Bagaimana kita menghentikan resistensi antibiotik

antibiotik

Resistensi terhadap antibiotik begitu mencemaskan, hingga banyak disebut sebagai "akhir dari pengobatan modern." BBC Future berbincang dengan para ahli tentang bagaimana kita dapat menghindari dampak terburuk dari antibiotik yang menjadi tantangan besar di masa kini itu.

"Dunia tengah menuju ke era pasca antibiotik di mana infeksi biasa akan dapat membunuh. Jika tren ini berlanjut, intervensi mutakhir, seperti seperti transplantasi organ, bedah sendi, kemoterapi kanker, dan perawatan bayi prematur, akan menjadi lebih sulit atau bahkan terlalu berbahaya untuk dilakukan. Ini bahkan mungkin membawa ke arah akhir pengobatan modern seperti sekarang."

Itu yang disampaikan Direktur Jenderal Badan Kesehatan Dunia WHO pada April lalu, ketika dia hadir di Perserikatan Bangsa-Bangsa PBB, Dr Margaret Chan.

Dr Margaret Chan ingin memperingatkan apa yang dianggap banyak kalangan sebagai satu ancaman terbesar terhadap kesehatan dunia saat ini: peningkatan masalah infeksi biasa yang tidak bereaksi terhadap antibiotik.

Hal yang tampak menggelisahkan, tetapi mungkin sebenarnya tidak cukup mengkhawatirkan.

Kemujaraban antibiotik dunia dengan cepat menurun - obat yang kita gunakan untuk menangani infeksi semakin berkurang dan berkurang kinerjanya. Jika kecenderungan ini trus berlanjut tanpa kita melakukan intervensi, kita mungkin akan mendapati bahwa tidak ada satu antibiotik pun yang tersisa untuk menangani semua tipe infeksi bakteri.

"Ini akan benar-benar mengubah kehidupan yang kita ketahui sekarang," kata David Weiss, direktur Pusat Resistensi Antibiotik di Universitas Emory. "bayangkan bahwa kita kembali ke sebuah era di mana kecelakaan kecil seperti sebuah goresan dapat menyebabkan kematian." Itu yang dapat terjadi di dunia jika terjadi resistensi antibiotik total.

Tetapi ada kabar baiknya: kita tampaknya tak harus meneruskan keadaan ini. Dunia waspada terhadap masalah ini dan banyak organisasi, pemerintahan, dan warga negara yang peduli, bekerja untuk menghindari sebuah kondisi yang buruk.

Kabar buruknya adalah bahwa masalah yang sangat kompleks dan menyebar luas. Dan berkat bakteri yang sangat alami dan bagaimana mereka bekerja - dan kerusakan yang telah kita lakuukan - dunia tidak akan pernah sepenuhnya bebas dari resistensi.

Apa itu resistensi?

Katakanlah Anda mengindap infeksi staphylococcus. Di masa lalu sangat mudah mengatasinya dengan penicilin. Tetapi saat ini, sangat mungkin infeksi yang Anda derita sebenarnya MRSA - sebuah versi resistensi terhadap antibiotik (hanya 10% infeksi staph yang memang bukan MRSA). Penicillin tidak ada gunanya melawannya. dan ternyata sebuah studi menunjukkan bahwa dua dari 100 orang membawa bakteri MRSA.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sebuah kombinasi dari peresepan obat yang berlebihan dan sebuah budaya ketergantungan terhadap antibiotik telah membuat kita menjadi seperti saat ini (Kredit: Getty Images)

Begini resistensi dapat meningkat: seperti manusia, bakteri memiliki DNA. dan seperti dalam tubuh manusia, DNA itu dapat bermutasi atau berubah. Kemudian, ketika input dari dunia luar berinteraksi dengan mutasi tersebut, yang akan bertahan artinya hanya yang paling kuat dari variasi itu.

Jadi, ketika manusia menggunakan antibiotik untuk membunuh bakteri, seringkali kemudian bakteri secara spontan memutasi gennya, yang mengubah komposisi mereka dengan cara tertentu yang menyebabkan antibiotik tidak dapat membunuhnya. Bakteri yang bertahan ini meneruskan gen ini kepada bakteri melalui perkawinan yang sederhana (secara teknis dikenal sebagai 'konjugasi')- dan resistensi bakteri tersebut dapat menyebar dari satu makhluk hidup ke makhluk hidup lainnya.

Celakanya, bakteri dapat membagikan gen-gen ini masing-masing dengan melintasi spesies bakteri yang lain - jadi mereka tidak harus mirip secara genetika untuk dapat meneruskan resistensi. Manusia dan hewan, yang penuh dengan trilliuan tipe bakteri yang berbeda, kemudian meneruskan bug yang resisten satu sama lain.

Dan di atas semua itu, kita memperkenalkan spesies yang resisten satu sama lain di dalam tubuh kita. Jadi, bahkan jika seorang manusia atau seekor hewan terpapar suatu antibiotik hanya sekali dalam hidup mereka, mereka dapat memiliki bakteri mutan yang dapat dengan mudah menyebar.

Bakteri, ternyata, tak peduli dengan batas politik atau kebijakan imigrasi- sebagai contoh, para peneliti bahkan menemukan - bakteri yang resisten- terhadap obat - pada burung camar di Lithuania dan Argentina.

Bagian paling penting adalah bahwa resistensi bakteri pada dasarnya merupakan permainan angka: semakin manusia berupaya untuk membunuh bakteri dengan antibiotik, dansemakin banyak antibiotik yang berbeda yang digunakan, semakin banyak kesempatan bagi bakteri untuk mengembangkan gen baru untuk melawan antibiotik tersebut. Semakin sedikit kita gunakan, semakin sedikit bakteri yang bisa berkembang dan berbagi resistensi.

Berapa besar masalahnya?

Sulit untuk memastikan, tetapi Pusat Pengendalian dan Pencegahan Penyakit Amerika Serika CDC memperkirakan bahwa di AS saja sekitar 23.000 orang meninggal setiap tahunnya karena infeksi resistensi antibiotik. Sebagai contoh, mereka memperkirakan bahwa resistensi terhadap antibiotik untuk melawan Clostridium difficile (C. difficile) menyebabkan hampir 500.000 infeksi di AS setiap tahunnya dan menyebabkan sekitar 15.000 kematian. (Tetapi Amanda Jezek, seorang juru bicara yang mengkhususkan diri pada kebijakan dan hubungan pemerintah di Infectious Diseases Society of America, sebuah kelompok yang mewakili banyak dokter dan ahli penyakit infeksi di negara tersebut, mengatakan secara keseluruhan angka kematian tersebut merupakan perkiraan konservatif dan jumlah sebenarnya kemungkinannya lebih tinggi.

Sementara itu, sebuah studi yang dipublikasikan pada 2015 di Nature menemukan bahwa konsumsi antibiotik global mencapai 30% antara tahun 2000 dan 2010.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Para ahli memperingatkan bebuah dunia yang mengalami resistensi antibiotik total dapat mengubah kehidupan seperti yang kita ketahui, bahkan membuat penyakit ringan bsia mengancam jiwa. (Kredit: Getty Images)

Badan Kesehatan Dunia WHO memperkirakan bahwa pengobatan tuberculosis saja menyebabkan sekitar 480,000 orang di seluruh dunia mengalami strain penyakit TB yang resisten. Pada 2014 lalu WHO memperkirakan 3,3% dari seluruh kasus baru TB resisten terhadap berbagai obat, dan 20% resisten pada kasus berulang. Mereka juga melacak kasus resistensi (beberapa sangat umum dan kurang umum) pada obat yang digunakan untuk mengatasi E. coli, infeksi saluran kemih, gonore, malaria, pneumonia, dan infeksi staph (atau MRSA, versi resistensinya).

Dan menurut Kesehatan Publik Inggris, "Pemerintah Inggris memperlakukan ancaman resistensi antibiotik secara serius dengan adanya pandemi flu dan banjir besar. "Jika tidak ditangani, resistensi antibiotik dapat menyebabkan 10 juta kematian di seluruh dunia pada 2050, dan menelan biaya hingga £66 trilliun.

Bagaimana kita sampai di masa ini?

Jelas dan sederhana, manusia telah menggunakan antibiotik secara berlebihan luar biasa.

Tidak hanya para dokter yang selama beberapa dekade memberikan saja antibiotik yang diminta pasien (terlepas dari apakah mereka membutuhkan atau tidak), beberapa negara masih menganggap antibiotik sebagai obat bebas. Menurut Dr Marc Sprenger, direktur program antimikroba WHO, sebagian besar negara Eropa menggunakan antibiotik sebanyak tiga kali lipat dibandingkan negara Eropa lain seperti Swedia atau Belanda, di mana mereka hanya menggunakannya sesekali saja. "Ini tak ada hubungannya dengan lebih banyak orang yang sakit, ini sekadar merupakan fenomena budaya," kata dia.

Selain itu, selama beberapa dekade, sektor perternakan juga memberikan antibiotik dalam jumlah besar terhadap hewan ternak dan hewan penghasil makanan - tidak hanya sebagai alat untuk mengurangi infeksi tetapi juga metode untuk meningkatkan pertumbuhan, Dan kendati tidak mengkonsumsi antibiotik itu, tetapi manusia mendapat asupan bakteri yang terkandung dalam hewan tersebut. Jadi jika hewan-hewan itu membawa bakteri yang kebal terhadap obat, Anda juga berpotensi memilikinya.

Sampai saai ini penggunaan antibiotik di AS menyebutkan secara jelas pada labelnya indikasi penggunaan antibiotik yang meningkatkan pertumbuhan pada hewan dan petani atau peternak tidak perlu resep untuk mendapatkannya. Untuk mejelaskan masalahnya: pada November lalu sebuah strain E.coli ditemukan pada babi Cina yang resisten terhadap colistin - antibiotik yang digunakan sebagai upaya terakhir - yang di AS hanya digunakan untuk menangani infeksi yang sangat parah pada manusia, yang tidak dapat disembuhkan dengan antibiotik lain. Dalam waktu kurang dari satu bulan CDC mendeteksi strain E.coli pada seorang pasien di Pennsylvania.

Jadi mengapa tidak mengembangkan antibiotik baru yang tahan terhadap bakteri? Saat ini sudah beberapa dekade sejak perusahaan obat mengembangkan dan menjual antibiotik baru. "Jika Anda ingin memiliki sebuah antibiotik baru untuk menangani infeksi dengan bakteri yang resisten, Anda akan menyadari bahwa sudah tidak ada produk baru selama hampir 30 tahun," kata Sprenger.

Itu karena proses pengembangan semua obat-obatan baru sangatlah mahal dan keuntungan potensial dari antibiotik sangat sedikit, sedangkan investasi sangat besar. Menurut Sprenger, "tidak ada instrumen legal untuk melarang penggunaan antibiotik baru."Artinya jika ada sebuah antibiotik baru dirilis, tidak ada cara untuk mencegah dunia untuk menggunakannya secara berlebihan. Pada tingkat penggunaan antibiotik sekarang, kata dia, antibiotik baru hanya memiliki waktu dua tahun saja di pasaran sebelum bakteri yang resisten terhadapnya berkembang.

Bagaimana kita keluar dari masalah ini?

