Makhluk-makhluk nyata berkepala dua yang mungkin sumber inspirasi Hydra

Ular berkepala dua Hak atas foto Life On White
Image caption Mungkinkah orang Yunani Kuno mendapat idenya dari ular banyak kepala yang memang ada di alam?

Makhluk berkepala dua tak hanya ada dalam dunia mitos.

Sebuah pemandangan yang mengerikan. Hydra dari Lerna, makhluk seperti ular yang mengerikan muncul dari sarangnya dan menyerang Herakles, anak Dewa Yunani Zeus, yang sudah menunggunya.

Namun Herakles punya rencana. Sebelumnya dia sadar bahwa kepala Hydra akan tumbuh lagi setelah dipotong, maka dia meminta bantuan dari keponakannya, Iolaus.

Kali ini, saat Herakles menyerang makhluk itu, Iolaus akan masuk dan membakar pangkal lehernya dengan obor, mencegah kepala monster itu tumbuh lagi. Sementara Hydra menggeliat dan mendesis, darah serta napasnya yang beracun mengancam nyawa pahlawan terhebat Yunani.

Namun Herakles selamat. Kepala terakhir monster itu terpotong dan Herakles si pemenang bisa menunaikan tugas ketiga dari dua belas yang harus diselesaikannya.

Makhluk dengan banyak kepala dengan bagian dalam yang beracun dan mampu menumbuhkan lagi bagian tubuhnya — tentu ini adalah sebuah imajinasi yang hebat.

Dalam satu kisah, Hydra disebut punya 50 kepala, meski beberapa kisah lain mengatakan tak sebanyak itu.

Tapi dari mana ide luar biasa ini muncul? Mungkinkah orang Yunani Kuno mendapat idenya dari ular berkepala banyak yang memang ada di alam?

Hak atas foto Luis Garcia/CC by 2.0
Image caption Darah hydra disebut mematikan.

Ilmuwan sudah mendokumentasikan kasus-kasus aneh, spesimen berkepala dua selama bertahun-tahun. Seorang L E Cable, pada 1940an menulis tentang embrio ikan pipefish berkepala dua. Dia menyebutnya 'kengerian kecil.'

Baru-baru ini, ahli perkembangan biologi Arkhat Abzhanov di Imperial College, London, melihat banyak contoh makhluk berkepala dua di labnya.

Dengan bantuan pemahaman modern akan genetika, dia mengamati mutasi dan pemindahan sel yang bisa memungkinkan fenomena ini terjadi. Beberapa kasus mungkin bisa menginspirasi penulis mitos kuno.

"Saya sangat yakin bahwa mereka menyadari munculnya hal-hal abnormal ini di sekitar mereka dan berusaha menjelaskannya lewat sebuah cara atau memasukkannya dalam budaya mereka" kata Abzhanov.

Memang betul bahwa sewaktu-waktu, ada hewan berkepala dua atau tiga yang ditemukan di alam liar atau dalam kurungan.

Yang menariknya, fenomena ini — dikenal sebagai polycephaly — tidak terbatas pada satu hewan saja. Contohnya ikan, pada 2013, ada fetus hiu banteng berkepala dua yang ditemukan di Teluk Meksiko pada 2013.

Tahun berikutnya, kasus serupa ditemukan di mamalia laut lain ketika lumba-lumba kepala dua ditemukan tersapu air di pantai Turki.

Keduanya adalah contoh kembar siam — hasil dari pembuahan satu telur yang tidak terpisah secara sempurna setelah pembuahan.

Hal ini juga terjadi di manusia. Kadang hasil pembuahan itu tak hanya punya dua kepala, tapi juga sepasang organ dalam dan tubuh yang sempurna.

Hak atas foto Patrick Rice
Image caption Fetus hiu banteng berkepala dua ini ditemukan di Teluk Meksiko.

Satu eksperimen yang terkenal menunjukkan bahwa sebenarnya mungkin untuk membatasi terbelahnya sel telur yang sudah dibuahi — dan mendorong munculnya kembar siam.

Percobaan ini dlakukan oleh ahli biologi Hans Spermann pada awal abad 20. Dia tertarik memahami cara perkembangan embrio.

Dia mengikat embrio salamander muda dengan sehelai rambut bayi. Dia menemukan bahwa hal ini bisa menyebabkan salamander dengan dua kepala — dua kepala yang memperebutkan makanan untuk tubuh yang sama.

Dia menyebutnya, "dua egoisme di satu tempat".

Bahkan daftar kemunculan hewan berkepala dua sebenarnya cukup panjang — termasuk pada kura-kura, ular, dan bahkan anak kucing.

Kita juga tahu bahwa ini bukan hanya fenomena modern karena ahli paleontologi sudah menemukan embrio fosil dua kepala dari jutaan tahun lalu.

Seperti dikatakan Abzhanov, ada berbagai mekanisme yang bisa memunculkan lebih dari satu kepala atau muka.

Dia menjelaskan bahwa kepala, sebagai fitur umum dari tubuh sebuah organisme, merupakan contoh evolusi yang konvergen — ketika karakter yang mirip berevolusi secara terpisah di berbagai kelompok spesies yang berbeda.

Hewan dengan atau tanpa tulang belakang mendapat keuntungan dari memiliki kepala, tapi punya garis keturunan yang berbeda. Kepala merupakan bentuk adaptasi yang berguna yang bisa muncul di banyak organisme berbeda.

"Ini sebenarnya hal yang menguntungkan," kata Abzhanov, "Anda masuk ke sebuah lingkungan baru pertama lewat kepala."

Karena itulah banyak organ indera — mata, telinga, hidung dan mulut, contohnya — ada di kepala.

Mendapatkan bentuk dan komposisi muka dengan tepat adalah fungsi gen sebuah organisme. Dan satu gen yang punya dampak besar, terutama untuk lebar muka, adalah Sonic Hedgehog atau SHH.

Dinamai dari serangkaian gen "hedgehog" (HH) yang pertama digambarkan dalam hubungan dengan lalat buah — mutasi yang menyebabkan lalat buah lahir dengan rambut berdiri dan membuatnya terlihat seperti landak mini.

Hak atas foto James Gerholdt
Image caption Jarang ada hewan yang terlahir dengan dua kepala.

Hewan bertulang belakang atau vertebrata yang memiliki gen SHH. Abzhanov menjelaskan bahwa jika landak mini memberi sinyal jalur yang melemah saat pertumbuhan embrio, maka kepala organisme itu akan semakin menyempit.

Bahkan dalam beberapa contoh akan kolaps, dan hasilnya hewan terlahir dengan satu mata dan kepala seperti cyclops.

Bahkan sebuah zat yang diketahui menimbulkan efek cacat ini pada hewan ternak seperti domba disebut "cyclopamine". Zat ini ditemukan di corn lily yang kadang dimakan oleh ternak yang mengandung.

Tapi bagaimana jika Anda ingin meningkatkan sinyal SHH? Hasilnya bisa sebaliknya — kepala yang terus melebar sampai ada dua muka yang muncul. "Jenis mutan ini jarang terjadi, tapi dilaporkan ada di hewan domestik dan di alam liar," kata Abzhanov.

Secara teknis, ini akan menghasilkan spesimen dengan dua muka, bukan dua kepala. Jika ada leher dan kepala yang terpisah yang muncul dari satu tubuh, Abzhanov mengamati keanehan lain yang muncul di perkembangan awal.

"Kepala itu seperti struktur lain dalam tubuh, harus dirangsang dan (untuk melakukannya) ada sekelompok sel di embrio awal — yang kita sebut pengatur," katanya. Hasil penelitian Spemann dengan embrio salamanderlah yang kemudian memunculkan temuan bahwa sel bisa berlaku seperti itu.

"Jika Anda mengambil sekelompok sel dan menanamkannya di tubuh embrio kodok (contohnya) maka dia akan punya dua kepala. Ini artinya pelepasan sekelompok sel pengatur ini memberitahu organisme untuk membuat kepala."

Hak atas foto Ken Lucas
Image caption Makhluk kepala dua tak hanya ada di mitos.

Inilah yang terjadi pada kasus kembar siam namun Abzhanov juga mengamati bahwa ini terjadi di laboratorium.

Kadang embrio akan secara tak sengaja punya sekelompok sel kunci yang tercangkok menyusul penyuntikan atau pemotongan ke embrio lain.

Di sini, pengaturnya muncul tiba-tiba, semacam simpanan biologis, oleh instrumen bedah yang digunakan untuk tujuan lain dan tersimpan di suatu tempat.

Peneliti semakin dekat memahami alasan kemunculan langkah abnormal dalam perkembangan. Abzhanov mencatat satu faktor yang mungkin muncul adalah suhu.

Dia dan koleganya sering menerima telur beku dari peternakan ayam. Embrio ini kemudian diperiksa di lab. Namun saat cuaca panas, timnya menyadari ada hal aneh yang terjadi.

"Jika suhunya di atas 30C, pengiriman telur yang kami terima minggu itu punya tingkat abnormalitas yang lebih tinggi — termasuk berkepala dua," katanya.

Menariknya, hal ini juga terjadi di tempat lain. Seorang ahli biologi, contohnya, menemukan bahwa air suhu tinggi menghasilkan perkembangan embrio zebrafish dua kepala.

Tak jelas kenapa ini terjadi, namun semakin banyak penelitian kini dilakukan untuk memahami pengaruh suhu terhadap kelainan bentuk tersebut.

Hak atas foto Bettmann
Image caption Kembar siam juga muncul dari telur yang sama yang dibuahi.

Biologi memang mungkin menginspirasi mitos, namun sebaliknya juga benar, mitos menginspirasi biologi.

Beberapa fitur Hydra juga membantu menginspirasi penamaan sekelompok hewan laut kecil pada 1758, yang dinamai oleh ahli botani dan zoologi Swedia, Carl Linnaeus. Makhluk-makhluk ini menarik karena mereka memiliki kemampuan mirip ular dan bisa melakukan regenerasi dirinya sendiri — seperti saat Hydra menghadapi Herakles.

Satu hal yang harus dicatat; organisme berkepala dua, seperti halnya kembar siam, tak memiliki tingkat hidup yang tinggi.

Jarang melihat mereka hidup setelah masa embrionik dan bahkan lebih jarang lagi melihat mereka masuk ke masa dewasa.

Sebuah contoh pada 2014 menunjukkan bahwa pertumbuhan organisme yang terus terjadi bisa menimbulkan tekanan besar pada makhluk banyak kepala.

Sebuah temuan yang tak sengaja — yang mungkin akan membahagiakan Spemann — dilaporkan terjadi di Universitas Haifa di Israel — salamander berkepala dua (foto di bawah). Mereka mendapat perhatian luas di media tapi tak hidup lama.

"Tak umum menemukan salamander berkepala dua," kata Leon Blaustein, yang mengelola lab tersebut di Universitas Haifa.

"Mereka bisa hidup cukup baik sebagai larva tapi setelah metamorfosis, mereka mati." Salamander adalah kecebong sampai mereka bermetamorfosa menjadi dewasa — proses di mana mereka kehilangan insang dan sirip.

Kepalanya, secara khusus, mengalami banyak perubahan. Mata mereka berkembang, muncul lidah dan gigi, dan mulutnya melebar. Mungkin perubahan-perubahan dramatis ini memicu kematian mereka yang cepat — jawabannya belum pasti.

Hak atas foto Ori Segev
Image caption Salamander berkepala dua ini tidak hidup lama.

Selain mengamati hewan berkepala dua, orang Yunani Kuno mungkin punya sumber insprasi lain, kata Abzhanov. Dia menyebut bahwa ular punya kebiasaan berkumpul saat musim kawin — dan membentuk "bola pasangan".

"Anda bisa membayangkan melihat satu 'badan' dan beberapa kepala," katanya.

"Anda melihat ular dengan banyak kepala di semak-semak, dan terlihat sangat berbahaya juga." Dan memang, beberapa ilustrasi kuno soal Hydra juga terliaht seperti itu.

Polycephaly tentu tak biasa, dan manusia secara psikologis juga cemas terhadap hal-hal yang mereka anggap abnormal. Beberapa reaksi itu bisa menjelaskan bagaimana kelainan bentuk digunakan untuk membuat mitos Hydra menjadi makhluk yang mengerikan.

Kisah salamander berkepala dua dari Blaustein, seperti penggambaran "kengerian kecil" dari Cable, menggambarkan ketidaknyamanan manusia akan polycephaly.

Orang bahkan menyebut teori konspirasi akan kasus tersebut. "Hal ini kemudian menjadi berlebihan karena ada kelompok-kelompok berbeda yang mengklaim di internet bahwa penyebabnya adalah radiasi," kata Blaustein, "tapi kita tidak tahu kenapa ini terjadi."

Image caption Ular berkepala dua atau beberapa ekor ular?

Hydra bukan satu-satunya monster dalam mitologi manusia yang memiliki lebih dari satu kepala.

Monster lain yang dihadapi Herakles, yang keduabelas dari dua belas tugas yang harus diselesaikannya, adalah berhadapan dengan anjing dengan banyak kepala, Cerberus.

Mitologi Jepang kuno mengisahkan Yamata no Orochi — ular berkepala delapan. Dan ada mitos Slavik tentang Zmey Gorynych - naga berkepala tiga.

Polycephaly dalam kisah sastra menunjukkan cara menghadapi berbagai tantangan sekaligus, sesuatu yang tidak bisa dikalahkan dengan mudah. Dan masuk akal ada ketidaknyamanan di seputar monster dengan banyak kepala.

Masih banyak yang bisa diungkap tentang polycephaly pada hewan, namun mengingat rendahnya tingkat kehidupan dari organisme berkepala dua, baik dalam penangkaran maupun di alam liar, tak ada alasan untuk menyatakan bahwa hal ini akan menjadi lebih dari sekadar keanehan di dunia nyata.

Kita hanya bisa menebak-nebak dari mana sumber inspirasi para penulis mitos klasik.

Mungkin juga bahwa seseorang, pada zaman dulu, bertemu dengan makhluk banyak kepala dan menceritakan kisah yang berlebihan tentang mereka. Dan pada akhirnya, ini menjadi legenda yang banyak kita dengar sekarang.


Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di The two headed creatures that may have inspired hydra di laman BBC Earth

Topik terkait

Berita terkait