Pekerja jarak jauh dan hal menarik lain dari globalisasi baru

teleportation Hak atas foto Rick Madonik

Dalam edisi kali ini, BBC berbicara dengan Richard Baldwin, seorang ekonom yang berprofesi sebagai direktur kebijakan di Centre for Economic Policy Research, perusahaan yang berbasis di London yang mewadahi lebih 500 ekonom Eropa.

Profesi menuntutnya untuk bekerja di negara berbeda dalam waktu singkat. Ini bisa terjadi dengan bantuan robot-robot yang bisa dikendalikan jarak jauh.

BBC berbicara dengannya tentang bagaimana tren itu akan mengubah dunia.

Buku baru Anda berkisah tentang globalisasi baru. Apa yang baru?

Globalisasi tidak lagi soal perpindahan barang, tetapi perpindahan keahlian.

Orang tidak lagi membuat barang, mereka kini mengatur pembuatannya. Misalnya mobil, dibuat di mana-mana. Bagian-bagiannya juga berasal dari berbagai penjuru dunia; Meksiko, Kanada, Cina dan Jepang.

Manufaktur atau pabriknya mungkin berada di berbagai penjuru dunia. Namun, jantung bisnisnya tetap berpusat di satu negara, misalnya di Amerika. Di sana mereka mengurus urusan teknis, manajerial dan pemasarannya.

Namun, tak akan selamanya begitu. Dengan perubahan dari perpindahan barang ke perpindahan keahlian, semua profesi akan berubah.

Image caption Dengan perubahan dari perpindahan barang ke perpindahan keahlian, semua profesi akan berubah.

Apa perbedaan antara perpindahan barang dan manusia?

Biaya yang dikeluarkan untuk memindahkan barang ke berbagai penjuru dunia telah jauh berkurang sejak 200 tahun lalu, ketika infrastruktur transportasi membaik dan hubungan antar negara menguat.

Dan dalam 100 tahun terakhir kemajuan teknologi informasi dari telepon menjadi email, juga mengurangi biaya komunikasi.

Namun, memindahkan keahlian ke berbagai penjuru dunia, dalam kata lain memindahkan manusia, baik fisiknya atau dengan interaksi langsung dengan mesin, selama ini tetap dinilai mahal.

Itulah yang sekarang berubah.

Apa yang mendorong perubahan ini dan bagaimana para ahli berpindah ke berbagai negara?

Interaksi dengan robot adalah jawabannya. Bukan robot dengan kecerdasan buatan, tetapi robot yang dikontrol dari jauh, mungkin dari belahan bumi lain, oleh manusia.

Robot tele ini akan mengurangi jumlah tenaga kerja dalam jumlah besar.

Tidak hanya para pekerja fisik, seperti tukang, pembantu rumah tangga, satpam, tetapi juga pekerjaan yang memerlukan kemampuan khusus.

Pekerjaan profesional bisa dilaksanakan dari jauh, dengan adanya teknologi teleconference.

Image caption Ruang rapat virtual mungkin belum sempurna, tetapi kualitasnya terus membaik.

Apa dampaknya jika orang mengendalikan robot dari jauh?

Robot dilatih untuk mengerjakan hal-hal seperti pekerjaan rumah tangga. Meskipun begitu, robot tetap kesulitan melakukan hal-hal dasar.

Jika ada orang yang mengendalikan robot, permasalahan itu tak akan ada lagi. Selain itu, orang itu bisa mengendalikan robot, misalnya yang berada di Eropa dari Kenya.

Terjemahan juga bisa dilakukan secara langsung. Orang yang berbicara bahasa Swahili bisa berkomunikasi dengan manajer hotel di Oslo, tanpa keduanya tahu bahasa masing-masing.

Bagaimana dengan teleconference? Apakah cuma sebatas Skype?

Skype bukan teknologi yang merepresentasi bagaimana masa depan. Dalam waktu dekat, chat video akan sangat bagus, seakan-akan Anda berada di ruang rapat.

Perusahaan seperti Cisco bahkan telah menyediakan ruang rapat virtual. Sekarang mereka sedang menguji coba hologram.

Tapi tetap saja, ini masih belum bisa disebut sempurna, karena kita tetap tidak bisa berjabat tangan.

Dalam dua dekade terakhir, pekerja kelas menengah telah menjadi saksi betapa pekerjaan mereka di-outsource kepada pihak lain.

Namun, pekerja kelas bawah tetap terlindungi karena kebutuhan untuk, misalnya mendorong vacuum cleaner. Sementara, pekerja profesional terlindungi karena dia harus bertemu langsung dengan mitra kerja.

Masih jauhkah kita dari robot jarak jauh, atau pengendalian robot pekerja dari jauh?

Perkembangannya terjadi lebih cepat dari yang kebanyakan orang bayangkan.

Dokter-dokter telah melakukan operasi yang dilakukan robot dengan jarak berkilo-kilo meter jauhnya. Drone sendiri adalah robot jarak jauh. Tentara muda duduk di kursi empuk di Arizona melakukan serangan militer di Timur Tengah.

Termasuk di tempat-tempat pendirian bangunan. Tukang tidak perlu lagi bergelantungan di katrol.

Katrol akan dikontrol dari jauh. Kita bisa melakukan apapun dengan hanya satu orang di lapangan, sementara lainnya bekerja jarak jauh di Uganda atau Kenya.

Image caption Kemajuan juga berdampak pada para pekerja bangunan.

Jika memang bisa, mengapa belum banyak yang melakukannya?

Salah satu kendala terbesarnya adalah jaringan internet. Bahkan setengah detik pun bisa berarti segalanya.

Kita juga harus mengatur sistem kontrolnya, alhasil kita tak bisa memutuskan untuk bekerja jarak jauh dalam waktu yang mepet-mepet.

Robot juga mahal harganya. Bahkan yang kualitasnya biasa saja, harganya bisa mencapai ratusan ribu dolar.

Namun, ketika kita mulai memproduksinya secara massal, harganya akan "semurah mobil".

Lalu bagaimana pula dengan telepresence. Apa yang akan diubahnya?

Telepresence - yang membuat interaksi tatap muka jarak jauh dapat dilakukan, akan mengubah pekerjaan profesional. Kualitasnya semakin bagus belakangan ini.

Teknologi ini akan membuat orang-orang di negara berkembang semakin berkontribusi dalam perekonomian dunia.

Standar kehidupan masyarakat pun akan membaik. Terutama bagi mereka yang kariernya terhenti karena harus memenuhi syarat pekerjaan bertatap muka, yang saat ini masih berarti berada di tempat yang sama dengan rekan kerja.

Dengan telepresence, Anda yang punya kemampuan mumpuni bisa bekerja dengan perusahaan manapun di dunia, bahkan dari rumah Anda. Kita akan memiliki pekerja superstar. Apa itu?

Fenomenanya seperti apa yang terjadi pada klub-klub sepak bola Eropa, yang mana klub bisa memakai pemain dari negara lain. Pemain terbaik akan dihargai miliaran Euro.

Sepak bola adalah analogi terbaik terhadap apa yang akan terjadi pada globalisasi secara keseluruhan.

Misalkan ada dua klub yang akan tukar-menukar pemain. Dalam aturan globalisasi yang lama, ini dapat dilakukan karena setiap klub tentunya ingin mendepak pemain yang jenis kemampuannya terlalu banyak dimiliki.

Nah, dengan aturan globalisasi yang baru, pelatih dari klub yang lebih baik, dapat melatih klub yang lebih jelek di akhir pekan.

Ini hal yang baik bagi si pelatih karena dia menjual pengetahuannya ke dua tempat. Dan ini tentu juga hal yang baik bagi tim yang lebih buruk.

Sementara, tidak jelas tim yang lebih baik akan diuntungkan atau tidak, karena sebelumnya mereka terbiasa memonopoli kemampuan si pelatih.

Lalu bagaimana dengan pelatih dari klub yang lebih jelek?

Dia harus menemukan klub lain untuk bekerja. Dan itu sama sekali bukanlah hal yang buruk.

Kembali ke dunia sebenarnya, pembangunan berlangsung sangat pesat di negara maju. Alhasil, kesempatan bekerja selalu terbuka untuk siapapun.

Pelatih itu, misalnya mungkin bisa mencari pekerjaan di klub-klub India, India, Thailand, dan sebagainya.

Kesimpulannya, dengan tukar menukar kemampuan dan inovasi, kemajuan semua negara akan terangkat.

Image caption Video conference telah membuat orang terkenal bisa menghadiri konferensi di mana pun di dunia ini.

Apa pekerjaan yang paling tidak terdampak oleh robot tele dan jenis pekerjaan telepresence ini?

Pekerjaan yang mengharuskan interaksi intens dengan orang lain, pekerjaan yang membutuhkan banyak jaringan dan membangun ikatan pribadi.

Begitu pula pekerjaan yang memerlukan kesepakatan dan negosiasi, di mana Anda harus duduk bersama secara fisik dan berinteraksi, serta pekerjaan yang terkait dengan sensitivitas budaya, tidak akan begitu terdampak.

Menurut Anda apakah akan muncul aturan yang melarang perekrutan karyawan yang hanya akan bekerja secara virtual jarak jauh?

Saya hampir yakin akan terjadi penolakan. Yang jelas nantinya akan ada aturan bagaimana seharusnya bekerja dari jauh.

Demonstrasi juga akan bermunculan menuntut agar pekerja virtual diberhentikan.

Globalisasi yang baru ini lebih spontan, tidak terduga dan bahkan tidak terkontrol.

Anda tak akan tahu apakah posisi Anda akan tetap ada atau Anda akan dipecat. Dan itu semua membuat orang-orang gugup.

Sudah selayaknya begitu. Karena masa depan tanpa tanda tanya dan keraguan, bukanlah masa depan yang menarik.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini berjudul The next best thing to teleportation di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait