Bagaimana otomatisasi akan mempengaruhi Anda?

Industri Hak atas foto BBC Future
Image caption Siapa yang menghadapi risiko otomatisasi dan seperti apa tempat kerja Anda kelak dalam waktu lima tahun mendatang?

Semakin banyak perusahaan yang beralih ke mesin-mesin cerdas untuk menghemat pekerja manusia yang lambat dan mahal. Berikut yang perlu Anda ketahui tentang otomatisasi dan pengaruhnya bagi pekerjaan Anda.

Dengan jari yang lembut dan gesit, sebuah lengan dengan hati-hati mengambil apel dan menaruhnya lembut ke dalam keranjang.

Lengan itu bertugas kembali, untuk sekantong jeruk nipis dan merica tanpa lelah, tanpa keluhan.

Itulah prototipe dari lengan robot yang sedang diuji Ocado, toko serba ada internet di Inggris. Bentuk dan kehalusan yang berbeda dari bahan pangan sehari-hari membuat manusia yang bekerja untk membungkusnya di gudang Ocado.

Namun Ocado sedang mengupayakan teknologi robotik yang bisa membantu para pekerja manusia di gudang tadi, dengan tetap menangani produk secara aman, agar prosesnya lebih cepat dan lebih murah bagi perusahaan.

Ocado jelas bukan satu-satunya perusahaan yang mengupayakan otomatisasi pekerjaan karena juga berlangsung di rumah sakit, firma hukum, bursa saham dan daftarnya terus memanjang.

Pertanyannya adalah bagaimana dampaknya bagi pekerja manusia? Bagaimana pengaruhnya terhadap Anda?

BBC Future meminta panel ahli memberi pandangannya sebagai bagian dalam seri khusus Tantangan Besar yang dihadapi manusia. Kita mendengar malapetakan dan kesuraman di seputar robot yang mencuri pekerjaan kita, tapi apa sebenarnya yang terjadi?

Siapa yang menghadapi risiko, dan seperti apa tempat kerja Anda kelak dalam waktu lima tahun mendatang?

Jawabannya mungkin mengejutkan Anda.

Hak atas foto AFP/Getty Images
Image caption Kanselir Jerman, Angela Merkel, dan Presiden Barack Obama dalam sebuah pekan industri tahun 2016, yang antara lain diikuti perusahan-perusahaan teknologi otomatisasi.

Kelas menengah yang berisiko

Laporan-laporan memperlihatkan 47% orang yang bekerja di Amerika Serikat menghadapi risiko akan digantikan oleh mesin, 35% di Inggris menghadapi ancaman yang sama, dan tingkat yang lebih tinggi lagi di negara-negara berkembang, dengan dua pertiga lapangan kerja terancam otomatisasi.

Mesin yang mencuri pekerjaan bukanlah sesuatu yang baru. "Otomatisasi sudah terjadi sebelumnya," kata Bhagwan Chowdhry, guru besar keuangan di Universitas California, Los Angeles.

Chowdhry menunjuk pada peralihan yang terjadi di pabrik-pabrik pada masa revolusi industri, ketika mesin tenun dan mesin-mesin lainnya mengambil alih pekerjaan penenun manusia.

Jadi apa yang berbeda kali ini?

"Tidak hanya akan mempengaruhi para pekerja kasar saja," kata Chowdry. "Tapi juga banyak pekerja kantoran."

Sering sekali kita berpikir bahwa yang paling berisiko adalah pekerjaan bergaji kecil dengan ketrampilan rendah -seperti pekerja di gudang atau kasir- tapi otomatisasi juga mempengaruhi pekerjaan kelas menengah, seperti pegawai administrasi, koki, karyawan kantor, petugas keamanan, pengacara muda, dan pengawas.

Mereka yang berada dalam barisan yang akan dipecat bisa dipahami menjadi cemas. "Kekhawatiran lebih pada transisi kepanikan," kata Carl Benedikt Frey, salah seorang direktur di Program Oxford Martin untuk Teknologi dan Lapangan Kerja.

"Banyak pekerjaan yang kita lihat akan menjadi otomatis membutuhkan ketrampilan yang berbeda dari pekerjaan-pekerjaan yang diciptakan tersebut. Tantangan utamanya adalah menjamin mereka yang mengalami perpindahan (pekerjaan) akan menemukan sesuatu yang bermakna untuk dilakukan," jelasnya.

Jadi apakah sebaiknya perusahaan-perusahaan yang mengupayakan otomatisasi memiliki tanggung jawab moral juga untuk membantu para pekerja, yang tergantikan mesin tadi, belajar keterampilan baru?

Pekerjaan yang tahan masa depan

Jawabannya mungkin bukan hanya di perusahaan-perusahaan tapi berawal di sekolah.

Cara kita saat ini dalam menyusun pendidikan mungkin tidak tepat lagi untuk dunia yang menghadapi perubahan teknologi yang amat pesat.

"Kekhawatirannya adalah kita tidak memperbarui pendidikan, pelatihan, dan kelembagaan politik untuk menghadapinya," kata Erik Brynjolfsson, direktur Prakarsa untuk Ekonomi Digtal di Massachusetts Institute of Technology, MIT. "Kita bisa membuat banyak orang tertinggal di belakang."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Jerman meningkatkan kualifikasi digital bagi angkatan kerjanya untuk meningkatkan peluang kerja dan otomatisasi.

Brynjolfsson dan Paul Clarke, pimpinan teknologi di Ocado, sama-sama sepakat bahwa sekolah dan pendidikan kejuruan membutuhkan persiapan yang lebih baik untuk dunia yang akan dipenuhi robot dan kecerdasan buatan, AI.

Di tempat kerja, para karyawan juga terus -menerus membutuhkan seperangkat keterampilan baru dan bukan hanya menggunakan ketrampilan yang sama sepanjang karier, yang mungkin saja menjadi ketinggalan zaman.

"Perbedaan antara kerja dan belajar mungkin perlu dibuat menjadi tidak jelas," Chowdhry. "Saat ini kita memiliki dikotomi, yaitu mereka yang bekerja tidak belajar dan mereka yang belajar tidak bekerja. Kita perlu memikirkan untuk ke luar dari pekerjaan tradisional selama lima hari seminggu menjadi 'saya menghabiskan 60% waktu untuk bekerja dan 40% untuk belajar secara teratur."

Bagi sebagian besar orang, hal tersebut bisa menjadi perubahan penting dalam cara berpikir.

Penelitian oleh sebuah perusahaan konsultan manajemen, McKinsey Company, memperkirakan tak sampai 5% dari pekerjaan yang sepenuhnya bisa dilakukan secara otomatis dengan teknologi yang ada saat ini. Alasannya, pekerjaan kita terlalu bervariasi dan berubah-ubah untuk bisa diambil alih oleh robot.

Namun diperkirakan dari sekitar 60% pekerjaan, kira-kira sepertiga kegiatannya bisa diserahkan kepada mesin. Artinya banyak dari antara kita yang masih tetap bisa bertahan di pekerjaannya tapi cara melakukannya mungkin akan berubah sama sekali.

Robot membantu, bukan menggantikan

Belajar bagaimana untuk bekerja bersama robot akan menjadi hal yang penting.

"Ada beberapa kasus ketika mesin mengambil beberapa pekerjaan yang berulang-ulang sehingga manusia terbebaskan untuk bisa mengerjakan aspek-aspek lain yang lebih bermanfaat dari pekerjaan itu," kata James Manyika dari McKinsey Company.

"Ini bisa mengurangi tekanan atas upah secara besar-besaran karena mesin yang akan mengerjakan tugas yang berat. Juga bisa berarti bahwa lebih banyak orang yang mampu melakukan pekerjaan bersangkutan sehingga lebih banyak pula persaingan."

Di sini ada isu yang lebih besar. Dengan ancaman pendapatan yang lebih kecil dan kemungkinan tidak bekerja membayang-bayangi pekerja kelas menengah, pemerintah akan menghadapi beberapa masalah, seperti penurunan pendapatan pajak dan para pemilih yang tidak puas.

