Apakah kita mempunyai pilihan gaya belajar tertentu?

Pilihan gaya belajar Hak atas foto iStock
Image caption Anda mungkin memiliki pilihan belajar yang mempermudah untuk memahami. Apakah benar demikian?

Banyak dari kita yang memiliki pilihan cara belajar, mungkin belajar dari melihat penjelasan oleh pakar atau belajar dari langsung 'terjun' untuk mencobanya.

Apakah pilihan gaya belajar adalah cara termudah bagi kita untuk mempelajari sesuatu?

Ketika Anda mempelajari sesuatu yang baru, apakah Anda belajar lebih mudah dari diagram, dari seseorang yang menjelaskan bagaimana caranya, atau Anda langsung mencobanya? Anda mungkin tergoda untuk menjawab bahwa itu semua tergantung pada tugas yang bersangkutan.

Misalnya, belajar untuk menyetir sepenuhnya dari buku atau dari seseorang yang duduk di dapur dengan memberi tahu Anda cara-caranya, tidak bisa tergantikan oleh Anda yang belajar langsung dengan mencoba menyetir.

Melihat seseorang menghiasi kue mungkin hanya memberikan gambaran kepada Anda tentang tekniknya saja karena membutuhkan waktu lama dengan melakukan eksperimen.

Tapi, secara umum Anda mungkin juga memiliki pilihan belajar dengan cara tertentu, atau seperti yang mereka katakan dalam bidang pendidikan, gaya belajar yang disukai.

Hak atas foto iStock
Image caption Melihat orang menghiasi kue mungkin hanya memberikan gambaran kepada Anda tentang tekniknya saja karena membutuhkan waktu lama dengan melakukan eksperimen.

Selama bertahun-tahun, banyak cara berbeda yang telah berkembang dalam menggolongkan gaya belajar -pragmatis dibandingkan teori, pemikir konkret dibandingkan pemikir abstrak, pengurus lawan inovator- dan banyak, banyak lagi lainnya.

Satu ulasan menemukan ada lebih dari 30 cabang penggolongan ini.

Dan sekolah-sekolah diberikan tawaran untuk membeli alat-alat pengujian yang berbeda. Beberapa yang sangat dikenal untuk menggolongkan gaya belajar anak-anak berdasarkan indra yaitu visual, auditori, atau kinestetik yang masing-masing mengacu pada cara belajar yang disukai melalui melihat, mendengar, atau melakukannya (mencoba) langsung.

Banyak ribuan sekolah di seluruh dunia telah menilai gaya belajar pilihan anak dan setelah itu, jika memungkinkan, mengajar mereka sesuai dengan gaya belajar tersebut.

Ide ini, yang disebut sebagai hipotesis keterkaitan, mengatakan jika Anda diajar dengan gaya belajar yang berkaitan dengan pilihan Anda, maka Anda akan merasa lebih mudah untuk belajar dan hasilnya Anda akan melakukannya dengan lebih baik. Ide ini sudah sangat populer di sekolah-sekolah.

Saya pernah diberi tahu ada ruang kelas-ruang kelas di mana anak-anak duduk dengan mengenakan oto (kain penutup dada bayi pada waktu makan) dengan huruf besar bertuliskan V (visual), A (auditori), atau K (kinestetik), jadi guru-guru tahu persis mana murid yang lebih menyukai gaya yang mana.

Ide tersebut memiliki intuisi menarik. Setiap guru memperhatikan variasi gaya belajar di antara murid-murid ketika guru hendak memilih ide baru untuk mengajar, dan ia mengetahui susahnya pekerjaan mengajar.

Hak atas foto iStock
Image caption Pertanyaannya adalah bukan pada apakah gaya belajar itu ada, melainkan apakah belajar sesuai dengan gaya yang disukai bisa membuat perbedaan.

Semua hal yang bisa membuat pekerjaan mengajar menjadi lebih mudah sangat dihargai. Lebih dari itu, hipotesa keterkaitan ini membawa optimisme tertentu.

Bukan hanya membuat kita menyadari bahwa kita semua adalah individu-individu yang berbeda, tapi menyiratkan bahwa kita bisa melakukannya dengan baik jika bisa mengetahui cara belajar terbaik yang paling cocok untuk kita.

Kita tahu bahwa kita semua berbeda, jadi kenapa tidak membuat proses belajar sedikit lebih mudah dengan menggunakan kelebihan kita?

Dan para guru terlihat sependapat. Pada 2014, Profesor Paul Howard-Jones dari Universitas Bristol mengambil sampel guru-guru di lima negara, dan menemukan bahwa proporsi angka yang menyetujui murid-murid belajar lebih baik jika mereka diajar sesuai dengan gaya belajar pilihan mereka berkisar dari 93% di Inggris hingga 97% di Cina dan Turki

Pertanyaannya adalah bukan pada apakah gaya belajar itu ada, tapi melainkan apakah belajar sesuai dengan gaya yang disukai bisa membuat perbedaan.

Jadi, jika Anda lebih cenderung pada gaya visual, apakah Anda bisa belajar lebih baik dengan melihat foto-foto daripada lewat instruksi lisan? Ada banyak sekali bahan bacaan tentang ini, dengan banyak sekali hasil studi yang dipublikasikan.

Tapi, beberapa bacaan yang ada sangat kecil jumlahnya dan hanya sedikit yang muncul di jurnal yang dapat ditinjau oleh khalayak umum.

Hak atas foto iStock
Image caption Tidak semua orang langsung dapat memahami penjelasan dari buku.

Sebuah ulasan besar pada penelitian terhadap gaya belajar menghabiskan waktu 16 bulan untuk menyelesaikannya dan dipublikasikan pada 2004.

Para penulisnya mengidentifikasikan penemuan mengejutkan yaitu ada 71 model berbeda pada gaya belajar, dan lalu hanya menganalisa 13 saja secara rinci.

Tapi, mereka kecewa karena menemukan bidang tersebut jauh lebih 'luas, buram, kontradiksi, dan kontroversial' dari yang mereka harapkan.

Mereka menyimpulkannya setelah 30 tahun penelitian masih tidak ada kesepakatan terhadap cara terbaik untuk menilai gaya belajar atau mengajar sesuai dengan hasil studi.

Mereka kadang-kadang menemukan sebuah studi di mana mengajar sesuai dengan gaya belajar membuat perbedaan pada hasilnya, tapi mereka mengkritisi keabsahan dari riset tersebut.

Untuk memastikan bahwa pengajaran sesuai dengan gaya belajar bisa membuat perbedaan, sebuah studi perlu menilai gaya belajar siswa, lalu membagi mereka menjadi kelompok-kelompok secara acak untuk diajar dalam gaya-gaya belajar yang berbeda, sebelum memberikan mereka tes yang sama.

Akhirnya mereka perlu memastikan apakah orang-orang yang diajar sesuai dengan gaya yang disukai melakukan hal lebih baik, dan lebih pentingnya, apakah mereka yang diajar dalam gaya yang 'salah' hasilnya lebih buruk. Jika teori tersebut bertahan maka ada kemungkinan untuk membuktikan interaksi seperti ini.

Hak atas foto iStock
Image caption Dari gaya belajar visual, auditori, dan kinestetik, beberapa siswa merasa mereka lebih cenderung ke auditori.

Saat ulasan besar berikutnya dipublikasikan pada tahun 2008, para penulis menemukan sangat sedikit penelitian yang dirancang demikian.

Dari empat studi yang dirancang terbaik, tiga studi menemukan keterkaitan gaya belajar tidak membuat perubahan.

Kadang-kadang anak-anak belajar dengan lebih baik ketika diajar dalam gaya belajar yang disukai, tapi begitu pula orang-orang lain di dalam grup tersebut, sehingga mencerminkan ini adalah gaya belajarnya bukan karena gaya belajar yang sesuai terhadap individu yang penting.

Para peneliti menemukan hanya satu studi dengan kedua metodologi ketat dan hasil positif juga.

Tapi, kendati demikian mereka menekankan bahwa biaya-biaya yang terkait dalam pengajaran masing-masing individu sesuai dengan gaya belajar pilihan mereka adalah sangat tinggi, sekolah akan ingin melihat lebih banyak daripada perbaikan signifikan secara statistik, mereka perlu melihat bukti perbedaan-perbedaan besar bagi banyak siswa.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Dikatakan, murid yang condong ke gaya auditori berbicara lebih banyak daripada yang lain selama diskusi.

Ulasan pada 2008 menunjukkan kurangnya bukti, mengajak secara terbuka bagi para peneliti untuk mengisi celah ini.

Mereka bahkan menjabarkan secara tepat bagaimana merancang studi yang benar. Jadi, pada 2015 ketika ulasan yang terbaru tentang keterkaitan gaya belajar dipublikasikan oleh tim lainnya, mereka benar-benar ingin tahu apakah seruan mereka dihiraukan.

Berita baiknya adalah angka studi yang menggunakan metode kuat meningkat, tapi enam studi yang melihat interaksi yang sama seperti yang dikemukakan di atas, belum bisa ditemukan.

Namun, sambutan tanpa kritik atas keterkaitan gaya belajar mulai berubah.

Para penulis didorong untuk menemukan bahwa beberapa (tapi bukan berarti semua) buku-buku pelajaran untuk calon-calon guru mulai menyebutkan kurangnya bukti untuk mengajar sesuai dengan gaya belajar, tapi kemudian kecewa karena melihat bahwa beberapa menyarankan guru-guru masih tetap melakukannya.

Tapi, ada satu studi yang menarik di mana anak-anak diberi kesempatan untuk menjelajahi luar ruangan, pergi 'safari foto' untuk memotret foto-foto dan bergabung dengan diskusi kelompok, semuanya dilakukan pada saat mereka bergerak dipantau dengan alat pelacak GPS.

Gaya belajar mereka dinilai mulai dari awal dan banyak anak yang proses belajarnya sesuai dengan gaya tertentu.

Murid kinestetik yang paling banyak bergerak terus selama waktu bermain di luar ruangan, murid visual memotret lebih banyak foto di tempat-tempat yang lebih indah, dan murid auditori berbicara lebih banyak daripada yang lain selama diskusi.

Para peneliti tidak menilai apakah ini membantu mereka untuk belajar, tapi ini akhirnya adalah bukti bahwa gaya belajar yang kita sukai setidaknya ada implikasi dengan cara kita bertindak di dunia nyata, walau kita tidak tahu apakah mereka mengubah hasilnya.

Hak atas foto iStock
Image caption Murid yang cenderung ke gaya visual, mereka lebih suka memotret lebih banyak foto pada waktu belajar di luar ruangan.

Tapi mengapa hipotesis keterkaitan tidak bisa lebih membuat suatu perbedaan pada hasil tes, saat dirasa sebaiknya ada pengaruhnya? Kita harus ingat indra kita tidak bekerja sendiri.

Bahkan membaca merupakan tindakan yang lebih dari sekedar proses visual. Berbagai bagian di otak dikerahkan sewaktu kita membayangkan adegan-adegan di dalam buku dan merefleksikannya pada pengalaman-pengalaman kita sendiri.

Sistem otak tidak bekerja sendiri, jadi bahkan ketika kita mendengarkan sesuatu dengan fokus, proses visual kita tidak berhenti.

Jadi, apakah tepat mengatakan bahwa gaya belajar telah terbukti tidak berlaku?

Para penulis ulasan pada tahun 2015 mengatakan "tidak semuanya".

Ada sangat sedikit studi yang terorganisir yang susah menyediakan saran bagus bagi guru-guru dalam pengajaran. Tapi, melihat dari bukti terbaik yang ada selama ini, jelas bahwa belum ada bukti bahwa mengajar sesuai dengan gaya belajar membawa perbaikan.

Tapi mungkin, jika guru-guru senang melakukannya, meskipun ada peluang kecil yang mungkin bisa berhasil, tidak masalah jika bukti yang ada kurang.

Hak atas foto Thinkstock
Image caption Sistem kerja otak tidak bekerja sendiri, jadi bahkan ketika kita mendengarkan sesuatu dengan fokus, proses visual kita tidak berhenti.

Masalahnya adalah, seperti yang disoroti di ulasan tahun 2004, mengajar para siswa dengan cara seperti ini, dapat menahan perkembangan siswa.

Menggunakan kelebihan-kelebihan kita dalam proses belajar mungkin terlihat seperti ide yang bagus, tapi di usia dewasa kita perlu mampu belajar dalam segala cara yang berbeda.

Jadi, mungkin lebih berguna dalam jangka panjang untuk mempraktikkan menggunakan indra-indra kita yang tampak kurang menonjol.

Ada juga bahaya menggolong-golongkan murid berdasarkan gaya belajar mereka, karena dapat memunculkan stereotip pada diri mereka.

Jika perjuangan belajar murid terhenti karena pilihannya pada gaya belajar kinestetik, contohnya, kesulitan mereka mungkin akan dimaklumi begitu saja bukannya malah ditelaah dan ditindaklanjuti.

Dan murid-murid bahkan bisa memberi stereotip pada diri mereka sendiri.

Di sebuah konferensi, para penulis ulasan tahun 2004 menceritakan kisah seseorang, karena orang tersebut tahu ia termasuk 'pelajar dengan auditori dan visual rendah' maka tidak ada gunanya ia membaca buku atau mendengarkan siapapun selama lebih dari beberapa menit.

Kita tidak bisa mengatakan hipotesa keterkaitan tidak akan pernah berhasil, dan ada guru-guru yang meyakini hal itu, tapi ketika ditilik dari bukti-bukti yang ada, sejauh ini kurang menjanjikan.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di Do we have a 'preferred style' of learning?di BBC Future.