Jalan pintas untuk menguasai 'kekuatan pikiran'

Otak Hak atas foto Carolyn Speranza/CC by 2.0
Image caption Dengan latihan, kita bisa mengendalikan apa yang terjadi di dalam otak secara sadar.

Banyak dari kita punya cara sendiri untuk mengatasi perasaan dan emosi. Contohnya ketika merasa tertekan, kita mungkin menenangkan diri dengan memusatkan perhatian pada pernapasan. Jika sedang sakit gigi, kita mungkin berusaha mengurangi rasa sakitnya melalui teknik meditasi. Dan saat merasa sedih, kita menghibur diri dengan membayangkan sedang berada di 'tempat bahagia' kita. Mereka yang pernah mencoba strategi serupa tahu kalau itu ampuh, tapi dengan tingkat kesuksesan yang bervariasi.

Sekarang bayangkan jika Anda dapat melihat apa yang terjadi di dalam otak ketika Anda merasakan emosi dan sensasi seperti rasa sakit, kegelisahan, depresi, takut, dan kesenangan - semuanya secara langsung atau real-time. Tiba-tiba, penyebab perasaan Anda bukan lagi misteri, dan keampuhan teknik mental yang Anda gunakan dalam kehidupan sehari-hari pun menjadi jelas.

Itulah ide di balik teknik baru yang dikenal sebagai "real-time fMRI". Dengan menerima umpan-balik visual yang spesifik tentang aktivitas otak sambil menjalankan trik dan strategi mental, kita dapat belajar untuk secara sadar mengontrol emosi, sensasi, dan mengidam, seakan perasaan-perasaan dimanipulasi dengan kenop volume di radio. Dengan latihan, Anda dapat belajar untuk memperkuat kendali atas pikiran sebagaimana seorang atlet angkat beban melatih kelompok otot yang spesifik - dan ini memunculkan kemungkinan masa depan ketika manusia dapat melatih kemampuan mental yang jauh lebih maju daripada kemampuan kita sekarang.

Hak atas foto iStock
Image caption Dengan berfokus untuk mengontrol api virtual, para partisipan riset mampu mengurangi sakit yang mereka rasakan.

Demonstrasi pertama bahwa real-time fMRI dapat menjadi alat yang ampuh terjadi pada 2005, saat sekelompok peneliti mengajari partisipan cara mengendalikan rasa sakit. Delapan orang berbaring di dalam mesin pemindai sambil dipaparkan sensasi panas yang menyakitkan pada kulit mereka. Para peneliti memperlihatkan api virtual untuk merepresentasikan aktivitas di rostral ACC, wilayah otak yang terlibat dalam mekanisme rasa nyeri. Melalui berbagai strategi kognitif, seperti "mendekati atau menjauh dari stimulus yang menyakitkan" dan "upaya mempersepsikan stimulus dengan intensitas tinggi atau rendah". partisipan dengan cepat belajar mengendalikan ukuran api, dan dengan demikian mengubah tingkat aktivasi elektris pada wilayah yang responsif terhadap nyeri.

Pengurangan atau penambahan sinyal neuron ini berkolerasi dengan rasa sakit subjektif, yang diukur dengan kuesioner dan skala rasa sakit dari 1-10. Sungguh mengagumkan, hanya dalam satu sesi selama 13 menit partisipan belajar untuk mengontrol ukuran api virtual dengan mudah dan dapat mengurangi rasa sakit mereka hingga lebih dari 50%.

Sejak itu, riset yang menggunakan real-time fMRI menjadi populer, dan kegunaan klinis dan eksperimental tampaknya setiap bulan. Cara mempertunjukkan aktivitas otak kini juga disertai umpan-balik seperti suara atau 'tampilan termometer' via kacamata realitas virtual.

Studi yang dipublikasikan di jurnal Appetite tahun 2017 menunjukkan bahwa latihan semacam ini dapat melawan obesitas. Selama empat hari periode latihan, pria dengan berat badan berlebih belajar meningkatkan interaksi antara bagian otak yang terlibat dalam fungsi eksekutif dan mekanisme hadiah, yang meningkatkan kontrol-diri dan berujung pada pilihan makanan yang lebih sehat.

