Hewan-hewan yang pernah disangka sebagai 'makhluk jahat'

Kelinci Hak atas foto Erlend Haarberg/naturepl.com
Image caption Pada abad 18, orang Swedia percaya tukang sihir bisa mengubah orang menjadi kelinci.

Dari burung-burung pulau yang muncul dari mitos, hewan nokturnal, hingga kelinci. Manusia punya banyak kisah tentang hewan-hewan jahat di sekitar kita.

Dalam mitologi orang-orang Maori di Selandia Baru, malam hari selalu penuh dengan bahaya dan ancaman. Salah satunya adalah teriakan mengerikan dari Hakawai, sebuah burung mistis besar dengan bulu warna merah, hitam dan putih yang mengagumkan.

Meski jarang terlihat, mendengarkan bunyi Hakawai bukanlah hal yang baik — karena suaranya saja sudah disebut pertanda buruk. Belum lama lalu, jika seorang Maori mendengar suara mengerikan itu, "hakwai, hakwai, hakwai", dilanjutkan dengan bunyi gerakan cepat, bulu kuduk orang itu akan merinding — dan dia akan lari ketakutan.

Sepanjang sejarah manusia, orang sudah menghubungkan berbagai jenis hewan, baik yang betulan maupun khayalan, dengan sesuatu yang jahat. Dan masih ada banyak contohnya sampai sekarang.

Hak atas foto Colin Miskelly, Museum of New Zealand/Te Papa Tong
Image caption Burung snipe Snares Island dewasa dan anaknya di Snares Islands pada Desember 2013.

Saat ahli burung Colin Miskelly pertama mendengar suara burung Hakawai pada pertengahan 1980an saat melakukan tugas lapangan di Chatham Islands, Selandia Baru, bulu kuduknya juga merinding.

Namun dia tidak lari. Miskelly memang sedang mencari Hakawai dengan membawa perekam. Dia berencana untuk merekam suara burung itu dan memainkannya pada warga Maori setempat dan melihat apakah mereka mengenali suara itu.

Miskelly diberitahu bahwa orang-orang setempat yang kerap mengambil anak burung-burung laut sudah cukup familiar dengan suara mengerikan Hakawai di malam hari.

"Ada banyak kisah dari orang-orang ini yang langsung menjatuhkan burung mati yang mereka ambil dan berlari ke gubuk mereka karena saking ketakutannya," kata Miskelly.

Meski begitu, rekaman suara Hakawai yang diperoleh Miskelly membelah pendapat para warga lokal. Mungkin karena Miskelly tidak menangkap vokalisasi dari hewan mistis itu dalam perekamnya, melainkan dari suara spesies lain yang tidak begitu mengerikan, burung snipe Chatham Island, yang panjangnya hanya 20cm.

Hak atas foto Walter Lawry Buller/Wikimedia Commons
Image caption 'Suara Hakawai' terdengar saat burung snipe terbang di malam hari.

"Suara Hakawai" bisa terdengar saat burung snipe terbang di malam hari dan terdiri dari dua bagian: serangkaian gelombang vokalisasi naik turun dan bunyi terbang yang luar biasa yang hampir tak bisa digambarkan.

"Sebagian orang menyebutnya burung rantai, mereka bilang itu mirip seperti ketika rantai jangkar diturunkan dari kapal," kata Miskelly. "Yang lain menggambarkannya sebagai sebagai bunyi terbang pesawat jet."

Dia sadar bahwa tanda-tanda penggunaan tak biasa pada ekor burung snipe yang sebenarnya tak istimewa bisa menghasilkan suara yang aneh. Burung-burung ini terbang di udara dengan kecepatan tinggi, Miskelly berhipotesis, sehingga menyebabkan ekor mereka bergetar berlebihan. Setelah itu, mereka kelelahan.

Penyelidikan Miskelly tak hanya memberi penjelasan masuk akal bagi kisah-kisah Maori tentang burung mengerikan pada malam hari, namun masukannya bisa memberi pemahaman lebih bagi warga Chatham Island akan burung snipe.

"Pada 1980an, Anda bisa membaca teks yang mengatakan bahwa burung-burung Selandia Baru tidak terbang, tepat pada kalimat pembuka yang mendeskripsikan snipe Selandia Baru," katanya.

"Namun penelitian menunjukkan bahwa, mereka terbang, namun mereka melakukannya pada tengah malam."

Hak atas foto Jaime Chirinos/SPL
Image caption Elang haast adalah elang terbesar yang pernah hidup.

