Kacang yang 'membangun' satu perusahaan raksasa di dunia

Hak atas foto iStock
Image caption Kata 'coca' pada Coca-Cola mengacu pada ekstrak daun coca (koka) yang dicampur dengan sirup gula

Kacang kola sudah lama terkenal di Afrika Barat dan lebih dari ratusan tahun yang lalu dibawa ke Eropa dan Amerika Serikat. BBC mencari tahu bagaimana kacang tersebut membantu menciptakan salah satu produk terbesar di dunia.

Anda mungkin pernah mendengar Coca-Cola mengandung suatu bahan yang mampu membuat orang kecanduan: kokain. Kata 'coca' pada Coca-Cola mengacu pada ekstrak daun coca (koka) yang dicampur dengan sirup gula dibuat oleh pembuat asli minuman tersebut yaitu pakar kimia dari Atlanta, John Pemberton.

Pada waktu itu, akhir abad ke-19, ekstrak daun koka yang dicampur dengan minuman anggur atau wine adalah minuman tonik yang biasa, dan minuman manis buatan Pemberton adalah suatu cara untuk mengakali peraturan yang melarang penjualan alkohol. Namun, nama kedua dari minuman tersebut (Cola) mewakili bahan lainnya, yang kurang terkenal, tapi juga ampuh yaitu kacang kola.

Kacang kola, jika Anda belum pernah melihatnya sendiri, panjangnya sekitar lima cm dan berwarna hijau. Di dalam tempurungnya ada bonggol-bonggol daging kacang yang seperti Anda temukan di dalam tempurung chestnut, tapi berwarna kemerah-merahan atau putih.

Hak atas foto iStock
Image caption Kacang Kola sebagai stimulan bagi orang-orang Afrika Barat.

Di Afrika Barat, di habitat asli kacang kola, orang-orang mengunyahnya sebagai stimulan. Itu karena kacang tersebut mengandung kafein dan theobromine, zat-zat yang juga secara alami ada di teh, kopi, dan cokelat. Kacang kola juga mengandung gula dan kolanin yang disebut sebagai stimulan jantung.

Banyak kegunaan dari kacang kola, dan perkebunannya di Afrika Barat sudah berumur ratusan tahun. Sejarawan, Paul Lovejoy, menceritakan bahwa selama bertahun-tahun, pepohonan lebat yang tersebar luas tersebut ditanam di tanah pekuburan dan sebagai bagian dari ritual masa pubertas.

Kacang kola sebagai hadiah

Walaupun kacang tersebut -yang perlu selalu tetap lembab- agak susah untuk diangkut, para pedagang mengangkutnya selama ratusan kilometer melewati hutan-hutan dan savana-savana. Nilai kacang tersebut hanya dapat dipahami oleh perusahaan yang menyimpannya.

Pada tahun 1581 penguasa Kekaisaran Songhai di Sahel barat mengirim hadiah mewah dari emas, kerang cowrie, dan kacang kola ke Timbuktu pada acara pembangunan masjid.

Hak atas foto iStock
Image caption Orang-orang Eropa tidak mengetahui kacang kola sampai tahun 1500-an.

Orang-orang Eropa tidak mengetahui kacang kola sampai tahun 1500-an, ketika kapal-kapal Portugis tiba di pantai yang sekarang dikenal dengan nama Sierra Leone, cerita Lovejoy.

Dan ketika bangsa Portugis sedang melakukan perdagangan dengan mengangkut kacang-kacang kola tersebut ke pantai bersama barang-barang lainnya pada tahun 1620, seorang penjelajah Inggris, Richard Jobson, sampai di Gambia, namun kacang kola masih terlihat aneh di matanya.

"Waktu kami berada di hulu sungai, orang-orang menyodorkan banyak sekali kacang-kacang tersebut kepada kami dan membuat kami bertanya-tanya, tapi kami tidak terlalu menganggap atau menaruh perhatian untuk membelinya," tulisnya.

Tapi, karena 'sepuluh adalah hadiah untuk seorang raja,' maka dia menghadiahi dirinya sendiri hanya dengan enam kacang. Robson berharap untuk membawanya pulang ke Inggris tapi kacang-kacang tersebut rusak maupun dimakan ulat sebelum sampai ke negerinya.

Dikirim ke Eropa dan Amerika

Tentunya, ketidaktahuan ini tidak berlangsung lama. Pada akhir abad ke-19, kacang kola dikirim lewat kapal sebanyak berton-ton ke Eropa dan Amerika Serikat. Banyak yang digunakan untuk obat-obatan tonik seperti Burroughs Wellcome dan tablet Co's "Forced March", yang diperuntukkan sebagai stimulan energi.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Ada masanya minuman pembangkit energi diklaim memiliki efek positif yang mulia

Dengan mengandung kombinasi prinsip-prinsip aktif Kacang Kola dan Daun Coca' merek tersebut melambung tinggi. Produk itu disebut-sebut menyembuhkan rasa lapar dan memperpanjang daya tahan tubuh, para konsumen mengonsumsi satu setiap sejam ketika beraktifitas mental atau fisik yang terus menerus.

Satu minuman obat yang dulu sangat terkenal adalah Vin Mariani, sebuah produk Prancis yang mengandung ekstrak coca dicampur dengan wine merah. Produk tersebut diciptakan oleh ahli obat Prancis, Angelo Mariani, pada 1863, dan foto Paus Leo XIII -yang merupakan penggagumnya- terlihat pada poster Vin Mariani. Selain itu Ratu Victoria, Thomas Edison, dan Arthur Conan Doyle juga disebut-sebut sebagai penggemarnya.

Tapi, ini hanya salah satu minuman pembangkit energi dari sekian banyak minuman pada sebuah era ketika ramuan energi diklaim memiliki efek positif yang mulia.

Jadi saat Pemberton, apoteker Amerika tadi, menciptakan ramuannya, maka ramuan tersebut adalah penjelmaan terbaru dalam sebuah tren yang terus berlanjut. Dan ketika kokain akhirnya jatuh dari puncaknya sebagai bahan minuman, maka minuman soda dengan ekstrak kola yang juga dikenal dengan nama 'colas' tentunya menyebar luas.

Resep rahasia

Tahun pertama minuman tersebut dijual, Coca-Cola diperkirakan terjual sekitar sembilan sajian per hari di seluruh kedai soda di Atlanta, tempat minuman ini dijual, berdasarkan lapora perusahaan tersebut.

Setelah berkembang menjadi lebih populer, perusahaan itu menggunakan haknya untuk menjual minuman sodanya di dalam botol, jadi bisa dikirim lebih mudah. Kini sekitar 1,9 miliar Coca-Cola dibeli setiap harinya.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Pada akhir abad ke-19, ekstrak daun koka yang dicampur dengan wine adalah minuman tonik yang biasa.

Produk tersebut menjadi sangat terkenal, sehingga upaya untuk mengubah rasa pada 1985 -dengan mempermanisnya- guna meningkatkan penjualan terbukti membawa petaka karena munculnya reaksi dan kemarahan di mana-mana dari para konsumen.

Maka Coca-Cola Classic masuk kembali ke rak-rak toko hanya tiga bulan setelah New Coke dipasarkan.

Kini, resep Coca-Cola adalah rahasia yang dijaga dan ditutup rapat.

Katanya tidak lagi mengandung ekstrak kacang kola, tapi mengandalkan bahan imitasi untuk mendapatkan rasanya yang sama. Resep-resep untuk membuat soda kola banyak sekali, namun jika Anda ingin merasakan bagaimana rasa cola sesungguhnya, Anda bisa memecah kulit kacang tersebut dan mencobanya.

Hak atas foto iStock

Jika dicampur dengan minyak neroli, sari jeruk, karamel, dan vanili juga larutan-larutan lainnya, maka rasa kacang kola yang mencolok -sebagaimana kata Jobson, "Rasanya, saat digigit, benar-benar pahit"- mungkin bisa ditutupi.

Tapi, 'sentakan' kafein di kacang kola tentunya tetap ada, dan Anda mungkin dapat memahami hal yang membuat orang-orang di Afrika Barat, di Atlanta, dan di seluruh dunia tertarik terhadap kacang istimewa ini.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The little known nut that gave coca-cola its name di BBC

Topik terkait