Di Siberia ada lubang raksasa yang semakin membesar

siberia Hak atas foto Alexander Gabyshev

Sebuah kawah yang terbentuk di lapisan es Siberia semakin membesar pada tingkat yang mengkhawatirkan.

Dekat aliran sungai Yana, di daerah permafrost (lapisan es yang tetap membeku di bawah tanah) yang luas, ada lubang besar berbentuk mirip kecebong yang dramatis: kawah Batagaika.

Kawah ini juga dikenal sebagai "megaslump" dan ini adalah yang terbesar dari jenisnya: panjangnya hampir 1km dan sedalam 86m. Tapi angka-angka ini akan segera berubah, karena kawah ini membesar dengan cepat.

Penduduk setempat menghindarinya, mengatakan itu adalah "pintu ke neraka". Tapi bagi para ilmuwan, situs ini sangat menarik.

Penelitian pada lapisan yang terkuak akibat amblesan tanah dapat memberikan indikasi tentang bagaimana dunia kita dulu - terutama iklim masa lalu. Pada saat yang sama, tingkat pertumbuhan yang cepat memberikan informasi gamblang ke dalam dampak perubahan iklim pada permafrost yang semakin rapuh.

Hak atas foto Julian Murton

Ada dua jenis permafrost. Satu dari es glasier, sisa dari Zaman Es terakhir dan kini terkubur dalam tanah. Tipe lainnya adalah satu yang ada di kawah Batagaika, es yang terbentuk di tanah sendiri. Biasanya, ini adalah es yang terjebak di lapisan sedimen dan telah membeku setidaknya dalam dua tahun terakhir.

Kawah Batagaika membuka area luas permafrost yang awalnya terkubur, beberapa di antaranya telah terbentuk ribuan tahun yang lalu.

Hal yang memicu terbentuknya kawah itu terjadi pada 1960 lalu. Pembalakan hutan yang cepat mengakibatkan tanah tidak lagi ditutupi pepohonan di bulan-bulan paling panas. Sinar matahari ini kemudian menghangatkan tanah.

Ini diperparah dengan hilangnya "keringat" dingin dari pohon yang bertranspirari - yang membuat tanah terus dingin.

"Kombinasi ini kurangnya tutupan pohon dan transpirasi menyebabkan pemanasan di permukaan tanah," kata Julian Murton dari University of Sussex di Inggris.

Hangatnya permukaan tanah membuat lapisan tanah tepat di atas lapisan es juga menghangat. Hal ini menyebabkan lapisan es itu sendiri mencair. Setelah proses ini dimulai dan es itu terkena suhu panas, pelelehan semakin meningkat.

Hak atas foto Julian Murton

Karena alasan inilah ilmuwan secara rutin memonitor kawah ini. Satu penelitian yang dirilis jurnal Quaternary Research pada Februari 2017 menemukan bahwa dengan menganalisa lapisannya bisa menguak sejarah iklim selama 200.000 tahun.

Selama 200.000 tahun terakhir, iklim bumi telah berganti berulang kali antara periode "interglasial" yang relatif hangat dan periode "glasial" dingin di mana lapisan es melebar.

Lapisan sedimen Batagaika memberikan "catatan sejarah geologi, yang cukup tidak biasa," katanya. "Itu memungkinkan kita untuk menafsirkan iklim dan sejarah lingkungan di sana."

Namun, untuk saat ini penanggalannya belum pasti. "Kami masih bekerja pada kronologi," kata Murton.

Selanjutnya, ia perlu mengumpulkan dan menganalisis sedimen lebih banyak. Idealnya, ini akan dikumpulkan dengan menggunakan bor untuk mendapatkan "seri sedimen yang terus menerus", yang akan membantu memberikan tanggal yang lebih akurat.

Catatan permafrost kemudian bisa dibandingkan dengan data dari catatan suhu lainnya, seperti inti-inti dari lapisan es.

"Pada akhirnya, kami mencoba untuk melihat apakah perubahan iklim selama Zaman Es terakhir [di Siberia] ditandai dengan banyak variabilitas: pemanasan dan pendinginan, pemanasan dan pendinginan seperti yang terjadi di wilayah Atlantik Utara," kata Murton.

Hal ini penting, karena sejarah iklim di wilayah Siberia bagian utara masih sedikit dipahami. Dengan merekonstruksi perubahan lingkungan yang terjadi di masa lalu, para ilmuwan bisa membantu meramalkan perubahan serupa.

Hak atas foto Alexander

Misalnya, 125 tahun yang lalu, iklim berada dalam periode interglasial, di mana suhunya berada beberapa derajat lebih panas dari suhu saat ini. "Jika kita bisa memahami seperti apa ekosistem waktu itu - mungkin ini bisa memberikan prediksi bagaimana lingkungan bisa berubah jika sekarang terjadi pemanasan global," kata Murton.

Jika lapisan es merespon pemanasan dengan cara yang sama seperti yang terjadi setelah zaman es terakhir, kita dapat berharap untuk melihat lebih banyak amblesan, cekungan besar dan danau yang terbentuk.

Lahan baru bahkan mungkin mulai muncul, ketika es mencair mengekspos tanah yang terkubur 10-20m di bawah permukaan yang asli.

"Permafrost yang sangat kaya es ini mulai mencair dari atas ke bawah sehingga akan ada lansekap baru yang terbentuk," kata Murton.

Dampak tersebut mungkin tidak terlalu lama. Kita sekarang tahu bahwa permafrost ini berubah cepat.

Hak atas foto Julian Murton

Frank Günther dari Alfred Wegener Institute di Potsdam, Jerman, dan timnya telah memantau area ini selama sepuluh tahun terakhir, menggunakan citra satelit untuk mengukur tingkat perubahan.

Selama penelitian mereka, dinding kepala kawah telah membesar dengan rata-rata 10m per tahun. Pada tahun-tahun hangat, perubahan lebih besar, kadang-kadang sampai 30m per tahun. Günther mengumumkan hasil risetnya pada pertemuan American Geophysical Union Desember 2016.

Dia juga memiliki alasan untuk percaya bahwa dinding samping kawah akan terus ambles hingga lembah tetangga yang juga terkikis dalam bulan-bulan musim panas berikutnya.

Hal ini pada gilirannya akan "sangat mungkin" menjadi pemicu baru bagi pertumbuhan amblesan yang lebih besar lagi.

"Rata-rata selama bertahun-tahun, kita melihat bahwa tidak ada begitu banyak akselerasi atau deselerasi dari angka ini, itu terus berkembang," kata Gunther. "Dan pertumbuhan yang berkelanjutan berarti bahwa kawah semakin dalam dan dalam setiap tahun."

Ini memiliki konsekuensi mengkhawatirkan lainnya.

Hak atas foto Julian Murton

Banyak dari es deposit yang sekarang terkuak ke permukaan terbentuk selama Zaman Es terakhir. Es tanah ini mengandung banyak bahan organik, termasuk banyak karbon yang telah terkunci selama ribuan tahun.

"Estimasi global jumlah karbon yang tersimpan dalam lapisan es adalah sama seperti apa yang ada di atmosfer," kata Gunther.

Karena semakin banyak permafrost mencair, semakin banyak karbon terpapar mikroba. Mikroba mengkonsumsi karbon, menghasilkan metana dan karbon dioksida sebagai produk limbah. Gas rumah kaca ini kemudian dilepaskan ke atmosfer, mempercepat pemanasan lebih lanjut.

"Ini adalah apa yang kita sebut umpan balik positif," kata Gunther. "Pemanasan mempercepat pemanasan, dan ini dapat berkembang di tempat lain. Ini bukan cuma ancaman bagi infrastruktur. Tidak ada yang bisa menghentikan perkembangan ini. Tidak ada solusi rekayasa untuk menghentikan kawah ini berkembang."

Tidak ada indikasi bahwa erosi kawah ini akan melambat dalam waktu dekat, karena terus tumbuh dari tahun ke tahun. Ini membuat masa depan permafrost Siberia terlihat sangat goyah.

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul In Siberia there is a huge crater and it is getting bigger atau artikel lain di BBC Earth.

Topik terkait

Berita terkait