Menerobos Moskow: Pilot misterius yang tempuh jalur udara paling berbahaya

Moskow Hak atas foto Getty Images

Tiga puluh tahun lalu, seorang pemuda bernama Mathias Rust berhasil menerobos armada jet tempur dan sistem pertahanan udara Uni Soviet, kemudian mendaratkan pesawat capungnya di jantung Kota Moskow.

Dr Robin Stott masih menyimpan baik-baik sebuah video dari komputer lamanya, semasa kuliah di Greenwich, Inggris. Video tersebut berasal dari kamera video tua, sehingga warnanya sudah sedikit memudar - ciri khas rekaman kaset VHS tua.

Stott mengambil gambar tersebut nyaris 30 tahun yang lalu di sebuah tempat yang jauh dari taman dan deretan pub Greenwich. Waktu baru menunjukkan pukul 19.00, tanggal 28 Mei 1987. Moskow - kota terbesar di era Uni Soviet - sedang musim semi. Dan ketika itu ketegangan Perang Dingin memuncak.

Orang asing tak mudah berkunjung ke Moskow. Beruntung Stott punya kenalan yang cukup berpengaruh. Dia berkawan dengan seorang dokter spesialis jantung sekaligus aktivis perdamaian yang sehari-hari bekerja sebagai dokter pribadi pimpinan Soviet Mikhail Gorbachev. Stott datang ke Moskow untuk menghadiri konferensi perdamaian guna pelucutan senjata nuklir. Adapun, konferensi tidak berjalan mulus.

''Yang namanya konferensi perdamaian selalu bikin gelisah,'' kata Stott. ''Ada-ada saja yang dipersoalkan.''

Hak atas foto Vasily Maximov/AFP/Getty Images
Image caption Rust memilih terbang ke Moskow untuk membangun ''jembatan perdamaian'' antara Blok Timur dan Blok Barat semasa era Perang Dingin.

Stott kemudian keluar sebentar untuk 'cari angin' sambil menenteng kamera video, berjalan kaki ke kawasan Kremlin dan Lapangan Merah. Di videonya, tampak kubah Katedral St Basil temaram hanya diterangi cahaya malam. Situasi di Lapangan Merah nyaris sepi, hanya sesekali terdengar percakapan dalam Bahasa Rusia dari orang yang lalu lalang. Orang Moskow biasanya suaranya keras, sehingga suara mereka masuk dalam rekaman video. Dalam rekaman itu Stott minta maaf karena alur video tersebut sangat lambat. ''Menyaksikan video liburan orang lain memang super membosankan, ya?'' ujarnya, lalu tertawa.

Beberapa kali mikrofon kamera Stott menangkap suara deru mesin pesawat yang sedang terbang rendah, namun gambar dalam video tersebut masih sibuk merekam arsitektur bangunan sekitar. Selang beberapa menit, gambar video itu pindah ke sebuah pesawat Cessna mesin tunggal yang terbang sangat rendah. Videonya loncat lagi, berpindah pada Cessna yang sedang parkir di sudut Lapangan Merah. Dalam sekejap warga berkerumun mengelilingi pesawat tersebut.

Stott merekam saat pilotnya keluar dari pesawat: masih muda, kelihatan tenang, dan percaya diri. Pilot tersebut tertawa dan melempar senyuman ke kerumunan. Salah seorang mulai bertanya dalam Bahasa Inggris.

Pilot muda itu adalah Mathias Rust. Dia baru menerbangkan Cessna 172 seorang diri, menerobos perbatasan paling ketat penjagaannya di dunia, dan menembus pertahanan udara tercanggih. Buat sejumlah kalangan, aksinya ini dianggap mempercepat runtuhnya Uni Soviet.

***

Mathias Rust berusia 18 pada 1987. Obsesinya ada dua - terbang dan politik. Rust ikut kursus terbang di klub penerbang dekat Hamburg, Jerman Barat, dan pada saat itu sudah mengumpulkan pengalaman 50 jam terbang.

Di masa Perang Dingin, posisi Eropa di ujung tanduk. Lebih dari 40 tahun Uni Soviet dan blok barat memecah dunia menjadi dua kubu, dan selama itu pula pasukan Nato dan Pakta Warsawa saling baku hantam di perbatasan utara Norwegia sampai ke wilayah timur jauh Turki. Berkali-kali ketegangan di antara kedua blok memuncak dan nyaris memicu perang.

Situasi paling menakutkan yakni saat krisis misil Kuba di tahun 1962. Di awal dekade 1980, nyaris juga terjadi konfrontasi nuklir antara kedua blok.

Di tahun 1983, sebuah pesawat penumpang dari maskapai Korea Selatan KAL 007 sempat tersesat ke wilayah Uni Soviet, dekat Jepang. Pesawat tersebut bernasib nahas, pesawat tempur Uni Soviet menembak jatuh pesawat tersebut dan menewaskan 269 penumpang dan kru. Sesudah itu, Amerika Serikat menyusun rencana untuk memindahkan Pangkalan Pershing - yang dipersenjatai rudal nuklir jarak menengah - ke wilayah Eropa. Beberapa bulan berikutnya, berlangsung latihan militer gabungan Nato dengan kode Able Archer 83 yang membuat situasi sangat genting dan nyaris memicu perang nuklir.

Presiden Amerika Serikat Ronald Reagan menegaskan musuh yang sangat jelas adalah komunisme. Uni Soviet sedang dalam pusaran, sebab ekonominya mandek di masa pemerintahan Perdana Menteri Leonard Brezhnev. Di tahun 1980-an, dua perdana menteri Soviet yakni Yuri Andropov dan Konstantin Chernenko meninggal saat baru sebentar memimpin Politburo. Penerusnya Mikhail Gorbachev, orang termuda yang memimpin Politburo setelah terpilih di tahun 1985.

Hak atas foto AFP
Image caption Pesawat tempur Rusia MiG-35

Walaupun terpilih sebagai Perdana Menteri pertama setelah Revolusi Rusia, Gorbachev dipandang sebagai sosok moderat dan pembaharu. Ada optimisme Barat bahwa Gorbachev yang berusia 59 tahun dapat membantu meredakan ketegangan yang terjadi selama beberapa tahun terakhir.

Reagan dan Grobachev sempat merancang pertemuan di Islandia pada Oktober 1986 untuk mencari kesepakatan yang bisa meredakan ketegangan rudal nuklir jarak menengah di masing-masing negara, sebab persenjataan jenis ini kemungkinan yang akan dipakai dalam perang nuklir di Eropa. Pertemuan berlangsung di bekas Konsulat Prancis di Hofdi, dekat Rejkjavik. Hanya dalam hitungan menit perundingan tersebut kolaps.

Hak atas foto Kirill Kudryavtsev/AFP/Getty Images
Image caption Ada ratusan pesawat tempur model MiG buatan Soviet mengawal perbatasan di era Perang Dingin

Gagalnya pertemuan tersebut berdampak besar buat pemuda bernama Rust. Jerman Barat kebakaran jenggot, sehingga "Muncul ketakutan besar," kata Rust kepada majalah Smithsonian Air & Space pada 2005. ''Sebab seandainya terjadi konflik, kita tahu siapa yang akan terdampak pertama kali.''

Itu sebabnya Rust ingin menyatakan sikap. Idenya yaitu secara metafor membangun ''jembatan perdamaian'' antara Barat dan Timur menggunakan pesawat capung dari klub terbangnya.

Rute terbangnya bukan ke Jerman Timur, sebab kawasan tersebut dijaga ketat oleh polisi, dengan sistem pertahanan udara dan hulu rudal yang mengerikan. Pesawat Rust kemungkinan ditembak jatuh beberapa menit setelah melewati perbatasan.