Studi lainnya yang dipublikasikan tahun ini menemukan bahwa dengan berlatih mengendalikan bagian kanan bawah prefrontal korteks, wilayah otak yang terganggu pada pengidap ADHD, anak remaja dapat mengurangi gejala ADHD dan meningkatkan perhatian jangka panjang. Manfaat ini bertahan ketika para partisipan diuji kembali 11 bulan kemudian. Ini menunjukkan bahwa latihan ini dapat menciptakan perubahan di otak dengan dampak jangka panjang.

Sedangkan studi pada 2016 menemukan bahwa lansia dapat menggunakan teknik ini untuk meningkatkan kemampuan kognitif. Amat mungkin bagi anak muda untuk meningkatkan fungsi otaknya dengan cara ini juga. Bahkan, studi pada 2015 dengan partisipan orang dewasa yang sehat menunjukkan bahwa latihan 'umpan-balik neural' dapat meningkatkan fokus dan mengurangi perhatian yang terputus-putus.

Studi terbaru lainnya telah menemukan bahwa latihan ini dapat digunakan untuk mengatasi PTSD pada veteran perang, depresi, kegelisahan, dan bahkan kecanduan merokok. Studi yang lain oleh James Sulzer, dkk di Universitas Texas, Austin menunjukkan bahwa partisipan dapat belajar untuk mengatur tingkat neurotransmiter dopamin, teknik yang dapat diterapkan untuk merawat penyakit Parkinson.

Hak atas foto Anthony Harvie/Getty Images
Image caption Apakah manfaat [ultimate] dari latihan fMRI jika seseorang dapat belajar mengendalikan otaknya setiap hari?

Riset-riset tersebut jelas menunjukkan bahwa teknologi ini dapat digunakan dengan berbagai cara, namun seberapa efektifkah dalam jangka panjang, dan apakah teknologi ini praktis, belum diketahui. Karena real-time fMRI membutuhkan peralatan mahal, kegunaan langsungnya ialah untuk merawat pasien dengan kondisi parah yang membutuhkan terapi berbiaya mahal. Akan tetapi, seperti halnya setiap teknologi baru, mesin pemindai fMRI akan menjadi semakin murah, kecil, dan mudah diakses seiring waktu.

Dan ini membuka berbagai kemungkinan baru. Untuk mendapat gambaran tentang potensi yang belum tergali dari teknik ini, bayangkan bagaimana rasanya seorang atlet atau binaragawan jika ia selalu berlatih tanpa melihat tubuhnya atau bobot bebannya. Sangat sulit menentukan latihan mana yang ampuh dan mana yang tidak, dan persisnya sampai sejauh mana. Untuk mengasah hampir semua keterampilan secara efektif dibutuhkan umpan-balik visual, demikian pula dalam melatih otak.

Akan seperti apakah manfaat yang bisa didapatkan dari latihan real-time fMRI jika seseorang dapat dengan mudah mengakses dan melatih keterampilan mengendalikan otak setiap minggu, atau bahkan setiap hari, selama bertahun-tahun? Jika beberapa sesi 10 menit dapat memberikan hasil yang signifikan, apa yang bisa didapatkan dengan 10.000 jam praktik? Tidak ada cara untuk benar-benar mengetahuinya, tapi sesuatu yang mirip dengan 'kekuatan batin' mungkin bisa dicapai.

Latihan umpan-balik neural bisa menjadi jalan pintas untuk mendapatkan kemampuan para biarawan, misalnya, yang benar-benar dapat memblokir rasa sakit luar biasa dan mengatur panas tubuh sehingga dapat mengeringkan handuk basah yang diletakkan di atas punggung mereka, di dalam ruangan yang dingin.

Jadi, meskipun potensi dari teknologi ini belum ketahuan sepenuhnya, bukan tanpa alasan jika kita percaya bahwa suatu hari nanti, kekuatan mental para ahli meditasi yang dikembangkan selama bertahun-tahun dapat dipelajari oleh semua orang dalam waktu singkat.

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris, The most promising route to ‘mental superpowers’ dan artikel lain dalam BBC Future.

Berita terkait