Zombi di dunia nyata yang lebih aneh dari fiksi

Bassettia pallida Hak atas foto Andrew Forbes/University of Iowa
Image caption Bassettia pallida ialah tawon parasitoid yang menginfeksi pohon ek, dan kemudian diinfeksi oleh tawon lain.

Zombi yang kita kenal dari cerita fiksi ialah para mayat hidup pemakan daging yang ganas; dan meskipun cerita seperti itu tak pernah menjadi nyata, alam sejatinya penuh dengan kasus 'zombifikasi' yang terjadi pada tanaman dan hewan. Terkadang kesamaannya begitu mencolok.

Gagasan bahwa perilaku hewan dapat berubah secara drastis oleh suatu infeksi atau parasit begitu menggelisahkan, namun ini fenomena yang telah banyak ditemukan di alam. Bahkan, sejumlah fosil menunjukkan bahwa semut zombi telah ada di bumi 48 juta tahun lalu.

Jadi mari berkenalan dengan para zombi di dunia nyata, beberapa dari mereka bahkan lebih aneh dari fiksi.

Semut zombi

Beberapa tahun lalu, Matt Fisher sedang melakukan penelitian di hutan lebat Guyana Perancis ketika ia menemukan pemandangan mengerikan. "Kami menemukan kadaver serangga yang dihinggapi parasit, memanjat suatu tanaman, dengan semacam struktur dengan kantung spora mencuat dari kepala mereka," ia mengenang.

Fisher, seorang pakar epidemiologi penyakit fungi di Imperial College London, langsung mengenali makhluk itu.

Mereka ialah bangkai semut "zombi" - serangga yang terinfeksi parasit jamur yang mengendalikan tubuh dan pikiran mereka, membuat mereka memanjat tanaman tempat mereka hidup.

Ketika mereka mati, spora fungi jatuh dan menghujani semut lain di bawah, menyebarkan penularan lebih luas lagi.

Hak atas foto David P. Hughes, Maj-Britt Pontoppidan/CC BY 2.5
Image caption Semut yang diinfeksi fungi Ophiocordyceps unilateralis

Sementara para zombi di cerita fiksi seringkali menyebarkan infeksi melalui gigitan, semut-semut ini mengaitkan tubuh mereka ke tanaman dengan cara serupa.

Kadang-kadang, mereka berpegangan dengan rahang mereka yang mencengkeram kuat. Lalu mereka mati tanpa melepaskan kertak itu.

Kelompok fungi yang dapat melakukan ini termasuk dalam genus Ophiocordyceps. Setelah terinfeksi, si semut zombi akan merangkak ke lokas tertentu yang ditentukan spesies fungi yang telah 'memangsanya' itu.

Mungkin jenis yang paling terkenal, Ophiocordyceps unilateralis, mendorong inangnya untuk mengakhiri hidup mereka bertengger di bawah sehelai daun.

Sedangkan semut yang telah takluk pada Ophiocordyceps australis akan mati di serasah hutan.

Tidak begitu jelas bagaimana fungi bisa memberikan dampak yang spesifik ini pada organisme yang jauh lebih kompleks.

Namun David Hughes, Harry Evans, dan kawan-kawan terus berupaya mencari tahu - mereka telah mempelajari fungi cordyceps selama puluhan tahun.

Dalam riset mereka, Hughes dan kawan-kawan menemukan bahwa spesies berbeda telah berevolusi untuk menyesuaikan dengan siklus hidup spesies semut yang mereka jadikan inang. "Ini contoh yang menakjubkan dari ko-evolusi," kata Evans.

Dalam artikel ilmiah yang diterbitkan pada 2016, Evans dan sesama peneliti menjelaskan bahwa mereka menduga fungi menggunakan serangkaian enzim yang mengubah proses dalam tubuh semut inang.

Enzim-enzim ini dapat, misalnya, mengubah ekspresi gen dengan cara tertentu yang memengaruhi perilaku semut tersebut.

Juga diketahui bahwa, setelah mengalami 'zombifikasi', jaringan otot dalam tubuh semut rusak secara perlahan.

Hak atas foto Jurgen Freund/Naturepl.com
Image caption Semut (Formicidae sp) yang mati setelah terinfeksi fungi Ophiocordyceps.

Mungkin juga terjadi manipulasi langsung terhadap sistem saraf semut, dan kontrol neurotransmitter atau zat kimia pembawa pesan antar saraf seperti dopamin - yang juga dapat mengubah perilaku.

Akan tetapi, interaksi ini tidak sepenuhnya dipahami. Yang jelas ialah semakin banyak contoh serangga-fungi zombi yang ditemukan di alam.

"Pertanyaan selanjutnya yang kami coba jawab ialah: apakah hal serupa terjadi pada laba-laba," kata Evans. "Dan jawabannya sepertinya: ya."

Zombi di kehidupan nyata ini bahkan memengaruhi penggambaran zombi dalam fiksi.

Karena mereka telah lebih dikenal, fungi cordyceps telah menginspirasi cerita-cerita modern tentang mayat hidup. Contohnya, dalam novel M.R. Carey The Girl With All the Gifts dan dalam permainan video The Last of Us, manusia menjadi korban parasit fungi, bukan virus zombi.

Parasit Zombi

Situsi ketika kehidupan dua organisme terhubung secara langsung - seperti pada parasit dan inang - disebut simbiosis. Di dunia serangga, terdapat banyak contoh hubungan seperti ini.

Salah satunya, tawon parasit Glyptapanteles, yang bertelur dalam tubuh ulat. Ketika telur-telur itu menetas, larva tawon akan memakan cairan tubuh ulat inangnya sebelum membersit keluar dan membentuk kepompong.

Namun sang ulat, meskipun terluka karena proses ini, masih hidup dan berperan sebagai semacam "tukang pukul" yang dengan agresif mengusir kumbang yang mendekat -dan hendak memangsa- kepompong tersebut.

Penelitian menunjukkan bahwa dengan kehadiran si ulat zombi, jumlah predator yang mendekati kepompong dapat berkurang setengahnya - keuntungan yang jelas dalam upaya bertahan hidup.

Hak atas foto Andrew Forbes/University of Iowa
Image caption Tawon 'penjaga kubur', Euderus set.

Istilah parasitoid berarti parasit yang akhirnya membunuh inangnya. Ada banyak contoh tawon parasitoid yang memengaruhi perilaku inangnya secara mengerikan.

Kelly Weinersmith, seorang ekolog di Universitas Rice, mempelajari satu contoh menjijikkan pada awal 2017; yang dikenal sebagai tawon penjaga kuburan, atau Euderus set.

Tawon parasitoid ini menunggu spesies tawon lain membuat puru: benjolan pada tanaman yang terbentuk ketika spesies tertentu tawon meletakkan telurnya.

Pengungkapan itu bermula ketika kolega Weinersmith Scott Egan menemukan puru tawon yang tidak biasa ketika berjalan-jalan dengan keluarganya.

Pada kasus ini, puru tersebut dibuat spesies tawon yang disebut Basettia pallida.

Biasanya, telur B. pallida akan menetas dan akhirnya membuat lubang di dalam puru kemudian terbang ke luar.

Namun dengan adanya si tawon penjaga kuburan, takdirnya tidak begitu beruntung. Itu karena Euderus set meletakkan telurnya di dalam puru, yang diibaratkan sebagai kuburan.

Hak atas foto Egan Lab/Rice University
Image caption Tawon Bassettia pallida mati dalam lubang yang mereka ciptakan sendiri.

"Kita tidak tahu ia melakukannya dengan mekanisme apa, namun ia memengaruhi tawon pertama yang ada di sana untuk membuat lubang," kata Weinersmith.

"Namun lubangnya lebih kecil dari biasanya, dan bukannya keluar, kepala tawon itu tersangkut di lubang tersebut dan kemudian mati."

Si tawon penjaga kuburan kini berkuasa. Ia memakan si tawon yang mati terperangkap sebagai sumber nutrisi untuk pertumbuhannya.

"Setelah dewasa, ia keluar dengan menerobos kepala inangnya," kata Weinersmith.

Jadi, parasit 'melahirkan' parasit. Tawon pertama, B. pallida, parasit bagi tumbuhan, berubah menjadi zombi - dan sumber nutrisi bagi parasitnya, si penjaga kuburan.

Dua contoh pengendalian ini, satu bergantung pada yang lainnya, menjadikan ini contoh langka hiper-manipulasi, kata Weinersmith.

Hak atas foto Alpsdake/CC by 3.0
Image caption Katak pohon Jepang mengubah panggilan kawin mereka setelah terinfeksi fungi Batrachochytrium dendrobatidis.

Zombi seks

Jika zombi ialah organisme yang perilakunya telah dimodifikasi secara drastis untuk menguntungkan parasit, maka contoh aneh lainnya dapat ditemukan pada katak pohon Jepang di Korea Selatan.

Pada Maret 2016, Bruce Waldman di Universitas Nasional Seoul dan mahasiswanya, Deuknam An, mempublikasikan bukti manipulasi perilaku yang disebabkan fungi patogen Batrachochytrium dendrobatidis.

Fungi ini merupakan ancaman yang umum bagi banyak spesies katak, namun katak pohon Jepang di Asia tampaknya tidak seketika mati ketika suatu populasi terinfeksi.

Ketika Waldman dan An mendengarkan panggilan kawin 42 katak pohon jantan, mereka menyadari bahwa sembilan katak yang terinfeksi Batrachochytrium dendrobatidis menyuarakan panggilan yang lebih cepat dan panjang - membuat mereka lebih menarik bagi betina.

Hak atas foto Andrew Forbes/University of Iowa
Image caption Bassettia pallida ialah tawon parasitoid yang menginfeksi pohon ek, dan kemudian diinfeksi oleh tawon lain.

Sejak laporan tersebut dipublikasikan, Waldman dan timnya telah merekam panggilan kawin katak pohon yang sehat di lapangan sebelum membawa mereka ke laboratorium untuk dipelajari. Panggilan kawin katak-katak tersebut kembali direkam setelah mereka diinfeksi dengan B. dendrobatidis.

Pada kelompok katak lainnya, panggilan kawin direkam setelah infeksi fungi mereka disembuhkan. Tim penelitian Waldman mengemukakan bahwa di kedua kelompok, panggilan kawin berubah sebagai akibat langsung infeksi.

"Namun, kami belum bisa memastikan apakah perbedaan panggilan kawin tersebut disebabkan manipulasi fungi terhadap inang," kata Waldman.

Perbedaan itu bisa juga disebabkan, misalnya, reaksi lainnya yang dialami katak terhadap infeksi.

Matt Fisher mengatakan amfibi itu bisa dibilang telah berubah menjadi "zombi seks", yang interaksi berikutnya dengan katak betina meningkatkan peluang fungi untuk menyebar lebih luas. "Ini masih berupa hipotesis yang belum terbukti, tapi datanya cukup kuat," ujarnya.

Zombi tanaman mutan

Mungkin salah satu contoh mengejutkan dari zombi di alam bukanlah hewan yang perilakunya menjadi kacau - namun tumbuhan yang berubah menjadi mutan.

Saskia Hogenhout di John Innes Centre dan koleganya menemukan mekanisme yang digunakan satu kelompok bakteri, fitoplasma, untuk mengubah tanaman tak berdaya menjadi zombi. Mereka mempublikasikan hasil penelitian mereka pada 2014.

Hak atas foto Hectonichus/CC by 3.0
Image caption Serangga wereng (famili Cicallidae) dapat menularkan bakteri dari tanaman ke tanaman.

Bakteri tersebut butuh disebarkan oleh serangga yang memakan getah tanaman, contohnya wereng (Cicallidae). Namun untuk menarik 'kendaraan infeksi' ini, tanaman yang terinfeksi harus terlebih dahulu tunduk kepada keinginan si bakteri.

"Tampaknya si parasit mengambil alih tanaman (inang)," kata Hogenhout.

Hogenhout dan timnya menemukan bahwa bakteri fitoplasma menghasilkan protein yang mengubah proses molekuler di dalam tumbuhan.

Protein tersebut mengubah faktor transkripsi: protein milik si tumbuhan yang mengatur ekspresi gen dan membantu diferensiasi organ, misalnya apakah ia akan membentuk daun atau bunga atau tangkai.

Protein invasif fitoplasma menggantikan protein si tumbuhan inang hingga ia mulai berubah. Bunga berubah menjadi semacam daun berwarna hijau. Infeksi ini membuat tumbuhan inang lebih menarik bagi serangga yang menjadi boncengan bagi si bakteri dan membawanya ke tumbuhan lain untuk dijadikan inang baru.

"Sangat jelas bahwa parasit ini mengganggu sejumlah proses dasar tumbuhan dan mengubah identitas inangnya, dan itulah yang disebut zombi," kata Hogenhout.

Hak atas foto SB Johnny/CC by 3.0
Image caption Phyllody yang disebabkan Fitoplasma Aster Kuning (AYP) pada tanaman "goldenrod" (Solidago)

Tanaman zombi terutama contoh yang menarik karena tanaman itu tidak mati akibat infeksi.

Ia hanya bertransformasi menjadi sarana yang berguna untuk memperluas penularan. Seperti dikatakan pakar biologi Jon Dinman di University of Maryland, beberapa infeksi ala zombi yang sukses menjaga inangnya tetap hidup.

Secara umum, penyakit punya peluang paling besar untuk tertular di antara organisme ketika virulensinya --kemampuannya untuk membahayakan-- bisa ditahan. Inilah yang terjadi pada tanaman zombi, sevagai contohnya.

Untungnya, manusia tidak terancam oleh patogen-patogen ini.

Namun nasib malang menimpa beberapa serangga dan organisme lainnya. Di hutan-hutan di seluruh dunia, para zombi berada di sana, pikiran dan tubuh mereka telah berubah di bawah pengaruh parasit yang spektakuler.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Real-life zombies that are stranger than fiction di BBC Earth

Berita terkait