Bahasa indah orang-orang yang berbicara seperti burung

Hmong Hak atas foto Getty Images
Image caption Bagi telinga awam, bahasa siul orang Hmong mungkin terdengar seperti musisi yang sedang memainkan alat musik yang aneh.

Jika Anda cukup beruntung pernah mengunjungi lembah pegunungan Himalaya, maka Anda mungkin mendengar duet yang luar biasa di dalam hutan.

Bagi telinga awam, mungkin terdengar seperti musisi yang sedang memainkan alat musik yang aneh. Kenyataannya, melodi yang mempesona tersebut adalah suara dua orang kekasih yang berbicara dalam bahasa siulan rahasia.

Bersama dengan segelintir komunitas lainnya, orang-orang Hmong dapat berkomunikasi dengan bersiul. Suara yang memungkinkan para petani untuk bercakap-cakap di ladang mereka dan para pemburu saling memanggil di hutan.

Tetapi bahasa mereka mungkin paling indah diungkapkan saat berpacaran, ketika seorang anak laki-laki berjalan-jalan di desa-desa sekitar pada malam hari, menyiulkan puisi-puisi favorit mereka. Jika sang gadis menanggapi, pasangan tersebut kemudian memulai dialog yang saling menggoda.

Bukan hanya melodi yang menggoda yang menjadikannya menjadi bahasa cinta yang sempurna. Dibandingkan dengan percakapan lisan, sulit untuk membedakan identitas pasangan tersebut dari siulannya sehingga menjamin anonimitas dalam percakapan yang bisa didengar umum.

Pasangan tersebut mungkin menciptakan kode mereka sendiri, dengan menambahkan kata-kata tak masuk akal untuk mengelabui orang-orang yang menguping. "Ini memberi mereka keintiman," kata Julien Meyer, dari Universitas Grenoble, Prancis, yang mengunjungi daerah tersebut pada awal 2000-an.

Praktik tersebut tidak hanya menyoroti keragaman linguistik manusia yang luar biasa, juga bisa membantu kita memahami batasan komunikasi manusia. Dalam kebanyakan bahasa, siulan digunakan sedikit lebih dari sekedar meminta perhatian dan juga siulan tersebut terdengar terlalu sederhana untuk memberi banyak makna.

Tetapi Meyer sudah mengidentifikasi lebih dari 70 komunitas di seluruh dunia yang dapat menggunakan siulan untuk mengekspresikan diri mereka dengan segala fleksibilitas dalam percakapan normal.

Bahasa-bahasa misterius ini menunjukkan kemampuan otak yang menakjubkan dalam memecahkan kode informasi dari sinyal-sinyal baru, dengan wawasan yang menyebabkan beberapa ahli syaraf sampai memikirkan ulang tentang susunan dasar otak.

Penelitian tersebut bahkan mungkin menjelaskan kemunculan bahasa itu sendiri. Berdasarkan satu hipotesis, kata-kata pertama kita mungkin terdengar seperti lagu pacaran orang Hmong.

Berawal dari bahasa siul Spanyol

Minat Meyer dalam bahasa siul dimulai dari artikel dalam majalah Scientific American yang sudah berusia 40 tahun tentang Silbo Gomero, sebuah bentuk bahasa lisan siul Spanyol yang digunakan di salah satu kepulauan Canary.

Suara yang terekam memungkinkan gembala untuk berkomunikasi melintasi jurang yang dalam dan suara-suara tersebut tampaknya sangat mirip dengan kicauan burung lokal sehingga burung blackbird diketahui belajar dan meniru dialog manusia.

Anda bisa mendengar klip suaranya di sini yang berjudul 'En todo el mundo hay hombre que hablan silbando', yang diterjemahkan menjadi 'Di seluruh dunia, ada manusia yang berbahasa siulan'. (Klip milik Julien Meyer dan Laure Dentel).

Meyer seketika itu juga langsung terpesona, dan akhirnya menyelesaikan program doktor S-3 dengan topik ini. Lebih dari satu dekade kemudian, dia masih tertarik. "Saya tidak berpikir suatu hari nanti (penelitian ini) akan memberi saya pekerjaan," katanya.

Sebagian besar penelitian Meyer berfokus pada mencatat kelaziman bahasa siul di seluruh dunia. Buku-buku sejarah kuno memberikan beberapa petunjuk. Pada abad ke-5 SM, misalnya, sejarawan Yunani Herodotus menggambarkan sekelompok orang Ethiopia yang tinggal di gua.

"Bahasa lisannya tidak seperti yang lain yang ada di dunia, ini seperti cicitan kelelawar," tulisnya. Tidak bisa dipastikan komunitas yang dia maksud, tapi Meyer mengatakan beberapa bahasa siul masih bisa didengar di Lembah Omo di Ethiopia.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Orang-orang suku Hmong menggunakan siulan untuk berkomunikasi.

