Sejumlah emosi yang selama ini tidak Anda sadari

Emosi Hak atas foto Phillip Suddick

Dari gigil sampai wabi-wabi dan tarab, ada banyak kata-kata emosi tanpa padanan bahasa Inggris. Belajar untuk mengenali pengalaman ini dapat menjadikan hidup Anda lebih kaya dan sukses.

Pernahkah Anda merasa sedikit mbuki-mvuki - dorongan tak tertahankan untuk "melepaskan pakaian Anda saat menari"? Mungkin sedikit killig - rasa gugup berdebar-debar ketika anda berbicara dengan seseorang yang Anda suka?

Bagaimana dengan uitwaaien - yang merangkum efek menyegarkan jalan-jalan saat angin berhembus sepoi-sepoi?

Kata-kata ini - berasal dari bahasa Bantu, Tagalog, dan Belanda - tidak punya padanan langsung dalam bahasa Inggris. Dan jika usaha Tim Lomas di University of East London berhasil, kata-kata mungkin tidak lama lagi akan lebih akrab di telinga kita.

Positive Lexicography Project yang diprakarsai Lomas bertujuan menangkap berbagai 'rasa' kebahagiaan (beberapa di antaranya pahit-manis), dengan harapan kita dapat mulai menyertakan mereka dalam kehidupan sehari-hari. Bagaimanapun, kita telah meminjam beberapa kata yang menggambarkan emosi dari bahasa lain - misalnya "frisson", dari bahasa Perancis, atau "schadenfreude" dari Jerman - namun ada banyak lagi yang belum menyusup ke dalam perbendaharaan kata kita.

Lomas telah menemukan ratusan pengalaman "tak teralihbahasakan" sejauh ini - dan dia baru mulai.

Dengan mempelajari kata-kata ini, dia harap, kita akan memiliki pemahaman yang lebih kaya dan bernuansa tentang diri kita. "Mereka (kata-kata) menawarkan cara yang sangat berbeda dalam melihat dunia."

Hak atas foto Thinkstock
Image caption "Gigil" adalah kata dalam bahasa Tagalog yang menggambarkan dorongan tak tertahankan untuk mencubit seseorang karena mereka dicintai atau dihargai.

Lomas mengatakan dia pertama kali terinspirasi ketika mendengar diskusi tentang konsep sisu dalam bahasa Finlandia, yang kira-kira berarti "kegigihan luar biasa di hadapan suatu tantangan". Menurut sang pembicara, yang merupakan warga asli Finlandia, kata bahasa Inggris "grit" (tabah), "perseverance" (gigih), atau "resilience" (tangguh), tidak cukup untuk menggambarkan kekuatan tekad yang terkandung dalam kata tersebut.

Kata itu "tak teralihbahasakan", dalam arti tidak ada padanan langsung dalam perbendaharaan kata bahasa Inggris yang dapat menggambarkan makna yang mendalam itu.

Penasaran, Lomas mulai mencari contoh lainnya, menjelajah literatur akademik dan meminta saran kepada setiap kawannya dari luar negeri. Hasil pertamanya dari proyek ini dipublikasikan di Journal of Positive Psychology tahun lalu.

Banyak kata yang dia temukan mengacu kepada perasaan positif, yang seringkali terkait dengan situasi yang sangat khusus:

  • Desbundar (Portugis) - tidak menahan diri dalam bersenang-senang
  • Tarab (Arab) - rasa suka cita atau terpesona yang ditimbulkan oleh musik
  • Shinrin-yoku (Jepang) - perasaan rileks setelah mandi di hutan, secara harfiah maupun figuratif
  • Gigil (Tagalog) - dorongan tak tertahankan untuk mencubit seseorang karena mereka dicintai atau dihargai
  • Yuan bei (Cina) - perasaan lengkap dan pencapaian sempurna
  • Iktsuarpok (Inuit) - rasa antisipasi yang dialami seseorang ketika menanti orang lain, di mana dia terus melihat ke luar untuk mengecek apakah orang yang dinanti telah tiba

Namun kata-kata lainnya mewakili perasaan yang lebih kompleks dan pahit-manis atau bittersweet, yang bisa jadi penting bagi kematangan dan perkembangan pribadi kita secara keseluruhan.

  • Natsukashii (Jepang) - kerinduan akan masa lalu, dengan kesenangan akan memori yang indah, namun disertai kesedihan karena semua itu telah berlalu
  • Wabi-sabi (Jepang) - "keindahan yang gelap dan tandus", berpusat pada kefanaan dan ketidaksempurnaan dalam keindahan
  • Saudade (Portugis) - kerinduan melankolis atau nostalgia akan seseorang, tempat, atau sesuatu yang jauh baik dalam ruang maupun waktu - kesenduan samar-samar, seperti mimpi, akan fenomena yang bahkan mungkin tak ada
  • Sehnsucht (Jerman) - keinginan kuat akan situasi dan realisasi alternatif dalam hidup, meskipun itu tak dapat dicapai

Selain emosi-emosi tersebut, leksikografi Lomas juga memetakan karakteristik pribadi dan perilaku yang dapat menentukan kesejahteraan jangka panjang dan cara kita berinteraksi dengan orang lain.

  • Dadirri (istilah aborigin Australia) - tindakan spiritual berupa mendengarkan dengan reflektif dan penuh hormat
  • Pihentagy├║ (Hungaria) - secara harfiah berarti "otak yang santai", menjelaskan orang banyak akal yang dapat membuat lelucon atau solusi yang menjelimet
  • Desenrascan├žo (Portugis) - melepaskan diri dari situasi merepotkan dengan cara yang lihai
  • Sukha (Sansekerta) - kebahagiaan sejati, terlepas dari keadaan apapun
  • Orenda (Huron) - keberdayaan tekad manusia untuk mengubah dunia di hadapan kekuatan besar, seperti takdir

Anda dapat menemukan lebih banyak contoh dalam situs webnya. Di sana juga anda dapat mendaftarkan kata-kata yang anda temukan sendiri.

Lomas mengakui bahwa banyak deskripsi yang dia tawarkan sejauh ini hanyalah penaksiran akan makna sebenarnya. "Seluruh proyek ini terus berkembang, dan saya terus berusaha memperhalus definisi kata-kata dalam daftar ini," ujarnya. "Saya benar-benar menyambut masukan dan saran dari para pembaca dalam hal tersebut."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Penyanyi fado asal Portugis seperti Cristina Branco menyalurkan kerinduan mendalam yang diwakili kata "saudade".

Ke depannya, Lomas berharap psikolog lain dapat mulai menyelidiki penyebab dan konsekuensi pengalaman ini dengan tujuan memperluas pemahaman kita akan emosi - melampaui konsep-konsep bahasa Inggris yang selama ini mendominasi dunia riset.

Namun mempelajari kata-kata ini bukan sekadar persoalan saintifik; Lomas menduga bahwa mengakrabkan diri dengan kata-kata ini dapat benar-benar mengubah cara kita memahami diri sendiri, dengan membuat kita memperhatikan sensasi-sensasi sekilas yang selama ini kita abaikan.

"Dalam aliran kesadaran - sapuan beragam sensasi, perasaan, dan emosi - ada begitu banyak hal yang diproses sehingga banyak yang terlewat," kata Lomas. "Perasaan yang kita kenali dan lebeli adalah perasaan yang kita perhatikan - namun ada lebih banyak yang mungkin bahkan tidak kita sadari. Dan saya pikir jika kita memiliki kata-kata baru ini, mereka dapat membantu mengartikulasikan berbagai pengalaman yang samar-samar."

Sebagai buktinya, Lomas mengacu ke penelitian Lisa Feldman Barrett di Northeastern University, yang telah menunjukkan bahwa kemampuan kita untuk mengenali dan melabeli emosi bisa memberikan dampak yang luas.

Risetnya terinspirasi dari pengamatan bahwa beberapa orang menggunakan kata-kata emosi yang berbeda secara bergantian, sementara orang lain memberikan deskripsi yang lebih tepat.

"Beberapa orang menggunakan kata seperti gelisah, takut, marah, dan jijik untuk menggambarkan perasaan buruk yang umum," perempuan itu menjelaskan. "Bagi mereka, kata-kata itu adalah sinonim, sedangkan bagi orang lain kata-kata itu mewakili perasaan khusus dengan asosiasi tindakan yang khusus pula."

Ini disebut "granularitas emosi" dan dia mengukurnya dengan meminta para partisipan menilai perasaan mereka setiap hari dalam kurun satu pekan, sebelum dia menghitung variasi dan perbedaan kecil dalam laporan mereka: apakah kata-kata tertentu selalu berulang, misalnya.

Hak atas foto Christian Kober/Getty Images
Image caption "Wabi-sabi" adalah istilah dalam bahasa Jepang yang menggambarkan apresiasi terhadap keindahan yang sementara dan tak sempurna, seperti kemegahan fana bunga sakura.

Dia menemukan satu hal penting, yaitu bahwa ini menentukan seberapa baik kita dalam menghadapi masalah dalam hidup. Jika Anda bisa menentukan dengan lebih baik apakah yang Anda rasakan keputusasaan ataukah kegelisahan, misalnya, Anda dapat lebih mampu menentukan cara 'mengobati' perasaan itu: bisa dengan bicara kepada seorang teman, atau menonton film komedi.

Contoh lain, dengan mengenali harapan di hadapan suatu hal mengecewakan dapat membantu kita mencari solusi baru atas permasalahan.

Dalam hal ini, perbendaharaan kata emosi mirip daftar petunjuk, yang memungkinkan Anda mendapatkan lebih banyak strategi untuk mengatasi masalah dalam hidup. Sesuai dugaan, orang dengan skor granularitas emosi yang lebih tinggi ternyata lebih mudah 'memulihkan diri' dari stres dan punya kemungkinan lebih kecil untuk minum alkohol sebagai cara melegakan diri ketika mendapat berita buruk.

Perbendaharaan kata emosi juga dapat meningkatan kesuksesan akademik. Marc Brackett di Yale University menemukan bahwa mengajari anak-anak usia 10 dan 11 tahun perbendaharaan kata emosi yang lebih kaya meningkatkan nilai rapor mereka dan mendorong perilaku yang lebih baik di dalam kelas. "Semakin granular pengalaman emosi kita, semakin kita mampu memahami gejolak dalam diri kita," kata pria itu.

Brackett dan Barrett sepakat bahwa "leksikografi positif" Lomas bisa menjadi panduan cepat untuk mulai mengenali kontur halus dalam lanskap emosi kita.

"Saya pikir ini berguna - anda dapat menganggap kata-kata ini dan konsep yang terkait dengan mereka sebagai perangkat untuk menjalani hidup," kata Barrett.

Kata-kata tersebut juga dapat menginspirasi kita untuk mencoba pengalaman baru, atau mengapresiasi pengalaman lama dengan cara pandang baru.

Inilah arah riset yang ingin dicoba Lomas di masa depan. Sementara ini, Lomas masih terus membangun leksikografinya - yang telah berkembang menjadi hampir seribu kata. Dari semua kata yang dia temukan, Lomas mengatakan dia paling sering merenungi konsep bahasa Jepang seperti wabi-sabi.

"Kata ini membahas suatu ide tentang menemukan keindahan dalam fenomena yang tua dan tak sempurna," jelasnya. "Jika kita memandang dunia dengan ide itu, mungkin bisa jadi cara yang berbeda dalam menjalani hidup."

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, The 'untranslatable' emotions you never knew you had di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait