Bagaimana 'narsisme kolektif' memengaruhi politik dunia

Narsisme kolektif Hak atas foto Getty Images

Bagaimana perasaan Anda tentang negara Anda? Apakah Anda marah ketika orang lain mengkritik negara Anda? Apakah Anda merasa dunia akan lebih baik jika negara Anda lebih berkuasa? Apakah Anda berharap agar negara lain segera mengakui otoritas negara Anda?

Siapapun yang menjawab "ya" menunjukkan pertanda "narsisme kolektif" pada tataran kenegaraannya - setidaknya menurut para pakar psikologi sosial. Pertanyaan-pertanyaan tersebut diadaptasi dari sembilan Skala Narsisme Kolektif yang digunakan dalam penelitian.

Banyak dari kita akrab dengan konstruksi psikologis narsisme pada individu: seseorang yang menunjukkan kehebatan dan kepercayaan diri tinggi di luar, namun miskin dan rapuh di dalam.

Namun narsisme kolektif berbeda. Yaitu ketika orang memperlihatkan keyakinan berlebihan akan superioritas kelompok mereka, baik itu geng, agama, atau negara; tapi jauh di dalam hatinya merasa ragu akan martabat kelompok mereka dan karena itu sangat membutuhkan pengakuan dari orang lain.

'Kerapuhan' ini menjadikannya berbeda dari sekadar merasa bangga akan kelompoknya - sebagaimana orang narsis berbeda dari seseorang dengan kepercayaan diri yang sehat.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Narsisme kolektif telah ditemukan di banyak negara, termasuk Polandia, tempat nasionalisme semakin populer di kalangan anak muda.

Salah satu cara yang telah digunakan para psikolog untuk mempelajari narsisme kolektif ialah "Implicit Association Test" (Tes Asosiasi Implisit, IAT), Tes tersebut bisa dalam berbagai bentuk, namun biasanya melibatkan papan tombol yang ditekan untuk menentukan apakah sebuah kata cocok dengan beberapa kategori.

Ide yang mendasarinya ialah kita lebih cepat merespon jika suatu tombol dihubungkan dengan kategori yang berasosiasi dalam benak kita. Jika Anda memiliki kepercayaan diri yang baik, misalnya, Anda akan lebih cepat jika Anda menggunakan tombol panah di sebelah kiri untuk menyortir kata-kata positif dan kata-kata yang berkenaan dengan Anda.

Satu contoh bagaimana tes tersebut diterapkan dalam studi narsisme kolektif, warga Polandia yang menunjukkan tanda-tanda narsisme kolektif lebih lambat dari rata-rata dalam mengasosiasikan lambang-lambang Polandia dengan kata-kata positif.

Meskipun terdapat kontroversi tentang bagaimana menginterpretasikan IAT, temuan ini menunjukkan setidaknya pada tingkatan tertentu para narsis kolektif Polandia itu tidak memandang negaranya secara positif. Ini dapat menjelaskan kenapa mereka mati-matian meminta afirmasi tentang betapa berharganya negara mereka dari orang lain.

Bukti lainnya menunjukkan aspek tertentu dari narsisme kolektif muncul sebagai cara kompensasi terhadap perasaan ketidakcukupan personal - sebagaimana para narsis individual suka membualkan kesombongannya untuk menyembunyikan kegelisahan.

Aleksandra Cichocka dan para sejawatnya di Universitas Warsawa baru-baru ini menemukan bahwa orang-orang yang merasa kurang memiliki kendali atas hidup mereka cenderung menunjukkan tanda-tanda narsisme kolektif.

Terkait hal ini, para peneliti juga menemukan bahwa mereka dapat meningkatkan angka partisipan pada uji narsisme kolektif dengan mengajak mereka berpikir tentang momen dalam hidup ketika mereka tidak memiliki kendali. Sebaliknya, mendorong para partisipan berpikir tentang waktu ketika mereka memiliki control, berdampak pada berkurangnya narsisme kolektif mereka.

Hak atas foto WPA Pool/Getty Images
Image caption Kedua sisi dalam perdebatan Brexit memanfaatkan narsisme kolektif para pemilih, dalam tingkat yang sedikit atau pun banyak.

Konsep tentang narsisme kolektif bukan hal baru - ia pertama kali diajukan oleh psikoanalis Erich Fromm dan sosiolog Theodor Adorno pada tahun 1930-an - namun meningkatnya perhatian para psikolog pada ide itu bisa dikatakan tepat waktu, mengingat pergolakan politik yang terjadi di dunia saat ini.

Dan mantan profesor Cichocka, Agnieszka Golec de Zavala di Goldsmiths, University of London telah menemukan bukti awal bahwa para narsis kolektif cenderung memilih Donald Trump, dan Brexit. (Ini tidak berarti bahwa semua orang yang memilih Trump dan Brexit ialah pengidap narsis kolektif).

Bahkan, politisi dari dua sisi sebuah debat dapat memanfaatkan narsisme kolektif, dalam tingkat yang sedikit atau pun banyak. Dengan membicarakan cara mengembalikan kedaulatan dan kemerdekaan Inggris, misalnya, kampanye Brexit Leave (keluar dari Uni Eropa) dapat menyentuh hati orang-orang berpikiran sama. Namun sisi yang mengkampanyekan Remain (bertahan) juga menyadari bahwa mereka perlu menarik orang-orang dengan pola pikir seperti itu.

Kita lihat bagaimana mantan PM David Cameron memberikan alasan untuk memilih Remain dengan kalimat yang patriotik: "Saya pikir Inggris, pada akhirnya, tidaklah gampang menyerah. Saya pikir kita harus bertahan dan berjuang. Itu yang seharusnya kita lakukan. Itulah yang membuat negara kita hebat dan tetap hebat di masa depan."

Hal yang juga menarik - dan mungkin relevan - bahwa para pengidap narsisme kolektif cenderung percaya akan teori konspirasi, terutama yang melibatkan orang asing.

Contohnya, satu studi lain oleh Golec de Zavala and Cichocka, yang dipublikasikan tahun lalu, menemukan bahwa warga Polandia yang mendapat angka tinggi dalam tes narsisme kolektif cenderung percaya bahwa kecelakaan pesawat Smolensk pada 2010 (yang menewaskan presiden Polandia dan puluhan politikus lainnya) meriupakan aksi terorisme yang dilakukan Rusia.

Hak atas foto Anadolu Agency/Getty Images
Image caption Warga Turki yang mendapatkan skor tinggi dalam tes narsisme kolektif cenderung memiliki pandangan memusuhi terhadap Jerman.

Yang mengkhawatirkan, Golec de Zavala dan Cichocka menunjukkan bahwa narsisme kolektif dapat memicu permusuhan antar negara - karena para narsis kolektif juga lebih cenderung mendukung balas dendam ketika mereka merasa kelompok mereka telah dihina.

Pada sebuah studi yang dipublikasikan tahun lalu, contohnya, partisipan dari Turki yang mendapat angka tinggi dalam tes narsisme kolektif lebih mungkin mengatakan bahwa ditolaknya permintaan Turki untuk bergabung dengan Uni Eropa merupakan penghinaan, dan pada saat yang sama mereka bergembira melihat permasalahan ekonomi blok Eropa itu.

Sama halnya, partisipan dari Portugal yang mengidap narsisme kolektif memandang Jerman sebagai ancaman (mungkin karena mereka menyalahkan Jerman atas langkah-langkah penghematan yang diterapkan Uni Eropa kepada Portugal) dan mengatakan mereka akan menyambut kesempatan untuk balas dendam terhadap Jerman.

Studi lain terhadap siswa AS menemukan bahwa mereka yang mendapat angka tinggi dalam tes narsisme kolektif cenderung mendukung agresi militer.

Meskipun ada temuan-temuan ini, perlu dicatat bahwa narsisme kolektif sangat berbeda dari bentuk kebanggaan nasional lainnya - dan perasaan positif tentang negara dapat memberi banyak manfaat.

Bahkan, dalam ulasannya baru-baru ini, Chichocka menjelaskan bahwa perasaan identifikasi yang kuat dengan suatu kelompok bisa konstruktif. Orang dapat menemukan tujuan dan makna dalam melakukan sesuatu untuk kebaikan kelompok, dan patriotisme sehat diasosiasikan dengan tingginya tingkat toleransi dan pemahaman akan warga negara lain.

Yang membedakan narsisme kolektif ialah nadanya yang paranoid dan defensif, dan hasrat untuk mendapatkan pengakuan dari orang lain.

Hal lain yang perlu dicatat ialah dalam banyak penelitian tentang narsisme kolektif, peneliti dengan sengaja mengabaikan pengaruh konstruksi psikologi dan sosiologi yang terkait, termasuk yang sering dipandang negatif, misalnya glorifikasi kelompok (yakin dengan superioritas suatu kelompok atas yang lain), dan konstruksi lainnya yang lebih positif, misalnya patriotisme konstruktif (mencintai negara sendiri tapi juga mengakui kekurangannya dan mencari cara untuk mewujudkan perbaikan).

Dalam karut-marutnya kehidupan, tentu saja banyak dari kita yang memiliki perasaan ini dalam tingkat yang bervariasi. Dan sikap serta keyakinan kita dapat berubah seiring waktu - semua itu tidak terpatri di atas batu.

Meski begitu orang-orang dari semua sisi spektrum politik sebaiknya memperlakukan hasil penelitian di atas dengan serius: jika peristiwa yang terjadi pada 2016 terus berlanjut, kita akan lebih banyak mendengar tentang tipe kepribadian ini.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris artikel ini, How 'collective narcissism' is directing world politics, di BBC Future.

Berita terkait