Enam kiat menghindari kebohongan dan berita palsu

Koran Hak atas foto Dan Kitwood/Getty Images

Mulai dari klaim bahwa serial televisi The Simpsons memprediksi kepresidenan Trump pada tahun 2000 sampai berita absurd bahwa Ratu Inggris bercanda tentang membunuh Trump, linimasa media sosial kita penuh dengan kebohongan dan kesalahpahaman.

Contohnya insiden penembakan di masjid Quebec, 29 Januari lalu, oleh Alexandre Bissonnette. Dalam hanya beberapa jam, teori konspirasi mulai menyebar, mengklaim polisi menutup-nutupi keterlibatan seorang warga Muslim.

Seperti dikatakan David Mikkelson, salah satu pendiri situs anti-hoax Snopes, "Omong kosong tersebar lebih cepat dari yang bisa Anda tangkal." Hal yang juga menarik, traffic situs Snopes meningkat hampir dua kali lipat - mencapai 13,6 juta pengunjung per bulan - pada Oktober tahun lalu, seiring para pembaca berusaha memahami peristiwa yang terjadi menjelang pemilihan presiden Amerika Serikat.

Untungnya, para psikolog mulai memahami kenapa kita menerima klaim yang meragukan tapi mendukung pandangan kita sementara mengabaikan fakta yang bertentangan dengannya. Dalam artikel ini, kami meninjau enam strategi yang dapat Anda pakai agar tidak terkecoh.

Jangan mudah terpana oleh hal-hal sederhana

Rangkaian studi telah menunjukkan ternyata sangat mudah menyembunyikan suatu kebohongan dalam selimut kredibilitas, dengan membuatnya terdengar begitu jelas sehingga pasti benar. Intinya ialah 'kelancaran kognitif' - memformulasikan ide yang mudah diproses. Triknya bisa sekadar mencetak suatu berita dengan jenis huruf yang gampang dibaca. Untuk alasan yang sama, kita juga cenderung mempercayai seseorang jika mereka terasa akrab (misalnya, sering muncul di televisi) -kendati mereka jelas-jelas kurang ahli dalam hal yang mereka katakan. Cobalah mempertanyakan sumber informasi Anda dan lihat apa yang sebenarnya mereka sampaikan di balik presentasi yang apik.

Kenali gambar yang direkayasa

Gambar juga dapat meningkatkan kelancaran kognitif suatu berita, tapi berkat perangkat lunak seperti Photoshop, kini gambar dapat dengan gampang direkayasa; dan Anda mungkin tidak menyadari betapa ini dapat memanipulasi ingatan Anda tentang sejarah. Situs berita Slate pernah mengadakan eksperimen: mereka menunjukkan gambar beberapa peristiwa politik - sebagiannya palsu; ketika para pembaca ditanya setelahnya, hampir setengah dari mereka mengklaim mengingat peristiwa palsu tersebut benar-benar terjadi. Ini hanya salah satu metode sugesti halus yang dapat memberikan kredibilitas pada suatu kebohongan.

Jadi berusahalah mencari beragam sumber informasi, dan jangan hanya mengandalkan bukti yang ada di depan mata.

Akui ketidaktahuan Anda

Banyak orang terjerumus karena kepercayaan diri berlebihan - yakin bahwa mereka tahu lebih banyak dari orang biasa. Dan ponsel pintar, dengan akses kepada pengetahuan tak terbatas, dapat memperburuk masalah. Alhasil, kita dapat merasa kurang kritis terhadap informasi yang mendukung asumsi kita, dan menolak apapun yang tidak setuju dengan kita.

Lihat ke luar 'gelembung' Anda

Seperti yang dijelaskan Zaria Gorvett dalam ceritanya tentang 'polarisasi kelompok', orang secara alamiah berkumpul dengan orang yang berpandangan sama dengan mereka - dalam lingkungan fisik maupun virtual. Jadi, cobalah berbicara dengan orang dengan pandangan berbeda dari Anda, dan bacalah sumber berita yang biasanya tidak Anda baca. Anda mungkin akan terkejut karena menemukan informasi yang mempertanyakan fakta yang Anda terima begitu saja.

Jadilah orang yang selalu ingin tahu

Psikolog Tom Stafford berpendapat bahwa kita semua bisa mendapatkan manfaat dengan menjadi lebih ingin tahu. Meskipun pendidikan tidak banyak berperan dalam mencegah cara berpikir yang terpolarisasi, orang dengan rasa keingintahuan besar tampaknya mempertimbangkan bukti saintifik secara lebih berimbang - sehingga mereka tidak dibutakan oleh ideologi.

Bayangkan kemungkinan yang sebaliknya

Anda juga dapat memanfaatkan strategi yang ditemukan di sebuah laporan riset psikologi klasik. Charles Lord dan sejawatnya meminta partisipan untuk membaca artikel tentang hukuman mati, dengan instruksi berikut ini: "Tanyakan kepada diri Anda di setiap tahap apakah Anda akan memberi penilaian yang sama jika studi yang persis sama memberikan kesimpulan yang mendukung sisi lain dari masalah ini."

Jadi, contohnya jika partisipan disodori riset yang menunjukkan bahwa hukuman mati menurunkan angka pembunuhan, mereka diminta menganalisis metodologi studi tersebut dan membayangkan hasil yang sebaliknya. Teknik tersebut ternyata mengurangi bias konfirmasi - kecenderungan untuk mengabaikan bukti yang tidak sesuai dengan keyakinan awal - para partisipan, sembari membuat mereka lebih kritis terhadap bukti yang mendukung asumsi mereka. Alhasil, mereka bisa membuat pendapat yang lebih seimbang.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, How to avoid falling for lies and fake news di BBC Future

Berita terkait