Sebaliknya, Rust punya rencana yang lebih ambisius. Dia akan menerbangkan Cessna 172, sebuah pesawat andalan bermesin tunggal yang sudah tidak diproduksi lagi sejak 1950-an, dari Jerman Barat melewati Laut Utara via Shetland dan Kepulauan Faroe, kemudian ke Islandia. Rute tersebut akan menempanya dalam hal navigasi jarak jauh, sesuatu yang kemudian sangat ia butuhkan.

Kemudian, Rust harus terbang ke Helsinki. Dari situ - entah bagaimana - dia akan menyeberangi perbatasan Soviet. Sebagian besar wilayah USSR sulit dijangkau oleh orang asing dan tidak akan ada air-traffic control yang akan memandunya Ini yang membuat misi Rust tergolong sangat berbahaya. Seandainya Rust mampu menyeberangi perbatasan Soviet, dia sendirian.

Cessna 172 yang digunakan Rust sudah dimodifikasi. Dua dari total empat kursi dilepas sehingga bisa memuat lebih banyak bahan bakar. Rust cuma membawa perlengkapan sedikit, hanya tas tidur, cadangan minyak mesin, jaket keselamatan, dan helm kecelakaan, jaga-jaga seandainya dia terpaksa mengalami pendaratan yang tidak mulus di Moskow.

Rust lepas landas dari Lapangan Udara Uetersen, tak jauh dari Hamburg, pada 13 Mei. Dia menyewa Cessna tersebut selama tiga pekan. Rust tidak memberi tahu siapapun soal rencananya tersebut. Ia tiba di Islandia dua hari sesudahnya.

Sepekan dihabiskan untuk merencanakan penerbangan nekat tersebut. Untuk mendongkrak nyali, dia berkunjung ke Rumah Hofdi, bangunan warna putih tempat Reagan dan Gorbachev bertemu. "Ini memberi saya motivasi untuk lanjut terus," katanya kepada Smithsonian Air & Space.

Rust kemudian bertolak ke Norwegia dan tiba di Bergen pada 22 Mei. Tiga hari kemudian, dia mendarat di ibu kota Finlandia, Helsinki. Dari situlah dia memulai bagian paling berbahaya dari misinya.

Saat lepas landas pada 28 Mei, di siang hari bolong, Rust memberi tahu pemandu lalu lintas udara (air traffic controller/ ATC) di Helsinki bahwa ia hendak bertolak ke ibu kota Swedia, Stockholm. Malam sebelumnya pemuda tersebut sudah mengisi rencana terbang, seandainya siapa tahu keberaniannya hilang.

Jalur yang diisi Rust seakan-akan menunjukkan dia terbang menuju Stockholm, namun sesaat setelah meninggalkan zona udara Helsinki dia berbelok ke selatan. Transponder pesawat dimatikan. Perangkat itu yang mengirim sinyal balasan ke sistem radar supaya memudahkan pelacakan. Pemandu lalu lintas udara di kota kedua Finlandia, Tampere, sudah memperingatkan Rust bahwa dia melenceng dari jalur terbangnya.

Hak atas foto Dmitry Kostyukov/AFP/Getty Images
Image caption Akrobat jet tempur zaman Soviet dalam pertunjukkan dirgantara internasional. Di tahun 1983, sebuah jet tempur Soviet SU-15 menembak jatuh pesawat penumpang Korea Selatan dan insiden tersebut menewaskan 269 jiwa

Sekitar pukul 13.00, pesawat Rust lenyap dari layar radar Finlandia. Sesaat kemudian, puing terlihat di perairan dekat posisi terakhir Rust. Pesawat Rust kemudian terdeteksi oleh radar militer Soviet di wilayah yang sekarang bernama Latvia.

Pesawat dari wilayah barat dilarang memasuki teritori Soviet tanpa izin - dan mereka juga diwajibkan berada dalam koridor tertentu. Rust tidak mengantongi izin - dia sekarang diklasifikasikan sebagai 'pesawat tanpa identitas' di dalam radar Soviet.

***

Pesawat Rus sekarang mendekati zona terbang paling berbahaya di dunia. Perbatasan Uni Soviet memanjang dari timur ke barat dari Laut Jepang sampai Polandia, dan dari Lingkar Kutub Utara sampai ke perbatasan Iran. Panjang garis perbatasan sekitar 60 ribu kilometer dan seluruh kekuatan militer Rusia terkonsentrasi di wilayah tersebut. Soviet menyebutnya PVO (Voyska Protivovozdushnoy Oborny, atau Pasukan Pertahanan Anti-Udara). Mereka memiliki tiga divisi, satu bertugas di pos radar, satu di unit rudal, dan lainnya adalah pesawat tempur yang berfungsi mencegat serangan yang datang dari udara.

Saat Rust mengarahkan pesawat capungnya ke arah Uni Soviet, dia sesungguhnya akan menghadapi lebih dari 2.000 pesawat tempur dan sekitar 8.000 pelontar rudal yang berjaga di sepanjang perbatasan. Sistem ini dirancang sedemikian rupa untuk menangkal serangan pesawat pembom Amerika Serikat dan melindungi sejumlah kota beserta instalasi militer.

Pasukan PVO dilengkapi sejumlah pesawat canggih. Diantaranya MiG-25, yang didesain untuk mencegat Lockheed SR-71 Blackbird milik Amerika Serikat dan sanggup terbang tiga kali kecepatan suara; dan Tupolev Tu-128 pesawat tempur terbesar yang pernah ada, yang berpatroli di wilayah Kutub Soviet dan sanggup menembakkan rudal sepanjang 5 meter. Arsenal PVO juga dipersenjatai ratusan pesawat tempur kecil swing-wing MiG-23 yang ditempatkan di pangkalan udara dekat perbatasan.

Ketangguhan dan kecanggihan PVO dirancang untuk sebuah tugas spesifik: yakni menghadang pembom Amerika Serikat seperti Boeing B-52 yang berukuran sebesar pesawat penumpang dan cenderung terbang tinggi. Lantaran ukurannya besar, sinyal yang dipantulkan ke layar radar juga lebih besar.

Ini persoalan yang sama dengan kebanyakan sistem radar yang ada sekarang. Sistem radar pertahanan udara Soviet hanya mampu mengenali objek yang besar dan kurang efektif mendeteksi pesawat kecil yang terbangnya rendah.

Sinyal dari pesawat kecil yang terbang rendah sulit terdeteksi, karena pantulan sinyalnya tertutup oleh perbukitan dan bangunan sekitar. Itu sebabnya para pilot MiG harus betul-betul diarahkan untuk dapat menentukan lokasi target yang kecil tadi.

Secara kebetulan, penerbangan Rust juga bertepatan dengan Hari Penjaga Perbatasan. Sebagian besar penjaga sedang libur. Hanya di hari itu pula, sekali dalam setahun ada celah dalam sistem penjagaan perbatasan Soviet. Ini yang ikut menambah kerancuan di pihak Soviet, sehingga saat pesawat Rust menerobos wilayah udara mereka gagal mengidentifikasinya.

Hak atas foto Natalia Kolesnikova/AFP/Getty Images
Image caption Militer Rusia mengenakan seragam zaman Perang Dunia II saat parade di Lapangan Merah. Perbatasan Uni Soviet sangat panjang, itu sebabnya ukuran pesawat tempurnya tergolong besar

Blunder atau kekeliruan Soviet dalam hal ini terjadi akibat kecerobohan dan sederet fakta konyol yang cukup menggelikan. Pesawat tempur MiG yang pertama melihat pesawat Rust hanya melakukan deteksi jarak jauh. Mereka menyimpulkan pesawat Cessna tersebut sebagai Yak-12, pesawat dengan penampakan fisik sangat mirip dan biasanya dipakai klub terbang Soviet untuk melatih pilot angkata udara yang baru. Pesawat tempur kedua yang berhasil mendeteksi Rust adalah pesawat tempur MiG-23s. Saat itu Rust terbang di tengah awan tebal. Pesawat tempur tersebut sudah siap menyerang.

''Saya ingat sekali, jantung saya rasanya mau copot,'' kata Rust ke Smithsonian Air & Space. ''Saya bicara ke diri saya: Apakah ini saatnya, saat saya ditembak jatuh?''

Salah satu MiG memperlambat lajunya seperti siap mendarat - bahkan sudah mengeluarkan alat pendaratannya sehingga pilot bisa melihat lebih jelas ke arah Rust. Rust dan pilot MiG saling bertatapan. Sesaat kemudian, MiG itu terbang menjauh. Pilot tersebut melaporkan bahwa dia baru saja bertemu pesawat capung Jerman Barat, tetapi komandan seniornya menganggap mata pilot tersebut keliru.

Inside KAL 007 membuat komandan Soviet lebih waspada ke depannya. Supaya tidak terjadi lagi, pilot pesawat tempur diperintahkan untuk menginformasikan laporan sejenis hingga ke level komando yang sangat tinggi. Saat itu, Menteri Pertahanan Sergei Sokolov yang seharusnya punya wewenang mengizinkan pesawat Jerman Barat terbang di wilayah Uni Soviet, sedang menghadiri pertemuan tingkat tinggi di Jerman Timur. Ini juga faktor lain yang menyebabkan Rust dan pesawat capungnya luput dari sistem pertahanan Soviet.

Seorang kontroler di darat berasumsi bahwa pesawat Rust hanya pesawat latih yang gagal memperbarui transpondernya. Dia kemudian menggolongkan pesawat tersebut dalam klasifikasi bersahabat. Lagi-lagi keberuntungan berpihak pada Rust, sehingga dia akhirnya bisa terbang mendekati Moskow. Saat itu, dia juga masuk ke kawasan latih di mana pesawat Soviet yang mirip pesawat capungnya sedang berlatih terbang.

Seandainya ada perintah menembak jatuh Rust, kondisinya sudah sulit. Sebagian besar rudal Soviet, seperti SA-4 dan SA-5, didesain untuk menebak target yang lebih besar. Misalnya, pengebom yang terbang tinggi. Selain itu ada ketinggian minimum bagi rudal untuk bisa diarahkan ke sebuah target. Cessna yang terbang rendah seperti milik Rust jauh berada di bawah jangkauan minimum sehingga rudal pun akan meleset.

Rust lanjut terbang, hanya berbekal selembar peta yang jauh dari sempurna. Dia membeli peta tersebut di Jerman Barat dan dipakainya untuk mengecek posisi landmark.

Menjelang malam akhirnya Rust melihat Moskow. Kota tersebut lebih besar dari bayangannya. Butuh beberapa saat untuk mengenali kubah bulat milik katedral St Basil. Rust pun terbang makin rendah, menjelajahi Kota Moskow untuk mencari tempat yang aman bagi pendaratan.

Rust bisa mendaratkan pesawatnya juga menjadi kebetulan lain di hari itu. Dia mendarat di Jembatan Bolshoy Moskvoretsky sebuah jembatan dengan delapan jalur yang merupakan jembatan beton modern pertama yang dibangun di ibu kota Soviet pada 1930-an. Jembatan ini menghubungkan Lapangan Merah dengan Zamoskvorechye di sisi selatan Sungai Moskow.

Sehari-hari, jembatan tersebut dipakai sebagai rute bus troli dan biasanya tertutup dengan kabel-kabel elektrik. Salah satu bagian kabel baru dilepaskan pagi itu untuk perawatan, sehingga tersisa ruang yang cukup buat Rust mendaratkan pesawat capungnya.

Hak atas foto Yuri Kadobnov/AFP/Getty Images
Image caption Pertahanan Soviet mencakup juga sejumlah misil yang bisa ditembakkan dari darat.

Stott mengingat kembali pendaratan Rust. ''Saya sedang berjalan dengan santai ke tempat Matthias Rust keluar dari pesawatnya,'' kata dia. ''Tidak ada siapapun di sana.'' Warga Moskow yang melihat tidak percaya Rust bisa mendaratkan pesawat dan mereka mulai mengerubungi pesawat.

Video Stott memperlihatkan adegan aneh tersebut; Rust dengan tenang dan tampak percaya diri keluar dari pesawat. Orang Rusia kaget bukan kepalang, tetapi cukup bersahabat. Situasinya tidak serius, seperti seorang turis yang bertemu warga lokal yang tertarik melihatnya.

''Ada satu perempuan yang bisa berbahasa Inggris dan mulai bertanya ... dia menanyakan ''Apa yang sedang Anda lakukan di sini?'' Dibalas Rust, dia datang untuk sebuah misi perdamaian.

''Perempuan itu bertanya lagi, apa yang akan dilakukan Rust sekarang. Dia menjawab ''Saya akan terbang lagi.'' Perempuan itu tertawa dan berujar, ''Pemuda yang berani! Pemuda yang berani!''

''Dia kelihatan keren, serius,'' kata Stott. ''Dia agak mirip dengan foto lama Von Richtofen di Perang Dunia Pertama, yang dengan santainya bersandar di badan pesawat.

''Seakan-akan mendaratkan pesawat di Lapangan Merah sesuatu yang sangat biasa.'' Stott terus merekam sampai badan intelijen KGB tiba di lokasi. Kerumunan pelan-pelan bubar, tetapi tidak ada yang menyuruh Stott untuk berhenti merekam. Penjaga Soviet di sekitar pesawat Rust saling berbicara satu sama lain, seperti kehilangan akal harus melakukan apa.

KGB akhirnya menahan Rust, membawanya untuk diinterogasi. Cessna tersebut dibongkar di bandara sekitar, sebab Soviet sulit mempercayai kenyataan seorang pemuda beraksi sendirian menembus pertahanan udara Soviet dan terbang sampai ke Moskow.

Hak atas foto Amer Almohibany/AFP/Getty Images
Image caption Pesawat Rust sempat dicegat oleh jet MiG-23. Namun, laporan pilot tersebut malah diabaikan oleh militer Soviet.

Stott mengatakan bahwa ''mereka pikir itu semacam jebakan. Dia seorang aktivis perdamaian dan saya aktivis perdamaian. Tapi saya tidak menduga hal ini akan terjadi.'''

Stott menduga KGB akan mencarinya begitu mereka sadar dia memfilmkan kejadian tersebut. Malam itu, dalam kamar di sebuah hotel besar di pinggir sungai, Rossiya, ada yang mengetuk pintu kamar Stott. ''Tapi bukan orang Rusia - justru orang Amerika. Beberapa orang dari NBC, saluran televisi miliki Amerika, dan mereka ingin membeli video dokumentasi saya."

Video amatir Stott membuat kisah Rust tersebar ke kanal global.

Hak atas foto Sylvia Kaufman/AFP/Getty
Image caption Rust diadili dan hampir setahun ditahan.

Tindakan Rust yang masuk secara ilegal, melanggar hukum penerbangan, dan ''menciptakan kekacauan yang membahayakan'' - tuntutan terakhir ini disangkal - membuatnya harus menjalani hukuman empat tahun di Penjara Lefortovo, penjara dengan pengamanan ketat pada 4 September. Rust menghabiskan waktu nyaris setahun di penjara dan dikembalikan ke Jerman Barat pada 1988 setelah mendapat pengampunan dari Gorbachev. Kisah hidup Rust selanjutnya berubah kelam dan berbalik arah: pada 1989 ia menikam seorang perawat yang, dalam dengar pendapat pengadilan, menolak keinginannya, sehingga ia harus menghabiskan 15 bulan di penjara.

Saat ini, sosok Rust misterius sekali. BBC Future tidak berhasil menemukan sosok ini untuk wawancara. Ada yang menyebutkan dia sekarang berprofesi sebagai analis keuangan. Lainnya punya beragam spekulasi, ada yang menyebutkan Rust sekarang instruktur yoga, ada juga yang menyebut dia sekarang duta perdamaian. Tetapi, spekulasi yang paling diyakini kebenarannya yaitu penghasilan utama Rust didapat dari permainan poker kelas kakap.

Ia juga dilaporkan tidak pernah menerbangkan pesawat lagi.

***

Dampak penerbangan Rust untuk perdamaian meluas.

Gorbachev menggunakan insiden tersebut sebagai alat untuk menyingkirkan kelompok garis keras yang menentang reformasinya. Koordinasi yang rancu menyebabkan Rust bisa terbang ke Moskow memberinya alasan untuk menyingkirkan orang-orang lama. Menteri Pertahanan Sokolov dan Alexander Koldunov termasuk dalam ratusan komandan yang hilang jabatan. Momentum ini yang kemudian jadi sapu bersih pendukung Stalin.

Reformasi Gorbachev - keterbukaan glasnost, revolusi ekonomi perestroika - mendapat momentum. Dalam tiga tahun Uni Soviet bubar.

Penerbangan Rust menunjukkan bahkan sistem pertahanan udara yang tampak tak tergoyahkan sekalipun - dengan ratusan demi ratusan pesawat tempur dan ribuan peluncur rudal - bisa rentan dengan pesawat dari pilot berusia 18 tahun yang menyewanya dari klub terbang.

''Rusia berupaya sedapat mungkin menyembunyikan insiden ini, tidak heran sebab ini tergolong kebobolan serius di sistem pertahanan udara Soviet,'' kata Mike Bratby, pakar pertahanan udara di Royal Aeronautical Society. ''Saat mendekat ke Moskow ada banyak pesawat di udara. Di situ juga terkonsentrasi pangkalan pesawat tempur, radar, dan rudal darat dan udara. Rust menerobos semuanya dengan cara terbang sejajar atap. Belum lagi dia menghina secara telak sistem keamanan perbatasan dengan mendaratkan pesawat di Lapangan Merah, yang jaraknya cuma beberapa langkah saja dari Kremlin.''

Hak atas foto Michael Gottschalk/AFP/Getty
Image caption Pesawat capung yang diterbangkan Rust sekarang digantung di langit-langit museum di Berlin

''Insiden Rust membuat persoalan radar mengemuka, sebab pertahanan udara tersebut tidak akan mampu mengatasi gangguan yang tergolong kecil, lambat, dan terbang rendah. Padahal ancaman seperti ini juga berpeluang melakukan hal-hal yang tidak terduga. Ditambah lagi dengan pemecatan sejumlah komandan senior Soviet. Nato juga diam, sebab faktanya sistem pertahanan udara Barat punya problem serupa. Mereka kesulitan melacak keberadaan pesawat kecil yang terbang sangat rendah.''

Setidaknya Cessna Rust tidak bakal memicu insiden berskala internasional lagi. Pesawat capung itu sudah beberapa kali berpindah tangan setelah pemerintah Soviet mengembalikannya ke klub terbang tempat Rust menyewa pesawat. Sekarang, ia tergantung di langit-langit Deutsches Technikmuseum di Berlin - sebagai simbol dari si pilot bernyali besar yang ingin mendamaikan hubungannya antara Blok Timur dan Blok Barat.

Anda bisa membaca versi Bahasa Inggris dari artikel ini di BBC Future, berjudul The audacious pilot who landed in Red Square.

Topik terkait

Berita terkait