Untunglah ada beberapa hal yang bisa dilakukan manusia yang, pada masa ini, tidak bisa dilakukan oleh mesin.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kerja sama manusia dengan mesin sudah terjadi dengan mesin melakukan beberapa tugas -seperti pemeriksaan paspor- dan manusia mengawasi.

Salah satu contohnya bisa dilihat dari para peneliti di Singapura, yang berupaya untuk mengajar dua lengan robot otomatis untuk merakit kursi Ikea. Walau menggunakan beberapa peralatan canggih, mesin itu berjuang untuk menuntaskan tugas-tugas yang paling mendasar.

Bahkan mengidentifikasi objek dari campuran bagian-bagian kursi yang berantakan merupakan tantangan besar bagi robot tersebut. Dalam uji terbaru, robot-robot memerlukan waktu lebih dari satu setengah menit hanya untuk memasukkan paku ke kaki kursi.

Dan itu baru satu perabot.

"Tantangan sebenarnya muncul ketika Anda ingin robot merakit beberapa bagian perabot," jelas Nick Hawes, dari School of Computer Science, Universitas Birmingham.

"Robot mungkin bisa merakit laci Ikea namun akan berjuang untuk merakit lemari dari jenis yang sama karena bagian-bagiannya berbeda walaupun tahap-tahap perakitannya sama. Manusia tidak akan menghadapi masalah seperti itu."

Keunggulan manusia

Kelenturan dan kepribadian yang lebih baik membuat ada beberapa hal yang lebih baik jika dilakukan manusia.

"Dengan otomatisasi banyak pekerjaan yang berulang, kita akan melihat meningkatnya tuntutan untuk keterampilan kreatif," Brynjolfsson.

"Kita juga akan bisa melihat meningkatnya tuntutan untuk keterampilan sosial, keterampilan dalam hubungan pribadi yang bisa membina,yang perduli, bisa mengajar, persuasif, dengan kemampuan bernegosiasi, dan pintar menjual. "

Frey menegaskan ada beberapa area yang menjadi keunggulan manusia.

"Yang pertama adalah interaksi sosial," kata Frey.

"Coba kita pikirkan keragaman dari interaksi sosial yang rumit dalam pekerjaan sehari-hari, yaitu ketika berunding, atau mempengaruhi orang, membantu orang lain atau melayani pelanggan. Kita mengelola tim, begitulah seterusnya. Jadi hampir tidak terpikirkan jika komputer akan mengganggu pekerja manusia yang melakukannya."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Bagaimanapun manusia tetap memiliki 'keunggulan' dibanding mesin yang bisa belajar maupun kecerdasan buatan.

Keunggulan lainnya adalah kreatifitas. Komputer amat bagus dalam menyederhanakan masalah dan melakukan tugas yang berulang tanpa rasa bosan. Sementara bagi manusia jenis pekerjaan itu membosankan.

MIT meluncurkan sebuah prakarsa Ekonomi Digital dengan dana US$1 juta atau sekitar Rp13 miliar untuk mendorong dunia usaha agar memanfaatkan 'sifat-sifat manusia' tersebut untuk berjalan berdampingan bersama teknologi.

"Jumlah yang saat ini kita bayar untuk pengasuh dan perawat bagi orang tua amat besar," kata McKinsey's Manyika. "Dengan pemikiran yang sama, banyak pekerjaan artistik dan kreatif yang tidak pernah menghasilkan uang. Jadi tantangannya adalah bagaimana kita membayar karya kreatif yang bernilai atau tugas-tugas lain yang kita tidak mau dikerjakan oleh mesin."

Alex Harvey -Kepala Penelitian di Ocado Technology, yang mengembangkan perangkat lunak dan teknologi untuk bagian ritel- mengatakan dunia sudah dirancang dan dibangun untuk manusia, dan membangun robot untuk beroperasi secara alamiah dalam lingkungan yang rumit merupakan tantangan teknologi besar.

Salah satu proyek Ocado adalah bekerja sama dengan universitas-universitas di Eropa untuk tugas perawatan yang disebut SecondHands atau TanganKedua, yang bisa menggambarkan kemungkinan kolaborasi manusia dan robot.

"Kemampuannya untuk megangkat barang jauh lebih tinggi dari manusia, misalnya," jelas Harvey. "Robot yang sederhana dilihat dari tugas yang bisa dilakukan, namun akan bisa membentuk tim yang baik dengan teknisi manusia yang menjadi pemimpinnya, yang menggunakan kekuatan otot robot itu."

Namun semakin erat manusia dan robot bekerja sama, semakin suram pula masalah etiknya.

Masalah etik

Sekitar 1,7 juta robot sudah digunakan di seluruh dunia namun sebagian di situasi industrial yang sedikit sekali dimasuki manusia. Sejalan dengan jumlahnya yang bertambah, peran yang dilakukan juga meluas dengan kemungkinan manusia dan robot bekerja sama secara berdampingan akan meningkatkan risiko yang merugikan.

"Perlu transpransi yang lebih besar sehingga kita bisa memahami bagaimana mereka melakukan hal yang mereka lakukan dan berperilaku dengan cara mereka," tutur Mady Delvaux, wakil ketua komite urusan hukum di Parlemen Eropa.

Dia baru-baru ini memimpin upaya untuk mendesak parlemen menyusun peraturan tentang robot dan kecerdasan buatan, AI.

Laporan yang disusun untuk Parlemen Eropa menekankan kebutuhan yang mendesak untuk perundang-undangan baru tentang pertanggungjawaban jika terjadi kecelakaan. Masalah pertanggungjawaban juga muncul jika robot melakukan tindakan yang melanggar hukum.

Satu algoritme, misalnya, bisa melakukan pilihan dalam transaksi keuangan untuk mencapai tujuan namun berada di luar jaring peraturan yang mengawasi sektor itu.

Delvaux dan rekan-rekannya juga menyerukan satu Kode Etik untuk membantu kita dalam mengarahkan hubungan manusia dengan robot.

"Harus ada beberapa hal yang kita hormati, seperti otonomi seseorang dan privasinya," tegas Delvaux.

Hal itu mengangkat masalah lain yang berkaitan dengan kecerdasan buatan, yatu masalah bias. Sistem pembelajaran mesin bisa bagus jika data yang diberikan untuk mereka pelajari juga bagus, dan sebuah studi baru-baru ini memperkirakan bahwa kecerdasan buatan bisa mengembangkan tendensi rasis dan seksis.

Delvaux juga merujuk pada orang yang menyusun algoritme. Mayoritas pekerja di teknologi industri adalah pria kulit putih dan sekitar 70% hingga 90% pekerja di perusahaan-perusahaan besar yang paling berpengaruh adalah pria.

Lembah Silicon terguncang beberapa tahun belakangan dengan skandal diskriminasi jenis kelamin. Hal itu meningkatkan kekhawatiran bahwa robot dan mesin mungkin akan menerapkan perilaku diskriminatif yang sama.

"Hanya seirisan kecil populasi yang saat ini merancang teknologi," kata Judy Wajcman, guru besar sosiologi di London School of Economics. "Teknologi perlu mencerminkan kehidupan, jadi ada kebutuhan untuk perubahan dalam disain dan inovasi."

Sementara itu Bill Gates menyarankan masalah etis yang lain bahwa robot harus dipungut pajak untuk menutup berkurangnya pajak pendapatan dari para karyawan. Ada juga saran bahwa sejalan dengan robot yang melakukan lebih banyak tugas, maka makin kuat pula alasan untuk 'pendapatan dasar bersama', yaitu tunjangan keuangan dari negara untuk semua warga.

Tentu saja asumsinya adalah robot bisa melakukan tugas yang kita tentukan. Namun, terlepas dari kecerdasannya yang nyata, sebagian besar robot tetap merupakan peralatan yang sangat dungu jika dibanding dengan kemampuan kita.

Jalan maju untuk mesin

Seperti terungkap dalam contoh perakitan Ikea tadi, AI punya banyak peluang untuk peningkatan.

Mungkin salah satu masalah terbesar yang dihadapi komunitas AI dan mesin yang bisa belajar adalah memahami bagaimana algoritmenya bekerja. "Kecerdasan buatan dan mesin yang bisa belajar masih berupa kotak hitam," kata Manyika. "Kita tidak bisa membukanya untuk menemukan bagaimana mereka bisa mendapat tanggapan yang mereka hasilkan."

Ada beberapa masalah di sini. Sistem belajar mesin dan AI biasanya menggunakan seperangkat gambar dan data yang dimasukkan untuk memungkinkan mereka mengenali pola dan kecenderungan. Mereka kemudian menggunakannya untuk menemukan pola yang sama jika mendapat data baru.

Mungkin tidak masalah dalam pemindaian berbasis komputer atau CT scan untuk memperlihatkan tanda-tanda penyakit, misalnya, namun akan sulit jika menggunakan sistem yang sama untuk mengidentifikasi tersangka berdasarkan potongan rekaman kamera pengawas, karena kita tahu akan amat penting artinya ketika dijadikan sebagai bukti di persidangan.

Bahkan dalam hal kenderaan bermotor otomatis, kemampuan untuk melakukan generalisasi masih menjadi tantangan besar.

Takeo Kanade, guru besar robotik di Universitas Carnegie Mellon di Pennsylvania, AS, adalah salah satu pelopor dalam kenderaan yang bisa mengemudi sendiri dan merupakan pakar komputer. Dia mengatakan memberi 'pemahaman yang benar' tentang dunia sekitar kepada robot masih merupakan tantangan teknis yang harus diatasi.

"Bukan hanya dalam mengidentifikasi di mana objek-objek berada," jelasnya usai memberi kuliah di acara Penghargaan Kyoto di Oxford yang memaparkan masalah-masalah yang dihadapi para peneliti. "Teknologi harus bisa memahami yang dilakukan dunia di sekitarnya. Misalnya, apakah orang itu akan benar-benar menyeberang jalan di depan atau tidak?"

Hawes juga menghadapi masalah serupa dalam proyeknya yang mengerahkan 'manajer kantor magang otomatis' di beberapa kantor di Inggris dan Austria.

Tim memprogram robot yang diberi nama Betty untuk berkeliling kantor untuk melakukan pengawasan, seperti apakah pintu darurat tertutup, mengukur tingkat kebisingan, serta menghitung para pekerja yang masih berada di mejanya di luar jam kerja normal.

"Ada hal-hal yang terjadi di lingkungan itu, seperti kursi yang dipindahkan, orang yang menggeser meja atau pot tanaman," jelasnya. "Untuk mengatasi hal itu tanpa memprogram ulang seluruh robot merupakan tantangan."

Terlepas bahwa robot tidak sempurna, manusia tetap bisa menemukan jalan untuk bekerja bersama dengan robot.

Dalam kasus Betty, misalnya, ada yang mengejutkan yaitu mereka yang bekerja bersama Betty memberi tanggapan yang positif kepada rekannya yang mekanis itu, bahkan datang membantu jika robot terjebak di salah satu sudut. "Orang-orang menyapanya pada pagi hari dan mengatakan robot membuat kantor menjadi lebih menarik sebagai tempat kerja," kata Hawes.

Jadi jika kita bisa menyerahkan sebagian pekerjan kita yang membosankan dan berulang-ulang kepada mesin maka kita akan terbebaskan untuk melakukan hal-hal yang kita nikmati. "Hasilnya adalah kerja berpotensi untuk menjadi lebih menarik," kata Frey.

"Pemikiran yang menggoda, bahwa mungkin saja, meningkatnya mesin bisa jadi akan membuat pekerjaan kita jadi lebih manusiawi."

Tulisan ini dalam bahasa Inggris bisa Anda baca di link berikut How automation will affect you - the experts's view dan tulisan-tulisan lain di BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait