Inilah sejumlah tempat di tata surya yang memungkinkan kita untuk hidup

antariksa Hak atas foto Science Photo Library

Peneliti ruang angkasa kini sudah memalingkan wajah dari Mars dalam pencarian kehidupan di luar bumi. Sejumlah bulan di tata surya kita yang ternyata dialiri lautan yang tertutup es berkilo-kilometer, kini menjadi pusat perhatian.

Cinta Chris McKay terhadap Mars, perlahan-lahan pudar. Planet merah berkabut itu tidak lagi memiliki pesona yang dulu banyak dibicarakan para peneliti.

"Saya dulu terobsesi mencari tahu apakah ada kehidupan di Mars. Obsesi ini menahun," aku ilmuan planet Nasa yang telah menghabiskan hampir sepanjang karirnya memenuhi obsesi itu. "Sekarang saya sudah putuskan untuk meninggalkan cinta pertama saya itu, dan beralih ke yang baru."

Objek baru yang menarik perhatian McKay adalah Enceladus, bulan berselimut es milik Planet Saturnus. Diselidiki oleh Cassini, satelit milik bersama Nasa dan badan antariksa Eropa, Esa, bulan tersebut memancarkan sulur-sulur air dari kutub selatannya - kemungkinan besar dari samudera cair yang tertimbun beberapa kilometer di bawah permukaan bulan. Cassini melaporkan bahwa air ini mengandung seluruh materi penting kehidupan; karbon, nitrogen, dan sumber energi dalam bentuk hidrogen.

"Saya yakin, inilah yang saya cari-cari," kata McKay.

Image caption Bulan Planet Jupiter, Europa, adalah salah satu tempat yang diyakini bisa ditinggali manusia.

"Dari sudut pandang astrobiologi, tempat inilah yang punya potensi paling menarik."

Namun, waktu operasi Cassini tinggal beberapa pekan lagi, sebelum hancur di atmosfer Saturnus. "Kita harus terbang ke dalam sulur-sulit air itu mencari bukti kehidupan," ungkapnya. "Kami sedang mengembangkan misi baru untuk itu, sebuah misi yang mana satelit akan terbang pelan dan rendah menuju sulur air untuk mengumpulkan sampel dalam jumlah banyak."

Misi yang proposalnya sudah diajukan ini berkompetisi untuk mendapatkan pendanaan dari Nasa, bersaing dengan lima misi masa depan lainnya - ke komet, asteroid dan berbagai planet. "Sekarang kami punya kesempatan untuk bersaing, dan bahkan menang. Targetnya sangat meyakinkan," tutur McKay.

Enceladus sendiri hanyalah satu dari benda ruang angkasa di tata surya kita, yang memiliki air cair, dan kemungkinan kehidupan mikro.

Kandidat lain termasuk tiga bulan Planet Jupiter: Europa, Callisto dan Ganymede. Bahkan bulan Planet Neptunus yang terletak sangat jauh dari bumi, Triton, mungkin juga bisa menampung kehidupan ekstrem.

Image caption Lapisan air cair diharapkan dapat ditembu dengan mengebor es menggunakan robot.

Europa mungkin adalah nama paling tenar sebagai target eksplorasi. Ketenarannya bahkan sudah dimulai sejak tahun 1960an, ketika para astronom memprediksi bahwa bulan tersebut mungkin bisa dihuni. Penulis buku 2001, Arthur C Clarke, bahkan membayangkan bahwa pohon raksasa tumbuh di balik es bulan itu.

Dan memang, observasi yang dilakukan satelit Galileo milik Nasa pada akhir 1990an membuktikan bahhwa Europa memiliki lautan di kedalaman 15-20km di balik permukaan esnya.

Jika kita masih perlu puluhan tahun untuk bisa kembali ke Enceladua, Europa akan segera diteliti dalam waktu dekat. ESA saat ini membangun satelit bernama Juice, yang merupakan kependekan dari Jupiter Icy Moons Explorer atau Penjelajah Bulan-bulan Jupiter yang mengandung es - nama yang jelek untuk sebuah satelit. Juice akan memulai misinya pada 2022, mengelilingi Jupiter dan melakukan studi terperinci terhadap Europa, Ganymede dan Callisto.

Nasa juga merencanakan misi ke Europa yang diharapkan bisa dimulai pada pertengahan 2020.

Misi itu diberi nama Europa Clipper. Satelit robotik ini didesain untuk bisa terbang mondar-mandir sebanyak 40 kali di Europa, untuk menyelidiki permukaan bulan tersebut secara detail. Di Pasadena, California, sebuah perusahaan teknologi juga sedang mendesain robot yang diharapkan bisa mendarat di Europa dan mengambil sampel langsung dari permukaan bulan itu.

"Bulan yang diselimuti es, adalah tempat yang sangat menantang untuk dijelajahi dalam misi ini," ungkap insinyur robot, Hari Nayar. "Temperaturnya pasti sangat dingin, jauh, alamnya kasar, dan apalagi untuk bisa mengambil sampel air berkilo-kilometer di bawah permukaannya. Benar-benar tidak gampang."

Image caption Satelit Cassini yang segera akan hancur di atmosfer Saturnus.

Nayar pun menceritakan bagaimana perjalanan misi ini, hingga akhirnya mereka berujung dengan ide; robot yang bisa mengebor es dan mengambil sampel air. "Kami belum benar-benar menemukan solusinya, tapi banyak orang pintar di sini, jadi pasti ketemu."

Teknologi untuk mengumpulkan sampel ini sudah ramai dipertimbangkan. Mulai dari robot bertenaga nuklir yang dapat mecairkan es ketika pengeboran dilakukan, sampai desain pengebor yang benar-benar menghancurkan benda keras (es) dan menyimpan hasil pengeboran di dalam tabung.

Saat ini, teknologi-teknologi tersebut masih dalam tahap "terbukti bisa digunakan" secara konsep. "Kami sudah membuat sejumlah cetak biru di lab. Tapi misinya masih 15-20 tahun lagi," kata Nayar. "Menurut saya kami belum benar-benar dapat solusi yang paling jitu sebenarnya, tapi saya yakin kami akan dapatkan solusi itu. Lagian waktunya masih cukup untuk mengembangkan banyak hal."

Menemukan kehidupan - betapa kecil pun - di tempat yang semula hanya dilihat sebagai 'bulan mati', akan menjadi salah satu penemuan paling fundamental dalam sejarah manusia. Temuan itu akan memperlihatkan bahwa kehidupan adalah hal yang wajar di alam semesta ini.

Meskipun begitu, masalah paling besar dari misi untuk menemukan kehidupan di galaksi ini, muncul dari hal yang tak terduga; orang yang melakukan misi pencarian, amat sangat ingin menemukan bukti kehidupan itu.

"Kadang agak berlebihan juga, jika kita benar-benar yakin dan ingin jawabannya adalah, "ya, terbukti,"" tutur McKay. "Saya lihat ada sejumlah jurnal yang membuat klaim luar biasa bahwa ada kehidupan di Mars, yang hanya disimpulkan dari data-data yang diterjemahkan dengan sempit."

Ini berarti jika ada temuan yang meyakinkan dari bulan-bulan yang akan diteliti, temuan itu harus berasal dari banyak sampel. Satelit yang membawanya juga harus murni terbebas dari mikroba, sehingga sampel hidup yang dibawa dari bulan-bulan berlapis ea itu benar-benar dari sana, tidak dari bumi juga.

"Klaim luar biasa membutuhkan bukti yang luar biasa pula," tegas McKay. "Dan bagi saya, tidak ada temuan lain yang lebih luar biasa dibandingkan menemukan fakta ada kehidupan lain di luar bumi."


Anda bisa menyimak versi Bahasa Inggris dari artikel ini berjudul The search for the Solar System's most likely place to life di BBC Future.

Berita terkait