Dari mana datangnya kemampuan untuk menari?

Menari balet Hak atas foto Kathrin Ziegler
Image caption Ada perdebatan yang terus berlangsung tentang apakah kemampuan untuk menari hanya ada pada manusia.

Manusia mungkin bisa menari dengan baik, tapi tak berarti hanya manusia yang memiliki kemampuan itu.

Jika Anda melihat cara seekor cenderawasih jantan yang begitu mengagumkan saat berusaha memikat pasangannya, sulit untuk tidak menyebutnya sebagai tarian.

Untuk membuat gerakannya terlihat lebih menarik secara visual, si jantan itu kadang-kadang menyapu kotoran di sekitarnya, sehingga betina yang penasaran bisa melihat keseluruhan kecantikan tarian itu.

Hewan lain juga menari. Contohnya Snowball, yang terkenal sebagai kakatua yang menari, atau singa laut yang bergerak seirama dengan lagu Thriller yang dibawakan Michael Jackson.

Tentu, mereka tidak melakukan pirouette atau assemblés yang ada di balet klasik. Tapi sama halnya seperti manusia, hewan-hewan ini butuh bertahun-tahun untuk mempelajari gerakan tarian yang sulit.

Terlepas dari kemampuan yang ditunjukkan oleh hewan-hewan ini, ada perdebatan yang terus berlangsung tentang apakah kemampuan untuk menari hanya ada pada manusia, atau apakah kemampuan ini berakar dan juga ada pada sejarah evolusi dengan dunia hewan.

Kini ada dua teori utama soal asal tarian — tapi belum bisa dipastikan mana yang benar.

Hak atas foto Tim Laman /National Geographic Creative/naturepl
Image caption Butuh beberapa tahun bagi cenderawasih jantan untuk mempelajari tariannya.

Tak ada satu cara yang pasti untuk mendefinisikan tarian. Ini menyulitkan untuk membandingkan gerakan tarian pada hewan dengan tango atau balet yang dilakukan manusia.

Tapi jika tarian bisa dibagi dalam komponen bagian, maka bisa lebih mudah untuk melihat kesamaannya.

Jelas ada kemampuan mendasar yang terlibat di sini. Satu, adalah bergerak mengikuti irama, yang pada manusia biasanya dilakukan menggunakan musik atau ketukan.

Berikutnya adalah menyamakan gerakan dengan individu lain. Meniru gerakan orang lain juga penting, karena ini memungkinkan penari untuk mempelajari gerakan yang lebih rumit.

Namun perilaku ini juga tergantung pada beberapa hal secara bersamaan. Contohnya, suara diproses menggunakan bagian otak pendengar, sementara gerakan melibatkan korteks motorik.

"Saya tidak tahu apakah ada serangkaian kriteria yang diperlukan yang membedakan tarian dan tidak melibatkan tindakan lain," kata Peter Cook dari New College of Florida di Sarasota, AS.

Kini menjadi semakin mudah untuk mempelajari banyak komponen inti tarian di dunia hewan. Dan perkembangan ini memungkinkan peneliti untuk melihat bagaimana tarian telah berevolusi. Pertanyaan ini baru didalami dengan serius dalam satu dekade terakhir.

Hak atas foto 3d4Medical.Com/SPL
Image caption Suara diproses menggunakan bagian otak pendengar, sementara gerakan melibatkan korteks motorik.

Saat rekaman video Snowball, kakatua yang menari, pertama muncul pada 2007, peneliti terkesima.

Seekor hewan terlihat menari mengikuti irama, sesuatu yang sebelumnya hanya dilakukan oleh manusia.

Mereka berkesimpulan bahwa Snowball bisa menarik karena dia termasuk dalam spesies vokal, kemampuan ini memungkinkannya untuk memahami nada.

Komponen utama dalam keduanya adalah imitasi. Dalam penelitian yang diterbitkan pada 2016, yang mensurvei satu dekade terakhir dalam penelitian di bidang itu, peneliti berpendapat bahwa kemampuan untuk meniru adalah komponen mendasar dalam tarian.

"Orang menyelesaikan tantangan ini dengan menangkap arsitektur saraf yang sama saat meniru," tulis mereka.

Kesimpulan ini memicu peneliti untuk menanyakan alasan manusia bisa dengan mudah menari mengikuti irama yang kompleks, dan hewan lain, seperti anjing, monyet dan kucing tidak bisa.

Lihat saja lukisan terkenal The Dance Class 1873-76 oleh Edgar Degas di bawah ini.

Lukisan ini menunjukkan sekelompok gadis sedang menonton yang lain menari, mungkin berniat untuk menirukan penari-penari itu di giliran mereka berikutnya. Lukisan Degas menunjukkan kemampuan luar biasa manusia dalam meniru.

Hak atas foto Google Cultural Institute via Wikimedia Commons
Image caption Lukisan The Dance Class oleh Edgar Degas.

Nicky Clayton dari University of Cambridge, Inggris adalah salah satu penulis penelitian pada 2016 itu. Dia mempelajari burung-burung dan juga seorang penari.

Clayton berpendapat bahwa "contoh terkuat dalam imitasi gerakan pada hewan datang dari manusia melakukan gerakan balet atau tarian kontemporer.

Orang tak hanya harus meniru gerakna tersebut, mereka harus menerjemahkannya untuk badan mereka. Gerakan yang mirip inilah kuncinya."

Ini juga sebabnya dia dan sesama peneliti berpendapat bahwa pembelajaran vokal, yang membutuhkan kemampuan mempelajari lagu atau kata-kata menggunakan imitasi, terkait erat dengan kemampuan kita menari.

Hal ini disebut "hipotesis pembelajaran vokal" yang dicetuskan pertama kali pada 2006. Teori ini mengatakan bahwa hanya hewan lain dengan kapasitas pembelajaran vokal yang bisa "bergerak sinkron sesuai nada dari ketukan musik".

Penelitian pada otak burung di 2008 menjelaskan bagaimana ini bisa terjadi. Area otak yang terkait dengan gerakan dan pembelajaran vokal terletak berdampingan, dan otak pembelajaran vokal kemudian berevolusi sebagai "jalur khusus yang sudah ada" menuju gerakan.

Jika hipotesis pembelajaran vokal tepat, maka kemampuan untuk bergerak mengikuti nada akan terbatas pada spesies vokal.

Artinya kakatua dan songbird; mamalia cetacea, termasuk paus, lumba-lumba dan porpoise; dan pinniped seperti singa laut dan anjing laut. Sebagian besar hewan-hewan ini adalah pembelajar vokal.

Dengan kata lain, Clayton dan koleganya menyimpulkan bahwa tarian adalah produk sampingan dari imitasi.

"Mungkin kita mendapat tarian dengan mudah, kita tidak berevolusi menjadi penari yang baik," kata Cook. Meski begitu, ada pendapat lain tentang bagaimana tarian berevolusi.

Hak atas foto Rohit Kushwah / EyeEm
Image caption Kakatua adalah pembelajar vokal.

Cook dan koleganya Andrea Ravignani tak sepakat bahwa hipotesis ini sudah menjelaskan semuanya.

Dalam laporan balasan yang diterbitkan pada Oktober 2016, mereka mengatakan bahwa meski imitasi ini penting, namun tarian tak hanya soal imitasi saja.

Contohnya, kemampuan untuk mengetukkan kaki mengikuti nada bisa dipelajari tanpa imitasi. Begitu juga dengan menarikan gerakan tanpa menirukan, seperti yang dilakukan oleh penari yang berimprovisasi.

Lebih jauh lagi, Cook mengatakan bahwa "perubahan di otak yang memungkinkan manusia menari" berasal dari kemampuan mendasar untuk "memperhatikan irama dalam konteks sosial".

Kemampuan ini — "bukan hanya pada tarian, tapi juga kemampuan untuk mengenali nada dan menggunakannya secara sosial" — dengan mudah ditemukan dalam dunia satwa.

Ahli biologi abad 19, Charles Darwin, memikirkan hal yang sama. Pada bukunya yang terbit 1871, The Descent of Man, dia menulis bahwa "persepsi, jika bukan kenikmatan, dari nada musik dan ritme umum pada semua hewan dan tergantung pada kondisi fisiologis dari jaringan saraf mereka."

Bukti kini muncul untuk menunjukkan bahwa pikiran Darwin ini mungkin benar.

Hak atas foto Tim Laman/National Geographic Creative/Naturepl
Image caption Burung cenderawasih jantan memikat pasangannya dengan gerakan tarian yang rumit.

Pada laporan penelitian 2013, Cook melaporkan bahwa singa laut California menunjukkan kemampuan mengikuti ritme meski bukanlah pembelajar vokal.

Hewan ini juga bisa menari. Singa laut bisa mengangguk-anggukkan kepala dengan kecepatan berbeda dengan mengikuti pola ketukan yang berbeda, dan tidak hanya meniru pelatih seperti yang dilakukan oleh pinnped penari lainnya.

Pada kerabat terdekat kita, primata, beberapa spesies menunjukkan kemampuan ritmis yang jelas. Monyet dan kera bisa menabuh kayu, dan mereka kadang bersuara berbarengan pada saat yang sama.

Bahkan hewan yang lebih jauh kekerabatannya menunjukan pemahaman terhadap nada, termasuk kepiting uca dengan kaki bercincin yang melambaikan capitnya untuk menari bersama dalam satu kelompok, dan katak peregang kaki yang akan menunjukkan gestur ritmis dengan kakinya.

Menurut Cook, hewan-hewan ini dan hewan lainnya, menggunakan nada untuk berbagai perilaku yang tidak mirip dengan tarian.

"Mungkin ini perilaku mencari makan, atau mungkin ini perilaku ritual yang berusaha berkompetisi untuk mencari pasangan," katanya.

"Ada kemampuan mendasar untuk sensitif theradap nada di lingkungan dan menggunakannya dengan cara sosial."

Bagi Cook, ritme adalah kemampuan mendasar dalam menari dan ditemukan di banyak hewan. Hanya saja, hewan yang berbeda menggunakannya dengan cara berbeda pula, tergantung apa yang penting bagi mereka.

"Poin utama kami adalah: jika Anda ingin memikirkan tentang hal mendasar dalam dunia hewan yang bisa mendukung tarian, kemampuan dasar itu ada, dan itu sudah terbangun pada hewan sejak dulu kala."

Hak atas foto Jane Burton/Naturepl.com
Image caption Kepiting uca dengan kaki bercincin yang melambaikan capitnya untuk menari bersama dalam satu kelompok.

Dengan kata lain, meski katak kaki meregang tak bisa berdansa seperti Swan Lake, kemampuan itu, seperti dikatakan Cook, "adalah variasi dari mekanisme yang sama".

Ide ini menarik tapi dalam beberapa tahun terakhir, bukti semakin bertambah bahwa kedua hipotesis ini bisa menjawab permasalahannya.

Secara khusus, ternyata hewan yang memiliki pembelajaran vokal yang bagus buruk dalam ritme.

Hal ini mungkin menjadi kabar buruk bagi hipotesis pembelajaran vokal, dan menjadi kontradiksi akan ide Cook bahwa ritme adalah universal.

Contohnya, pada penelitian 2016, ditemukan bahwa pipit zebra sulit mendeteksi pola ketukan, dan tak bisa membedakan nada sederhana.

"Banyak hewan yang bisa bergerak secara terkoordinasi dan mengikuti nada, namun tak berarti bahwa mereka sesnitif terhadap nada secara umum, atau bahwa mereka bisa mensinkronkan serangkaian perilaku dengan ritme eksternal," kata seorang peneliti Carel ten Cate dari University of Leiden di Belanda.

Sebagai primata, monyet resus lebih mirip dengan manusia daripada pipit zebra, namun yang mengejutkan, primata ini tak sebaik manusia dalam memahami nada, menurut penelitian 2012 tentang otak mereka.

Bagaimana kita menjelaskan kegagalan ritme ini?

Hak atas foto Roger Powell/naturepl.com
Image caption Monyet rhesus tak bisa memahami nada.

Satu kemungkinan, kita belum mengembangkan tes yang tepat untuk memahami kemampuan hewan-hewan ini.

Monyet dan kera menunjukkan kemampuan memahami nada, namun mereka belum mengenalinya dengan cara yang sama seperti manusia.

Atau mungkin ada faktor lain. Seperti ditunjukkan oleh Clayton dan timnya, menari membutuhkan gerakan tubuh yang sangat terkontrol. Dan untuk melakukannya, manusia memiliki otak yang lebih besar daripada monyet.

Mungkin kaitan antara gerakan motorik monyet dan sistem pendengaran mereka yang lebih lemah daripada kita, kata Henkjan Honing dari University of Amsterdam di Belanda.

Simpanse, yang lebih dekat dengan manusia, malah lebih baik. Penelitian menunjukkan bahwa kemampuan ritmis mereka terus berlanjut, dan satu penelitian pada 2015 menunjukkan bahwa mereka bisa mengikuti ketukan jari seseorang.

Ada satu kemungkinan terakhir. Mungkin tarian manusia dan hewan tidak semirip yang pertama disangka.

Hak atas foto Roger Powell/naturepl.com
Image caption Burung lyre yang luar biasa menari tanpa nyanyian dan menyanyi tanpa menari.

Pada manusia, tarian sangat erat kaitannya dengan musik. Beberapa peneliti bahkan mengatakan bahwa yang satu jarang muncul tanpa yang lain; Anda tak bisa mendengarkan musik tanpa menari, setidaknya dalam pikiran.

Senada dengan ini, beberapa budaya hanya punya satu kata yang mencakup dua hal tersebut.

Tapi ini tak berlaku bagi semua burung yang menari. Beberapa spesies burung cenderawasih melakukan tarian yang kompleks tanpa tarian, meski lainnya bernyanyi dan menari bersama-sama.

Namun spesies lain, burung lyre yang luar biasa, akan menari tanpa nyanyian dan menyanyi tanpa tarian, seperti terungkap pada penelitian di 2013.

Ini menunjukkan bahwa nyanyian dan tarian terpisah, kata salah satu peneliti Anastasia Dalziell dari Cornell University di Ithaca, New York.

Sebelumnya dia merasa tidak mungkin untuk mempelajari nyanyian burung tanpa melihat tarian, "karena keduanya saling terkait erat, mereka menyamakan gerakan tarian dengan jenis lagu." Namun penelitiannya menunjukkan dengan jelas bahwa "tidak ada hubungan antara tampilan vokal dan visual pada burung".

Bagi burung-burung ini, musik dan tarian tak terkait seperti halnya pada manusia. Ini menunjukkan bahwa fondasi saraf tarian pada burung berbeda dengan manusia.

Dengan mempertimbangkan perbedaan yang besar antara manusia dan burung, ini tidak mengejutkan.

Namun ini menunjukkan bahwa tarian bisa berevolusi dengan cara berbeda, dari titik awal yang berbeda pula.

Mungkin ada beberapa spesies yang mulai lewat nada dan menambahkan elemen lain, sementara spesies lain mulai dari melakukan imitasi atau tiruan dan berangkat dari sana.

Dengan kata lain, mungkin tidak ada satu penjelasan sempurna akan tarian hewan. Namun alasan hewan menari mungkin sama beragamnya seperti tarian yang dikembangkan oleh manusia.

Versi asli tulisan ini bisa Anda baca di Where did the ability to dance came from? di laman BBC Earth

Topik terkait

Berita terkait