Hakawai bukanlah satu-satunya burung jahat yang muncul dalam legenda Maori. Burung mistis lain, Poukai, disebut sebagai pemakan manusia.

Tak jelas darimana sumber cerita-cerita ini. Beberapa orang berpikir bahwa mungkin kisah-kisah Maori tentang makhluk-makhluk ini berasal dari elang Haast — elang terbesar yang pernah hidup. Elang ini punah sekitar 1400 namun cukup besar untuk menyerang dan memakan manusia.

Kita seharusnya bersyukur akan cerita-cerita ini. Cerita rakyat tentang berbagai kengerian itu bisa membuat orang tetap waspada dan aman.

Di sisi lain, hewan yang muncul di malam hari sering menjadi sasaran kecurigaan dan kebencian di banyak budaya.

Contohnya, burung hantu pada era Abad Pertengahan di Inggris, yang sering dinilai buruk. Referensi akan burung hantu muncul pada banyak puisi dari era tersebut.

Dalam puisi berjudul Burung Hantu dan Nightingale, nightingale membuka perdebatan dengan burung hantu dengan mendaftar berbagai karakteristiknya, seperti paruhnya yang tajam dan suaranya yang memekik. "Kau terbang di malam hari," si nightingale menuduh, "kau adalah makhluk yang jahat."

Hak atas foto Photo by Steve Wilson
Image caption Burung hantu tidak disukai di abad pertengahan.

Sastra dan seni abad pertengahan penuh dengan simbolisme hewan, kata Brigitte Resl dari University of Hull. Hewan malam memang aneh bagi orang-orang di masa itu.

"Pada masa pra-modern, malam hari itu jauh lebih mengerikan daripada sekarang, saat malam hari bisa diterangi," katanya. "Pada era itu, malam betul-betul gelap."

Manusia kesulitan menjelaskan bagaimana hewan bisa bergerak dalam kondisi seperti itu.

Kini kita tahu mereka punya jumlah sel batang yang sangat tinggi di matanya.

Pigmen dalam sel-sel ini sangat sensitif terhadap cahaya rendah dan diproduksi dalam jumlah yang tetap setiap malamnya, sehingga hewan-hewan bisa melihat.

Atribut lain yang bisa membuat hewan tak berdosa menjadi punya reputasi buruk adalah katak. Aktivitas seksualnya saat musim kawin dianggap jelek pada masa Abad Pertengahan yang sangat religius, kata Resl. "Saya belum menemukan hal yang positif soal katak."

Kadang-kadang, pikiran negatif kita tentang hewan-hewan mungkin adalah proyeksi akan kelemahan kita sendiri.

Untungnya, persepsi ini berubah seiring waktu. Burung hantu sering diasosiasikan dengan kebijaksanaan. Prasangka buruk tentang mereka kini jarang ditemui.

Margo Demello, penulis dan aktivis hak hewan, punya contoh mengejutkan lain tentang hewan-hewan yang sebelumnya dibenci — kelinci.

Sulit membayangkan spesies lain yang kita anggap lebih tak berdosa daripada hewan-hewan berbulu ini, namun pada abad 18 di Swedia, ada kepercayaan bahwa penyihir bisa mengubah seseorang menjadi kelinci, dan akan mengisap susu dari sapi tetangga sampai kering.

"Tampaknya aneh dan konyol, tapi ada kasus pengadilan di mana perempuan diadili dan dijatuhi hukuman karena kesaksian penampakan dari tetangganya," kata Demelio.

Tak jelas alasan berkembangnya mitos-mitos tersebut, namun ada tema yang jelas. Hewan yang "jahat" kerap diasosiasikan dengan perilaku dan sikap manusia yang sulit dijeaslan — dan mereka juga digunakan sebagai pendapat sosial akan apa yang kita anggap sebagai kegagalan kita sendiri.

Hak atas foto Edwin Giesbers/naturepl.com
Image caption Katak dilihat sebagai hewan vulgar di Abad Pertengahan.

Sampai sekarang, beberapa budaya masih memiliki ide yang mendalam tentang hewan yang mereka anggap jahat.

Satu contoh yang kuat adalah masih adanya mitos yang kuat soal aye-aye, sejenis lemur yang jarang ditemui, yang merupakan hewan asli Madagascar. Beberapa warga lokal, termasuk anggota suku Sakalaya, percaya bahwa aye-aye adalah tanda kehancuran, perwujudan setan.

Aye-aye memang tampak sedikit mengerikan. Bulunya kasar, warna hitam dan abu-abu dan memiliki mata besar warna oranye.

Namun yang paling khas adalah jari tengahnya yang luar biasa panjang dan tipis. Namun fitur ini adalah adaptasi yang sangat berguna — aye-aye akan mengetuk di batang pohon dengan jari panjangnya, menggunakan gema lokasi untuk mendengarkan refleksi sonik akan makanan lezat atau hewan buruan di dalamnya.

Mereka bisa mengetuk dengan cepat sampai delapan kali per detik.

Saat mereka mendeteksi ada makanan, aye-aye akan menggunakan giginya yang kuat untuk mengunyah batang kayu dan mengambil makanannya itu dengan jari-jarinya.

Pada 1990, Lee Durrell, janda dari ahli lingkungan Gerald Durrell, menemani suaminya dalam ekspedisi ke Madagascar untuk mencari aye-aye dan, atas permintaan pemerintah Madagascar, membawa sebagian ke Pulau Jersey untuk dibiakkan di Durrell Wildlife Park.

"Saat itu, aye-aye diketahui belum punah, tapi mereka berada di kantung-kantung hutan yang sangat sedikit di hutan di timur," kata Durrell.

Hak atas foto Mark Carwardine-Naturepl.com
Image caption Aye-aye aktif pada malam hari.

Guide mereka saat itu menjelaskan bagaimana perasaan warga setempat tentang hewan tersebut — jelas bahwa aye-aye sangat tidak populer.

Meski Durrell tak pernah melihat secara langsung, dilaporkan bahwa aye-aye sering langsung dibunuh oleh penduduk desa kemudian digantung untuk dipamerkan.

"Umumnya mereka dianggap roh jahat," kata Durrell. Sebagian menganggap hewan ini adalah pertanda kematian, contohnya "Jika ukurannya kecil, maka anak-anak yang akan mati, atau jika aye-aye tua dan warna abu-abu putih, maka orang tua yang akan meninggal."

Aye-aye adalah hewan nokturnal, sehingga itu bisa membuat mereka dianggap jahat, tapi mereka juga merusak tanaman orang.

"Aye-aye akan datang ke kebun dan menimbulkan kekacauan — orang-orang jelas tidak suka," kata Durrell. "Sekelumit tanah yang ditanami tebu, beberapa tanaman saja, dan aye-aye akan datang serta menghancurkannya dalam seminggu."

Hal ini menjadi contoh lain bagaimana suatu hewan bisa dianggap buruk — dengan melakukan sesuatu yang tak kita sukai.

Bagi aye-aye, kepercayaan setempat ini menyengsarakan mereka karena spesies ini kini berada di Daftar Merah IUCN sebagai hewan terancam punah.

Dan untuk mengatasinya, ini ada beberapa langkah untuk mengajarkan warga setempat akan hewan yang sedang dalam bahaya ini, seperti Proyek Konservasi Sava yang dijalankan oleh Duke University.

Hak atas foto Joel Sartore
Image caption Aye-aye yang terancam punah.

Namun mengubah keyakinan itu tak mudah. Bahkan Colin Miskelly mendengar laporan dari orang-orang Maori bahwa penyelidikannya terhadap Hakawai tak diterima.

"Saat saya mulai meneliti pada 1980an, ada orang-orang yang tidak mau Hakawai dijelaskan," katanya mengenang, dan mengatakan bahwa mitos itu menjadi kuat karena memang tak dijelaskan sebelumnya.

Jika ketakutan itu nampak abstrak, bayangkan, bahwa penduduk di kota-kota di Barat pun kadang masih merinding melihat kelelawar atau ketika ada kucing hitam melintas di depan mereka. Mitos tentang hewan-hewan itu adalah hal yang sangat manusiawi dan banyak ditemukan, meski dampaknya merusak.

"Cara kita berpikir soal hewan tidaklah abstrak," kata Demello, "namun ada dampaknya pada kenyataan."

Dunia di sekitar kita penuh dengan hewan-hewan unik. Saat kita merambah masuk ke habitat mereka, maka wajar saja ketika mereka kembali mengambil sumber daya kita.

Semakin kita memahami dan menghormati alam, maka semakin kecil kemungkinan kita merusaknya.

Meski begitu, alam selalu punya kemampuan untuk membuat kita terkesima. Anda akan mengetahui rasanya lain kali ketika mendengar suara keras dan mematikan di tengah malam, dan membuat bulu kuduk merinding.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The animals we have mistakenly thought of as evil di laman BBC Earth

Topik terkait

Berita terkait