Untuk urusan makan, apakah kita mestinya meniru orang-orang Kanton?

Makanan Hak atas foto iStock

Ketika duduk di salah satu restoran di Hong Kong, saya membelakangi deretan laci. Dalam pikiran saya, laci-laci tersebut berisi daun teh, jamur kering, atau mungkin ramuan daun untuk obat.

Saya keliru 100% karena menurut pemandu saya, warga setempat bernama Cecilia Leung, isinya ternyata adalah ular hidup.

Kalau kebetulan pemelik restoran sedang ada di tempat, ia akan dengan senang hati memperlihatkan ular-ular ini kepada tamu. Ia memang dikenal sebagai 'raja ular' di sini dan masih dimintai tolong untuk menangkap atau memindahkan ular-ular berbisa yang ditemukan warga.

Untunglah saya tak sampai harus melihat ular-ular hidup di laci di belakang saya. Yang saya jumpai adalah ular yang sudah dikuliti, diiris kecil-kecil yang dimasak dengan kuah kental lengkap dengan daging babi, ayam, jamur, dan serai.

Asap dan aroma kuahnya, harus diakui, terasa sangat lezat. Tapi di sisi lain, saya -terus terang saja- agak ragu untuk langsung mencicipi daging ular. Otak saya mengatakan makan daging ular tak berbeda dengan ikan, cumi-cumi atau ayam.

Tapi pesan itu tak sampai ke mulut atau ke perut. Sepertinya ada penghalang psikologis yang menjadi penentu utama, apakah kita akan memakan sesuatu atau tidak memakan sesuatu.

Dan inilah sebenarnya yang ingin saya ketahui dengan sengaja mengeksplorasi restoran dan warung makan di Hong Kong.

Cecilia membaca dengan akurat bahasa tubuh saya, mungkin ia mencermati kalau saya hanya menggerak-gerakkan sendok di atas mangkuk dan belum juga menyantap irisan daging ular di dalamnya.

Ia mengatakan hal itu semacam lumrah terjadi. Setengah dari klien yang ia bawa pada akhirnya berani mencicipi sup ular di Hong Kong. Apakah saya termasuk di antaranya?

Saya merasa beruntung bertemu dengan Cecilia yang bersama dengan saudaranya, Silvana mendirikan Hong Kong Foodie Tours. Sesuai dengan namanya, Cecilia dan Silvana mengajak tamu-tamu untuk mengeksplorasi dan mencicipi kuliner Hong Kong.

Hak atas foto iStock
Image caption Apakah Anda berani mencicipi sup ular? Konon daging ular bisa memperlancar peredaran darah dan menjauhkan kita dari penyakit.

Saat pertama kali bertemu, Silvana memesankan kami bakpao nanas. Untuk minuman, ia memilihkan kami teh susu, tidak dengan susu segar tapi dengan susu evaporasi.

Belum lama ini pemerintah Hong Kong memasukan teh susu dan bakpao nanas sebagai 'warisan budaya tak benda' yang menurut saya jelas-jelas mengkhianati pengaruh kolonialisme Inggris dan tak sesuai dengan status Hong Kong sebagai salah satu kota pelabuhan paling penting di dunia.

Kita tahu bahwa orang-orang Inggris tidak mencampur teh dengan susu evaporasi, mereka selalu memadukannya dengan susu sapi segar.

Selain teh dengan susu evaporasi, Hong Kong juga punya 'sup makaroni' dan 'sayap Swiss', sayap ayam yang sekilas seperti dioles cokelat, tapi sebenarnya adalah kecap manis.

"Justru karena ini adalah kota kolonial, kami meminjam dan mengadaptasi makanan lokal dengan budaya-budaya luar," kata Cecilia. Dengan kata lain, ada banyak makanan yang merupakan paduan antara makanan asli Hong Kong dan budaya-budaya lain.

Berikutnya kami mencicipi pangsit rebus. Banyak restoran pangsit di sini yang tadinya didirikan oleh orang-orang yang berasal dari Cina daratan, puluhan tahun silam, kata Cecilia dan Silvana.

"Para pendatang ini tak punya keterampilan, tak berpendidikan, tapi bisa memasak yang cukup untuk menutupi kebutuhan sehari-hari ketika itu," jelas Silvana.

Untuk makan siang, kami membeli nasi dan daging panggang. Lokasinya ada di pasar, yang harus kami tuju dengan melewati warung-warung yang menjual ikan laut kering, termasuk sirip ikan hiu.

Hak atas foto iStock
Image caption Bakpao nanas cocok dinikmati dengan teh susu.

Bagi warga Hong Kong, makanan tak sekedar makanan, banyak di antaranya yang memiliki nilai pengobatan, seperti teh kuding. Diyakini teh ini berkhasiat untuk menghilangkan panas yang berlebihan dari dalam tubuh, memperlancar pencernaan, dan menajamkan pikiran.

Bagi saya, rasa pahitnya sangat menyegarkan, mirip dengan rasa cokelat hitam. "Anda turis asing pertama yang mengatakan bahwa teh kuding menyegarkan," kata Cecilia.

Berikutnya saya mencoba uji nyali, karena makanan yang dipesan adalah agar-agar hitam yang terbuat dari kulit kura-kura. Diyakini menu ini bisa mengurangi jerawat dan meningkatkan peredaran darah. Awalnya sempat ragu-ragu, tapi begitu sampai di lidah rasanya tak kalah menyegarkan dengan teh kuding.

Ketika saya meninggalkan kedai, saya melihat gambar tempel bertuliskan Uber Eat, yang menandakan banyak yang memesan agar-agar hitam ini.

Sampai di sini saya menyimpulkan bahwa kuliner Hong Kong sungguh sangat kaya, yang memadukan unsur berbagai budaya dan mereka bisa memadukannya dengan sangat pas, dengan penekanan keseimbangan dan moderasi. Mungkin karena itulah warga Hong Kong adalah satu satu warga di dunia dengan usia harapan hidup paling tinggi.

Di sisi lain, saya juga bertanya-tanya, bagaimana warga luar atau para pendatang beradaptasi dengan makanan Hong Kong? Cecilia mengatakan, secara umum mereka bisa dibagi dua: yang bisa beradaptasi dengan mengonsumsi apa saja dan yang tak bisa sama sekali menikmati kuliner Hong Kong.

Dalam literarur ilmiah, dua golongan ini disebut neophilia (neofilia) dan neophobia (neofobia).

Orang-orang yang neophobics memperlihatkan tanda-tanda stres saat menghadapi makanan yang asing, yang antara lain ditandai dengan naiknya detak jantung dan bernafas dengan cepat.

Takut dengan makanan baru atau makanan asing bisa berdampak negatif karena orang-orang neophobics memiliki peluang lebih besar mengalami obesitas, mungkin karena cenderung memilih makanan dengan kalori tinggi. Mereka juga biasanya kekurangan protein dan magnesium.

Hak atas foto iStock
Image caption Orang-orang yang takut dengan makanan asing biasanya lebih besar kemungkinannya mengalami obesitas.

Ketidaksukaan terhadap makanan asing antara lain disebabkan oleh faktor genetik. Faktor lain yang menjadi penyebab adalah psikologis. Kajian yang dilakukan Laith Al Shawaf, saat menjadi peneliti di Universitas Texas, Austin, AS, menunjukkan orang-orang yang takut dengan makanan asing biasanya khawatir atau takut dengan penyakit dan hama yang mengganggu.

Ia juga mengatakan kekhawatiran terkena infeksi mungkin juga membuat kita curiga dengan jenis daging yang baru, karena kita mengira daging baru ini berpotensi membuat kita keracunan.

Yang melegakan adalah, pada tahap-tahap tertentu kekhawatiran terhadap makanan asing bisa diatasi, misalnya dengan sering-sering mencicipi rasa dan tekstur makanan baru.

"Tak ada alasan orang yang neophobics akan selamanya neophobics," ujar Al Shawaf yang kini menjadi staf pengajar di Universitas Bilkent, Turki.

Contoh nyata dari kategori ini adalah saya sendiri, yang sekarang menghadapi sup ular. Di Inggris, tak ada tradisi makan ular dan karenanya hampir mustahil rasanya melihat daging ular ada di meja makan di London atau tempat-tempat lain.

Tapi setelah seharian menjelajah aneka restoran dan kedai akhirnya saya memutuskan untuk mencicipi sup ular. Ternyata enak! Rasanya mirip dengan daging ikan.

Warga Hong Kong percaya daging ular bisa memperbaiki peredaran darah dan menjauhkan kita dari macam-macam penyakit.

Saat berpisah dengan Cecilia saya merasa 'sudah cukup berani untuk mengeksplorasi sendiri' kuliner Hong Kong.

Bagi Cecilia, makanan adalah pintu untuk memahami budaya. "Untuk memahami jiwa seseorang, pahami apa yang mereka makan," katanya.

Tulisan asli dalam bahasa Inggris: Should the world eat more like the Cantonese? dan artikel-artikel lain di BBC Future.

Berita terkait