10 tantangan besar yang akan kita hadapi pada 2050

tantangan masa depan, robot, kecerdasan buatan, artificial intelligent, AI Hak atas foto Rex Features
Image caption Persahabatan seperti karakter Frank Langella dan perawat robotnya di film Robot and Frank dapat menjadi nyata di masa depan.

Genetika yang bisa diatur, populasi yang menua, kenaikan permukaan laut, pergerakan dunia yang lebih cepat daripada sebelumnya... Apa arti tren tersebut bagi masyarakat kita selama 30 tahun ke depan?

Selama beberapa bulan terakhir, BBC Future Now telah meneliti beberapa masalah terbesar yang dihadapi umat manusia saat ini yaitu penggunaan lahan untuk mengakomodasi populasi yang jumlahnya meledak, masa depan energi nuklir, jurang antara orang kaya dan orang miskin - dan banyak lagi.

Tapi bagaimana dengan tantangan besar yang akan dihadapi pada masa depan? Dalam 30 tahun kemudian, masalah apa yang mungkin ada dalam agenda dunia untuk dipecahkan?

Tidak mungkin untuk memprediksinya, tapi kita bisa mendapatkan petunjuk dari bagaimana tren terkini dalam sains dan teknologi dapat dimainkan. Berikut adalah beberapa potensi masalah besar yang akan dihadapi pada masa depan:

Modifikasi genetika manusia

Perdebatan di kalangan ilmuwan mulai menggaung sejak tahun lalu karena teknologi baru yang memungkinkan kita mengedit DNA manusia. Ini disebut Crispr (diucapkan 'krisper') dan ini adalah sebuah cara mengubah DNA orang untuk menghilangkan penyakit seperti kanker.

Kedengarannya bagus, bukan? Tapi bagaimana jika ada dampak etis yang gelap, dan ini berubah menjadi proyek genetika untuk menghasilkan 'bayi-bayi yang didesain', dengan memilih embrio yang menghasilkan bayi-bayi yang memiliki kecerdasan dalam jumlah tertentu atau memiliki karakteristik fisik tertentu?

Meskipun masih belum cukup banyak digunakan untuk dipertimbangkan sebagai "tantangan besar" pada saat ini, ini adalah kemajuan yang akan terjadi pasa masa mendatang dan ada akibatnya yang luas yang perlu dipersiapkan - dan itulah banyak alasan untuk memastikan para ahli keetikaan berada di tiap-tiap laboratorium, universitas, dan perusahaan yang mungkin tidak sabar untuk mengubah DNA kita.

"Refleksi yang tepat tentang bagaimana kita mungkin ingin melestarikannya membutuhkan waktu - ini harus mengacu pada perspektif yang luas tentang apa artinya menjadi manusia," kata Nicholas Agar, profesor etika di Universitas Victoria Wellington di Selandia Baru kepada BBC Future Now pada awal tahun ini.

"Sulit untuk menyisihkan waktu untuk merefleksikan keetisan ketika kemungkinan teknologi baru tampak semakin tebal dan cepat."

Jumlah penduduk manula membengkak

Kita tidak akan hanya bergumul dengan fakta bahwa populasi dunia meledak - tapi orang juga hidup lebih lama dari sebelumnya. Mana yang hebat - tapi semua warga lanjut usia itu akan membutuhkan perawatan.

Faktanya, jumlah penduduk lanjut usia akan meningkat lebih dari 50 kali - dari 500.000 saat ini menjadi lebih dari 26 juta pada tahun 2100. Dari Inggris sampai Jepang hingga Cina, negara dengan jumlah penduduk yang berusia lebih dari 65 tahun akan menjadi lebih biasa.

Dalam beberapa dekade ke depan, karena kenaikan itu mulai terjadi, kita akan memerlukan perawatan yang lebih baik untuk para orang lansia (Jepang bahkan mempertimbangkan penggunaan robot) dan mungkin kebijakan untuk memungkinkan lebih banyak imigran untuk mencoba dan menggantikan tenaga kerja yang sudah tua, dan dalam beberapa kasus ada penurunan tingkat kelahiran.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Banjir dan meluapnya air laut menjadi hal yang biasa terjadi di daerah pesisir pantai seperti Florida karena dampak perubahan iklim.

Kota-kota yang hilang

Anda tidak perlu mencari dengan susah payah tempat seperti Miami untuk melihat bagaimana kota-kota berubah pada Abad ke 21 - kenaikan permukaan air laut secara bertahap membuat beberapa bagian dari kota tersebut menghilang. Dipicu oleh perubahan iklim, tidak hanya banjir menjadi lebih umum di jalanan, namun pola cuaca yang berubah juga mempengaruhi desain bangunan.

