Makhluk-makhluk yang nyaris tak terlihat

Ubur-ubur Hak atas foto Getty Images

Mereka pintar mengakali cahaya untuk menyamarkan lekuk tubuhnya.

Anda tentu tahu dan mendengar bagaimana cumi-cumi dan gurita memakai pigmen untuk mengelabui lingkungan sekitarnya. Namun, Anda mungkin belum tahu soal teknik penyamaran mereka yang sempurna. Untuk membuat tubuh tembus pandang, seolah-olah tidak berwujud padahal sesungguhnya ada, mereka memodifikasi tubuh supaya cahaya dapat menembus dengan leluasa atau dibelokkan - sehingga tidak memantulkan cahaya. Tentu sulit sekali, tetapi beberapa makhluk hidup berikut sudah cukup mahir untuk urusan penyamaran.

Hak atas foto AFP
Image caption Ubur-ubur mauve stinger

Gurita kaca

Soal penyamaran, satwa laut disodorkan dua pilihan. Makhluk laut dalam yang menghuni lantai samudera biasa menyamar dekat pasir atau karang, atau bersembunyi ke antara terumbu karang. Berhubung zona laut dalam cukup pekat dan biasanya mata predator kurang awas, mereka tidak perlu membuat tubuhnya betul-betul transparan.

Yang hidupnya dekat permukaan laut biasanya memancarkan cahaya menyilaukan atau yang disebut bioluminesens, untuk mengecoh predator supaya mereka terkecoh mengira itu pantulan matahari di permukaan air. Sayangnya, yang hidup di tengah-tengah tak punya banyak pilihan. Wilayah yang disebut sebagai zona pelagik inilah yang kemudian dihuni oleh makhluk-makhluk paling transparan di Bumi.

Cara termudah untuk tak terlihat yaitu membuat tubuh mereka betul-betul transparan dan membiarkan cahaya menembus tubuh mereka. Persoalannya tidak banyak persembunyian yang tersedia di laut terbuka, sehingga mereka mengandalkan tubuhnya supaya tidak bisa dilihat dari berbagai sudut pandang. Trik ini populer sekali, berbagai jenis hewan laut mengembangkannya secara mandiri.

Salah satunya gurita gelas (Vitreledonella richardi). Dinamai demikian sebab tubuhnya nyaris transparan. Seperti agar-agar, ukuran hewan ini bisa mencapai 45 cm sampai ujung tentakel. Tempat hidupnya yaitu antara 300-1.000 meter di bawah permukaan laut, di perairan laut tropis dan subtropis yang ada di berbagai belahan dunia, dan nyaris tak nampak oleh mata predator. Yang tampak jelas hanya usus, syaraf optik, dan matanya saja.

Lalu apa untungnya membuat seluruh tubuh mereka transparan kalau mata dan ususnya masih kelihatan? Bukankah ini justru memancing mata predator dan membuat mereka mudah dikenali.

Supaya berfungsi dengan baik, mata butuh cahaya. Itu sebabnya tidak mungkin buat mahluk-mahluk ini mengubah mata mereka menjadi transparan. Sedangkan usus memperlihatkan isi perut mereka. Terkecuali mereka menyantap makanan yang transparan, maka isi perutnya otomatis terlihat. Walau demikian, gurita dan mahluk transparan lain berupaya sebisa mungkin menyamarkan dan memburamkan bagian organ tubuh mereka yang kelihatan itu.

Gurita gelas (Vitreledonella richardi) contohnya, hewan ini punya mata yang bisa dipanjangkan. Walau ini mengurangi untuk dapat melihat sekitarnya, namun memanjangkan mata bisa mengurangi pantulan ke bawah sehingga memperkecil peluang dapat terdeteksi oleh predator yang sedang berburu mangsa di bawah. Sejumlah temuan juga menyebutkan bahwa gurita gelas lihai sekali mengakali tubuh sedemikian rupa sehingga bayangan tubuhnya tidak terlihat.

Gurita gelas bukan satu-satunya makhluk yang mampu mengubah matanya. Ada banyak moluska transparan mengkamuflase mata sehingga menyerupai cermin. Sebab, saat melihat cermin di laut terbuka maka pantulannya juga laut. Itu sebabnya sulit dikenali.

Hak atas foto Loic Venance/AFP
Image caption Ubur-ubur dalam Ocearium di Prancis.

Cranchiidae atau cumi gelas

Keluarga cumi gelas ada sekitar 60 spesies, hampir semuanya tembus pandang. Hidupnya juga di zona pelagik antara 200 dan 1.000 meter di bawah permukaan laut. Tubuh mereka transparan dan matanya memanjang, sehingga sulit bagi predator yang berenang di bawah untuk melihat bayangan mereka. Cumi gelas (Cranchiidae) punya trik cerdas untuk urusan kamuflase. Mereka punya organ tambahan di bawah mata yang disebut photopores yang menghasilkan cahaya berkedip atau penerangan balasan. Dari dalam laut, cahaya tersebut mirip pijaran sinar matahari sehingga mata predator yang berenang di bawah kesulitan mengenalinya. Namun, dari sudut yang berbeda cumi-cumi ini cukup mencolok dan kedipan cahaya mirip lampu suar tersebut bisa menarik perhatian predator.

Peneliti asal Universitas Pennsylvania menemukan bahwa photophore cumi-cumi mampu menyamai jumlah cahaya yang datang dari berbagai sisi dengan cahaya yang mereka hasilkan, sehingga menciptakan semacam jubah penyamaran multiarah.

Hak atas foto Loic Venance
Image caption Sejumlah mahluk punya trik cerdas untuk urusan kamuflase.

Tomopteris, si cacing laut dalam

Marga ini atau kelompok plankton laut cacing polychaeta betul-betul transparan sehingga sulit terdeteksi oleh predator. Walau transparan, ada sekitar 11 spesies di kelompok ini punya kemampuan menghasilkan cahaya warna-warni yang terang. Umumnya cacing tomopteris berkilau kebiruan, tetapi satu spesies Tomopteris nisseni bisa menghasilkan cahaya kuning dan hanya sedikit mahluk di planet ini yang bisa begitu.

Beberapa cacing tomopteris bahkan bisa mengecoh predator dengan melepas bagian tubuh mereka yang bercahaya yang disebut parapodia, sehingga predator mengejar bagian tubuh yang terlepas dan bukan cacing itu sendiri.

Salp laut

Salp adalah mahluk berbentuk tabung yang betul-betul transparan dan dapat berenang dan makan dalam waktu bersamaan caranya dengan memompa air ke tubuhnya yang kenyal seperti agar-agar. Mereka menyaring fitoplankton di dalam air untuk makan. Walau bentuknya agak mirip ubur-ubur sesungguhnya sistem mereka lebih rumit dan salp berkerabat dekat dengan ikan dan vertebrata - mereka memiliki jantung dan insang dan bisa bereproduksi secara seksual.

Siklus hidup salp sangat menarik. Sebagian hidupnya dijalani sendirian, namun mereka kemudian mengkloning tubuhnya dan membentuk untaian panjang dan beraneka bentuk lainnya yang menyerupai sebuah organisme terhubung. Salp yang seorang diri menyesuaikan gaya berenang lewat komunikasi menggunakan sinyal elektrik.

Hak atas foto Yoshikazu Tsuno/AFP
Image caption Cumi-cumi di Sunshine Aquarium, Tokyo

Hyperiids

Kadang transparan saja tidak cukup dan sejumlah organisme memakai trik lain supaya tidak terlihat. Ini kasusnya dengan Hyperiid, krustasea kecil yang mirip udang. Dengan tubuh yang transparan mereka mampu bersembunyi dari kejaran. Namun, itu tidak cukup. Sebab bayangkan sebuah pesawat kaca yang transparan, Anda mungkin tidak melihatnya sampai ada cahaya jatuh ke permukaan pesawat dan memantulkan cahaya ke mata Anda. Persoalan serupa juga dialami makhluk-makhluk transparan di laut. Pasalnya, sejumlah predator juga punya bioluminesens yang bekerja ibarat senter untuk membantu mereka berburu mangsa.

Sebuah penelitian terbaru menyebutkan bahwa hyperiid punya segudang trik menyamar, tak cuma membuat dirinya transparan saja. Mereka diketahui memakai sejenis teknologi nano untuk mengecoh dan membelokkan cahaya, menjubahi diri, sehingga pinggiran tubuhnya bahkan sulit dikenali. Peneliti menggunakan pemindai elektron mikroskopis untuk mengamati lebih dekat tujuh spesies hyperiids. Mereka menemukan bahwa kaki-kaki salah satu spesies tertutup dengan benjolan kecil seperti rambut berukuran nano.

Tubuh spesies ini dan enam lainnya juga tertutup benjolan berukuran nano, mulai dari di bawah 100 nanometer hingga sekitar 300 nanometer. Benjolan berukuran sangat mungil tersebut mampu meminimalisir sebaran cahaya dan peneliti mendapati bahwa kombinasi dari kedua struktur nano-benjolan dan rambut dapat mengurangi faktor refleksi hingga 100 kali lipat. Cuma anehnya, peneliti menduga lapisan tersebut bisa jadi bakteri.

Japetella heathi dan Onychoteuthis banksii

Cumi-cumi Japetella heathi dan gurita Onychoteuthis banksii juga punya sejumlah trik untuk urusan menyamar - mereka bisa berubah dengan cepat dari transparan ke warna coklat kemerahan.

Kedua makhluk tersebut hidup di Samudera Pasifik, sekitar kedalaman 600-1000 meter - dikenal sebagai zona mesopelagik. Walau membuat tubuh mereka transparan sangat membantu mereka dalam penyamaran di permukaan air, sebab sebaran cahaya matahari menembus lurus ke jaringan tisu mereka yang transparan, namun saat mereka terkena cahaya langsung mereka sangat mudah dikenali.

Kondisi semacam ini cukup sering terjadi, sebab predator juga punya organ pemancar cahaya serupa photophore yang berfungsi ibarat senter untuk berburu. Mangsa mereka di kedalaman laut ini umumnya berwarna merah dan hitam, artinya hanya sedikit memantulkan cahaya biru. Japetella heathi, sejenis gurita, dan Onychoteuthis banksii, sejenis cumi-cumi, mampu berganti di antara keduanya. Bagaimana mereka melakukannya? Kulit kedua spesies memiliki sel cahaya yang sensitif yang disebut kromatofor. Sel tersebut memiliki pewarna dan saat mereka mendeteksi cahaya mereka lekas mengembang dan melepas pigmen.

Hak atas foto Joe Klamar/AFP
Image caption Mahluk-mahluk laut ini mampu berubah-ubah warna tergantung cahaya.

Safir laut

Safir laut (Sapphirina) besarnya hanya seukuran semut dan ia hidup di laut tropis yang hangat dan subtropis. Makhluk ini tergolong kelompok krustasea yang disebut copepods. Safir laut punya berbagai jenis spesies dengan warna-warna cemerlang, mulai dari biru terang, merah, sampai keemasan.

Hal yang luar biasa dari makhluk ini ialah dalam hitungan detik mereka sanggup berganti dari makhluk yang memancarkan cahaya menyilaukan ke makhluk yang tidak terlihat, nyaris menghilang. Cara mereka melakukannya juga luar biasa. Kulit mereka atau sel kutikulanya mengandung kepingan kristal mungil yang tersusun dalam pola sarang lebah heksagonal. Kristalnya mengandung guanine, satu dari empat komponen penyusun DNA. Lapisan kristal tersebut terpisah satu sama lain oleh cairan seperti sabun yang disebut cytosol.

Tim peneliti menemukan bahwa walau lapisan kristal guanine selalu memiliki ketebalan yang sama - 70 nanometer, ketebalan cytosol antar lapisan bervariasi antara 50-200 nanometer. Variasi ini yang menentukan warna dari safir laut. Lapisan cytosol yang lebih tebal menghasilkan panjang gelombang cahaya yang lebih panjang saat direfleksikan, sehingga membuat copepod tampak berwarna merah atau ungu.

Warnanya juga berubah-ubah tergantung cahaya. Saat sudutnya terus mengecil, panjang gelombang cahaya yang direfleksikan menjadi pendek, maka warna yang terlihat cenderung lembayung.

Jika sudutnya cukup kecil maka pantulan cahayanya masuk spektrum ultraviolet, ini berarti mata manusia tidak bisa mengenalinya dan safir laut seakan lenyap. Menurut peneliti, gelombang cahaya yang jatuh efektif ke permukaan krustasea di sudut 45° akan membuat mahluk tersebut tidak terlihat.

Kupu-kupu sayap gelas

Semua makhluk transparan yang dibicarakan di atas hidup di laut. Ada alasan mengapa lebih mudah bagi mahluk hidup membuat tubuhnya transparan di laut ketimbang di darat. Sebab, supaya bisa tidak terlihat, mereka mengakali serapan atau refleksi dari cahaya. Hal ini sulit dilakukan oleh tumbuhan atau hewan yang hidup di darat. Pasalnya indeks refraktif jaringan yang hidup dan udara berbeda jauh. Yang disebut indeks refraktif dari sebuah materi adalah penentu seberapa cepat rambatan cahaya dapat menembusnya. Di ruang hampa misalnya, cahaya cepat sekali merambat. Sedangkan semakin padat sebuah materi maka semakin lama juga rambatan cahayanya, ini berarti indeks refraktifnya juga besar.

Jaringan biologis sifatnya lebih tebal dan padat daripada udara. Saat gelombang cahaya merambat melewati udara dan menembus jaringan tumbuh, lajunya melambat. Ini yang menyebabkan cahaya berubah arah dan tersebar sehingga memunculkan pantulan yang membuat sosok hewan lebih mudah dilihat.

Lain halnya dengan di laut. Perbedaan antara indeks refraktif air dan jaringan biologis lebih kecil. Ini alasan mengapa lebih mudah buat mahluk hidup yang hidup di laut mengubah tubuh mereka menjadi transparan. Itu juga sebabnya, Anda tidak banyak menemukan mahluk hidup tembus pandang di darat, sebab organisme di darat membutuhkan pigmen seperti melanin untuk melindungi mereka dari radiasi ultraviolet matahari. Walau begitu ada pengecualian dalam kamus tembus pandang. Salah satu pengecualiannya yaitu kupu-kupu sayap gelas (Greta oto) yang menghuni Amerika Tengah.

Walau tidak semua tubuhnya tembus pandang, sayapnya yang transparan bisa mengecoh predator saat dia sedang terbang. Untuk mengetahui bagaimana kupu-kupu ini bisa membuat tubuhnya transparan, peneliti mengamati sayapnya di bawah mikroskop elektron. Mereka menemukan benjolan berukuran nano yang disebut nanopullars yang tersebar acak dan memiliki panjang berbeda-beda. Ukurannya yang acak dan sebaran struktur berukuran nano membantu kupu-kupu meminimalisir pantulan dari sayapnya. Nanopillars berfungsi membuat cahaya bergerak lurus saat melewati sayap, sehingga tidak menghasilkan pantulan.

Moluska transparan

Pengecualian lain dalam aturan ini adalah siput tembus pandang (Zoepeum tholussum) yang ditemukan di dalam gua di Kroasia. Peneliti dari Universitas Goethe, Frankfurt, mendapati moluska tembus pandang hidup 980 meter di bawah tanah dalam Gua Lukina Jama-Trojama. Ia hidup di salah satu rongga gua yang dipenuhi batu dan pasir, serta memiliki sebuah sungai kecil.

Siput tersebut tergolong marga siput darat miniatur dan ditemukan dalam gua bawah tanah yang gelap dan ia tidak mampu menggerakan tubuhnya sendiri. Diyakini, kata peneliti, siput tersebut memanfaatkan aliran air untuk berpindah tempat. Walau tembus cahaya siput ini cukup terlihat. Ini lagi-lagi menegaskan betapa sulitnya hewan di darat bisa seperti hewan di laut.

Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini di BBC Earth, berjudul The animals that are almost invisible.

Berita terkait