Pertama, seluruh dunia perlu memperhatikan masalah ini. Pada dasarnya ini terjadi pada dua tahun lalu ketika negara anggota WHO sepakat untuk menerima Rencana Aksi Global - waktu itu, resistensi antibiotik merupakan sebuah masalah yang telah masuk radar selama beberapa dekade. Rencana tersebut menjabarkan solusi dan praktik terbaik yang dapat dilakukan oleh seluruh negara untuk mengurangi resistensi antibiotik. "Itu sangat bersejarah," kata Sprenger. Sebelumnya, dia mengatakan, orang-orang yang aktif membahas bagaimana mengurangi resistensi antibiotik , sebagian besar adalah yang berada di lingkaran medis. "95% dari populasi dunia saat ini tinggal di negara yang mengembangkan sebuah rencana nasional. Seluruh negara ini telah meningkatkan pendidikan, traning dan pengendalian pencegahan."

Kemudian, pada tahun lalu PBB membahas masalah ini di Sidang Umum- hanya empat kali dalam sejarah masalah kesehatan dibahas dalam forum tersebut. Dan pada Mei ini pemimpin G20 menandatangani sebuah deklarasi global kesehatan yang mencakup resistensi antibiotik. Jadi, ini jelas merupakan tantangan besar yang harus dipikirkan dengan serius oleh para pemimpin dunia.

Rencana aksi WHO lebih banyak memfokuskan pada pengelola dan pengawas rumah sakit. CDC saat ini melakukan kerjasama yang erat dengan rumah sakit di AS untuk menyediakan panduan dan pendidikan tentang meresepkan antibiotik yang aman dan masuk akal. "Kami telah mencatat sejumlah kemajuan," kata Dr Katherine Fleming-Dutra, seorang ahli epidemologi di CDC. "Dalam dua dekade terakhir kami melihat adanya penurunan tentang diresepkannya antibiotik pada anak-anak di AS. Sementara pada orang dewasa, lajunya lebih rendah. Angka pada (pasien) dewasa relatif stabil."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Konsumsi antibiotik dunia meroket pada beberapa tahun terakhir: Satu penelitian menemukan bahwa konsumsi global mencapai 30% sampai 2000 dan 2010. (Kredit: Getty Images)

Begitu rumah sakit dan dokter mulai mengurangi diresepkannya antibiotik, langkah selanjutnya adalah untuk mengubah regulasi di peternakan.

Sepuluh tahun yang lalu Uni Eropa telah melarang penggunaan antibiotik sebagai pemicu pertumbuhan. Dan pada Januari lalu, Badan Obat dan Makanan menghapus pertumbuhan dari indikasi penggunaan antibiotik di label obat. Menurut Dr William Flynn, deputi direktur kebijakan sains di Pusat Pengobatan Veteriner FDA, "Ada pengakuan nyata bahwa ini merupakan sesuatu yang harus ditanggapi (petani) secara serius. Kami disemangati oleh sejumlah fakta bahwa mereka terlibat dan bekerja sama dengan kami mencari cara agar berhasil."

Tetapi negara lain perlu mengikutinya - seperti yang dibuktikan oleh terungkapnya resistensi antibiotik yang terjadi di Cina baru-baru ini.

Salah satu langkah yang paling penting untuk mengatasi resistensi itu adalah melacaknya. CDC telah membuat sebuah sistem yang disebut Sistem Pemantauan Antimikroba Nasional NARMS. "Pengawasan untuk antibiotik yang resisten terhadap bakteri merupakan bagian besar dari misi kami," kata Dr Jean Patel, deputi direktur kantor Resistensi Antimikroba di CDC. "Kami melakukan ini untuk mengukur beban infeksi dan juga menggolongkan tipe resisten yang kami temukan. Ini membantu kita untuk menentukan strategi bagaimana cara terbaik untuk mencegah resistensi."

CDC mendanai departemen kesehatan di seluruh AS (dan berkoordinasi dengan labaroratorium di seluruh dunia) untuk mendukung sebuah jaringan data dan sampel bakteri yang resisten. Patel mengatakan: "Kami dapat menggunakannya untuk mendapatkan perkiraan angka infeksi nasional untuk mengetahui bagaimana bakteri berubah, menguji coba obat melawan bakteri, dan kami juga menggunakan bakteri yang kami kumpulkan dengan cara ini untuk mengembangkan vaksin." Meski demikian, perlu dicatat, keberhasilan program ini berisiko karena Presiden Donald Trump mengusulkan pengurangan anggaran untuk CDC sampai 17% (atau $1,2 milliar).

Tetapi ada juga beberapa metode non-tradisional yang diupayakan. Universitas Emory di Atlanta, Georgia, telah mendirikan sebuah Pusat Antibiotik yang unik. Salah satu tujuan utamanya untuk mengembangkan uji coba diagnostik menggunakan bakteri yang bermutasi yang dikumpulkan sistem pengawasan nasional dan para dokter di klinik mereka sendiri yang dapat mendekteksi resistensi bakteri.

"Tujuannya adalah agar ilmuwan, dokter dan ahli epidemilogi untuk bekerja sama dalam mengatasi masalah ini. Itu adalah sesuatu yang tidak terjadi secara tradisional. Ada pembagian antara apa yang dilakukan oleh para ilmuwan dan dokter," kata David Weiss.

"Saya bukan dokter, saya perlu tahu dari banyak dokter tentang apa yang mereka lihat di garis depan untuk membantu memandu penelitian kami seakurat mungkin."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Hewan juga mengembangkan resistensi antibiotik, yang artinya dapat meneruskan resistensi bakteri terhadap obat pada Anda juga. (Kredit: Getty Images)

Sebuah pendekatan kolaboratif yang komprehensif dapat berjalan dengan baik: Dinas Kesehatan Nasional Inggris, NHS, mengumumkan angka diresepkannya antibiotik turun 5.3% dibandingkan dengan 2014. Public Health Inggris mengatakan bahwa kuncinya adalah meresepkan antibiotik secara bertanggung jawab: pada 2015 mereka memberi sejumlah rekpomendasi kepada NHS mengenai pengembangan praktik-praktik yang lebih baik yang bertujuan untuk memangkas peresepan antibiotik sebesar 10% dari tingkat 2013 sampai 2014.

Terakhir, perlu ada insentif yang mendorong pengembangan antibiotik baru.

Institut Kesehatan Nasional AS dan Otoritas Riset dan Pengembangan Biomedis yang canggih telah menyiapkan akselerator biofarmasi yang disebut CARB-X. Dana yang disalurkan mencapai $48 juta untuk mendukung proyek penemuan obat antibiotik. "Mereka bekerja dengan perusahaan pada tahap penemuan yang sangat awal untuk memberikan dana dan dukungan teknis untuk mengetahui bahwa mereka memiliki produk yang dapat diujicoba secara klinis," kata Jezek dari IDSA.

Bersamaan dengan itu, IDSA juga bekerja sama untuk menyusun undang-undang yang dapat menetapkan penyediaan dana untuk percobaan klinis, sehingga perusahaan tidak harus menanggung biaya raksasa itu dan mendapatkan keuntungan dari antibiotik baru.

Dengan seluruh program itu dan upaya serupa dilakukan di seluruh dunia, ada harapan besar bahwa manusia dapat mengatasi persoalan ini.

Namun, "kita hanya dapat memperlambat pengembangan resistensi. Kita tidak akan bisa menghentikannya sepenuhnya," kata Jezek. "Bahkan menggunakan antibiotik secara benar pun memberikan kontribusi pada resistensi."

Dan itu artinya tantangan besar selalu akan dihadapi. Selama ada manusia dan manusia-manusia itu membawa dan menularkan penyakit -yang akan selalu terjadi- seluruh dunia akan terus berjuang melawan resistensi.


Anda bisa membaca artikel aslinya dalam How we can stop antibiotic resistance atau artikel lain dalam BBC Future.

Topik terkait

Berita terkait