Selain lebih banyak tembok laut, kota ini mengharuskan semua bangunan baru dibangun dengan lantai pertama yang dibangun lebih tinggi. Tapi itu semua tembok buatan - jika tren yang ada saat ini terus berlanjut, kita mungkin harus menyesuaikan diri dengan kehilangan seluruh wilayah kota, pulau, dan daerah dataran rendah seperti Bangladesh. Dampak ekonomi terhadap daerah akan sangat besar, dan begitu pula dengan jumlah pengungsi karena perubahan iklim bisa menjadi hal yang biasa.

Tekanan sudah berkembang di kota-kota, seiring dengan pertumbuhan populasi perkotaan. Jika perubahan iklim memaksa migrasi massal, maka infrastruktur, layanan, dan ekonomi yang ada mungkin terbentang sampai titik terakhir.

Evolusi Media Sosial

Media sosial telah mempersulit cara kita berkomunikasi untuk bagian yang lebih baik dalam satu dekade. Dan itu tidak akan berjalan ke mana-mana dalam waktu dekat ini, karena kebanyakan orang mendapatkan kabar mereka dari saat ini. Itu bahkan sebelum kita juga terlibat dalam kekacauan tentang pelecehan daring. Seperti apa media sosial dalam 30 tahun kemudian, dan pada saat itu, apa saja ancaman yang mungkin ditimbulkannya?

Sebuah dunia tanpa privasi, untuk seseorang. Itu satu masalah yang sudah kita lihat. Dan selain menghilangkan rasa dan keinginan kita untuk anonimitas dan privasi, media sosial juga membawa banyak masalah penindasan dalam dunia maya.

Banyak badan amal dan organisasi nirlaba di seluruh dunia telah memobilisasi diri dalam perang melawan pengganggu di internet, namun ini adalah pertanyaan terbuka tentang apakah lembaga penegak hukum dan perusahaan media sosial dapat memperbaikinya atau apakah situasi ini akan memburuk.

Lalu ada juga masalah diet informasi yang harus dipertimbangkan yaitu jika status quo berita palsu di mana-mana tetap ada, bagaimana berita tersebut membentuk bagaimana orang-orang melihat dunia?

Jika individu menghabiskan waktu berbulan-bulan, bertahun-tahun, bahkan puluhan tahun dalam kehidupan mereka hanya terpapar pada sumber berita yang tidak dapat dipercaya, maka hal itu tidak akan baik bagi masyarakat dan diskusi yang beradab.

Konon, mengingat seberapa cepat media sosial datang di dunia masa kini, seorang optimis mungkin menyarankan agar masalah tersebut dapat segera diselesaikan. Dalam waktu 30 tahun, kita mungkin berurusan dengan isu media sosial yang bahkan belum kita duga. Toh, Facebook baru berumur 13 tahun.

Hak atas foto Reuters
Image caption Banyak anggota masyarakat lebih memilih berkomunikasi melalui media sosial dibandingkan dengan tatap muka.

Ketegangan geopolitik

Tahun lalu telah tampak gangguan total dari keseimbangan rapuh dalam geopolitik kita. Itu bisa membuat stabilitas global beberapa dekade berikutnya menjadi sebuah tanda tanya yang besar.

Peluncuran rudal Korea Utara. Ribuan pengungsi melintasi perbatasan untuk melarikan diri dari kekacauan. Peretas ikut campur tangan dalam pemilihan umum negara lain. Meningkatnya sentimen nasionalis di seluruh dunia.

Judul utama pada tahun 2016 (dan sejauh ini, 2017) telah didominasi oleh drama politik yang tidak pernah berakhir yang telah memicu 'ladang ranjau geopolitik' dan 'pergeseran geopolitik yang belum pernah terjadi sebelumnya' - apakah itu dengan cara mengelola Korea Utara yang tidak dapat diprediksi, penderitaan pengungsi Suriah, atau transisi yang dialami Inggris sebagai akibat dari keluarnya dari Uni Eropa.

Peretasan yang meluas, rudal nuklir dan teknologi berbahaya lainnya, dan ini mudah

Perjalanan dengan mobil aman

Terlepas dari urbanisasi dan pembicaraan kereta peluru yang pesat dan teknologi fantastis seperti Hyperloop yang datang di masa depan, mobil tidak akan pergi ke mana-mana - dan pada kenyataannya, dalam beberapa dekade berikutnya, akan ada lebih banyak lagi di jalan.

Teknologi mobil tanpa sopir dengan cepat diluncurkan, dengan perusahaan teknologi dan mobil besar secara agresif berusaha meluncurkan kendaraan bebas-manusia di tahun-tahun mendatang. Tapi selain itu, banyaknya mobil - mengemudi sendiri atau tidak - akan meroket. Demikian hasil studi menunjukkan.

Di negara-negara seperti Cina yang dianggap sebagai kelas menengah yang sedang tumbuh berkembang, kebutuhan lingkungan dan infrastruktur yang semakin diminati oleh penduduk kota akan menjadi tantangan besar. Bagaimana kita memastikan keamanan, melawan polusi, dan memastikan mobil tanpa sopir tidak menjadi ancaman di jalan?

Hak atas foto Getty Images
Image caption Negara dengan perkembangan industri yang pesat seperti Cina dianggap juga mempengaruhi kepemilikan kendaraan bermotor.

Sumber daya berkurang

Teknologi dan perangkat baru yang menjadi ciri Abad ke-21 semua memerlukan logam langka dari dalam Bumi untuk membuatnya - sebuah ponsel pintar rata-rata memiliki lebih dari 60 "bahan".

Itu membuat tekanan pada sumber daya alam di Bumi ini: di Cina, di mana 90% logam langka yang ada di dunia ditemukan, diperkirakan tambangnya akan habis dalam dua dekade ke depan - dan pengganti yang baik untuk bahan tersebut sulit didapat.

Menetap di planet lain

Bagaimana perusahaan wisata ruang angkasa memastikan bahwa kegiatan mereka aman? Bagaimana kita menemukan cara untuk mengirim manusia ke Mars atau planet lain untuk tinggal di sana, seperti yang didesakkan oleh Stephen Hawking agar kita mencari tahu?

Perjalanan luar angkasa mungkin tampak seperti domain agen antariksa dan miliarder saat ini, namun karena hal itu semakin mudah diakses orang lain, seluruh tantangan baru akan muncul.

Angkasa luar semakin terlihat kurang seperti perbatasan akhir dan lebih mirip seperti halaman belakang rumah kita, dan dengan lebih banyak uang yang dikucurkan untuk mengirim manusia mencapainya daripada sebelumnya, logistik, keamanan, dan diplomasi di balik tantangan ini menuntut pertimbangan serius.

Kekuatan otak yang distimulasi

Sudah menjadi hal umum menggunakan obat untuk meningkatkan kemampuan otak (entah itu kopi, atau sesuatu yang lebih kuat, seperti modafinil), dan sebagian besar negara maju sekarang mengandalkan ponsel pintar mereka sebagai memori 'eksternalisasi' - tapi mari kita memperkirakannya beberapa dekade lagi.

Bayangkan obat-obatan yang ditargetkan membuat kita berpikir lebih cepat daripada kemungkinan saat ini, dan implan teknologi yang membantu kita berkonsentrasi melampaui kemampuan manusia normal selama berjam-jam atau berhari-hari, misalnya - kemajuan ini sudah berjalan dengan baik di laboratorium di seluruh dunia.

Pertanyaan yang muncul adalah apa yang terjadi pada mereka yang tidak mampu menggunakan perangkat tambahan semacam itu? Mungkinkah hal itu memperlebar ketidaksetaraan, dan memperbolehkan orang kaya menjadi lebih kaya lagi?

Lalu ada juga masalah kelegalan dan keetisan, yaitu dapat diterima untuk minum kopi sebelum Anda mengikuti ujian, tapi apa boleh menggunakan implan atau obat-obatan pendorong kepintaran? Tantangan yang ditimbulkan oleh peningkatan kecerdasan hanya muncul baru-baru ini.

Dominasi AI (Kecerdasan buatan) dalam kehidupan kita

Pakar masa depan Ray Kurzweil telah membuat sejumlah prediksi - beberapa prediksi inspirasional lainnya benar-benar mengkhawatirkan. Salah satunya adalah gagasan yang terdengar seperti fiksi ilmiah menunjukkan bahwa kecerdasan buatan suatu saat akan menjadi lebih kuat daripada kecerdasan manusia dan memperbaiki dirinya sendiri pada tingkat eksponensial, atau dikenal sebagai 'singularitas'.

Ini jauh dari pandangan mayoritas, namun hanya sedikit yang menyangkal bahwa AI hanya akan menjadi lebih kuat. Jadi, seperti dalam kasus pengeditan genetika, komunitas teknologi dan AI perlu mempertimbangkan implikasi etis dan sosial dari pekerjaan mereka karena AI hadir untuk membentuk lebih banyak bidang kehidupan kita, mulai dari perawatan kesehatan hingga pasar keuangan.

Seperti skenario cerita kepunahan akhir dunia, ini sejujurnya tidak mungkin - tapi itu seharusnya tidak mengaburkan fakta bahwa AI siap mengubah bagaimana cara kita hidup dan bekerja dengan cara yang mendalam.

Bukan juga tidak mungkin AI tertentu dapat mengalami kegagalan beroperasi atau para pencipta mereka tak bisa mengendalikannya lagi, sehingga menyebabkan bencana manusia, di mana kehidupan punah atau jutaan dolar melayang.

Tulisan asli dalam bahasa Inggris10 grand challenges we'll face by 2050 dan artikel-artikel lain bisa Anda baca di BBC Future.

Berita terkait