezzar II menanamnya di taman-taman bergantung Babyloia. Raja Sulaiman dari Israel memuji mereka lewat lagu. Peradaban Romawi serta Yunani Kuno menganggap ara sebagai kiriman dari surga.

Pesonanya mungkin bisa dijelaskan dari poin penting lainnya. Selain manis dan lezat, buah ara juga padat dengan serat, vitamin dan mineral.

Keuntungan gizi ini sudah sejak lama diketahui. "Ara itu memulihkan," tulis filsuf Romawi abad pertama, Plinius yang Tua, "dan makanan terbaik yang bisa diambil oleh seseorang yang berada dalam kondisi menurun setelah masa sakit yang panjang."

Contoh terkenal dari efek menyembuhkan ara muncul dalam Injil. Hezekiah, Raja Judah, "sakit parah sampai hampir mati" karena wabah borok, namun sembuh setelah pembantunya mengoleskan pasta ara yang dihancurkan ke kulitnya.

Hak atas foto AditiVerma/CC by 2.0
Image caption Saking kuatnya akar ficus sampai bisa menjadi jembatan yang kokoh.

Efek menyembuhkan spesies ara ini tidak terbatas pada buahnya saja. Berbagai obat yang dikembangkan sepanjang millennia oleh orang-orang di daerah tropis menggunakan kulit pohon, daun, akar serta getah ara.

Penggunaan pohon ara sebagai lemari obat bahkan sudah terjadi lebih dulu sejak spesies kita ada. Kerabat terdekat kita, simpanse, juga menggunakan pohon-pohon ini karena kekuatan penyembuhannya, dan menunjukkan bahwa mungkin nenek moyang kita juga melakukannya.

Peneliti yang bekerja di Uganda kerap mengamati simpanse memakan makanan tak biasa, seperti kulit kayu dan daun dari pohon ara liar.

Simpanse ini mungkin sedang mengobati dirinya sendiri, menurut peneliti tersebut. Dan mereka benar, tes menunjukkan bahwa zat-zat yang ada di daun ara serta kulit kayunya efektif melawan bakteri, parasit, serta tumor.

Pohon ara tak hanya membantu tumbuhnya peradaban serta budaya, tapi juga menjadi saksi kejatuhannya, dan bahkan membantu menyembunyikan keruntuhan tersebut.

Contohnya, kota-kota besar di Peradaban Lembah Indus yang meledak antara 3300 sampai 1500 SM, tapi kemudian hilang dalam sejarah sampai 1827, ketika seorang desertir yang melarikan diri dari East India Company bernama Charles Masson tiba di sana.

Pohon beringin pencekik mendominasi lansekap. Reruntuhan muncul dari gunungan misterius.

Penduduk setempat mengatakan pada Masson bahwa itu adalah sisa-sisa dari masyarakat yang jatuh setelah campur tangan ilahi yang membenarkan "kejahatan serta nafsu dari kerajaan".

Padahal, kekeringan berkepanjanganlah yang membawa kejatuhan Peradaban Lembah Indus.

Hak atas foto Bernard Dupont/CC by 2.0
Image caption Buah ara bisa punya khasiat kesehatan.

Beringin pencekik juga menggantikan orang-orang yang terkena kekeringan di piramida Maya di Tikal di Guatemala dan kuil-kuil Khmer di Angkor Wat di Kamboja.

Pada setiap kejadiannya, pohon ara membantu hutan muncul kembali dan membenamkan bangunan yang ditinggalkan.

Bibit-bibitnya terbuahi di sela-sela bebatuan.

Akarnya mencerabut dan membelah bebatuan dan menghancurkan tembok dengan bobot ara atau beringin.

Pohon ara kemudian menarik hewan yang kemudian menyebar bibitnya ke puluhan spesies hutan lain. Dan begitulah hutan muncul dan menguasai situs-situs tersebut.

Kekuatan ini juga diamati muncul di gunung api seperti Krakatau, yang letusannya ada 1883 meluluhlantakkan segala jenis kehidupan di pulau tersebut. Pohon ara yang muncul kembali dari lava yang mengering kemudian berperan penting dalam mendorong hutan terbentuk lagi.

Di wilayah tropis, ilmuwan kemudian membuat replika dari efek ini, menanam pohon ara untuk mempercepat pertumbuhan hutan hujan di daerah-daerah di mana pohon hilang karena penebangan.

Semua ini berarti bahwa pohon ara bisa memberi harapan di masa depan dengan iklim yang berubah.

Pohon ara juga bsia membantu beradaptasi dalam kondisi ekstrem.

Image caption Dewi Mesir Kuno Hathor muncul dari pohon ara untuk menyambut jiwa firaun di alam baka.

Di timur laut India, orang-orang mendorong penggunaan akar ara untuk menyeberangi sungai, mengikat dan mempertebal jembatan agar kuat, dan menyelamatkan nyawa di hujan muson.

Di Ethiopia, pohon ara membantu petani beradaptasi terhadap kekeringan dengan memberikan perlindungan yang penting bagi tanaman dan makanan bagi kambing. Dua pendekatan ini juga bisa diterapkan di mana saja.

Secara keseluruhan, pohon ara bisa membantu kita membatasi perubahan iklim, melindungi keanekaragaman hayati dan meningkatkan penghidupan, selama kita terus menanam dan melindungi pohon-pohon ini, seperti telah dilakukan manusia selama ribuan tahun.

Banyak budaya di seluruh dunia ini yang memiliki tabu dalam menebang pohon ara. Sayangnya, kepercayaan ini mulai memudar dari ingatan. Kita bisa menghidupkannya lagi.

Sejarah ara yang panjang mengingatkan kita bahwa manusialah sebenarnya yang merupakan tambahan terbaru di Bumi jika dibandingkan dengan 80 juta tahun Era Ficus. Masa depan kita akan semakin aman jika kita menjaga pohon-pohon ini.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The tree that shaped human history di laman BBC Earth

Topik terkait

Berita terkait