Bahasa yang dipakai bisa membongkar siapa kita sebenarnya

RuPaul Hak atas foto Getty Images

Setiap kali kita membuka mulut, berbicara, kita sebenarnya sedang mempertontonkan kepribadian kita sebenarnya.

Jika Anda tak sengaja mendengar sebuah percakapan di bus, apakah Anda bisa menebak kepribadian orang yang berbicara lewat kata yang digunakan dan topik yang dibahas?

Kita kerap kali diingatkan untuk "hati-hati dalam berkata" - dan itu benar adanya. Banyak bukti yang menunjukkan bahwa kepribadian kita tergambar jelas lewat bahasa yang kita gunakan, lewat cuitan yang kita tulis, atau melalui alamat email yang kita pilih.

Temuan ini bukanlah hal baru yang mengejutkan. Kita tanpa sadar mengetahui bahwa orang yang kepribadiannya ekstrovert, sangatlah cerewet dibandingkan dengan yang introvert. Mereka juga cenderung berbicara dalam tempo cepat.

Perempuan ekstrovert biasanya punya teman-kelompok bergosip. Sementara lelaki ekstrovert, lebih cenderung berbicara dengan dirinya sendiri.

Selain itu, orang ekstrovert dan introvert juga menggunakan bahasa yang berbeda.

Beberapa tahun lalu sekelompok peneliti yang dipimpin Camiel Beukebomm dari VU University, Amsterdam, bertanya kepada 40 orang relawan tentang tanggapan mereka terkait berbagai foto yang menggambarkan situasi sosial tertentu.

Peneliti menemukan bahwa orang ekstrovert cenderung memilih bahasa yang abstrak dan kadang melebar kemana-mana. Namun, orang introvert berbicara dengan bahasa yang konkret. Dalam kata lain, orang introvert jauh lebih spesifik dalam berbicara.

Ekstrovert berkata: "Artikel ini bagus."

Introvert berucap: "Artikel ini sangat informatif soal politik uang."

Hak atas foto Hulton Archive
Image caption Ekstrovert seperti Abraham Lincoln jauh lebih cerewet dibandingkan rekan-rekannya.

Sejalan dengan ini, penelitian lain memperlihatkan bahwa orang introvert cenderung berbicara soal subyek yang spesifik, misalnya "si Adi, si Putri", atau kejadian tertentu, misalnya "kebakaran semalam". Mereka juga lebih hati-hati memilih kata, sehingga cenderung menggunakan kata "mungkin", dan menyebut angka.

Ekstrovert berkata: "Yuk kita makan."

Introvert berucap: "Mungkin kita makan bakso saja."

Hasil penelitian itu masuk akal secara psikologi. Mayoritas orang ekstrovert menikmati hidup simpel, lebih doyan minum alkohol, bercinta dengan banyak orang, dan lebih berani mengambil risiko dibanding yang introvert. Setiap kali membuka mulutnya, orang ekstrovert juga lebih berpotensi menjerumuskan dirinya dalam risiko karena pernyataannya yang tidak akurat dan spontan.

Hubungan antara kepribadian dan bahasa yang digunakan, juga terlihat dari bahasa tulis.

Ketika Jacob Hirsh dan Jordan Peterson dari Universitas Toronto meminta para murid untuk menulis target hidup mereka, orang ekstrovert ternyata lebih banyak menulis target tentang kesuksesan hubungan pribadi. Ini masuk akal, karena orang ekstrovert "lebih aktif secara sosial".

Namun, ini tidak hanya soal ekstrovert atau introvert. Bahasa juga menunjukkan aspek lain dari kepribadian seseorang, termasuk apakah mereka berpikiran terbuka (orang yang liberal cenderung menggunakan bahasa yang terkait dengan indra), cepat stress (yang cenderung memilih kata-kata emosional) dan betapa rajinnya seseorang (orang yang lebih rajin memilih kata yang berkaitan dengan capaian dan terkait profesi).

Orang yang gampang stress berkata: "Ah, saya menanggung beban berat sebesar monster ini."

Yang berpikiran terbuka berujar: "Kamu sebenarnya cuma ingin didengar."

Sementara yang rajin berucap: "Ayo, kita bisa selesaikan masalah ini."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Kepribadian tidak hanya terlihat dari bahasa ucap, tetapi juga bahasa tulis.

Kepribadian juga terpancar dari penulisan kreatif.

Pada 2010, sekelompok psikolog Jerman memberikan sekitar 100 siswa, sejumlah kata untuk dikembangkan menjadi cerita pendek. Orang yang berpikiran terbuka membuat tulisan yang jauh lebih kreatif. Sementara orang yang santun, membuat tulisan yang lebih memperlihatkan sudut pandang norma dan sosial.

Ketika tulisan dua kelompok berbeda ini saling dipertukarkan, sang pembaca ternyata juga dengan gampang menebak pribadi sang penulis.

Lalu bagaimana jika orang-orang satu kepribadian dipertemukan? Sebuah studi menyebut jika sekelompok orang introvert ada di sebuah ruangan mereka kemungkinan besar akan berbicara tentang solusi menghadapi sebuah masalah. ("Saya harus pindah apartemen karena tetangga saya berisik/"Ya sudah, mari kita cari apartemen baru.")

Di sisi lain, ketika orang ekstrovert berkumpul, mereka akan berbicara soal banyak topik berbeda, yang pada intinya membicarakan "hobi atau kesenangan mereka". Misalnya, "Aku suka jogging lo", "Wah, Coldplay keren ya". Lagi, ini sejalan dengan apa yang sudah orang ketahui tentang pribadi ekstrovert; mereka lebih fokus untuk menikmati hidup.

Image caption Orang ekstrovert cenderung lebih fokus menikmati hidup.

Dan di zaman sekarang ini, di mana kita kerap mencuit, menggunakan media sosial, kepribadian kita juga terungkap dari sana.

Dengan menganalisa hampir 700 blog, peneliti dari Universitas Texas menemukan bahwa bahasa yang digunakan blogger sejalan dengan kepribadian yang mereka tulis di profilnya. Contohnya mereka yang menyebut sebagai blogger yang 'sopan', memang jarang menggunakan kata-kata umpatan di blog-nya.

Sementara itu, di Twitter, penelitian memperlihatkan bagaimana orang ekstrovert memilih untuk lebih mencuitkan emosi dan kondisi yang positif. Sementara orang yang gampang stress atau emosional lebih sering mencuit dengan sudut pandang orang pertama dan menggunakan kata "aku" atau "saya". Jelas, orang yang menghadapi guncangan perasaan lebih banyak menggunakan dua kata itu.

Ekstrovert berkata: "Kami sangat bahagia!"

Orang yang emosional berujar: "Wah saya senang sekali."

Dan menariknya lagi, kaitan antara bahasa dan kepribadian ini sangat konsisten. Relawan penelitian bahkan bisa menebak dengan tepat kepribadian orang asing - betapa emosional atau sopannya dia - hanya dengan membaca cuitannya.

Meskipun begitu, kita juga tidak berhak menilai siapa seseorang yang kita temui hanya melalui bahasa yang digunakannya. Jadinya kita langsung menghakimi orang itu. Contohnya saja, orang yang cenderung menggunakan banyak angka di alamat emailnya, ternyata lebih pemalas. Dan kita juga kerap salah sangka, alamat email yang humoris pastilah milik orang ekstrovert.

Image caption Introverst seperti RuPaul (yang mengaku berpura-pura ekstrovert saat berkostum waria) cenderung memilih kata yang lebih jelas dan spesifik.

Namun tentunya, penelitian yang menunjukkan siapa kita sebenarnya dari bahasa yang kita gunakan saat berbicara, menulis, mencuit, pastinya agak mengganggu. Khususnya bagi mereka yang ingin melindungi privasinya jauh-jauh dari publik.

Namun, pemahaman ini bisa kita manfaatkan untuk mengubah cara pandang orang terhadap kita. Misalnya, saat wawancara pekerjaan atau kencan pertama, kita bisa mengubah pilihan kata yang kita gunakan agar dapat menampilkan persona yang diharapkan lawan bicara, sehingga kita diuntungkan. Iya kan?

Oke, sebaiknya saya berhenti menulis sekarang, sebelum Anda tahu siapa saya sebenarnya.

Anda bisa membaca versi bahasa Inggris dari artikel ini di BBC Future, berjudul The hidden ways your language betrays your character.

Topik terkait

Berita terkait