Mengurangi makan bisa jadi rahasia umur panjang dan sehat

Makanan Hak atas foto Chris Hondros/Getty Images
Image caption Mengurangi asupan kalori mungkin lebih sulit diterapkan setiap hari karena akses ke makanan sangat terbuka.

Di sebuah restoran pada masa depan yang tidak terlalu lama lagi, seorang laki-laki dan seorang perempuan melakukan kencan perdana. Setelah kegugupan mereda, semuanya berjalan lancar.

Pria itu mengaku berusia 33 tahun dan sepanjang sebagian besar masa hidupnya ia tidak mempunyai pasangan. Dan meskipun ia tidak mengungkapkannya, ia berencana menikah dan mempunyai keluarga. Sang perempuan menanggapinya dengan mengatakan usianya 52 tahun dan pernah menikah, cerai, serta mempunyai anak-anak yang berusia 20-an tahun. Si pria tak menyangka -perempuan itu tampak sebaya dengannya, atau bahkan lebih muda.

Itulah sebuah mimpi yang ingin diwujudkan oleh Julie Mattison dari National Institute on Ageing (NIA) atau Institut Nasional Penuaan di Amerika Serikat. Ia membayangkan suatu masa ketika umur secara kronologis berlalu setiap tahun tapi usia biologis dapat disetel ke waktu yang berbeda sehingga tua tidak sama artinya dengan makna kata itu seperti yang kita pahami sekarang.

Hal tersebut tampaknya jauh dari jangkauan, tapi masyarakat kita sudah berusaha melangkah ke arah itu, berkat kemajuan obat-obatan dan perbaikan standar hidup sehat. Pada 2014, misalnya, Survei Interview Kesehatan Amerika Serikat mencatat bahwa 16% penduduk pada usia antara 50 hingga 64 tahun setiap harinya mengalami gangguan karena penyakit kronis. Tiga puluh tahun sebelumnya jumlah itu mencapai 23%. Artinya, selain mengalami masa hidup lebih panjang, kita juga mengalami 'masa kesehatan' -dan hal yang kedua tersebut terbukti lebih bisa ditempuh.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Makanan tinggi kalori dewasa ini sangat sulit dihindari.

Mengutip dan memperbarui pidato mantan Presiden Amerika Serikat, John F Kennedy, dalam Konferensi Penuaan di Gedung Putih yang pertama pada 1961, sejatinya kehidupan dapat ditambahkan ke umur, jadi bukan hanya umur yang ditambahkan ke dalam kehidupan.

Pembatasan kalori

Lantas, apa yang perlu kita lakukan untuk memperpanjang lagi umur dan menambah kualitas hidup kita? Para peniliti di seluruh dunia mencari berbagai pemikiran, tetapi bagi Mattison dan kolega-koleganya, jawabannya adalah perubahan sederhana dalam diet kita.

Mereka meyakini bahwa kemungkinan kunci dari masa tua yang lebih baik adalah mengurangi kuantitas makanan yang kita konsumsi, melalui pendekatan yang disebut 'pembatasan kalori'.

Diet ini lebih efektif dibandingkan mengurangi makanan berlemak sesekali, yaitu dengan cara mengurangi ukuran porsi makan secara bertahap dan berhati-hati untuk selamanya. Sejak awal tahun 1930-an, 30% pengurangan jumlah makanan yang dikonsumsi per hari memiliki hubungan dengan kehidupan yang lebih aktif dan panjang umur untuk cacing, lalat, tikus kecil, tikus besar dan monyet.

Di dunia binatang, dengan kata lain, pembatasan kalori terbukti sebagai obat mujarab bagi kerusakan hidup. Dan mungkin saja hal tersebut dapat memberikan keuntungan yang sama bagi manusia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Apa yang kita beli dapat berdampak mendalam terhadap kualitas hidup dan masa hidup kita.

Pemikiran bahwa yang dimakan orang mempengaruhi kesehatannya tidak diragukan lagi sudah ada sebelum catatan sejarah yang masih ada sekarang. Akan tetapi, sebagaimana halnya dalam disiplin ilmiah, catatan rinci pertama berasal dari Yunani Kuno.

Hippocrates -salah seorang ahli fisika yang mengatakan penyakit-penyakit adalah alamiah dan bukan ajaib- mengamati bahwa banyak penyakit berhubungan dengan kerakusan. Orang-orang Yunani yang gemuk cenderung meninggal dunia pada usia lebih muda dibanding orang Yunani yang ramping. Hal itu jelas dan ditulis di kertas papirus.

Dari pusat ilmu pengetahuan tersebut, gagasan-gagasan ini kemudian diadopsi dan diadaptasi selama berabad-abad. Dan pada akhir Abad ke-15, Alvise Cornaro, seorang aristokrat lemah dari desa kecil di dekat Venesia, Italia, memasukkan kearifan tersebut ke benaknya dan menerapkannya pada dirinya sendiri.

Jika hidup serba berlebihan mempunyai efek negatif, apakah menahan diri dari makanan bersifat positif? Untuk menemukan jawabannya, Cornaro, yang berusia 40 tahun, hanya menyantap 350g (12oz) makanan setiap hari, kurang lebih sebanyak 1.000 kalori jika berdasarkan perkiraan baru-baru ini. Ia makan roti, panatela -atau semacam biskuit panjang- kuah sup, dan telur.

Untuk daging, ia memilih daging sapi muda, kambing, daging sapi, burung partridge yang biasa diburu, burung thrush, dan semua jenis unggas yang tersedia. Ia membeli ikan yang ditangkap di sungai setempat. Dengan membatasi jumlah tetapi tidak jenis makanannya, Cornaro mengklaim telah mencapai 'kesehatan sempurna' sampai kematiannya lebih dari 40 tahun kemudian.

Meskipun ia mengubah tanggal lahirnya ketika bertambah tua dan mengaku berumur 98 tahun, diyakini dia berusia 84 tahun ketika meninggal dunia. Hal itu merupakan pencapaian luar biasa pada Abad ke-16 ketika usia 50 atau 60 dianggap tua. Pada 1591, cucu laki-lakinya menerbitkan buku besar yang terdiri dari tiga volume setelah kematiannya dengan judul Discourses on the Sober Life atau Wacana Hidup Sadar yang berisi dorongan pembatasan makanan bagi khalayak umum, dan mendefinisikan ulang penuaan itu sendiri.

Dengan perbaikan kesehatan di masa-masa tua, maka kaum manula masih mempunyai kapasitas mental secara penuh dan akan mampu memanfaatkan pengetahuan yang telah diperoleh selama berpuluh-puluh tahun untuk tujuan baik, kata Carnaro. Dengan dietnya, kecantikan menjadi usia tua, bukan muda.

Uji coba umur panjang

Cornaro merupakan laki-laki yang menarik tetapi penemuannya tidak seharusnya diperlakukan sebagai sebuah kenyataan oleh disiplin ilmu pengetahuan apapun. Bahkan sekalipun ia jujur dengan mengatakan apa adanya dan tidak mengalami gangguan kesehatan selama hampir setengah abad -yang tampaknya tidak mungkin- ia adalah satu studi kasus yang tidak mewakili manusia secara keseluruhan.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Monyet Rhesus diberi diet rendah kalori yang diterapkan secara ketat terbukti berumur panjang.

Namun sejak penelitian dasar tahun 1953 pada tikus putih, pembatasan makanan antara 30% hingga 50% menunjukkan perpanjangan usia, menunda kematian akibat kelainan dan penyakit terkait usia. Tentu saja, yang berlaku bagi tikus atau organisme laboratorium mungkin tidak berlaku bagi manusia.

Uji coba jangka panjang, dengan mengikuti jejak manusia sejak menginjak usia dewasa sampai kematian, jarang dilakukan. "Saya tidak berpendapat penelitian umur panjang pada manusia sebagai sesuatu yang bisa menjadi program riset yang dapat didanai," kata Mattison.

"Bahkan kalau pun kita memulai manusia pada usia 40 atau 50 tahun, kita masih harus melakukan penelitian tambahan kira-kira 40 atau 50 tahun lagi."

Lagi pula, tambahnya, untuk memastikan bahwa faktor-faktor tak terkait -seperti olahraga, merokok, perawatan medis, kesehatan mental- tidak sampai mempengaruhi hasil akhir uji coba adalah hampir tidak mungkin bagi spesies kita yang kompleks dari sisi sosial dan kultural.

Oleh sebab itu, pada akhir 1980-an, dua uji coba independen jangka panjang -satu di NIA dan satu lagi di Unversitas Wisconsin- dilakukan untuk mempelajari pembatasan kalori dan penuaan pada monyet Rhesus. Tak hanya 93% DNA manusia sama dengan primata ini, cara manusia menua juga sama dengan monyet itu.

Perlahan-lahan, setelah tengah baya (sekitar 15 tahun pada monyet Rhesus), tulang belakang mulai membungkuk, kulit dan otot mulai mengendur, dan di bagian yang masih tumbuh, bulu berubah dari warna seperti jahe menjadi abu-abu. Persamaan-persamaan yang ada lebih dalam lagi. Pada primata ini, timbulnya kanker, diabetes dan penyakit jantung bertambah sering dan bertambah buruk seiring dengan pertambahan usia.

"Primata-primata itu adalah model yang luar biasa bagus untuk mempelajari penuaan," kata Rozalyn Anderson, seorang pakar ilmu penuaan di Universitas Wisconsin.

Tak alami malnutrisi

Dan primata mudah dikendalikan. Dengan diberi makanan berupa biskuit khusus, diet untuk 76 monyet di Universitas Wisconsin dan 121 yang ada di NIA disesuaikan dengan usia, bobot tubuh dan nafsu makan alamiahnya. Semua monyet mendapat asupan penuh gizi dan mineral yang diperlukan tubuh. Yang terjadil adalah 50% dari kelompok monyet yang kalorinya dibatasi, makan 30% lebih sedikit dari kelompok lainnya.

Ternyata monyet-monyet tersebut tidak mengalami malnutrisi atau kelaparan. Sebagai contoh, Sherman, monyet berumur 43 tahun dari NIA.

Menurut Julie Mattison dari National Institute on Ageing (NIA) di Amerika Serikat, sejak menjalani diet pembatasan kalori tahun 1987, pada umur 16 tahun, Sherman belum menunjukkan tanda-tanda kelaparan yang biasanya jelas terlihat pada spesies ini.

Sherman adalah monyet Rhesus tertua yang pernah tercatat, hampir 20 tahun lebih tua dibanding rata-rata masa hidup spesies itu yang hidup di kandang. Ketika monyet muda menderita penyakit dan sekarat, si monyet Sherman tampak kebal dari penuaan. Bahkan ketika umurnya mencapai 30-an tahun, Sherman mestinya dianggap sebagai monyet tua, tetapi ia tidak tampak atau beraksi seperti umurnya yang sudah tua.

Pada tataran berbeda-beda, eksperimen atas monyet-monyet di NIA juga menunjukkan hasil yang sama. "Kami menemukan frekuensi diabetes, frekuensi kanker lebih rendah pada kelompok yang konsumsi kalorinya dibatasi," kata Mattison.

Tahun 2009, uji coba di Universitas Wisconsin menerbitkan hasil serupa yang menakjubkan. Tidak hanya monyet-monyet tersebut tampak sangat muda -punya bulu lebih tebal, penipisannya kurang, dan warnanya cokelat bukan abu-abu- dibanding monyet-monyet yang diberi diet standar. Mereka juga lebih sehat pula dan bebas dari penyakit.

Penyakit penuaan

Kanker, seperti adenocarcinoma usus yang umum terjadi, berkurang lebih dari 50%. Risiko penyakit jantung juga berkurang 50%. Dan meskipun 11 monyet ad libitum atau yangmakan seperti biasanya, mengalami diabetes dan lima tanda-tanda pradiabetes, pengontrolan gula darah tampak sehat di semua monyet yang asupan kalorinya dibatasi. Bagi monyet-monyet tersebut, diabetes tidak menjadi persoalan.

Secara keseluruhan, hanya 13% monyet di kelompok yang kalorinya dibatasi mati karena sebab-sebab penuaan dalam kurun waktu 20 tahun. Di kelompok ad libitum, jumlahnya 37% mati atau hampir tiga kali lipat dibanding kelompok yang asupan kalorinya dibatasi.

Dalam penelitian perbaruan di Universitas Wisconsin pada 2014, persentase ini tetap stabil.

"Kami telah membuktikan bahwa penuaan dapat dimanipulasi pada primata," kata Anderson.

"Ini seperti ditutup-tutupi karena jelas, tetapi secara konsep persoalan ini sangat penting bahwa penuaan merupakan target yang masuk akal bagi intervensi klinis dan perawatan medis."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kehidupan manula tidak harus menderita penyakit.

Dengan kata lain, jika penuaan dapat ditunda, maka semua penyakit yang berkaitan dengan penuaan akan mengikutinya.

"Menangani satu penyakit sekali waktu tidak akan memperpanjang masa hidup seseorang secara signifikan karena mereka akan meninggal dunia karena sebab lain," jelasnya Anderson.

"Jika kita menyembuhkan semua jenis kanker, kita tidak akan mengimbangi kematian karena penyakit jantung, dementia, atau kelainan-kelainan yang disebabkan oleh diabestes. Sebaliknya jika kita mengatasi penuaan, kita dapat mengimbangi semuanya sekaligus."

Mengurangi makan jelas membantu monyet, tetapi pembatasan asupan kalori jauh lebih sulit dilakukan oleh manusia dalam dunia nyata. Pertama, akses kita ke makanan reguler yang tinggi kalori pada masa sekarang ini lebih mudah dibandingkan waktu-waktu sebelumnya. Dengan adanya perusahaan pengantaran seperti Deliveroo dan UberEats, kita tidak perlu lagi berjalan ke restoran. Kedua, bertambah bobot adalah hal yang biasa bagi sebagian orang.

"Terdapat komponen genetik besar bagi semua ini dan bagi sebagian orang lebih sulit untuk menjaga badan langsing dibanding sebagian lainnya," jelas Anderson.

Idealnya, jumlah dan jenis makanan yang kita makan seharusnya disesuaikan dengan siapa kita - seperti kecenderungan genetik kita untuk bertambah bobot, bagaimana metabolisme kita dengan gula, bagaimana kita menyimpan lemak, dan aliran-aliran psikologis lain yang berada di luar cakupan instruksi ilmiah pada saat ini dan mungkin juga selamanya.

Namun kecenderungan kelebihan berat badan dapat digunakan sebagai panduan untuk pilihan hidup dan bukan sebagai keniscayaan. "Secara pribadi saya punya sejarah obesitas dalam keluarga, dan saya melakukan pembatasan kalori dan bentuknya fleksibel," ungkap Susan Roberts, pakar diet di Universitas Tufts di Boston.

"Saya mempertahankan Indeks Massa Tubuh (BMI) pada 22, dan saya telah menghitung bahwa untuk mempertahankan kondisi itu saya harus makan 80% dari jumlah yang biasa saya konsumsi jika BMI saya 30, sama seperti halnya anggota keluarga saya yang lain."

Ditekankan oleh Roberts bahwa hal itu tidak sulit: ia mengikuti program manajemen berat badan sendiri dengan menggunakan alat yang disebut iDiet untuk membantunya mengurangi porsi makan tetapi menghindari rasa lapar atau menghindari kesenangan. Jika langkah itu tidak mungkin dilakukan, tambahnya, ia tidak akan menjalankan pembatasan kalori.

Roberts tidak hanya menyaksikan langsung persoalan obesitas di keluarganya, ia juga lebih paham akan manfaat pembatasan kalori dibandingkan kebanyakan orang. Selama lebih dari 10 tahun, ia memimpin tim ilmuwan dalam percobaan Comprehensive Assessment of Long-Term Effects of Reducing Intake of Energy, yang juga dikenal dengan sebutan Calerie.

Metabolisme

Dalam program itu. selama dua tahun, sebanyak 218 laki-laki dan perempuan sehat berusia 21 hingga 50 tahun dibagi menjadi dua bagian. Di kelompok pertama, mereka dibolehkan makan seperti biasanya, sementara kelompok kedua mengurangi makan sampai 20%. Kedua kelompok menjalani pemeriksaan kesehatan setiap enam bulan.

Berbeda dengan penelitian pada monyet Rhesus, pemeriksaan selama lebih dari dua tahun tidak dapat menentukan apakah pengurangan kalori mengurangi atau menunda penyakit-penyakit yang berkaitan dengan penuaan. Waktunya tidak mencukupi untuk mengukurnya.

Tetapi uji coba Calerie menguji hal terbaik selanjutnya: tanda-tanda biologis awal bagi penyakit jantung, kanker, dan diabetes.

Diterbitkan pada 2015, hasilnya setelah dua tahun sangat positif.

Di dalam darah orang-orang yang menjalani pembatasan kalori, rasio antara kolesterol 'baik' dan kolesterol 'jahat' meningkat, sementara molekul yang berhubungan dengan pembentukan tumor -yang disebut faktor nekrosis tumor- berkurang 25%, dan tingkat resistensi insulin -tanda jelas adanya diabetes- turun hampir 40% dibanding orang-orang yang mengonsumsi diet normal. Secara keseluruhan tekanan darah lebih rendah.

Memang, beberapa hal positif tersebut mungkin disebabkan karena berat badan berkurang. Uji coba yang dilakukan Calerie mencakup orang-orang yang gendut dan mereka yang memiliki Indeks Massa Tubuh (BMI) 25 atau kurang dari angka itu, dan mengurangi berat badan tentu saja meningkatkan kesejahteraan peserta yang lebih gemuk.

"Satu hal yang sangat jelas untuk waktu yang lama adalah kelebihan berat badan tidak baik bagi kita," tegas Roberts.

Ditambahkannya berbagai penyakit dan kelainan yang sebelumnya diyakini berhubungan dengan penuaan, sekarang muncul di kalangan penduduk yang gendut.

Namun hasil-hasil terbaru ini menunjukkan bahwa keuntungan kesehatan yang signifikan dapat dipetik dari tubuh yang sudah sehat -yaitu orang yang tidak kekurangan berat badan maupun yang gemuk. Orang tersebut memiliki BMI antara 18,5 hingga 25.

Di balik hasil-hasil itu, bukti dari uji coba lebih lanjut diperlukan sebelum seseorang yang punya BMI sehat disarankan untuk mengurangi asupan kalori.

Sementara itu, para ilmuwan berharap bahwa monyet-monyet Rhesus dapat membantu kita memahami dengan tepat kenapa pembatasan kalori mungkin punya dampak-dampak seperti itu.

Didukung data yang dikumpulkan selama hampir 30 tahun tentang kematian dan kehidupan, dan sampel darah serta tisu, dari hampir 200 monyet, penelitian di NIA dan Universitas Wisconsin bertujuan untuk mencari titik terang tentang pembatasan kalori serta mencari tahu bagaimana hal itu menunda penuaan.

Dengan makanan dikurangi, apakah metabolisme dipaksa lebih efisien? Apakah ada tombol molekul umum pengatur penuaan yang diaktifkan (atau dimatikan) dengan kalori lebih sedikit? Atau apakah ada mekanisme yang belum diketahui yang mengganjal hidup atau matinya kita?

Jawaban atas pertanyaan-pertanyaan itu mungkin masih jauh dari kenyataan.

"Jika saya kloning diri sendiri 10 kali dan kita semua bekerja keras, saya pikir kita tetap tidak dapat memecahkannya," kata Anderson.

"Biologi sangat rumit," tambahnya. Perlu dilakukan upaya untuk memahami bagaimana pembatasan kalori bekerja dan perawatan-perawatan lain dapat digunakan untuk menyasar bagian khusus biologi kita. Penuaan dapat ditangani secara langsung tanpa perlu membatasi kalori.

"Dan saya pikir hal itu merupakan tiket emas yang sebenarnya," ungkap Anderson.

Walau kekurangan penjelasan yang rapi, pembatasan kalori tetap merupakan salah satu jalan menjanjikan untuk meningkatkan kesehatan dan seberapa lama kesehatan bertahan dalam hidup kita.

"Tidak ada hal apapun yang kita dapati yang membuat kita berpikir bahwa pembatasan kalori tidak baik bagi orang," kata Roberts dari penelitian Calerie.

Dan berbeda dengan perawatan berbasis obat, pembatasan kalori tidak menimbulkan berbagai efek sampingan.

"Orang-orang kami (peserta) tidak merasa lebih lapar, suasana hatinya baik, fungsi seksualnya baik. Kami berusaha menemukan hal-hal buruk dan tidak menemukannya," kata Roberts.

Satu masalah yang diperkirakan terjadi adalah sedikit pengurangan pada kepadatan tulang yang biasanya berkaitan dengan penurunan berat badan, kata Roberts. Namun sebagai langkah jaga-jaga, para relawan diberi suplemen tambahan dalam jumlah kecil selama masa percobaan.

Bahkan dengan hasil temuan yang menjanjikan seperti itu, "Uji coba Calerie merupakan penelitian pertama dalam masalah ini, dan saya pikir tak seorang pun dari kita merasa yakin, 'baiklah kita akan merekomendasikan ini kepada setiap orang di dunia," ungkap Roberts.

"Tetapi hal ini benar-benar merupakan prospek yang menarik. Saya pikir menunda munculnya penyakit-penyakit kronis adalah sesuatu yang dapat didukung oleh semua orang dan membuat orang tertarik, karena tak seorang pun ingin menjalani hidup dengan salah satu penyakit tersebut."


Tulisan ini dalam bahasa Inggris The secret to a long and healthy life? Eat Less dapat Anda baca di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait