Pornografi berbahaya: mitos atau fakta?

porno Hak atas foto Javier Hirschfeld

Pornografi seakan tidak berjarak lagi. Tinggal klik, konten-konten semacam itu bertebaran begitu kita membuka internet. Tapi benarkah konten porno akan mengubah perilaku, relasi, dan gairah manusia?

Kita boleh bicara dengan bahasa berbeda, makan makanan berbeda, dan punya perasaan berbeda, tapi ada beberapa hal yang sifatnya universal: jutaan orang di dunia suka menonton film porno.

Namun betapa pun luasnya penikmatnya di seluruh dunia, pornografi masih dianggap sebagai sumber penyakit masyarakat. Bahkan di Utah, Amerika Serikat, ada politisi yang menyebut bahwa pornografi 'berbahaya bagi kesehatan masyarakat'.

Pornografi sudah mengalami banyak transformasi dalam beberapa dekade terakhir, berkat semakin mudahnya akses internet dan bertambah cepatnya koneksi jaringan. Ini juga sebabnya mengapa jumlah penonton video porno bertambah banyak.

Ambil contoh teknologi virtual reality (VR) atau realitas maya. Awal tahun ini, peneliti Universitas Newcastle di Inggris mengatakan bahwa VR kini mengubah pengalaman orang saat menonton video porno. Biasanya mereka cuma jadi penonton pasif, namun kini dengan teknologi VR mereka bisa menjadi tokoh utama.

Peneliti mengingatkan, situasi ini bisa mengaburkan batasan antara realitas dan fantasi, sehingga bisa merusak hubungan manusia dengan sesama dan dapat memicu perilaku yang berbahaya.

Tetapi apa buktinya bahwa pornografi bisa mempengaruhi perilaku seseorang? Apakah pertanyaan semacam ini bisa dijawab dengan riset?

Yang jelas, bagi peneliti ini pertanyaan sulit. Pornografi sebagai subjek penelitian saja sudah cukup menyulitkan. Penelitian hanya mengandalkan pengakuan responden tentang pola perilaku mereka saat mengonsumsi video porno, dan pengamatan langsung dengan suasana laboratorium saat mereka mengonsumsi pornografi, yang sifatnya jadi tidak alamiah -dan sedikit canggung juga

Terlepas dari semua hal di atas, kini ada banyak literatur yang bisa dipakai sebagai referensi. BBC Future mengulas segala hal yang sudah disimpulkan oleh peneliti selama ini:

KEKERASAN SEKSUAL

Pertanyaan paling mendasar seputar pornografi - yang mengemuka setiap ada pelaku kejahatan yang juga suka menonton video porno - adalah bagaimana pornografi bisa mempengaruhi, menormalisasi atau justru memicu seseorang untuk melakukan perkosaan dan kejahatan seksual.

Kemungkinan kaitan ini sudah diteliti sejak beberapa dekade terakhir. Di tahun 1970-an misalnya, Berl Kutchinsky profesor kriminologi di Universitas Kopenhagen mengamati angka kejahatan seksual di Denmark, Swedia, dan Jerman setelah legalisasi pornografi di pengujung tahun 1960-an dan awal 1970-an.

Dia mendapati, tidak ada korelasi antara pornografi dengan lonjakan angka kejahatan seksual dan dekriminalisasi. Bahkan, ada beberapa jenis kekerasan seksual selama periode tersebut, termasuk pemerkosaan dan pelecehan anak, justru menurun angkanya.

Hak atas foto Javier Hirschfeld
Image caption Apakah terlalu banyak menonton video porno bisa membuat seseorang melecehkan perempuan?

Di tahun 1995, sebuah meta-analisis atas 24 penelitian dengan melibatkan 4.000 peserta berusaha mengamati angka rata-rata dari korelasi konsumsi video porno dan asumsi yang berkembang soal pemerkosaan dan kejahatan seksual.

Skala yang dipakai dalam penelitian tersebut adalah 'mitos pemerkosaan,' untuk mengamati pandangan orang. Peserta diukur lewat pernyataan, seberapa setuju mereka dengan ungkapan: "Perempuan yang datang ke rumah atau apartemen seorang laki-laki saat kencan pertama berarti dia mau diajak berhubungan seks."

Peserta penelitian yang suka menonton video porno lebih banyak yang sepakat dengan mitos-mitos seputar pemerkosaan jika dibandingkan kelompok responden lain, namun hanya dalam metode studi eksperimental saja. Sedangkan untuk studi non-eksperimental - yang mengandalkan informasi yang dilaporkan peserta - hasilnya menunjukkan tidak adanya korelasi antara kedua hal tersebut. Jadi, hasil penelitian tersebut tidak sampai pada kesimpulan apapun.

Beberapa tahun terakhir, konten pornografi dianggap sudah semakin kasar dan brutal. Mantan bintang porno dalam sebuah dokumenter baru-baru ini mengatakan, tema video porno yang populer di era 1990-an adalah 'bercumbu di tempat tidur,' dan topik seputar 'pasangan yang dimabuk asmara.'

Tapi mulai 2010, peneliti yang mengamati lebih dari 300 adegan porno mendapati bahwa 88% di antaranya mengandung agresi fisik. Umumnya pelaku kekerasan adalah laki-laki dan sasarannya perempuan. Dan perilaku agresi seksual semacam itu banyak dianggap memberikan kenikmatan seksual.

Lalu, apa kata riset terbaru soal pornografi? Sebuah ulasan yang melibatkan 80 penelitian di tahun 2009 menarik kesimpulan bahwa tipis sekali hubungan timbal balik antara menonton video porno dan perilaku kekerasan. Segala temuan yang mengaitkan keduanya cenderung dibesar-besarkan oleh media dan politisi.

"Sudah saatnya membuang hipotesis bahwa pornografi berkontribusi pada meningkatnya perilaku kekerasan seksual," kata penelitinya.

Neil Malamuth dari University of California, Los Angeles, sudah menggelar banyak penelitian bertema pornografi dan kekerasan seksual. Termasuk salah satunya yang melibatkan 300 laki-laki. Dia menarik kesimpulan bahwa laki-laki yang banyak menonton video porno yang menampilkan perilaku seksual agresif, lebih cenderung menjadi pelaku kekerasan seksual, jika ia sejak awal sudah agresif secara seksual.

Tapi dia juga membantah anggapan bahwa pornografi adalah sebab dari kekerasan seksual. Di tahun 2013, kepada BBC Radio 4 dia mengatakan bahwa konsumsi video pornografi idu bisa dibandingkan dengan konsumsi alkohol: artinya tidak serta merta berbahaya, tapi bisa menjadi pemicu bagi orang yang sudah punya faktor kerentanan lain.

OTAK DAN TUBUH

Kebanyakan menonton video porno bisa membuat bagian otak yang terhubung dengan kepuasan susut ukurannya, begitu kata sebuah penelitian di tahun 2014. Peneliti di Institut Max Planck Berlin mengamati otak 60 laki-laki saat menyimak gambar-gambar porno, dan menanyai mereka tentang kebiasaan menonton video porno.

Mereka mendapati striatum atau bagian otak yang mengatur sistem timbal-balik, lebih kecil pada mereka yang banyak menonton video porno. Artinya, mereka kemungkinan butuh konten yang lebih grafis lagi supaya bisa terangsang.

Tapi, peneliti tidak mampu menyimpulkan jika responden dengan striatum yang lebih kecil terdorong untuk menonton lebih banyak video porno atau apakah kebiasaan menonton video porno adalah penyebab bagian otak tersebut susut - walau akhirnya mereka 'berasumsi' kemungkinan kedua sebagai penyebabnya.

Hak atas foto Javier Hirschfeld
Image caption Realitas maya membuat tayangan video porno lebih hidup lagi.

Lebih jauh lagi,, disfungsi ereksi seringkali jadi patokan bagaimana gairah seseorang bisa turun saat terlalu banyak menonton video porno - namun, sesungguhnya kurang sekali riset yang bisa mendukung pernyataan ini. Malahan menonton video porno justru dianggap bisa membantu membangkitkan gairah seksual seseorang, kalau menurut peneliti dari UCLA dan Universitas Concordia.

Riset itu juga mendapati bahwa responden laki-laki yang frekuensi menonton video pornonya paling banyak justru paling mudah bergairah saat melihat tayangan pornografi di lab.

HUBUNGAN

''Beberapa teman saya ingin pacar mereka berpakaian seperti bintang porno dan melakukan hal-hal yang biasa dilakukan oleh bintang porno. Pornografi mudah sekali diakses. Banyak orang menonton porno di ruang kelas dengan ponsel mereka, juga saat berada di atas bus.''

Pernyataan remaja berusia 17 tahun ini muncul dalam laporan pemerintah Inggris soal pelecehan seksual dan kejahatan seksual di sekolah.

Pornografi menjadi kambing hitam dari rusaknya hubungan asmara - khususnya antara pasangan muda, namun sesungguhnya riset yang dilakukan selama ini baru fokus mengamati perilaku dewasa saja. Hasilnya juga bertolak belakang.

Banyak menonton video porno membuat laki-laki kehilangan gairah pada pasangannya, begitu peringatan yang disebarluaskan setelah penelitian Douglas Kenrick pada 1989. Penelitian tersebut 'besar pengaruhnya', khususnya bagi para psikolog, menurut Rhonda Balzarini, mahasiswa PhD di Unversity of Western Ontario.

Walau demikian, November tahun lalu dia melakukan ujicoba serupa dengan melibatkan peserta yang 10 kali lebih banyak, yakni 150 perempuan heteroseksual dan 400 laki-laki heteroseksual yang terbagi dalam empat studi - dan hasilnya justru mempermasalahkan temuan sebelumnya.

Hak atas foto Javier HIrsc
Image caption Mulai menonton video porno bisa menjadi pertanda sebuah pernikahan sedang di ambang perceraian.

Dia memperlihatkan kepada peserta laki-laki dan perempuan majalah telanjang yang menampilkan model lawan jenis, orang berpakaian lengkap, seni rupa abstrak. Hasilnya, tidak ada perbedaan dalam hal perasaan laki-laki dan perempuan terhadap pasangan mereka, atau orang yang mereka sukai, sesudah itu.

Tapi Balzarini sepakat bahwa hasil antara dua studi bisa saja berbeda sebab studi awal dilakukan pada 1989, saat jumlah dan konten pornografi jauh berbeda sekali dengan saat ini.

Kebalikan dari hasil tersebut, studi yang dipublikasi pada Mei tahun ini menyimpulkan bahwa saat orang mulai menonton video porno terkadang bisa menjadi pertanda bahwa suatu pernikahan sedang berada di ambang perceraian.

Dengan membandingkan tiga paket data antara 2006 dan 2014, peneliti mendapati kecenderungan bercerai meningkat dua kali lipat bagi orang Amerika yang mulai menonton video porno. Mereka yang mengatakan menonton video porno dua sampai tiga kali sebulan memiliki kecenderungan bercerai paling tinggi.

Walau demikian penelitian itu tidak menyatakan bahwa mulai menonton video porno adalah sebab perceraian atau gejala hubungan yang sudah tidak bahagia. Dan, yang lebih penting, studi ini juga mendapati bahwa orang yang banyak sekali menonton video porno - setidaknya sekali sehari - kecenderungannya rendah bercerai jika dibandingkan mereka yang tidak pernah menonton video porno sama sekali.

KEHIDUPAN SEKS

Sejak lama pornografi dianggap sebagai biang persoalan dalam kehidupan seks pasangan. Anggapan ini mungkin didasarkan pada jenis pornografi yang dikonsumsi, begitu kata riset yang mendapati bahwa laki-laki yang lebih sering menonton video porno kurang puas dengan kehidupan seksual mereka. Tapi sebaliknya, hipotesis ini terbukti sebaliknya di kalangan perempuan.

Hak atas foto Javier Hirschfeld
Image caption Satu studi mendapati mereka yang menonton video porno bersama pasangan merasa lebih berdedikasi dan lebih puas secara seksual

Peneliti menduga ini disebabkan perempuan punya kecenderungan menonton video porno bersama pasangan mereka, ketimbang menonton sendiri, dan laki-laki tipikalnya tidak banyak menonton aktivitas seks konsensual saat menonton seorang diri.

Studi lain mendapati bahwa mereka yang menonton video porno bersama pasangan mereka menyatakan merasa lebih berdedikasi dan lebih puas secara seksual dalam hubungan jika dibandingkan mereka yang hanya menonton sendirian.

