Makanan masa lalu, sekarang dan masa depan

makan

"Anda kelihatan menarik sekali -apakah Anda melakukan banting?"

Di tahun 1860-an, hanya terdapat satu jenis diet, yaitu Banting. Dikembangkan oleh pengelola pemakaman dan pembuat peti jenazah Inggris bernama William Banting, yang memang mengetahui banyak hal terkait dengan orang-orang yang berlebihan dalam melakukan sesuatu. Diet buatannya menjadi cara mengatur makan pertama yang populer.

Banting mendorong pengurangan karbohidrat bergula dan bertepung dengan memakan paling banyak 28 gram daging per hari, namun bukan daging babi karena mengandung karbohidrat.

Semuanya dimakan bersama dengan meminum dua atau tiga gelas claret atau minuman anggur merah asal Bordeaux, Prancis, dan yang sejenisnya.

Hak atas foto Linda Steward
Image caption Orang zaman Victoria makan dengan lahap dan William Banting meyakini makan berlebihan menyebabkan orang cepat meninggal.

Sejak saat itu, sejumlah diet menjadi populer. Muncul sejumlah makanan ajaib maupun cara mengurangi berat badan atau solusi satu jenis makanan. Tetapi seberapa banyak yang benar-benar mengubah cara kita makan?

Itulah adalah salah satu pertanyaan yang dilontarkan pada World Changing Ideas Summit atau Pertemuyan Puncak tentang Gagasan-gagasan yang mengubah dunia dari BBC Future di Sydney, Australia pada bulan November.

Mengapa usulan makanan 'baik dan buruk' selalu berubah?

Hal mendasar dalam ilmu pengetahuan adalah tidak satu halpun yang benar-benar 'terbukti' dan ini terjadi juga terkait dengan ilmu tentang diet. Hal yang dianggap buruk tahun ini dapat berubah berdasarkan penelitian dan pemahaman baru.

Hak atas foto HadelProductions
Image caption Telor dianggap buruk bagi kesehatan, tetapi sekarang didukung banyak ahli gizi.

Anda masih ingat ketika telor dianggap makanan perusak diet karena kandungan kolesterolnya? Tetapi pada tahun 1995, sebuah kajian menunjukkan bahkan memakan dua telor per hari tidak menimbulkan pengaruh buruk terkait unsur risiko bagi penyakit jantung. Telor juga mengandung hal baik lainnya, seperti protein, vitamin dan mineral.

Jadi kita sekarang kembali ke menu telur.

Mentega juga menimbulkan kepanikan di tahun 1980-an karena kolesterol dan lemak jenuh, sehingga kepopulerannya dikalahkan margarin. Tetapi semua orang kemudian mulai mengkhawatirkan lemak trans buatan manusia di dalam margarin, yang sejak saat itu sebagian besar telah diambil.

Apakah memang ada makanan super?

Memang akan lebih baik jika kita dapat memakan apapun yang kita gemari, dan kemudian mengatasi masalah dengan memakan buah beri atau buah kenari. Tetapi perhatian kita pada makanan super atau superfood telah mengesampingkan pentingnya mengkonsumsi makanan sehat, kata Rosemary Stanton, yang menjadi pembicara di WorldChanging Ideas Summit BBC Future.

"Kegilaan terhadap makanan super adalah isyarat lain tentang pencarian tanpa henti terhadap satu peluru ajaib untuk mengatasi berbagai masalah," katanya. "Pemikian seperti itu, yang mengabaikan beragamnya unsur dari masalah kesehatan karena diet, kemungkinan adalah suatu mitos terbesar."

Layanan Kesehatan Nasional Inggris, NHS, sepakat. Pada tahun 2011 NHS mengeluarkan laporan yang menghancurkan pandangan tentang makanan super dan menegaskan pendekatan terbaik adalah diet seimbang dan latihan olah raga teratur.

Bagaimana dengan makanan dengan tambahan nutrien dan makanan tambahan sehat?

Hak atas foto SolStock
Image caption Burger suatu hari nanti akan berisi daging hasil pengembangan di laboratorium.

Sejak kita berpikir bahwa nutrien tertentu 'baik' untuk kita, industri makanan berusaha menghasilkan makanan yang akan meningkatkan tambahan nutrien. Roti dengan asam folik atau niacin, garam meja dengan iodin maupun margarin ditambah sterol tanaman atau vitamin D.

Makanan ini berada di antara makanan dan obat . Tambahan nutrien tersebut bisa menyebabkan para pembuatnya bisa membuat pernyataan tentang keuntungan dari kesehatan produk mereka, yang tidak selalu berarti bahwa mereka menghasilkan sesuatu yang tidak diproses.

Stanton memandangnya hanya sebagai pengalihan perhatian dari makanan sehat yang sebenarnya, yaitu produk segar.

Anehnya, ahli kimia abad 19 warga Perancis, Marcellin Berthelot, dianggap berjasa terkait dengan makanan buatan, yang kemudian mendorong perkiraan tentang masa depan dari makanan kimiawi.

Dalam sebuah tulisan yang diterbitkan pada tahun 1896, penulis bersangkutan menindaklanjuti pemikiran Berthelot dengan mengatakan nutrisi dari daging panggang bisa diserap dalam satu tablet kecil berhubung 'kenikmatan menyantapnya di meja makan terlalu menghabiskan waktu dan keingingan seseoarang'.

Ada apa lagi dalam makanan masa depan?

Hak atas foto richcarey
Image caption Ganggang kemungkinan menjadi pilihan penghasil karbon yang lebih rendah dibandingkan tumbuhan yang ditanam di tanah

Penggemar fiksi sains pasti akbar dengan film tahun 1973, Soylent Green, ketika penduduk diberi ransum makanan buatan, termasuk Soylent Green yang misterius. Klimaks dari film ini mengungkapkan unsur utamanya adalah: manusia.

Soylent sekarang tersedia sebagai produk rekayasa yang seharusnya berisi semua protein, karbohidrat dan mikronutrisi yang dibutuhkan tubuh dalam bentuk makanan kecil atau minuman. Meskipun demikian, hasil yang dicapai tersebut -dengan menghilangkan kenikmatan makan apel gurih, daging panggang setengah matang, sepotong roti segar atau keju yang medok- masih belum terlalu jelas jika dilihat dari pemasarannya.

Fiksi sains lainnya, Logan's Run, mengisyaratkan makanan masa depan bisa berasal dari laut dan bukan daratan. Laut memasok 16% dari keseluruhan asupan protein kita, tetapi ketertarikan membudidaya sumber nutrien dari laut seperti ganggang atau alga, sebenarnya sudah sejak lama ada.

Spirulina, sejenis alga, sudah lama menjadi bagian makanan sehat tambahan namun ketertarikan yang lebih meluas atas tanaman hijau laut terus meningkat. Penelitian mengisyaratkan bahwa mikroalga berisi lemak, protein, dan karbohidrat yang tepat. Sebagian pihak memandang alga dapat memberikan alternatif yang tidak terlalu merusak secara lingkungan dibanding tanaman pangan.

Novel fiksi sains karya Margaret Atwood, Oryx and Crake, mengisahkan buruknya masa depan daging, termasuk bagian-bagian ayam hasil rekayasa yang diberi nama ChickieNobs. Tetapi karena adanya pengaruh lingkungan dari kecintaan kita pada makanan yang sarat daging, membuat orang mengkaji kemungkinan daging hasil rekayasa laboratorium.

Tetapi masa depan ganggang meja, pengganti daging atau makanan cair agar yang ditujukan untuk memasok nutrien yang diperlukan untuk hidup, mungkin akan menimbulkan pertanyaan apakah sebuah kehidupan yang tergantung pada hal-hal tersebut adalah sesuatu yang layak.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The past, present and future of the food we eat di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait