Upaya saya untuk menghentikan kebiasaan buruk lewat kejut listrik

kebiasaan buruk Hak atas foto iStock

Dapatkah menyetrum diri Anda dengan listrik atau membayar denda ringan dapat membantu menghentikan kebiasaan buruk Anda? Untuk berhenti menggunakan ponsel pintarnya di tempat tidur, Tiffanie Wen mencobanya sendiri.

Gelang silikon yang saya pakai di pergelangan tangan saya bukanlah sesuatu yang tidak berbahaya. Namun memang tidak bertujuan seperti itu. Tali berwarna merah terang membungkus baterai isi ulang berbentuk persegi panjang yang berada di pergelangan tangan saya dapat menghantarkan kejut listik hingga di atas 200 volt.

Di atas tali terdapat hiasan berbentuk petir, sehingga tidak ada resiko saya melupakan apa yang dapat dilakukan perangkat ini.

Telepon saya memberitahukan bahwa baterai perangkat itu telah terisi penuh dan ditempatkan dengan pengaturan terendah. Yang perlu dilakukan adalah menekan gambar petir dan saya pun akan mendapatkan kejutan listrik.

Perangkat yang saya jelaskan, disebut Pavlok, cukup kontroversial. Sebagian orang menganggapnya perangkat mainan, sedang yang lain berkata perangkat itu terlah membantu mereka menghentikan kebiasaan seperti menggigit kuku atau memakan permen.

Penemu Maneesh Sethi berkata perangkat itu dapat menghentikan kebiasaan seseorang hanya dalam waktu lima hari. Jadi saya menggunakannya untuk berusaha berhenti menggunakan ponsel saya di tempat tidur, yang menurut para ahli dapat mengganggu tidur dan menyebabkan kebutaan sementara.

Nama Pavlok sendiri berasal dari nama belakang Ivan Pavlov: ahli fisiologi asal Rusia yang terkenal berhasil membuat anjing mengeluarkan air liur dengan suara bel, lanjut dengan mencari makanan.

Pengembang di balik Pavlok berharap jika para penggunanya menyetrum diri mereka saat melakukan perilaku yang tidak diinginkan - dalam kasus saya, menggunakan ponsel di tempat tidur - mereka akan mulai mengasosiasikan perilaku itu dengan ketidaknyamanan dan mulai kurang menikmatinya, hingga mengurangi kebiasaan mereka melakukannya.

Akhirnya saya mengumpulkan keberanian untuk menyetrum diri saya, yang saya rasa cukup mengejutkan dan tidak mungkin diabaikan pada pengaturan 50%.

Jadi, apakah hukuman kecil - apakah kejut listrik, atau sanksi lain seperti denda - benar-benar cara mengubah kebiasaan kita menjadi lebih baik?

Penghargaan versus penderitaan

Hukuman adalah sebuah jenis "operant conditioning" atau pembelajaran dengan memberikan konsekuensi atas suatu perilaku. Sementara penghargaan adalah konsekuensi yang mendukung atau meningkatkan suatu perilaku, hukuman didefinisikan sebagai konsekuensi yang dianggap dapat mengurangi perilaku.

Para peneliti telah berusaha untuk membandingkan bagaimana orang-orang merespon suatu hukuman dan penghargaan dalam berbagai eksperimen.

Misalnya, dalam sebuah penelitian yang dipublikasikan di jurnal Cognition, orang-orang mendapatkan atau harus membayar token yang bernilai sejumlah kecil uang tergantung dari kinerja mereka dalam sebuah tugas.

Para peneliti menemukan bahwa hukuman sekecil kehilangan token pun cukup untuk mengubah pilihan mereka dalam tugas-tugas, dibandingkan penghargaan yang lebih besar.

"Ini berarti ada perbedaan reaksi dalam otak atas perolehan dan kehilangan," kata Jan Kubanek, seorang peneliti pascadoktoral di bidang fisiologi molekuler dan seluler di Stanford yang mengerjakan penelitian tersebut.

"Tidak perduli berapa besar kehilangan subjek, apakah lima atau 25 sen. Hal itu tidak mempengaruhi perilaku pencegahan. Anda menghindari pilihan dengan cara yang sama kuatnya terlepas jumlah poin, atau sen yang anda dapat hilangkan."

Tidak begitu halnya dengan penghargaan. "Saat Anda memperoleh lima sen anda kemungkinan akan mengulangi pilihan tersebut, namun tendensinya lebih lemah disbanding saat anda memperoleh 25 sen," jelas Kubanek. "Semakin banyak anda memperoleh sesuatu semakin besar kemungkinan anda akan mengulangi pilihan sebelumnya. Namun jika kehilangan sejumlah apapun, akan mengarah ke perilaku penghindaran yang kuat."

Kubanek berkata hasilnya dapat digunakan untuk membentuk bagaimana masukan negatif dan hukuman disampaikan di luar laboratorium. Dalam sebuah lingkungan akademik, misalnya, para pengajar dapat memberi nilai dalam bentuk poin positif dan negatif.

Hak atas foto iStock
Image caption Mungkin membayar denda ke orang yang kita kasihi untuk mengentikan kebiasaan buruk kita dapat dicoba?

Penelitian juga menyarankan bahwa ancaman hukuman dapat, dalam berbagai kasus, mempengaruhi perilaku kita. Satu penelitian misalnya mengindikasikan bahwa meski dengan kehadiran gambar sepasang mata cukup untuk membuat orang-orang berhenti menyampah sembarangan, karena mereka merasa mereka sedang diawasi dan ingin menghindari tertangkap basah dan dihukum.

(Meski begitu perlu diperhatikan bahwa penelitian lanjutan menemukan bahwa sulit untuk meniru efek mata yang sedang mengawasi.)

Dalam bukunya, God is Watching You, Dominic Johnson menyatakan bahwa ketakutan atas hukuman supernatural, apakah dalam bentuk Tuhan, neraka atau karma, mendorong kerja sama di atas dan di luar institusi pemerintah di dalam masyarakat.

"Pemerintah dan polisi itu terbatas. Pengawasannya rendah dan hukumannya terbatas," kata Johnson. "Namun bagi dewa atau tuhan, pengawasan selalu ada dan hukuman tidak terbatas. Para dewa dapat lebih berkuasa disbanding para polisi. Setidaknya bagi orang-orang beriman teguh."

Ada beberapa bukti yang mendukung ide ini, termasuk sebuah penelitian oleh psikolog Azim Shariff yang menemukan masyarakat dengan tingkat kejahatan lebih rendah berkaitan dengan kepercayaan mereka dengan neraka.

"Ini berkaitan dengan kepercayaan mereka dengan surga," kata Johnson. "Sebagian orang kecewa dengan itu, namun idenya adalah orang-orang akan cenderung bekerja sama saat mereka berusaha menghindari neraka daripada ingin masuk surga."

Hak atas foto iStock
Image caption Sebagian penelitian mengindikasikan bahwa mata yang digambar di dinding dapat mempengaruhi perilaku seseorang, namun belum dikonfirmasi oleh penelitian lanjutan.

Kemungkinan dihukum ini mungkin menjadi alasan mengapa sebagian orang mendapati diri mereka dikejutkan dengan Pavlok cukup efektif.

Gelang merah saya memiliki simbol petir besar di atasnya. Hanya dengan melihat simbol di pergelangan tangan saya di waktu tidur, cukup sebagai pengingat bahwa saya harus menyetrum diri saya dengan listrik.

Meski hal itu tidak cukup untuk membuat saya berhenti sepenuhnya, setidaknya hal itu melekatkan tujuan saya di otak saya, dan saya menghabiskan jauh lebih sedikit waktu di dunia daring malam itu.

Namun, meski setelah menyetrum diri saya di tempat tidur saat menggunakan ponsel saya selama lima hari, saya dapat mengatakan bahwa hal itu tidak menyembuhkan kebiasaan menggunakan ponsel saya di malam hari.

Apa yang pada akhirnya bekerja, setidaknya untuk minggu berikutnya, adalah mengenakan denda yang sangat besat bagi diri saya sendiri, yang harus saya bayar ke suami saya untuk dihabiskan membeli barang-barang tak berguna.

Setelah satu malam, kerugian finansial cukup untuk membuat saya menjauh dari ponsel saya. Setelah eksperimen saya berakhir, bagaimanapun, saya kembali ke kebiasaan lama saya, yang seakan menyatakan bahwa saya sebaiknya menyetrum diri saya dan mengeluarkan uang tanpa batas waktu - dan itu mungkin terlalu tinggi bayarannya.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca diMy attempt to stop my bad habits through electric shocksdi BBC Future

Berita terkait