Kenapa kita sulit menerima kritik, yang baik maupun buruk

Kritik Hak atas foto iStock
Image caption Kritik -atau bahkan hanya kemungkinan untuk dikritik- dapat menjadi ancaman besar untuk harga diri dan perasaan positif akan identitas diri.

Ada hal yang unik pada manusia. Kita semua terdorong untuk mencapai sesuatu - kita ingin berlari lebih cepat, menjadi lebih kreatif, memenangkan lebih banyak penghargaan, menyembuhkan lebih banyak penyakit, mendapatkan lebih banyak uang. Tapi satu masalahnya: jika orang lain ingin membantu kita mewujudkan potensi dengan menilai apa yang kita lakukan dan menunjukkan kekurangan dalam diri yang dapat kita tingkatkan; jika mereka ingin menawarkan kata-kata hangat penuh kebijaksanaan, kritik konstruktif, atau masukan yang berguna, kebanyakan dari kita lebih suka tidak mendengarnya.

Ini sebagian dikarenakan ego yang rapuh. Kita semua ingin memenuhi harapan kita akan diri sendiri, dan dikritik - atau bahkan hanya kemungkinan untuk dikritik - dapat menjadi ancaman besar untuk harga diri dan perasaan positif akan identitas diri. Namun seperti yang ditunjukan teori dan riset psikologi dan penelitian selama puluhan tahun, orang selalu punya taktik cerdik untuk tetap positif dalam menghadapi kritik.

Karena alasan ini, daripada menyambut kritik dengan tangan terbuka, respon pertama kita seringkali berupa tanggapan defensif. Tindakan refleks ini berguna untuk membuat kita merasa lebih baik, tapi juga, di saat yang sama, ia mengungkap rasa tidak aman, cacat karakter, dan sikap tidak menyenangkan dalam diri kita.

Ketidaktahuan ialah berkah

Seni mengelak dari kritik membutuhkan perhatian yang selektif dan kepiawaian dalam teknik membohongi diri sendiri. Banyak orang secara hati-hati hanya mencari pujian, misalnya, meminta kritik hanya dari kawan yang suportif, dan hanya tentang urusan yang menjadi keahliannya. Tapi mungkin teknik mengelak yang paling sederhana ialah menghindari kritik sama sekali.

Kita menemukan reaksi "menutup telinga" ini dalam sistem pendidikan, yang mana murid seringkali tak mau menerima saran atau nasihat tentang tugas sekolah mereka. Dan dalam bidang kesehatan publik, kita temukan orang-orang yang mencari banyak alasan untuk tidak pergi ke dokter, daripada mengambil risiko dinasihati untuk menurunkan berat badan atau berhenti merokok, atau mengungkap kebenaran lainnya tentang dirinya sendiri.

Riset psikologi mengungkap lebih banyak tentang kecenderungan untuk tidak mau tahu ini. Dalam satu studi, sejumlah siswa sekolah diminta menonton film edukasi bohong-bohongan tentang penyakit serius bernama "Defisiensi TAA". Penyakit itu sebenarnya fiktif, namun para siswa tidak diberitahu hal ini; sebagai gantinya, mereka ditanya apakah mereka bersedia menjalani tes diagnostik untuk [assessing] risiko mengidap penyakit tersebut.

Sebagian siswa diberi tahu bahwa jika mereka mengidap Defisiensi TAA, mereka harus minum obat selama dua minggu; sebagian yang lain diberi tahu bahwa mereka harus minum obat itu sepanjang hidup mereka. Pada kelompok pertama, 52% bersedia untuk menjalani tes diagnostik. Sedangkan pada kelompok kedua, hanya 21% yang bersedia.

Hak atas foto iStock
Image caption Apakah ego patut disalahkan atas ketidakmampuan kita menerima kritik, bahkan kritik yang konstruktif?

Temuan ini menunjukkan pola yang juga terlihat di studi lain tentang layanan kesehatan: orang terutama resisten terhadap saran ketika mereka yakin itu dapat mengharuskan mereka untuk melakukan sesuatu yang merepotkan atau tidak menyenangkan.

Bukan aku, tapi kamu...

Meskipun ketidaktahuan ialah berkah, sepenuhnya menghindari atau mengabaikan kritik tidaklah selalu dimungkinkan. Dalam banyak situasi, kita perlu mencari cara lain untuk melindungi ego. Salah satu teknik yang berguna dalam membohongi diri sendiri ialah pengalihan perhatian: menjauhkan fokus dari kekurangan kita.

Sebagai contoh, ketika mengetahui bahwa pencapaian kita lebih buruk dari orang lain, umumnya kita bereaksi dengan merinci kekurangan mereka dan kelebihan kita. "Dia mungkin lebih berprestasi dari saya" - Anda berpendapat - "tapi saya punya lebih banyak kawan, juga kepribadian yang lebih baik."

Sikap melebih-lebihkan kualitas baik dalam diri kita dan kekurangan lawan memang hal biasa, namun penelitian menunjukkan bahwa kita jauh lebih kuat melakukannya ketika mengetahui bahwa lawan telah melampaui kita. Dan meskipun bisa terkesan jahat, sikap ini dapat menjadi cara yang mangkus untuk menjaga dan menguatkan harga diri-positif di hadapan kegagalan.

Hak atas foto iStock
Image caption Ketika menghadapi masukan atau kritik, respon alami kita ialah mengalihkan perhatian dari kekurangan diri.

Mungkin orang yang paling pantas dicela ketika menghadapi kritik ialah orang yang memberikannya. Seperti dijelaskan dengan cermat oleh akademisi Douglas Stone dan Sheila Heen dalam buku mereka Thanks for the Feedback, "Ketika kami memberi masukan, kita menyadari si penerima tidak pandai menerimanya. Ketika kami menerima masukan, kami menyadari si pemberi masukan tidak pandai memberikannya."

"Dalam semangat ini, ketika pemeriksa baru-baru ini mengatakan bahwa laporan riset kami akan "lebih baik dengan beberapa perbaikun", sangat sulit menahan diri untuk tidak mengomentari kesalahan ejaan si pengkritik, dan menduga kalau mereka tidak kompeten. Siapa yang bakal percaya penilaian dari orang yang mengeja saja tidak bisa? Bereaksi seperti ini tidak akan mendorong kami untuk memperbaiki laporan itu, tentu saja, namun jelas akan membuatnya lebih mudah dan meringankan rasa tidak enak."

Namun mendiskreditkan si pemberi kritik tidak selalu cukup, dan langkah selanjutnya bisa jadi ialah menyalahkan mereka atas kegagalan kita. Bahkan, cara kita menyalahkan si pemberi kritik terkadang dapat mengungkap prasangka terburuk kita.

Dalam studi yang dilakukan di Universitas Waterloo, Kanada, siswa diminta melaporkan nilai yang telah mereka terima di berbagai mata pelajaran, dan menaksir kualitas guru yang memberi mereka nilai tersebut. Hasilnya menunjukkan bahwa siswa yang prestasinya jelek cenderung meminimalisasi rasa malu mereka dengan menyalahkan guru: semakin kecil nilai yang mereka terima, semakin mereka menilai pengajarannya berkualitas-rendah. Tapi yang terpenting, tak seperti teman sekelas mereka yang berprestasi baik, siswa dengan nilai jelek bersikap kritis terutama pada guru perempuan. Dalam pencarian cara untuk mendiskreditkan guru mereka, siswa ini tampaknya menemukan bahwa sikap diskriminasi yang seksi dapat menjadi cara yang mangkus untuk menyalahkan sang guru.

'Tameng emosi'

Tampaknya bahkan kritik paling membangun pun dapat memunculkan sisi terburuk dalam diri kita. Tapi apakah reaksi defensif terhadap kritik ini tidak dapat dihindari?

Ialah masuk akal bahwa jika kita bisa melakukannya, kita akan semakin siap untuk mencapai tujuan kita. Betapapun, kritik ialah salah satu pengaruh terkuat bagi pengembangan diri, tapi kita hanya dapat mengambil manfaat dari nasihat yang sungguh-sungguh kita dengarkan.

