Cara membantu orang untuk berpikir lebih rasional

Debat Hak atas foto JULIO CESAR AGUILAR
Image caption Dalam berdebat, seringkali orang hanya menyoroti bukti yang mendukung keyakinannya sendiri.

Salah satu trik yang dimainkan benak kita ialah menyoroti bukti yang mengukuhkan apa yang sudah kita yakini.

Jika mendengar gosip tentang lawan, kita cenderung berpikir "Saya tahu dia memang kacau." Akan tetapi jika kita mendengar gosip tentang kawan atau sahabat, kita lebih mungkin mengatakan "Itu cuma rumor saja."

Jika Anda tidak percaya kepada pemerintah maka perubahan kebijakan pemerintah ialah tanda kelemahan. Namun, jika Anda mempercayai mereka, perubahan kebijakan yang sama akan Anda pandang sebagai bukti atas kegesitan melakukan apa yang patut.

Ketika Anda memahami kebiasaan mental ini — disebut bias konfirmasi — Anda mulai mengenalinya di mana-mana.

Ini penting ketika kita ingin membuat keputusan yang lebih baik. Bias konfirmasi wajar saja selama kita benar; tapi seringkali kita salah, dan kita baru memperhatikan bukti-bukti penentunya ketika semua sudah terlambat.

Bagaimana kita sebaiknya melindungi keputusan kita dari bias konfirmasi, tergantung pada kenapa, secara psikologis, bias konfirmasi terjadi.

Umumnya ada dua kemungkinan penyebab; dan eksperimen klasik yang dilakukan para peneliti di Princeton University membenturkan keduanya satu sama lain. Dalam prosesnya, mereka mengungkap metode untuk melawan bias tersebut.

Teori pertama bias konfirmasi ialah yang paling umum; sesuatu yang bisa Anda deteksi dalam ungkapan seperti "Anda hanya percaya apa yang ingin Anda percaya," atau "Pasti dia akan ngomong begitu, kan," atau ketika seseorang dituduh memandang sesuatu dengan cara pandang tertentu sesuai identitas mereka, pekerjaaan mereka, atau teman-teman mereka.

Mari kita sebut ini teori motivasi tentang bias konfirmasi. Cara untuk melawan bias ini sudah jelas: ubah motivasi seseorang dan mereka tak akan lagi berpikir secara bias.

Hak atas foto Tasos Katopodis
Image caption Seorang pendukung Donald Trump berdebat dengan pengunjuk rasa saat protes 'Women's March' di Washington, 21 Januari 2017.

Teori lainnya lebih subtil. Bias itu tidak muncul karena kita hanya percaya apa yang kita ingin percaya, namun karena kita tidak mengajukan pertanyaan yang tepat tentang informasi baru dan keyakinan-keyakinan kita sendiri. Ini teori yang kurang kokoh, karena bisa jadi ada ratusan alasan mengapa kita menalar secara keliru—mulai dari keterbatasan memori sampai kesalahan logika.

Salah satu kemungkinannya ialah kita memang punya 'blindspot' atau bidang kosong dalam imajinasi kita dalam membayangkan bagaimana dunia dapat berbeda dari asumsi kita semula.

Dalam keadaan ini, cara untuk meluruskan bias konfirmasi ialah memberikan strategi untuk menyesuaikan pemikiran mereka. Kita berasumsi orang sudah termotivasi untuk mencari kebenaran, dan mereka hanya membutuhkan metode yang lebih baik. Mari kita sebut ini teori kognisi tentang bias konfirmasi.

Tiga puluh tahun lalu, Charles Lord dan sejawatnya mempublikasikan eksperimen klasik yang membenturkan kedua metode itu satu sama lain. Studi mereka menggunakan eksperimen persuasi yang sebelumnya telah menunjukkan jenis bias konfirmasi yang mereka sebut 'asimilasi bias'.

Dalam eksperimen ini, partisipan yang direkrut adalah yang memiliki pandangan kuat tentang hukuman mati: mendukung atau menentang, dan diberikan bukti-bukti yang tampaknya mendukung keberlanjutan atau sebaliknya penghapusan hukuman mati.

Tentu saja, tergantung apa yang telah Anda yakini, bukti ini bisa jadi mengukuhkan, atau justru membuyarkan. Temuan pertama menunjukkan bahwa sifat tentang bukti-bukti tidak penting dibandingkan dengan apa yang sudah menjadi keyakinan awal seseorang. Bukti konfirmatif, yang mengukuhkan, memperkuat pandangan seseorang, tentu saja, tapi demikian juga bukti diskonfirmatif, yang membuyarkan.

Begitulah: orang yang anti-hukuman mati menjadi semakin anti-hukuman mati ketika disajikan bukti pro-hukuman mati; dan sebaliknya. Jelas ini bukti penalaran yang bias.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sekadar menyodorkan fakta kepada seseorang dapat memberikan dampak berlawanan dari yang diharapkan.

Dalam studi kelanjutannya, Lord dan para sejawatnya menjalankan kembali eksperimen asimilasi bias mereka, namun kali ini menguji dua tipe instruksi untuk kumpulan bukti tentang keefektifan hukuman mati sebagai alat untuk mencegah pembunuhan.

Instruksi motivasional meminta partisipan untuk "se-objektif dan se-tanpa bias mungkin", dalam menjadi "hakim dan juri yang diminta mempertimbangkan semua bukti secara adil dan tak memihak".

Instruksi alternatif, yang berfokus pada kognisi, tidak mengindahkan hasil yang diinginkan dari pertimbangan partisipan, dan justru berfokus pada strategi yang digunakan: bertanyalah kepada diri sendiri pada setiap tahap apakah Anda akan menghasilkan evaluasi yang sama jika studi yang persis sama memberikan kesimpulan yang mendukung sisi lain dari masalah ini.

Jadi, contohnya jika partisipan disodori riset yang menunjukkan bahwa hukuman mati menurunkan angka pembunuhan, mereka diminta menganalisis metodologi studi tersebut dan membayangkan hasil yang sebaliknya.

Mereka menyebutnya sebagai strategi "pertimbangkan yang sebaliknya," dan hasilnya sangat nyata. Diminta bersikap adil dan imparsial, partisipan menunjukkan bias yang persis sama ketika mempertimbangkan bukti-bukti sebagaimana dalam eksperimen pertama. Partisipan pro-hukuman mati berpikir bukti tersebut mendukung hukuman mati. Partisipan anti-hukuman mati berpikir itu mendukung penghapusan. Keinginan untuk membuat keputusan tanpa bias tidak cukup.

Partisipan dengan strategi "pertimbangkan yang sebaliknya," di sisi lain, berhasil sepenuhnya mengalahkan efek asimilasi bias - mereka tidak terdorong untuk menilai bahwa studi yang sesuai dengan prasangka mereka lebih baik dari studi lain yang tidak sesuai. Mereka pun tidak menjadi lebih ekstrem dalam pandangan mereka, terlepas dari bukti yang mereka baca.

Temuan ini berita bagus bagi keyakinan kita akan tabiat manusia. Bukannya kita tidak mau menemukan kebenaran, setidaknya dalam mikrokosmos penalaran yang diuji dalam eksperimen.

Yang dibutuhkan orang hanyalah strategi untuk membantu mereka mengatasi kedangkalan pandangan terhadap jalan alternatif - suatu kelemahan yang alami.

Moral untuk mengambil keputusan yang lebih baik itu jelas: sekadar keinginan untuk bersikap adil dan objektif semata tidaklah cukup. Kita membutuhkan metode praktis untuk mengatasi keterbatasan penalaran kita - dan keterbatasan terbesar ialah imajinasi tentang jalan yang lain. Jika kita beruntung, orang lain akan menunjukkan alternatif ini; namun jika kita harus melakukannya sendirian, kita tetap bisa memanfaatkan bantuan penalaran seperti strategi "pertimbangkan yang sebaliknya" itu.

----------

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, How to get people to overcome their bias, di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait