Ternyata salah: Gambaran sosok peretas dalam film dan televisi

Peretas Hak atas foto Patrick Lux/Getty Images

Acara televisi pemenang piala Emmy, Mr Robot, dipuji para peretas tulen karena akurasi teknisnya. Penulis dan produser Kor Adana menjelaskan bagaimana mereka melakukannya, dan kenapa acara lain sering keliru.

Di kelas enam, ibu guru Minninger memberi kami tugas membuat sebuah proyek belajar mandiri - presentasi tentang topik apapun yang kami minati. Saya memilih peretas, atau hacker.

Ketika waktunya memberi presentasi, saya menemukan masalah yang telah menyulitkan para produser dan sutradara selama hampir 30 tahun: Bagaimana caranya membuat peretasan kelihatan menarik?

Hak atas foto USA Network
Image caption Mr Robot berkisah tentang Elliot, seorang teknisi keamanan siber dan peretas yang terlibat dalam rencana 'hacktivist' untuk menghancurkan sebuah perusahaan raksasa.

Saya akhirnya menunjukkan klip dari film WarGames dan klip dari film Hackers. (Beberapa tahun kemudian, saya merujuk kepada klip yang sama dari film Hackers yang muncul di seri televisi Mr. Robot musim pertama, ketika tokoh Mobley dan Romero menontonnya di hotel dalam perjalanan menuju fasilitas keamanan data Steel Mountain.)

Setelah presentasi saya selesai, Ibu Minninger berkata, "Itu bukan peretasan betulan. Kelihatannya kayak video game." Perempuan itu tidak tahu apa-apa soal keamanan jaringan, tapi ia benar.

Itu terjadi di pertengahan tahun 90-an. Sekarang, penonton sudah lebih pintar soal teknologi. Mereka adalah pengguna teknologi yang menghabiskan sebagian besar waktunya berkutat dengan ponsel, tablet, dan laptop. Penonton kini punya gambaran lebih baik tentang apa yang mungkin dan bagaimana teknologi berfungsi. Toh, kita kini hidup di dunia tempat serangan ransomware, dron predator, penipuan phishing, dan pembobolan data yang mampu memengaruhi pemilu.

Seiring berjalannya waktu, semakin sulit untuk seenaknya menampilkan gambaran tak akurat tentang peretasan dan teknologi. Beberapa 'pendosa' yang paling terkenal yaitu...

Swordfish - John Travolta memaksa tokoh Hugh Jackman meretas Kementerian Keamanan dalam 60 detik. Kita melihat gambaran 3D yang norak tentang virus dan usaha autentikasi.

Enemy of the State - Tokoh Jack Black melihat rekaman kamera keamanan yang menggunakan fungsi "pembesar dan penjelas" yang klise. Tak hanya ia berhasil memperbesar gambar dalam rekaman tanpa mengurangi kualitasnya, ia juga, entah bagaimana, memutar-mutar gambar tersebut dalam ruang 3D.

Under Siege 2 - Dark Territory - Butuh meretas komputer? Jangan khawatir. Yang Anda butuhkan hanya satu gigabyte memori. Di dunia film ini, peretasan semudah itu.

Hak atas foto USA Network
Image caption Dari sistem operasi sampai alat yang dipakai, metode peretasan dalam Mr Robot mendapat pujian dari firma keamanan siber maupun para peretas tulen.

NCIS - Terkenal dengan julukan "Dua pandir, satu kibor," inilah penggambaran paling keliru dan absurd tentang penggunaan komputer, apalagi peretasan, yang pernah saya lihat. Dua agen dengan semangat mengetik di satu kibor secara bersamaan untuk melawan seorang peretas yang mengambil alih sistem - sementara potongan-potongan grafik dan kode berkelip-kelip di layar.

Hackers - Ini mungkin salah satu yang paling ngaco dalam menggunakan grafik video game untuk menggambarkan peretasan. Kita menyaksikan visualisasi 3D data dan menemukan virus yang berteriak minta tolong ketika diserang.

GoldenEye - Lagi-lagi, layar Alan Cumming terlihat seperti video game di sini. Ia menggunakan satu perintah "kirimkan paku" dan hanya itu yang dibutuhkan untuk membobol sistem komputer.

Jurassic Park - Di tengah serangan velociraptor, Ariana Richards duduk di depan komputer dan berkata, "Ini sistem Unix. Aku tahu ini." Kemudian perempuan itu, entah bagaimana, meretas seluruh sistem keamanan Jurassic Park hanya dalam beberapa detik dan mengambil alih kendali pintu-pintu otomatis. Adegan itu penuh ketegangan, tapi ia serupa dengan seseorang yang membuka peramban dalam Macbook dan berkata, "Ini Safari. Aku tahu ini," lalu membobol akun Gmail seseorang dalam beberapa detik. Meskipun banyak orang mengolok-olok adegan ini atas penggunaan grafik 3D di layar komputer, Richards sebenarnya menggunakan sistem 3D betulan bernama FSN.

Kenapa Hollywood seringkali salah menggambarkan sosok peretas?

Ada penjelasan sederhana untuk tren ini. Kebanyakan penulis naskah, sutradara, dan produser percaya bahwa menggambarkan proses peretasan yang akurat tapi tetap menghibur ialah hal yang mustahil. (Karena itu Anda melihat grafik, tengkorak, dan paparan-paparan norak di layar.) Saya sangat tidak setuju dengan pola pikir ini.

Jika suatu adegan membutuhkan grafik yang mencolok atau tak akurat di layar komputer untuk meningkatkan drama atau menjelaskan jalan cerita, ada masalah dengan penulisan naskahnya.

Di Mr Robot, kami bekerja keras untuk memastikan bahwa pertaruhan dan motivasi karakter dalam suatu adegan cukup jelas meskipun Anda sama sekali tak paham cara kerja teknologinya. Jika Anda memahami teknologinya, Anda mendapat bonus dengan mengenali kerapuhan sistem, tampilan desktop, dan dialog autentik yang cocok dengan konteks peretasannya.

Salah satu contoh terbaik ialah awal episode empat di musim pertama, ketika Elliot menjelaskan rencananya untuk meretas Steel Mountain. Orang awam yang menyaksikan adegan tersebut paham bahwa mereka harus membobol sesuatu untuk menghancurkan data - tindakan yang berisiko, tapi perlu. Seorang peretas tulen yang menyaksikan akan mengenali keakuratan cara Elliot menggunakan Raspberry Pi dan rencananya untuk menghancurkan data di pita LTO dengan memanfaatkan sistem HVAC.

Hak atas foto Scott McDermott/USA Network
Image caption Christian Slater sebagai 'Mr Robot' (kiri) dan Rami Malek sebagai Elliot (kanan).

Kebanyakan acara televisi dan film tidak punya tim yang berdedikasi untuk mencapai tingkat akurasi teknik ini. Di Mr Robot, keasliannya menjadi bagian dari fase penyusunan cerita - bahkan sebelum kami mulai menulis naskahnya. Dalam pengambilan gambar, kami menggunakan layar betulan dengan kode betulan di dalamnya. Kami tidak merekam layar hijau kemudian menambahkan konten pada fase pascaproduksi. Kami menggunakan software asli sesering mungkin.

Saya punya tim peretas hebat yang menjadi penasihat acara. Kami menguji setiap serangan sebelum memasukannya ke dalam cerita. Hal yang membedakan kami dari acara lain ialah usaha ekstra untuk memastikan semua detailnya akurat.

'Sebutir' keaslian itu menjadi hadiah tersendiri bagi komunitas pakar teknologi, tapi ia juga beresonansi dengan para penonton yang awam. Penonton tanpa pengalaman dalam keamanan siber dapat menerka dan menilai keakuratan teknis di layar mereka; mereka berkata bahwa acara kami terlihat dan terdengar asli.

Jadi terima kasih, Bu Minninger, karena telah dengan tidak sengaja mengajarkan sebuah pelajaran yang membantu karir saya: jangan membuatnya terlihat seperti video game.

Kor Adana ialah penulis/produser serial televisi Mr Robot di USA Network.

--

Anda dapat membaca versi bahasa Inggris artikel ini Why can't films and TV accurately portray hackers?di BBC Future.

Berita terkait