Penyakit-penyakit zaman dulu 'menciptakan' asal-usul vampir

Vampir, Nosferatu Hak atas foto Getty Images
Image caption Salah satu film vampir terkenal adalah FW Murnau's Nosferatu.

Vampir adalah salah satu dari beberapa monster yang paling abadi yang telah kita ciptakan. Penyakit-penyakit yang mewabah pada zaman nenek moyang dahulu berperan besar atas penciptaan mereka.

Penyakit-penyakit tersebut adalah sesuatu yang menakutkan sebelum zaman pengobatan ilmiah. Wabah dan penyakit menular dapat muncul tanpa pertanda dan menyebabkan kematian serta kesengsaraan.

Bukan hanya wabah penyakit saja. Penyakit-penyakit lainnya, yang mungkin ditularkan oleh binatang-binatang atau berada di gen 'yang sedang tidak aktif' yang berada di tubuh manusia, dapat menyebabkan gangguan kesehatan yang membutuhkan penjelasan ilmiah.

Namun, orang-orang malahan beralih ke hal-hal supernatural. Beberapa dari penyakit ini membantu 'melahirkan' salah satu mitos monster yang paling dikenal luas di peradaban manusia, yaitu vampir.

Vampir, suatu sosok makhluk yang mati dan hidup kembali yang bangkit tiap malam dari makamnya untuk minum darah manusia, telah muncul sejak zaman Yunani Kuno.

Hak atas foto FX Network
Image caption Mitos vampir diyakini mulai memperoleh kepopuleran pada awal Abad ke-18.

Sementara beberapa filsuf tua bijaksana yang masih kita kagumi saat ini mungkin bisa hidup hingga umur 70-an tahun, tapi angka harapan hidup rata-rata pada zaman Yunani Kuno adalah sekitar 28 tahun saja.

Pada masa berabad-abad sebelum ada sanitasi, lemari pendingin dan antibiotik itu penyakit-penyakit lebih merajalela dan jauh lebih memungkinkan membuat orang mati muda.

Tapi, tanpa mikroskop untuk mempelajari 'penyerang' kecil ini, komunitas pada zaman dulu melihat adanya campur tangan supernatural pada banyak penyakit.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Pada zaman dulu orang-orang menyalahkan pengaruh gaib atau makhluk tak nyata seperti vampir atas penyakit-penyakit yang menimpa mereka.

Misalnya saja penyakit porfiria (berasal dari bahasa Yunani yaitu πορφύρα yang berarti warna ungu, merupakan penyakit keturunan genetika) yang berdampak pada heme yaitu komponen atom besi yang membantu membentuk hemogoblin di sel darah merah kita.

Pasien menderita gatal-gatal, ruam-ruam, dan lecet-lecet kapanpun kulit mereka terkena paparan sinar matahari. Dalam kasus-kasus terburuk, dan untungnya sangat jarang terjadi, gusi mereka menipis dan membuat gigi terlihat jauh lebih menonjol.

Cairan buangan tubuh (urine) berwarna keunguan seperti warna darah yang belum terproses. Dan efek dari kepekaan terhadap cahaya dapat sangat parah sehingga penderita kehilangan telinga dan hidung mereka, sebuah ciri-ciri wajah yang terlihat pada vampir seperti Nosferatu.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Beberapa dari penyakit yang mewabah pada zaman dulu menciptakan salah satu mitos vampir.

Kebanyakan penderitanya akan menunjukkan gejala-gejala yang sangat kurang drastis dibandingkan hal-hal yang digambarkan.

Desiree Lyon Howe dari American Porphyria Foundation mengatakan, sebetulnya hanya kurang dari beberapa ratus saja kasus parah yang ada di seluruh dunia pada suatu waktu yang sama.

Tapi, peristiwanya mungkin lebih besar terjadi di komunitas terpencil pada abad Pertengahan, mereka adalah orang-orang yang jarang berhubungan dengan dunia luar dan kurangnya gabungan genetika yang bervariasi di tubuh.

Dusun pelosok dan desa-desa pertanian di Transylvania, yang sekarang adalah bagian dari negara Rumania, adalah salah satu dari komunitas terpencil tersebut. Dan dari kawasan Eropa timur seperti Transylvania, mitos vampir tersebar luas di dunia Barat.

Seorang penulis Inggris, Roger Luckhurst, yang menyunting buku seri cetakan ulang Oxford World Classic untuk cerita Bram Stoker's Dracula, telah meriset kondisi-kondisi yang menyebarkan kepercayaan terhadap vampir, menunjukkan bahwa mitos tersebut mulai memperoleh kepopuleran pada awal Abad ke-18.

"Kata vampir yang disebutkan pertama kali dalam bahasa Inggris adalah pada tahun 1730-an, dalam surat kabar yang membawa laporan-laporan dari pinggiran Eropa, tentang mayat-mayat yang digali dan terlihat bengkak, dan terdapat darah segar di sekitar mulutnya.

"Dalam surat kabar tersebut dilaporkan bahwa cerita-cerita ini datang dari rakyat jelata, tapi laporan tersebut membuatnya terdengar sangat masuk akal," ujar Luckhurst.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Dusun pelosok di Transylvania, Rumania, adalah salah satu dari komunitas terpencil yang terkena wabah penyakit.

Ketika malapetaka, wabah penyakit, dan hewan-hewan ternak mati melanda daerah-daerah pelosok ini, banyak orang menyalahkan roh-roh halus yang memburu makhluk hidup.

Sering kali tindakan pertama yang dilakukan adalah menggali mayat orang yang meninggal terakhir di desa tersebut. Dan hal itu menyebabkan masalah lainnya, ilmu medis sangat minim sehingga untuk memastikan seseorang telah meninggal sangat tidak mudah.

Penyakit-penyakit seperti katalepsi, yang membuat orang dalam keadaan katatonik (suatu kondisi kejiwaan) yang begitu dalam sehingga detak jantung mereka susah untuk dideteksi, artinya adalah beberapa orang telah dikubur hidup-hidup.

Jika mereka bangun, beberapa merasa sangat ketakutan dan kelaparan sehingga mereka menggigiti dirinya sendiri, mungkin itu penjelasan (ilmiahnya) mengenai kondisi mayat-mayat tersebut yang ditemukan dengan darah segar.

Kebanyakan orang di komunitas-komunitas ini memiliki binatang, desa-desa itu sendiri biasanya dekat dengan hutan-hutan di mana ada banyak binatang lainnya.

Sebelum vaksinasi ditemukan, rabies, yang sekarang hampir tidak dikenal di Eropa, merupakan penyakit umum. Begitu gejala-gejala -yang terdiri dari rasa benci terhadap cahaya dan air, menyerang, menggigit dan mengigau- timbul maka kematian sudah tak terelakkan lagi. Tidak ada obatnya.

Hak atas foto Science Photo Library
Image caption "Rabies jelas-jelas ada hubungannya dengan manusia serigala juga," kata Luckhurst.

"Rabies jelas-jelas ada hubungannya dengan manusia serigala juga," kata Luckhurst. "Orang-orang menjadi liar karena adanya kontak dengan hewan-hewan ini. Ada sebuah petuah rakyat dalam mitos manusia serigala, suatu peringatan bagi orang-orang untuk tidak berhubungan terlalu sering dengan alam. Kita harus ingat perikemanusiaan kita."

Terasingnya komunitas-komunitas ini, sangat jauh dari gerbang peradaban kota Paris dan London, mungkin memberikan alasan-alasan yang lain (tentang kondisi kesehatan).

"Dulu ada kekurangan variasi makanan di tempat-tempat ini, khususnya di daerah pegunungan, dan orang-orang umumnya menderita penyakit seperti gondok (disebabkan karena kekurangan yodium)," ujar Luckhurst.

"Kekurangan nutrisi tidak hanya membuat orang-orang lebih rentan terhadap penyakit, tapi dalam beberapa kasus mungkin telah memperparah efek pada beberapa kondisi yang tersembunyi di gen mereka," sambungnya.

"Dan cerita tentang vampir-vampir ini sampai kepada orang-orang Abad ke-18 yang tinggal di London dan Paris, dengan membacanya di surat kabar seperti memberi tahu sebuah kabar baik tentang seberapa beradab dan majunya mereka, dan lihatlah orang-orang Katolik di desa yang percaya hal-hal gaib yang tinggal di pinggiran Eropa."

Menariknya, rupanya, ada banyak kultur di seluruh dunia -di benua yang berbeda dan dalam waktu berbeda pula- juga ada mitos makhluk pengisap darah.

Ada manananggal di Filipina, peuchen di Cile, baobhan sith di Skotlandia, dan yara-ma-yha-who yang dikenal di komunitas suku asli Australia (Aborijin).

Pada dasarnya, mitos vampir datang bukan hanya dari penyakit saja, kata Luckhurst.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Pasien porfiria menderita gatal-gatal, ruam-ruam, dan lecet-lecet kapanpun kulit mereka terkena paparan sinar matahari.

Vampir selalu terlihat datang dari tempat lain di luar kenyamanan rumah kita, apakah itu di sebuah pondok di pedalaman Transylvania, di rumah megah di Inggris, atau di kota kuno Athena.

"Mitos tersebut selalu datang dari tempat lain. Pada zaman Yunani Kuno, orang-orang biadab dari alam baka Yunani adalah kanibal dan pengisap darah, serta mampu melakukan ilmu hitam yang sebenarnya tidak ada. Di tempat-tempat lain, mitos vampir ada di suku-suku penyembah berhala," jelas Luckhurst.

Bahkan di Amerika Selatan, kata Luckhurst, makhluk vampir yang dipercaya oleh suku Inka adalah dari dunia liar di luar kota-kota mereka.

Vampir kelihatannya menjadi sebuah 'wahana' bukan hanya untuk penyakit-penyakit yang tidak mampu dipahami, tapi untuk semua hal yang dirasa aneh, tempat-tempat yang belum dipetakan dan orang-orang yang tinggal di sana juga.

Silakan baca artikel ini dalam bahasa Inggris di The real life-diseases that spread the vampire myth dan berbagai artikel sejenis di BBC Future.

Berita terkait