Lelaki yang mencoba memfoto pikiran dan mimpi

mimpi Hak atas foto IGPP

Seorang perwira Prancis mengklaim bahwa dia bisa memfoto pemikiran manusia. Teknologi ini disebutnya penting untuk perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Bayangkanlah Madame Darget. Dia merasa letih dan malas sekali ketika sang suami memintanya untuk duduk si sofa kantor, padahal si Madame sudah lelah, ingin tidur.

Sang suami memegang beberapa plat foto di tangannya.

"Aku akan mematikan lampu dan mengambil cetakan foto dari keningku," kata Louis Darget, si suami.

"Aku juga akan memberimu satu plat foto. Kamu harus melakukan hal serupa."

Darget pun meletakkan plat itu dengan jarak sekitar 2,5cm dari wajahnya. Dia pun kemudian tertidur.

Keesokan harinya, sang perwira berlari ke kamar istrinya dan membawa hasil foto yang sudah dicetak.

Terlihat gambar kabur berbentuk burung. Sang suami pun memberi judul foto itu, "Fotografi Mimpi. Sang Elang."

Hak atas foto IGPP
Image caption Apakah ini adalah gambar dari apa yang dipikirkan Madame Darget?

Itulah salah satu gambar yang diyakini Perwira Darget sebagai foto dari proyeksi otak manusia.

Pada surat ke Akademi Sains Prancis tahun 1904, Ia mengklaim metode yang digunakannya bisa menyibak cara kerja otak manusia.

Meskipun ceritanya disebut ngawur, Darget diyakini memberikan pelajaran penting untuk perkembangan ilmu pengetahuan modern.

Pada masa pergantian ke abad 20, eksperimen yang dilakukan Darget sebenarnya sejalan dengan fenomena berbagai temuan yang saat itu terjadi.

Satu dekade sebelumnya, fisikawan Jerman, Wilhelm Rontgen menemukan X-ray, dan menggunakannya untuk menangkap gambar tulang tangan istrinya.

Setelahnya, Marie dan Pierre Curie menguji radioaktivitas pada Polonium dan Radium.

Tiba-tiba, dunia berubah menjadi tempat penemuan berbagai hal yang saat itu 'aneh'. Semuanya menggunakan teknologi. Dan pada awal tahun 1900an, fotografi adalah jembatan untuk melihat hal yang belum pernah terlihat.

Dan lanjut lagi, berbagai macam radiasi 'ditemukan'. Saat itulah Darget menawarkan konsep "radiasi manusia" dalam bentuk pemikiran.

Ini disebutnya sebagai 'V-ray'. V berasal dari kata vital.

"Ketika jiwa manusia memproduksi sebuah pemikiran," tulis Darget pada 1911, "maka pemikiran itu akan mengirimkan getaran ke otak. Kandungan phosphorus di otak kemudian mulai beradiasi, dan sinar diproyeksikan keluar."

Untuk bisa menangkap sinar tersebut, Darget membuat "radiografer portable", yang memuat plat fotografi.

Ketika alat ini ditempel ke kening orang, maka alat akan memproduksi gambar blur dan abstrak yang akan diinterpretasi oleh Darget.

Gambar-gambar yang telah ditangkapnya melalui alat tersebut di antaranya adalah "Mimpi Elang" milik istrinya, "sebuah botol, dan sebuah tongkat yang berjalan."

Hak atas foto IGPP
Image caption Apakah ini adalah gambar botol?

Ketika melakukan eksperimen dengan "Tuan H", alat yang digunakan ketika si subjek bermain piano menghasilkan potret Beethoven, setidaknya itulah klaim Darget.

Meskipun lagi, ketika ditelisik lebih jauh, sang istri mengungkapkan bahwa dia tidak merasa memimpikan elang. Itu hanyalah kesimpulan suaminya.

Dengan kondisinya yang rumit itu, tidak pelak studi terkait radiasi kerap dikait-kaitkan dengan supranatural.

Darget menggunakan istilah 'ray' atau 'sinar' supaya terdengar lebih ilmiah, meskipun dia menggabungkan studinya dengan hal-hal terkait 'jiwa'.

Namun, walau sejumlah orang membawa "fotografi jiwa atau roh" ke arah yang terlalu supranatural, Darget jelas-jelas ingin membawanya ke sisi ilmiah.

Ini terlihat dari bagaimana dia aktif bertukar pikiran dengan berbagai ilmuan terkait idenya itu. Penelitiannya bahkan didukung oleh sejumlah ahli medis kenamaan.

Tapi usaha itu sia-sia. "Teorinya hanya terkesan ilmiah saja," sebut kurator senior fotografi di Museum Seni Modern San Francisco, Clement Cheroux.

Dan akhirnya terungkaplah. Corak yang muncul di gambar yang dihasilkan dari eksperimen Darget adalah hasil pencitraan dari hangatnya kulit manusia.

Satu uji coba memperlihatkan bahwa teori Darget salah; ketika eksperimen dilakukan pada mayat, tidak ada gambar yang muncul.

Tetapi jika suhu mayat dinaikkan seperti suhu manusia biasa, maka corak gambar muncul.

Hak atas foto IGPP
Image caption Apakah ini adalah foto tongkat berjalan?

Namun, ini bukan berarti penanda bahwa "fotografi pikiran dan mimpi" berakhir.

Bertahun-tahun, sejumlah orang yang mengaku cenayang mengklaim bisa memfoto pikiran mereka ke medium film.

Yang paling terkenal adalah Ted Serios asal Chicago yang menyita perhatian pada 1960an. Kala itu psikiater Jule Eisenbud meluncurkan buku yang menyebut bahwa kekuatan Serios benar-benar ada. Namun, tentu kekuatan itu tak ada.

Lalu, bisakah fotografi pikiran dan mimpi ini disebut omong kosong? Tidak sepenuhnya.

Pada abad 21, muncul para fotografer pemikiran baru yang memiliki latar belakang keilmuan dan pelatihan mumpuni, dilengkapi mesin-mesin kompleks.

Dengan menggunakan penggambaran resonansi magnetis atau functional magnetic resonance imaging (fMRI), otak diklaim bisa dipetakan. Tetapi tidak segampang itu.

Dengan membuat gambar aliran darah yang beredar menuju bagian-bagian berbeda di otak, dan mengidentifikasi pikiran dan mimpi yang terkait dengan aliran itu, beberapa orang menilai kita bisa membaca mimpi.

Namun, seperti hal-hal lain dalam sains, itu tidak segampang yang dikira.

"'Masalahnya adalah sebuah pemikiran bukanlah hal yang membutuhkan ruang fisik. Misalnya, jika saya berpikir dalam hati bahwa 'Saya ingin sekali Manchester United kalah tahun ini', pemikiran itu tidak terkait dengan peristiwa yang benar terjadi," jelas Raymond Tallis, seorang filsuf yang juga merupakan fisikawan dan ilmuwan.

Hak atas foto IGPP
Image caption Darget menerjemahkan gambar ini sebagai planet.

Dan para ilmuwan saraf telah mematahkan teori dan harapan bahwa pola tertentu di otak, berkaitan dengan pemikiran tertentu.

Mereka menyebutnya "blobology". fMRI juga telah disimpulkan tidak bisa digunakan untuk membaca pikiran.

Eksperimen-eksperimen yang telah dilakukan Darget bahkan disebut Tallis, terlalu naif.

"Tidak masuk akal jika pemikiran tentang elang, menghasilkan gambar seperti elang pula. Lalu bagaimana dengan bentuk dari pemikiran 'saya tidak percaya Tuhan'?"

Namun, satu hal yang membuat Darget sama dengan ilmuan-ilmuan lain adalah melihat dari bagaimana semangatnya untuk memahami otak.

Sekelompok peneliti ingin sekali meyakini bahwa membaca pemikiran dan mimpi, mungkin dilakukan, meskipun buktinya sangat jauh sekali dari realitas.

Namun, besarnya harapan itu bukanlah hal yang mengejutkan. Kemampuan membaca pikiran bisa menjadi senjata yang amat berguna.

Bayangkan bisa membuktikan kejahatan seorang pelaku kriminal tanpa membiarkan dia berbohong terlebih dahulu.

Kita ingin sekali sains menjawab seluruh pertanyaan kita. Namun, kita harus menerima bahwa tidak ada yang salah jika kita hidup masih dengan menyimpan pertanyaan tak terjawab.


Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini dengan judul The man who tried to photograph thoughts and dreams di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait