Mengapa Anda tidak bisa anonim lagi?

anonim Hak atas foto Simon Maycock / Alamy Stock Photo

Coba Anda membayangkan diri Anda memasuki sebuah ruangan yang penuh dengan orang tidak dikenal.

Mungkin Anda mengunjungi sebuah kota baru. Anda tidak mengenal siapapun dan tidak seorangpun mengenal Anda. Anda bebas melakukan apapun atau pergi kemanapun atau berbicara dengan siapapun. Bagaimana perasaan Anda?

Kemungkinan Anda merasa bebas dari penilaian dan perhatian kenalan atau rekan. Kemungkinan Anda merasa diberikan tenaga baru karena dapat menggunakan kesempatan ini untuk hidup sesuai dengan keinginan Anda, sesuai dengan irama Anda sendiri.

Tetapi apapun perasaan Anda, Anda paling tidak merasa aman karena beranggapan telah memasuki keadaan terisolasi, tanpa diawasi atau diikuti perusahaan atau seseorang yang jauh.

Namun ini anggapan yang salah. Yang Anda alami saat memasuki ruangan adalah ke-anonim-an: sebuah gejala masyarakat yang memberikan ruang pribadi dan kebebasan.

Di tahun 2017, hal ini bisa dbilang sudah mati. Hal ini menjadi salah satu tantangan zaman kita: bagaimana kita bisa memastikan keamanan nasional dan memperbaiki kehidupan lewat teknologi. Sementara kita tetap mempertahankan hak dasar mendapatkan ruang pribadi yang sepertinya sudah ada sejak dimulainya sejarah manusia.

Internet membuat kita tidak memperhatikan

Anonim, kata Yunani untuk "tanpa nama" adalah sebuah pengalaman psikologis manusia yang unik: pandangan bahwa kita semua memiliki jati diri untuk diperlihatkan kepada dunia, tetapi pada keadaan tertentu, kita bisa mematikan jati diri tersebut dan bertindak dalam kerahasiaan.

"Kita memerlukan pribadi umum untuk berada di dunia pergaulan keluarga, teman, sesama dan rekan kerja," kata John Suller, profesor psikologi Rider University di New Jersey, dan penulis The Psychology of Cyberspace.

"Tetapi kita juga memerlukan sebuah diri pribadi, ruang internal dimana kita bisa mengkaji pikiran dan perasaan kita, terlepas dari pengaruh luar, dimana kita bisa menjadi satu dengan jiwa kita sendiri. Jati diri kita dibentuk oleh kedua hal ini. Tanpa satu sama lain, kesehatan kita akan terganggu."

Menjadi anonim memungkinkan kita mencoba hal baru atau menyatakan pemikiran tanpa dihakimi.

Pada tahun 2013, para peneliti di Carnegie Mellon University di Pennsylvania, AS, menerbitkan sebuah kajian dimana mereka melakukan wawancara mendalam dengan puluhan pengguna internet di empat benua.

Sebagai contoh, salah satu orang menciptakan masyarakat online anonim bagi orang-orang yang ingin belajar bahasa Inggris guna mempraktekkan ketrampilan berbahasanya.

Ke-anonim-an membantu mereka menangani bagian hidup mereka yang lain. Seorang peserta mengatakan dia sering melihat papan pesan untuk membantu orang mengatasi masalah teknis, tetapi dia menghindari perjanjian yang tidak diinginkan melalui penggunaan internet yang berjarak. Tambahan lagi, menjadi anonim di lingkungan internet, dapat membantu keamanan pribadi.

"Hasil kami menunjukkan orang dari semua kelompok kehidupan memiliki alasan, pada suatu saat, untuk memiliki ke-anonim-an," kata peneliti yang menulis hasil wawancara 44 orang.

Menurut kajian tahun 2013 the Pew Research Center, sementara sebagian besar pengguna internet ingin tetap anonim, sebagain memandang hal ini tidak mungkin terjadi. Kajian tersebut menemukan 59% pengguna internet Amerika yakin adalah tidak mungkin sama sekali menutupi jatidiri online.

Dan sementara sejumlah orang mengambil langkah dasar memelihara ke-anonim-an dengan menghapus sejarah pencarian, kebanyakan orang yang mengatakan diri mereka memandang penting ke-anonim-an, tidak melakukan hal ini.

Permulaan tahun ini, sebuah analisa besar-besaran diterbitkan pada the Journal of Communication, yang mengkaji "paradoks ruang pribadi": pemikiran bahwa, sementara orang menghargai ruang pribadi, mereka kurang berusaha mempertahankannya.

Coba Anda pikir: kapan terakhir kalinya Anda membaca salah satu pembaruan kebijakan ruang pribadi panjang lebar sebelum meng-klik "saya setuju"? Sikap kita terhadap ruang pribadi semakin tidak jelas.

Seseorang kemungkinan akan mengatakan adalah tidak mungkin untuk tidak memberikan informasi sedikitpun. Ahli pembinaan karir dunia mendukung pentingnya foto LinkedIn dengan nama lengkap, potret diri, riwayat kerja lengkap dan hal-hal lain.

Ini kemungkinan lebih merupakan perbaikan budaya terhadap sikap masa lalu yang kaku. Saya ingat saat pertama kali menggunakan internet, di tahun 1990-an, dengan menggunakan komputer kerja ayahku.

Pada masa itu, penyedia layanan internet berusaha keras menghentikan para pengguna memberikan data dasar profil umum, seperti nama kecil, kota tempat tinggal dan bahkan jenis kelamin.

Sekarang? Informasi pribadi berkeliaran bebas di web, seringkali karena diri kita sendiri: selfie diri kita dan orang yang dicintai di Instagram, lokasi lengkap.

Pengguna media sosial terlibat dalam perdebatan politik dan ejekan yang mengerikan, meskipun objek serangan mereka dapat meng-klik nama dan foto mereka yang sebenarnya untuk mengetahui siapa mereka sebenarnya.

Hak atas foto JUSTIN TALLIS
Image caption Penulis dan seniman seperti Banksy mengedepankan ke-anonim-an sebagai sesuatu yang telah dimiliki selama berabad-abad.

"Orang cenderung memandang ruang siber sebagai ruang buatan tanpa batas yang jelas, ruang yang tidak perlu dipandang terlalu serius, di mana peraturan dan standar 'dunia nyata' tidak berlaku," kata Suler. Dalam waktu beberapa tahun tingkat kenyamanan orang meningkat sampai ke titik dimana berbagi informasi dilakukan secara sembrono.

Anda bisa memandangnya sebagai kelelahan ruang pribadi, tetapi peningkatan ketergantungan kita pada alat pintar dan media sosial membuat kita bersikap malas untuk mempertahakan ke-anonim-an.

Tetapi bagaimana jika Anda salah satu orang pengguna Facebook, tidak memiliki kehadiran media sosial, dan berusaha keras tidak meninggalkan jejak digital? Maaf, ke-anonim-an Anda tetap berisiko.

Keluar grid bukan jalan keluar

Meskipun tidak mempunyai profil Facebook adalah cara yang baik untuk tidak berhubungan, tetap terdapat berbagai cara bagi orang-orang untuk mengetahui jati diri Anda.

Paul Ohm, seorang profesor hukum di Georgetown University, Washington, DC, mengatakan terdapat "ke-anonim-an yang dilakukan secara sengaja" dan "ke-anonim-an inferensial": istilah pertama mengacu kepada keadaan di mana kita menyimpan bagi diri kita sendiri, dan yang kedua mengacu kepada data yang dapat "diacu".

"Semakin jelas kita akan kalah," kata Ohm dalam hubungannya mencapai ke-anonim-an pada tahun 2017.

"Selama seseorang mengetahui sesuatu tentang Anda, mereka kemungkinan dapat mengetahui hal-hal lain tentang Anda, dan lebih mencapai keberhasilan dalam mendapatkan hal-hal ini jika dibandingkan masa lalu."

Jika Anda keluar dari pesta media sosial, kemungkinan ini berarti bekas pacar atau teman sekolah tidak dapat melacak Anda. Tetapi ini bukan berarti Anda menjadi tidak dikenal badan besar seperti perusahaan atau pemerintah.

Hak atas foto ISSOUF SANOGO
Image caption Peningkatan ketergantungan kita kepada alat pintar mengikis ke-anonim-an. (Credit: Getty Images).

"Lebih sulit menjadi anonim dibandingkan 20 tahun lalu, paling tidak dari perusahaan besar dan pemerintah," kata Peter Swire, profesor hukum dan etika di Georgia Institute of Technology, yang juga bekerja di bawah Review Group on Intelligence and Communications Technology, Presiden AS Barack Obama.

Pemasang iklan melacak kebiasaan internet lewat peralatan Anda, telepon, tablet, laptop, untuk mengetahui di mana Anda bisa berbelanja, pergi dan jenis situs internet yang dikunjungi.

Muncul peningkatan kontroversi tentang izin yang diberikan kepada perusahaan internet terkait dengan pencarian dan penjualan kepada pihak ketiga.

Permulaan tahun ini, presiden AS Donald Trump menandatangani hukum yang mencabut persyaratan bagi penyedia layanan internet untuk mendapatkan izin dari pelanggan sebelum mengumpulkan dan berbagi data pribadi, seperti sejarah di web dan penggunaan apps.

Swire mengatakan kita hidup dalam "zaman keemasan pengawasan": jika Anda seseorang yang terlibat sebuah penyelidikan, memeriksa catatan keuangan, kesehatan, sejarah web atau sejarah telepon adalah sesuatu yang tidak lagi dianggap penting.

Ini mengisyaratkan hal yang lebih besar, kekhawatiran ruang pribadi serius di zaman keamanan siber melanggar layanan digital yang mencatat informasi bank dan alamat rumah. Sulit untuk tidak terlacak saat ini.

Apalagi? Ohm mengatakan kita menghadapi "batas besar masa depan periklanan": tempat Anda.

Memang, situs internet dapat menghapus iklan berdasarkan pencarian yang Anda lakukan di web pada alat yang sama atau situs yang dikunjungi. Tetapi perusahaan dan pemasang iklan mengejar teknologi dan kesepakatan dagang yang dapat mengetahui tempat Anda sebenarnya pada saat itu juga untuk menempatkan iklan "pribadi".

Sebagai contoh, sebuah iklan dapat memberitahu lewat layar telepon pintar Anda terkait sebuah kupon toko terdekat.

Kecuali Anda bersedia hidup tanpa internet atau tanpa telepon pintar, hampir tidak mungkin benar-benar keluar grid.

"Ini adalah saat yang tidak tepat untuk menjadi mata-mata," kata Swire. Dengan kata lain, bahkan bagi orang yang pekerjaannya menuntutnya tanpa nama, sulit menjadi anonim.

Tetapi terdapat sejumlah kejadian dimana ke-anonim-an bermasalah, bahkan berbahaya. Apakah ini sebenarnya berguna bagi masyarakat?

Apakah kematian ke-anonim-an baik?

Hak atas foto Christopher Furlong
Image caption Kajian terbaru memperlihatkan banyak orang tidak mempermasalahkan mengorbankan ruang pribadi internet untuk mengatasi terorisme. (Credit: Getty Images).

Swire mengatakan ke-anonim-an adalah sebuah hal yang dapat dikatakan baru dan peningkatan jumlah kota mendorongnya. Jadi sebenarnya hidup tanpa ke-anonim-an lebih lama dibandingkan dengan ke-tanpa nama-an.

"Ke-anonim-an tidak ada di kota-kota kecil masa lalu," kata Swire, di mana semua orang mengetahui apa yang dilakukan yang lainnya. "Sampai tahap tertentu, kehidupan perkotaan menciptakan ke-anonim-an. Perbedaraannya adalah sekarang bahwa di kota besar masing-masing dari kita meninggalkan jejak yang dapat ditelusuri para penyeledik."

Ke-anonim-an juga memiliki sisi kelam. Dalam kajian yang juga dilakukan Carnegie Mellon, 53% orang yang diwawancara mengaku melakukan kegiatan buruk, seperti peretasan atau menyerang pengguna internet lainnya, atau terlibat dalam "kegiatan yang buruk di masyarakat" seperti mengunjungi situs berisi kekerasan atau pornografi, atau mengunduh dokumen secara gelap.

Ini kemungkinan pertanda bahwa kebanyakan orang tentu saja ingin menyimpan informasi peka seperti catatan bank dan kesehatan, yang lainnya kemungkinan tidak mempermasalahkan jika ke-anonim-an dikorbankan demi hal yang lebih baik.

Dalam kajian Pew tahun 2015, warga Amerika yang diteliti mengatakan bingung terkait dengan mempertahankan hak pribadi dan memastikan keamanan nasional: 56% mengatakan mereka lebih mengkhawatirkan kebijakan anti terorisme pemerintah yang dipandang tidak cukup melindungi warga, meskipun ini berarti mengorbankan hak sipil, seperti ruang pribadi online.

Sementara itu, perusahaan penelitian pasar internet, YouGov menemukan hampir setengah warga Inggris yang dihubungi mengatakan "perlu dilakukan tambahan usaha untuk membantu kekuatan keamanan dalam mengatasi terorisme, meskipun ini berarti pengorbanan ruang pribadi warga pada umumnya."

Yang pasti, usaha untuk benar-benar menutupi kegiatan Anda bisa dibilang tidak berguna: Dengan peningkatan penggunaan internet, semakin banyak alat yang kita gunakan setiap hari memerlukan data pribadi agar dapat digunakan, dan hal ini semakin menyatu ke dalam kehidupan kita.

"Terjadi masalah besar," kata Ohm. "Apakah Anda percaya saat seorang pewawancara menanyakan mereka (tentang ruang pribadi), atau kita mempercayai kebiasaan berbelanja mereka?"

Berkurangnya ke-anonim-an sepertinya tidak bisa dihindarkan. Tetapi, jika Anda tetap ingin melindungi ruang pribadi sebaik mungkin, inilah yang diusulkan para ahli.

Hak atas foto Dan Istitene
Image caption Mempertahankan ruang pribadi dan perasaan ke-anonim-an adalah penting bagi kebahagiaan. (Credit: Getty Images).

Langkah terbaik

Permulaan tahun ini Pew menemukan sebagian besar warga Amerika tidak mempercayai lembaga besar seperti pemerintah atau situs media sosial untuk melindungi informasi pribadi mereka, tetapi sebagian besar warga Amerika tidak menerapkan langkah terbaik untuk melindungi jatidiri online.

Apa saja praktek-praktek tersebut? Jaga kerahasiaan adalah kata kunci, buat nama yang berbeda terdapat di setiap layanan, dan kata tersebut harus sulit ditebak. Jika Anda lebih mengkhawatirkan nama baik dari pada peretas, gunakanlah akal sehat.

"Ikuti uji halaman depan," Swire mengusulkan. "Jangan menaruh komentar di teks atau email yang akan mengganggu Anda jika hal tersebut berada di halaman depan koran. Saya menyampaikan usulan tersebut kepada badan intelijen, di samping orang pada umumnya.

"Karena meskipun orang tidak mengacuhkan pihak ketiga atau pemerintah yang menelusuri kebiasaan berbelanja Anda, orang pasti akan lebih mementingkan ke-anonim-an ketika berhubungan dengan orang lain setiap hari.," kata Swire.

"Anda kemungkinan tidak mengacuhkan bahwa birokrat yang sibuk atau perusahaan internet dapat mengakses email gosip, tetapi Anda akan mengacuhkannya jika atasan Anda melihatnya," kata Swire. Menggunakan aplikasi pesan enkripsi seperti Signal dan WhatsApp membuat pesan Anda pribadi dan lebih sulit dilacak.

Tetapi jika kita akan mengubah nilai budaya menjadi ke-anonim-an: memastikannya sebagai hal dasar manusia, maka diperlukan usaha yang lebih dari hanya usaha perseorangan, di samping lebih banyak aplikasi enkripsi yang dapat Anda taruh di telepon.

Ini akan menjadi perubahan kemasyarakatan yang menyeluruh, diperlukan usaha pemerintah, pemasang iklan dan perusahaan teknologi dunia untuk menyepakati sistem etika dasar. Bukan hanya pelanggan keluar dari layanan digital, ini adalah juga tentang pilihan untuk keluar sementara dari jatidiri masyarakat.

"Kita semua perlu menjaga sejumlah ruang pribadi di mana mimpi dan angan-angan terdalam tersembunyi dari orang lain, ini memberikan ruang untuk berkembang sebagai manusia, untuk mencoba pemikiran yang berbeda dan sisi yang lain dari kita," kata Swire. "Hal ini tidak berubah hanya karena internet."

Bryan Lufkin adalah editor Future Now BBC Future. Anda bisa mengikutinya di Twitter @bryan_lufkin.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di The reasons you can't be anonymous anymore di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait