Apakah cara Anda mencuci dan mengeringkan tangan sudah benar?

mencuci tangan, bakteri, kesehatan Hak atas foto iStock
Image caption Suatu studi pengamatan terhadap lebih dari 3.000 orang menemukan 10% orang ke luar dari toilet umum tanpa mencuci tangan sama sekali.

Sekarang cuci tangan! Kalimat itu kedengarannya jelas, tapi sebenarnya banyak orang yang tidak melakukannya. Meskipun banyak bukti menunjukkan bahwa mencuci tangan setelah dari toilet, sebelum makan, atau setelah menggunakan angkutan umum dapat mengurangi penyebaran penyakit, ternyata hanya 5% orang yang mencuci tangan mereka setiap saat dengan benar.

Suatu studi pengamatan terhadap lebih dari 3.000 orang menemukan 10% orang ke luar dari toilet umum tanpa mencuci tangan sama sekali dan bahkan ketika mereka mencuci tangan, 33% di antara mereka tidak menggunakan sabun.

Mencuci tangan penting karena, sayangnya, kita tidak bisa menahan diri untuk tidak menyentuh wajah, yang membiarkan bakteri menyebar dari tangan ke hidung serta mulut sehingga bisa masuk ke dalam tubuh. Para peneliti di Brasil dan AS menemukan bahwa kita menyentuh benda-benda di tempat-tempat umum rata-rata 3,3 kali per jam dan menyentuh mulut atau hidung sekitar 3,6 kali per jam.

Jadi jelas kita perlu mencuci tangan dengan benar. Masalahnya adalah ada banyak mitos di luar sana tentang bagaimana melakukannya dengan benar.

Apakah perlu air panas untuk membersihkan tangan?

Dalam sebuah survei terhadap 500 orang dewasa di AS, 69% percaya bahwa suhu air memiliki pengaruh terhadap efektivitas mencuci tangan. Memang benar bahwa suhu panas dapat membunuh kuman (itulah mengapa kita perlu memastikan bahwa makanan-makanan tertentu harus benar-benar panas ketika kita makan), tapi air untuk mencuci tangan perlu sangat panas jika kita ingin membunuh kuman di kulit kita.

Contohnya bakteri Salmonela yang bisa hidup dalam suhu 55 celcius atau lebih, selama lebih dari 10 menit. Jika Anda mencuci tangan Anda dengan air sepanas ini, kulit Anda akan terbakar sebelum 30 detik.

Untuk mengetahui dengan pasti seberapa banyak mikrob yang masih tersisa di tangan setelah dicuci dengan air bersuhu 4,4 derajat Celcius hingga 50 derajat Celcius, para peneliti di Florida menggunakan sebuah metode yang dikenal sebagai teknik glove-juice (ini bukanlah jus yang ingin Anda minum).

Para tangan sukarelawan dibalur dengan sup berbakteri atau daging sapi cacah yang masih mentah. Lalu, tangan mereka dicuci dengan air bersuhu tertentu sebelum mereka mengenakan sarung tangan lateks dan suatu cairan khusus dituang ke sarung tangan.

Hak atas foto iStock
Image caption Kebanyakan hasil penelitian menyimpulkan mengeringkan tangan dengan handuk kertas lebih higienis.

Setelah satu menit tangan mereka yang bersarung dipijat untuk memastikan semua bakteri tercampur di cairan tersebut, jus (air campurannya) diambil dengan pipet, siap untuk dites di laboratorium. Mereka menemukan bahwa walau airnya dingin, panas, atau hangat maka tidak membuat banyak perbedaan secara statistik terhadap jumlah bakteri yang masih ada di tangan.

Tapi, sebelum keran air panas dibongkar dari toilet umum, kita jangan lupa lika-liku kebiasaan manusia. Dalam eksperimen ini pencucian tangan ditentukan waktunya dengan seksama, tapi di kehidupan nyata jika airnya sangat panas atau sangat dingin, maka kita cenderung untuk tidak mencuci tangan berlama-lama. Tak cukup jika hanya membasuh tangan dengan air saja, dan air hangat mungkin membuat kita berlama-lama di wastafel.

Apakah sabun anti-bakteri lebih baik dibanding sabun biasa?

Lebih banyak penelitian dilakukan tentang pertanyaan ini. Pada 2007 sebuah penelaahan studi-studi terbaik menyimpulkan bahwa bahan yang sering kali ditemukan di sabun cair anti-bakteri pada waktu itu, triklosan, tidak mengurangi jumlah bakteri yang tersisa di tangan setelah dicuci, jadi tak jauh beda atau tak lebih baik dibanding sabun biasa dalam mencegah gejala-gejala infeksi.

Sebuah penelitian yang dilakukan baru-baru ini pada 2015 memberikan kesimpulan yang sama.

Sementara itu, sebuah kombinasi studi-studi di laboratorium menunjukkan triklosan kemungkinan meningkatkan risiko daya tahan antibakteri dan mungkin mempengaruhi level hormon pada hewan sehingga mendorong larangan penggunaan triklosan pada sabun pencuci tangan di AS dan di Uni Eropa.

Jadi, Anda bisa kembali menggunakan sabun biasa dan air dengan suhu berapa saja yang Anda inginkan.

Apa Anda perlu mengeringkan tangan setelah itu?

Ketika sedang terburu-buru maka Anda tergiur untuk membiarkan tangan mengering dengan sendirinya. Tidak masalah jika Anda tidak menyentuh apa-apa saat ke luar dari kamar mandi. Tapi, jika Anda menyentuh sesuatu maka tangan Anda bisa tertempel bakteri, yang bisa berpindah ke tangan dengan lebih mudah jika dalam keadaan basah.

Anda juga melewatkan keuntungan mengeringkan tangan, di mana bisa mengurangi tingkat mikrob yang tersisa di tangan.

Mesin pengering tangan atau handuk?

Banyak sekali perdebatan mengenai hal ini. Kebanyakan publikasi memilih handuk kertas yang bisa digunakan sekali pakai. Ini bisa lebih cepat daripada menunggu tangan mengering dengan menggunakan mesin pengering tangan. Dalam sebuah studi dari Selandia Baru (yang didanai oleh Layanan Handuk Selandia Baru) orang-orang perlu menunggu 45 detik untuk mesin guna mengeringkan tangan yang basah. Kebanyakan dari kita tidak mau menunggu selama itu.

Sekarang tentunya ada generasi baru mesin pengering tangan yang bekerja lebih cepat. Mesin tersebut dapat mengeringkan tangan secepat dan seefektif handuk kertas. Sepuluh detik dengan sebuah handuk atau mesing pengering, sama-sama dapat mengeringkan tangan.

Tapi pengering jet yang cepat itu dikritik, dengan alasan sangat kuat sehingga bisa menyebarkan kuman-kuman ke dalam ruangan. Sebuah studi yang dilakukan di Universitas Westminster, Inggris, menemukan pengering tangan yang paling kuat dapat menyebarkan virus sejauh 1,5 meter di sekitar ruangan dan sebuah studi yang lebih baru menemukan jaraknya bisa mencapai tiga meter.

Hak atas foto iStock
Image caption Kini mengeringkan tangan lebih cepat digunakan dengan mesin pengering tangan jet.

Tapi hasil studi ini tidak begitu pasti. Kebanyakan studi didanai oleh perusahaan handuk, yang menjual handuk dan bukan pengering elektronik. Bagaimanapun, para peneliti tersebut terbuka atas penelitiannya, yang sudah tersebut diterbitkan di jurnal kajian sejawat.

Langkah selanjutnya adalah melakukan lebih banyak penelitian di toilet umum daripada di laboratorium.

Dan preferensi kita perlu diperhitungkan. Metode apapun yang mendorong orang-orang mengeringkan tangan daripada membiarkannya tetap basah adalah suatu kemajuan. Membuat toilet lebih baik juga dapat membuat perbedaan.

Studi yang diamati atas lebih dari 3.000 orang di sebuah kota pelajar di AS, menemukan bahwa jika toilet bersih dan terpelihara baik, maka orang-orang kemungkinan besar berhenti dan mencuci tangan mereka dengan benar. Jika wastafelnya kotor, mereka hanya ingin segera pergi dari sana.

Apapun cara yang Anda pilih untuk mencuci dan mengeringkan tangan, temuan utama dalam riset adalah lakukan lebih lama dari yang Anda pikirkan sebelumnya.

Gosok tangan hingga sabun berbusa dan di kedua telapak tangan dan punggung tangan Anda, di sela-sela kuku, dan hingga ke pergelangan tangan sedikitnya sekitar 15-30 detik. Waktu yang kira-kira sama dengan menyanyikan lagu Selamat Ulang Tahun dua kali (tapi jangan keras-keras jika Anda ada di toilet umum).

Anda bisa membaca tulisan asli dalam Bahasa Inggris, Are you washing and drying your hands wrong? dan artikel-artikel lainnya di BBC Future.

Berita terkait