Masalahnya ialah tidak satu pun pilihan kita terlihat menarik: gagal mencapai tujuan membuat kita merasa buruk, tapi begitu pula mendengarkan kritik yang dapat membantu kita mencapai tujuan tersebut. Namun jika kita begitu takut melukai kepercayaan diri kita, maka mungkin solusi bagi dilema ini ialah memikirkan kenapa kita merasa begitu positif akan diri sendiri pada awalnya.

Dan memang, penelitian menunjukkan bahwa orang lebih terbuka untuk menerima diagnostik medis - seperti menjalani tes untuk penyakit fiktif Defisiensi TAA - jika mereka pertama-tama berpikir tentang sifat positif yang paling mereka hargai dalam diri mereka, dan mengingat peristiwa di masa lalu ketika mereka menunjukkan sifat itu. Temuan ini cocok dengan gambaran yang lebih luas, dan mungkin sudah diduga, bahwa orang dengan penghargaan diri tinggi umumnya lebih baik dalam menerima kritik dibandingkan orang yang kurang menghargai dirinya.

Hak atas foto iStock
Image caption Keengganan kita dalam menerima kritik dapat membuat kita tidak mau mendengarkan nasihat kesehatan, seperti keharusan minum obat secara rutin.

Jadi jika kita ingin lebih reseptif akan berita yang tidak diinginkan, mungkin akan lebih mudah jika kita memasang 'tameng emosi' terlebih dahulu, memastikan harga diri-positif kita tetap utuh terlepas dari apakah berita itu baik atau buruk. Bahkan bisa jadi, bagian lain dari masalah ini ialah kita pada awalnya membiarkan diri untuk memperlakukan kritik sebagai sesuatu yang tidak diinginkan.

Studi klasik psikologi tentang persuasi menunjukkan bahwa orang dapat dengan mudah mengecoh diri sendiri hingga berpikir mereka menikmati suatu pekerjaan yang sejatinya tidak menyenangkan, hanya jika mereka percaya bahwa mereka secara aktif memilih untuk melakukannya. Mungkinkah hal serupa dilakukan pada kritik? Dapatkah kita meyakinkan diri sendiri untuk menerima nasihat hanya dengan meyakinkan diri bahwa kita memilih untuk menerimanya.

Dukungan akan ide ini berasal dari riset di Amerika, yang mana partisipan memperkirakan tahun terjadinya berbagai kejadian sejarah. Semakin akurat jawaban mereka, semakin banyak uang yang mereka terima. Setiap partisipan kemudian menjawab pertanyaan yang sama untuk kedua kalinya, namun kali ini mereka ditawari usulan berdasarkan jawaban yang telah diberikan orang lain.

Terkadang usulan ini diberikan secara cuma-cuma, dan terkadang harus dibayar dengan uang yang telah mereka dapatkan jika mereka memilih untuk menerimanya. Sesuai dugaan, orang cenderung menerima usulan yang gratis. Namun partisipan juga cenderung mempertimbangkan usulan yang mereka terima - dengan menggeser estimasi mereka lebih dekat dengan jawaban orang lain - jika mereka telah membayar untuk itu. Dengan kata lain, hasil ini menunjukkan bahwa orang lebih merasakan keharusan untuk melaksanakan suatu nasihat jika mereka merasa telah membelanjakan sumber daya untuk menerimanya.

Jika kita secara aktif mencari dan meyakinkan diri untuk menerima usulan yang jujur, dan jika kita memperkuat identitas positif sebagai antisipasi akan rasa tidak enak yang mungkin kita alami, kita bisa menjadi siap untuk mendengarkan dan menerima nasihat yang sangat kita butuhkan. Bahkan mungkin ada cara untuk melatih diri kita mengenali sikap defensif, sehingga kita bisa menahan diri dari menyimpulkan bahwa orang lain lah, dan bukan diri kita, yang salah.

Meski demikian, pencegahan mental apapun yang kita lakukan, mengambil manfaat dari kritik yang menantang akan selalu sulit. Sains dapat menawarkan cara untuk melakukannya dengan lebih baik, tapi pada akhirnya, semuanya kembali ke diri kita.

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini, Why even the best feedback can bring out the worst in us di BBC Future.

Berita terkait