Tidak mengganggu hewan buruan

Meyer sekarang sudah mengidentifikasi bahasa siul di setiap penjuru dunia. Mengingat bahwa siulan dapat terdengar lebih jauh daripada percakapan biasa -sejauh 8km di alam terbuka- 'bahasa' ini kebanyakan ditemukan di kawasan pegunungan, tempat para gembala dan petani saling bertukar pesan.

Tetapi suara juga bisa menembus hutan lebat seperti Amazon, tempat para pemburu bersiul untuk saling mencari tahu keberadaan teman-temanya melalui dedaunan yang lebat. "Siulannya bagus untuk melawan gema," kata Meyer.

Dan tidak seperti percakapan umumnya, siulan cenderung tidak menakut-nakuti hewan buruan. Siulan tersebut juga bisa berguna di laut, seperti komunitas Inuit dari Selat Bering, misalnya, yang menggunakan siul untuk saling memberi perintah saat mereka mencari paus.

Mungkin tidak mengejutkan kalau bahasa ini juga bisa menjadi senjata perang. Meyer mengatakan penduduk asli Berber (juga dikenal sebagai Amazigh) di pegunungan Atlas menggunakan siulan untuk menyampaikan pesan selama perlawanan terhadap Prancis.

Sementara itu, tentara Australia merekrut penutur asli bahasa Wam dari Papua Nugini untuk mengirimkan pesan dengan bersiul di radio sehingga mereka bisa mengecoh penyadap milik pasukan Jepang.

Dan jangan lupa bahwa siulan sering digunakan untuk hal-hal yang tidak praktis semata, misalnya agama, romansa, dan puisi, seperti yang ditunjukkan orang-orang Hmong dengan indahnya.

Naskah-naskah Cina kuno mencatat orang-orang yang menyiulkan ayat-ayat Tao, sebuah praktik yang dianggap dapat membuat mereka bermeditasi. Meyer menemukan bahwa Cina Selatan masih menjadi tempat utama bagi beragam komunitas bahasa siul dari etnis minoritasnya, termasuk orang Hmong dan Akha.

Akurasi lebih dari 90%

Jelas, bahasa siul bukan hanya legenda, tapi juga metode komunikasi yang dinamis bagi jutaan orang yang hidup hingga kini. Namun, bagi yang belum tahu, sepertinya tidak mungkin membayangkan bagaimana nada yang naik-turun bisa menyampaikan makna.

Meyer menemukan mereka biasanya mengandalkan salah satu dari dua strategi dan keduanya menggunakan perubahan dalam nada yang menciptakan semacam kerangka bahasa lisan. Semuanya tergantung pada apakah percakapan normal dan sehari-hari itu 'bernada' atau tidak.

Di beberapa negara, terutama di Asia, nada satu suku dalam sebuah kata dapat mengubah maknanya. Akibatnya, siulan mengikuti melodi yang melekat dalam kalimat lisan.

Tapi bahasa lain, seperti Spanyol atau Turki, secara alami tidak bernada. Dalam kasus ini, siulan meniru perubahan resonansi yang datang dengan suara vokal yang berbeda, sementara konsonan dapat dilihat dari bagaimana siulan tiba-tiba meloncati dan meluncur dari satu ketukan ke ketukan lain.

Terlepas dari cara yang manapun, siulan kehilangan banyak petunjuk yang biasanya membantu kita dalam membedakan kata-kata yang berbeda -dan orang luar yang tidak menggunakannya sering merasa hampir tidak mungkin percaya bahwa suara-suara itu membawa pesan yang dapat dimengerti.

Namun Meyer menemukan pesiul yang lancara dapat memahami kalimatnya dengan akurasi lebih dari 90%, jadi serupa dengan pembicaraan lisan.

Meyer menduga bahwa ini bergantung pada syaraf yang sama, yang memungkinkan kita melakukan percakapan di dalam ruangan yang penuh sesak, atau untuk memahami pesan yang berbisik. "Otak kita benar-benar bagus untuk merekonstruksi kata-kata yang sedikit kacau karena kebisingan atau gangguan lainnya," kata Meyer.

Kita bisa melihat hal yang sama dengan pesan tertulis, saat huruf-hurufnya kacau atau huruf vokalnya dihapus maka otak kita secara otomatis mengisi kekosogan itu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kawasan seperti La Gomera adalah tempat yang cocok untuk mengirimkan sinyal siulan, karena siulannya dapat bergema di tebing-tebing.

Desa burung

Further studies of this process are causing some neuroscientists to rethink the way the brain is organised.

Studi lebih lanjut tentang proses ini menyebabkan beberapa ilmuwan syaraf memikirkan kembali bagaimana cara otak bekerja.

Selama beberapa dekade, para peneliti menganggap masing-masing sisi otak dikhususkan untul melakukan tugas tertentu dan bahasa berada di belahan otak kiri. Tapi, Onur Gunturkun dari Universitas Ruhr di Bochum, Jerman, ingin mengetahui apakah hal yang sama berlaku untuk siulan.

"Cara Anda mendengar atau membaca bahasa seharusnya tidak membuat perbedaan," katanya.

Untuk mencari tahu, dia pergi ke Kuskov yang arti harfiahnya adalah 'desa burung', yang terletak di sebuah lembah dekat Laut Hitam. Seperti orang La Gomera, gembala menyiulkan pesan untuk melintasi dataran tinggi pegunungan sementara para nelayan menggunakannya untuk mengatasi suara deru sungai di lembah.

Gunturkun masih ingat menyaksikan percakapan siulan untuk pertama kalinya, saat walikota menyambutnya di desa. Pengalaman mendengar sesuatu yang sangat berbeda dengan bahasa biasa membawa begitu banyak arti. "Seperti keajaiban," katanya.

Di sini Anda bisa mendengar klip suara seorang penduduk Kuskoy yang mengatakan "kita berbicara bahasa siul ini."

Pemindai otak akan terlalu berat untuk dibawa jauh-jauh dari Jerman ke desa terpencil ini, jadi Gunturkun melakukan improvisasi dengan membuat tugas pendengaran sederhana yang melibatkan sedikit kata-kata yang berbeda di telinga masing-masing dan meminta peserta melaporkan yang mana yang mereka dengar.

Eksperimen berpusat pada sistem yang khas pada 'pengkabelan' tubuh, yang berarti setiap telinga memasok ke sisi yang berlawanan dengan otak. Akibatnya, suku kata yang datang dari telinga kanan cenderung menarik perhatian kita karena cepat dilacak oleh belahan kiri yang dominan.

Jika Gunturkun memainkan kata 'pah' di telinga kiri Anda dan 'tah' di telinga kanan, misalnya, maka Anda akan mendengar 'tah' karena kata ini yang lebih mencapai pusat pemrosesan bahasa.

Setidaknya itulah teorinya.

Namun, bukan seperti itu yang didengar oleh orang-orang Kuskoy ketika Gunturkun memainkan suku kata siulan. Alih-alih menggunakan teori otak kiri atau kanan, mereka sama-sama cenderung membedakan siulan dari kedua arah, menunjukkan bahwa kedua sisi otak digunakan untuk memahami sinyal.

"Kedua belahan otak bekerja bersama-sama," kata Gunturkun.

Hasil penelitiannya yang diterbutkan pada tahun 2015 tidak hanya menunjukkan fleksibilitas otak, bahkan bisa membantu orang membangun kembali kehidupan orang yang mengalami stroke.

Kerusakan pada belahan otak kiri dapat membuat seseorang tidak dapat berbicara namun temuan Gunturkun menunjukkan bahwa mereka mungkin masih dapat mengalihkan pemrosesannya ke belahan kanan dan berbicara dengan siulan.

Seperti yang dia katakan: "Ada banyak jalan ke Roma." Bagaimanapun dia menekankan bahwa hal tersebut bukanlah tujuan utama penelitiannya. "Itu hanya rasa keingin-tahuan - demi memahami dunia di sekitar kita."

Pengalaman tim memperlihatkan bahwa pihak luar dapat mulai menyesuaikan diri dengan 'bahasa burung' dengan keterpaparan biasa asalkan Anda sudah lebih dulu mengetahui bahasa lisannya.

Gunturkun fasih berbahasa Turki, dan menjelang akhir perjalanan, dia mulai mendeteksi kata-kata asing dari percakapan penduduk setempat.

Pengalamannya tampaknya mendukung penelitian Meyer terbaru, yang menemukan bahwa orang-orang yang tidak memiliki pengetahuan sebelumnya tentang bahasa-bahasa siul dapat segera mengetahui mana siulan yang sesuai dengan huruf vokal tertentu, jadi Anda tidak perlu dilahirkan di Kuskoy untuk belajar berbicara seperti burung.

Bahasa siul juga semakin menarik perhatian para ilmuwan syaraf yang mempelajari salah satu ciri unik umat manusia lainnya yaitu musik.

Bukti yang berkembang menunjukkan bahwa bahasa dan musik bersandar pada banyak wilayah otak yang sama: kita cenderung memproses perkembangan lagu dengan menggunakan bagian otak yang sama yang bisa memahami kalimat.

Ini mungkin menjelaskan mengapa pelajaran musik dapat mengurangi beberapa masalah pendengaran. Pada tahun 2014, sebuah tim di Universitas Northwestern di Chicago menemukan bahwa pelatihan musik bahkan dapat meningkatkan kemampuan membaca anak-anak.

Komunikasi siul -dengan melodi yang lebih memikat- sepertinya menjadi bukti dari kaitan tersebut. "Tampaknya seperti berada di perbatasan antara musik dan bahasa," kata Aniruddh Patel dari Tufts University di Massachusetts.

Dengan mengetahui secara tepat bagaimana bahasa-bahasa ini diproses maka bisa diketahui rincian yang lebih tepat tentang cara-cara sistem otak menangani dua jenis suara tersebut, tambahnya.

Dengan jelas, belahan otak kanan, yang tampaknya penting untuk memahami suku kata siulan, telah lama dikenal untuk memproses irama dan melodi -yang berpotensi menawarkan satu contoh cara pemrosesan musik dapat membantu pemahaman bahasa, dan sebaliknya.

Image caption Meyer menunjukkan bahwa meskipun primata lain tidak dapat belajar berbicara seperti manusia, beberapa di antaranya telah menguasai siulan.

Bahasa purba musikal

Jika dikaji lebih lanjut maka kita mungkin bisa memahami bagaimana ciri-ciri sifat tersebut pada masa prasejrah. Musik dan bahasa sama-sama melewati perubahan yang luar biasa: seperti artikulasi yang semakin halus, kemampuan untuk meniru orang lain, dan kemampuan berpikir secara simbolis. Tapi apa yang mengatur semuanya itu?

Salah satu solusi untuk teka-teki ini berasal dari teori evolusi yang dilontarkan Charles Darwin, yang mengusulkan agar kedua ciri itu muncul bersamaan sebagai semacam 'bahasa purba musikal'. Menurut pandangan ini, manusia pertama kali mulai bernyanyi sebelum kita bisa berbicara, mungkin sebagai semacam ritual.

Seperti lagu burung blackbird, bahasa purba musikal itu bisa menjadi cara untuk memamerkan keahlian kita, menjalin ikatan sosial, dan menakut-nakuti saingan, tanpa memberikan makna tertentu.

Namun, seiring berjalannya waktu, praktik tersebut mendorong kita untuk mengembangkan kendali atas pita suara kita menjadi lebih baik, yang kemudian meletakkan fondasi ucapan yang lebih bermakna.

Idenya menarik bagi beberapa ahli biologi evolusioner karena menunjukkan rangkaian langkah kecil -dan bukan lompatan raksasa- dalam perjalanan bahasa manusia. Tapi mengingat budaya orang-orang seperti Akha dan Hmong, mungkin bahasa purba pertama adalah siulan dan bukan nyanyian?

"Mungkin siulan adalah bagian dari dinamika yang mendorong manusia untuk menyesuaikan komunikasi mereka dengan sesuatu yang lebih rumit," kata Meyer, yang mengemukakan hipotesisnya dalam sebuah tulisan ilmiah baru-baru ini tentang bahasa siul.

Meyer menunjukkan bahwa meskipun primata lain tidak dapat belajar berbicara seperti manusia, beberapa di antaranya telah menguasai siulan.

Bonnie, orangutan di Kebun Binatang Nasional AS di Washington DC mampu meniru nada sederhana penjaganya, Erin Stromberg, dan orangutan di alam liar bahkan diketahui membuat suara cicitan tinggi dengan menyedot udara melalui sehelai daun.

Hal itu menunjukkan bahwa siulan mungkin memerlukan lebih sedikit adaptasi daripada ucapan bersuara dan menjadikannya batu loncatan yang ideal untuk bahasa.

Jika demikian halnya, maka sinyal siulan bisa dimulai sebagai bahasa purba musikal, dan karena mereka menjadi lebih kompleks serta dijiwai dengan makna, maka juga bisa membantu mengkoordinasikan perburuan dan pencarian makanan.

Apalagi penelitian Meyer dengan jelas menunjukkan bahwa bersiul sangat ideal untuk berkomunikasi dari jarak jauh dan untuk menghindari perhatian predator maupun mangsa, yang merupakan keunggulan yang membantu kelangsungan hidup nenek moyang kita.

Belakangan kita juga bisa menguasai pita suara kita tapi bahasa siul terus menjadi elemen kecil namun penting dalam catatan perjalanan keseluruhan umat manusia.

Idenya belum menjadi konsensus ilmiah. Tetapi jika benar, itu berarti bahwa melodi orang-orang Hmong yang memikat mungkin yang paling dekat dengan kata-kata pertama umat manusia yang bisa kita dengar.

Seiring modernisasi dengan cepat merambah komunitas terpencil tersebut, kita perlu bergerak cepat untuk menangkap bahasa-bahasa ini, sebelum gema dari masa lalu hilang selamanya.

Anda bisa membaca tulisan asli dalam Bahasa Inggris, The beautiful languages of the people who talk like birds dan artikel-artikel lainnya di BBC Future.

Berita terkait