Bagaimana kiat 'laba-laba kanibal' memburu mangsa?

Laba-laba pembajak (Ero sp.) pada jaring laba-laba lain. Hak atas foto Stephen Dalton
Image caption Laba-laba pembajak (Ero sp.) pada jaring laba-laba lain.

Membuat jaring, menangkap lalat, membungkus lalat tersebut dengan sutra, lalu memakannya di waktu senggang. Strategi berburu ini terbukti begitu efektif hingga laba-laba pembuat sarang menjadi salah satu kelompok hewan paling sukses. Terdapat lebih dari 3.000 spesies, dan mereka di temukan di hampir setiap tempat di bumi.

Membuat jaring ialah strategi yang cukup rumit. Selain berbagai rupa benang sutra dan lem, laba-laba perlu melakukan serangkaian manuver yang teliti.

Tapi kenapa repot-repot membuat sarang sendiri, jika Anda bisa menjajah sarang laba-laba lain dan melahap sang arsitek?

Kelompok laba-laba 'kanibal' yang dikenal sebagai "pembajak" telah mengadopsi metode menangkap mangsa yang jahat ini. Strategi berburu mereka termasuk yang paling hebat di dunia satwa.

Hak atas foto Christopher Johnson, Insects Unlocked, CC by 1.0
Image caption Laba-laba pembajak yang belum teridentifikasi

Laba-laba pembajak (Mimetidae) ialah anggota dari kelompok laba-laba yang meliputi semua jenis "pembuat sarang" - jenis yang membuat sarang berbentuk lingkaran - tetapi mereka tidak membuat jaring.

Sebenarnya, mereka kehilangan kemampuan itu. Mereka masih bisa membuat benang sutra, yang mereka gunakan untuk membangun kantung telur dan membungkus mangsa. Namun anatomi mereka tidak memungkinkan untuk memintal jaring. Jumlah "spigot" pada spineret mereka jauh lebih kecil dibandingkan para kerabatnya.

Sebagai gantinya, mereka menjajah jaring laba-laba lain, dalam upaya memancing lalu membunuh sang arsitek yang malang. Mereka memetik senar jaring dengan lembut, menarik sang tuan rumah untuk mendekat.

Ketika laba-laba pemilik sarang telah cukup dekat, si pembajak mulai beraksi.

Pertama-tama, ia mengurung mangsanya di antara dua kaki depan yang besar. Kaki-kaki ini dilengkapi dengan duri besar, disebut "macrosetae", yang digunakan untuk memerangkap mangsa di dalam semacam keranjang yang mirip penjara.

Kemudian, jurus pamungkasnya: si pembajak menggigit mangsa dan menggunakan taringnya untuk menyuntikkan racun yang melumpuhkan si mangsa seketika.

Ini teknik berburu yang sangat efektif.

"Saya terpukau ketika menyaksikan seekor laba-laba pembajak berkeliaran sambil menjulurkan sepasang kaki depannya yang panjang untuk menyudutkan laba-laba lain," kata Mark Townley dari Universitas New Hampshire. "Meskipun telah menghabiskan berjam-jam untuk memberi makan laba-laba pembajak dalam studi tentang spineret, saya tak pernah menjadi letih melihat mereka mencari mangsa dan menyerangnya. Itu selalu menjadi tontonan yang mengagumkan. Mereka dapat mengayunkan sepasang kaki depan itu dengan begitu lembut, saya pernah melihat mereka menyentuh laba-laba mangsa dengan sangat halus tanpa menimbulkan reaksi apapun, mangsanya seperti tidak menyadarinya."

Namun kita belum sepenuhnya memahami strategi laba-laba pembajak.

Hak atas foto Nick Upton
Image caption Laba-laba galur (Larinioides cornutus)

Terutama, belum jelas kenapa laba-laba pembajak memetik benang jaring laba-laba mangsanya.

Telah lama diasumsikan bahwa dengan memetik jaring, laba-laba pembajak meniru getaran yang disebabkan serangga yang terperangkap. Karena itu laba-laba pembajak diberi nama latin Mimetidae, atau "peniru".

Akan tetapi, tidak semua pakar entomologi setuju bahwa itulah yang dilakukan laba-laba pembajak.

"Perilaku laba-laba tuan rumah terhadap laba-laba pembajak agak berbeda dengan perilaku terhadap mangsa mereka, begitu pula getaran di jaring yang diakibatkan keduanya," kata Carl Kloock dari Universitas Negeri California, Bakersfield.

Ia mengajukan pendapat lain. "Bagi saya tampaknya laba-laba jaring meniru getaran laba-laba penjajah jaring dari spesies yang sama, dan mungkin laba-laba dari spesies berbeda," kata Kloock. "Seekor laba-laba perlu mempertahankan sarangnya - sumber daya yang berharga - dari laba-laba lain, yang bisa menjajah jaring tersebut agar tidak perlu membuat sarang mereka sendiri, atau sekadar berusaha mencuri mangsa."

"Interaksi ini mengikuti pola yang cukup sederhana. Kedua laba-laba saling memberi tanda, lalu pelan-pelan mendekati satu sama lain, biasanya sampai laba-laba yang lebih kecil menyerah dan meninggalkan jaring.

"Saya pikir yang dilakukan laba-laba pembajak pada dasarnya ialah mengirim tanda palsu yang menyatakan diri mereka sebagai penjajah jaring yang menolak pergi, memancing sang tuan rumah terus mendekat sampai berada dalam jangkauan serangan," Kloock menambahkan.​

Lalu ada persoalan tentang racun laba-laba pembajak, yang berevolusi menjadi sangat beracun bagi laba-laba lainnya, termasuk anggota spesies mereka sendiri, namun tidak terhadap hewan lain.

"Ketika laba-laba lain digigit, ia berhenti bergerak, sedangkan lalat buah masih bisa bergerak-gerak selama beberapa menit," kata Daniel Mott dari Universitas Negeri A&M Texas. "Racun mereka tampaknya sangat spesifik untuk laba-laba."

Mengapa, dan bagaimana, strategi berburu yang unik ini berkembang?

Ada dua masalah: pertama, laba-laba yang menjadi mangsanya juga merupakan predator, dilengkapi dengan taring dan racun. Ini berarti mereka lebih berbahaya daripada, katakanlah, kumbang atau lalat; dan jumlahnya pun kurang berlimpah.

Kedua, laba-laba pembajak ialah predator spesialis. Meskipun mereka terkadang melahap mangsa lainnya, sumber makanan utama mereka ialah laba-laba. Sebagai perbandingan, sebagian besar laba-laba pembuat sarang ialah predator generalis, memakan apapun yang terperangkap di jaring mereka.

Bahkan, laba-laba pembajak tidak mampu menangkap laba-laba lain tanpa berdiri di atas jaring.

"Di laboratorium, jika Anda memasukkan laba-laba pembuat sarang ke dalam toples tapi tidak membiarkannya memintal jaring, laba-laba pembajak tidak akan menyerangnya," kata Danilo Harms dari Universitas Hamburg di Jerman. "Ia perlu jaring untuk menangkap laba-laba lain."

Entah bagaimana, nenek moyang laba-laba bajak laut kehilangan kemampuan menenun jaringnya sendiri dan menjadi pemangsa laba-laba lainnya.

Hak atas foto Stephen Dalton
Image caption Laba-laba pembajak (Ero sp.) pada jaring laba-laba lain.

Harms mengatakan penjelasan yang paling masuk akal ialah perilaku tersebut dimulai dengan pencurian. Nenek moyang laba-laba pembajak mungkin mulai menyerang jaring laba-laba lainnya untuk mencuri serangga yang telah susah payah ditangkap, diracuni, dan disimpan sang tuan rumah.

Perilaku ini disebut "kleptoparasitisme".

Beberapa laba-laba proto-pembajak mungkin membawa taktik ini ke tingkat berikutnya, dengan mengincar si tuan rumah itu sendiri. Seiring berjalannya waktu, mereka menjadi semakin terspesialisasi untuk menangkap laba-laba lainnya: kaki depan mereka berevolusi menjadi sangat panjang dan mereka mengembangkan perilaku memetik jaring yang rumit serta racun spesifik laba-laba.

Gagasan ini disebut "hipotesis kleptoparasitisme".

Apapun alasan perilaku aneh mereka, laba-laba pembajak sangat sukses. Para ilmuwan telah mendata lebih dari 160 spesies, dan mereka ditemukan di setiap benua kecuali Antartika.

Hak atas foto Alex Hyde
Image caption Kantung telur laba-laba pembajak (Ero sp.)

"Kita mengetahui sedikit tentang biologi sebagian kecil laba-laba pembajak, tapi untuk sebagian besar spesies, kita sama sekali tidak tahu tentang sejarah hidup dan perilaku mereka," kata Gustavo Hormiga dari Universitas George Washington. "Misalnya, kita hampir tidak tahu apa-apa tentang biologi laba-laba pembajak Amerika Selatan dari genus Gelanor."

Dalam genus ini, pedipal laba-laba jantan - kaki khusus yang mereka gunakan untuk membuahi betina - panjangnya dua kali lipat panjang tubuhnya. Ini memungkinkan mereka untuk membuahi betina dari kejauhan. "Laba-laba lainnya harus berdekatan untuk bersanggama," kata Hormiga. Kawin dari kejauhan merupakan tindakan pencegahan karena laba-laba bajak laut agresif, memiliki racun yang kuat, dan selalu siap memangsa araknida lain, termasuk jenisnya sendiri.

Tapi mereka juga punya sisi lembut.

Dalam penelitian yang diterbitkan pada November 2016 di jurnal Cladistics, Hormiga dan mahasiswanya Ligia Benavides mendeskripsikan lima spesies baru. Studi mereka juga dilengkapi laporan pertama tentang laba-laba pembajak betina yang mengasuh anak-anaknya.

Perawatan anak relatif lazim pada laba-laba. Beberapa jenis sekadar memuntahkan kembali mangsa untuk makanan anak-anak mereka, sedangkan yang lainnya sampai membiarkan laba-laba muda untuk memakan mayat mereka. Namun perawatan anak sebelumnya tak pernah ditemukan pada laba-laba pembajak yang terkesan "jahat".

"Di lapangan, kami mengamati betina Mimetus, Anansi,dan Ero merawat telur dan anak-anak mereka. Laba-laba pembajak bisa menjadi induk yang baik," kata Benavides.

"Dalam beberapa kasus, laba-laba betina membagi-bagi telur mereka secara merata dalam sebuah jaring kecil di bawah daun. Tetapi jika saya memindahkan jaring atau menyentuh si laba-laba, ia akan mengumpulkan semua telur atau anak-anaknya dengan cepat, membungkus mereka, dan membawanya pergi untuk melindungi mereka."

Laba-laba pembajak jelas punya cerita sendiri. Namun, kebiasaan mereka meniru mangsa untuk melahap laba-laba lain - kebiasaan yang dikenal sebagai "mimikri agresif" - tidaklah unik. Kebiasaan ini telah berkembang secara independen pada araknida sedikitnya dua kali.

Hak atas foto Premaphotos
Image caption Laba-laba peloncat (Portia schultzi)

Terdapat genus laba-laba pelompat bernama Portia. Laba-laba ini juga meniru mangsa, memetik jaring laba-laba lain, dan melahapnya.

Seperti laba-laba loncat lainnya, Portia memiliki mata yang sangat besar dan kebanyakan dari mereka mengandalkan penglihatan untuk mencari mangsa. Sebaliknya, laba-laba pembajak tampaknya lebih mengandalkan sentuhan. Dalam penelitian di laboratorium, menutupi mata mereka dengan cat tidak begitu memengaruhi serangan mereka terhadap laba-laba lainnya.

Laba-laba pembajak dan Portia ialah hasil perkembangan evolusioner yang cukup baru. Namun "laba-laba pelikan" juga memakan sesama araknida - dan mereka sangat purba, muncul sebelum evolusi serangga bersayap.

Laba-laba pelikan dijuluki demikian karena memiliki rahang sangat besar dan leher yang memanjang. Secara ilmiah dikenal sebagai Archaeidae, mereka juga terkadang dijuluki "laba-laba pembunuh".

Dengan satu rahang mereka menombak mangsa. Dengan rahang yang lain, mereka menyuntikkan racun.

Laba-laba pelikan selalu memangsa laba-laba lain - tidak seperti para mimetid, yang berevolusi dari laba-laba pembuat sarang. Mereka pertama kali ditemukan dari spesimen fosil pada tahun 1854, menurut Harms, sebelum spesimen yang masih hidup ditemukan di Madagaskar pada 1881.

"Jadi, jika mereka hidup sebelum ada serangga, apa yang bisa mereka makan? Laba-laba lainnya," kata Harms. "Karena itulah mereka memiliki morfologi yang aneh."

Meskipun terlihat aneh, bagi beberapa laba-laba, melahap saudara sepupu mereka ialah cara yang bagus untuk bertahan hidup.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, 'Pirate spiders' make a living by preying on other spiders, di BBC Earth.

Berita terkait