KECANDUAN

Dari sekian banyak efek negatif yang dikaitkan dengan pornografi, kecanduan seks biasanya yang paling sering disebut-sebut.

Satu studi dari Universitas Cambridge menyamakan kecanduan pornografi dengan kecanduan obat, setelah mereka menemukan bahwa pemicu di otak bekerja dengan cara serupa.

Peserta penelitian laki-laki yang heteroseksual -separuh memiliki perilaku seksual kompulsif (CSB) dan separuh lagi tidak- diminta untuk memberi peringkat terhadap klip video seks dan non-seksual saat mereka dipasangi alat pemindai fMRIs. CSB, yang sering juga mendapat julukan kecanduan seks, punya obsesi dengan pikiran seksual, dorongan atau perilaku yang bisa menyebabkan orang tertekan dan terganggu pekerjaannya, hubungannya, dan berbagai bidang lain kehidupannya.

Hasilnya, tiga bagian di otak lebih aktif untuk peserta yang mengidap CSB, ini juga tampak saat orang yang kecanduan obat diperlihatkan dengan stimuli obat.

Mereka yang memiliki CSB dilaporkan mempunyai tingkat gairah yang lebih tinggi terhadap video seks eksplisit, tapi bukan berarti mereka menyukainya. Disosiasi antara gairah dan hal yang disukai konsisten dengan teori yang mendasari kecanduan obat, yang disebut motivasi insentif, dimana pecandu mencari barang yang menjadi candu sebab mereka menginginkannya dan bukan menikmatinya.

Tapi peneliti menyatakan, walau mereka menemukan bagian otak orang yang terdiagnosa CSB mirip dengan orang yang kecanduan obat, tapi tidak berarti teori bahwa pornografi sifatnya adiktif bisa dibuktikan.

Dinas Kesehatan Nasional Inggris NHS menyamakan kecanduan seks dengan kecanduan obat - dan menyatakan bahwa gangguan semacam ini melibatkan juga kebiasaan menonton video porno yang dirasa sudah berlebihan. Walaupun video porno bisa menjadi komponen dalam kecanduan seks, namun apakah pornografi bisa menyebabkan kecanduan tetap belum bisa dibuktikan.

PERILAKU SEKSUAL

Pornografi dikatakan bisa membuat pikiran orang lebih terbuka dan lebih nyaman dengan seks, tapi satu studi mengatakan pornografi justru bisa membuat orang terlalu nyaman.

Laki-laki homoseksual yang menyaksikan video porno yang lebih eksplisit secara seksual, dimana kondom tidak digunakan, cenderung tidak akan memakai kondom juga saat berhubungan seks, kata survei yang dilakukan terhadap 265 laki-laki. Kalau mereka melihat kondom dipakai di tayangan video porno, mereka cenderung akan memakainya juga.

Hak atas foto Javier Hirschfeld
Image caption Pornografi juga sering dikaitkan dengan persetubuhan

Kondom bukan barang populer di industri pornografi. Itu sebabnya banyak pemain film porno mendapat pemeriksaan penyakit menular seksual secara reguler.

Tahun lalu California menolak usulan yang mensyaratkan aktor video porno memakai kondom di setiap adegan seks, walau dikatakan ini penting untuk mencegah penyebaran penyakit menular seksual antar pemain video porno. Rencana ini dicemaskan akan menyebabkan industri pornografi malah bergeser ke negara bagian lain.

Pornografi juga dikaitkan dengan 'kemaksiatan,' dengan sejumlah bukti yang mengatakan bahwa menonton video porno berhubungan dengan kenaikan tujuh kali lipat kecenderungan orang melakukan seks kasual. Tapi ini rupanya hanya terjadi pada orang-orang yang kondisi psikologisnya sedang tidak bahagia.

Analisis data antara 2002 dan 2004 mengindikasikan bahwa mereka yang lebih banyak menyaksikan video porno punya pasangan seks lebih banyak dan lebih sering selingkuh. Dan, mereka juga punya kecenderungan menggunakan jasa pekerja seks.

Sama seperti studi lain terkait pornografi, hal ini belum terbukti. Sebab, tidak jelas apakah pornografi bisa mempengaruhi adanya perilaku semacam ini atau terjadi akibat adanya faktor lain.

PERILAKU TERHADAP PEREMPUAN

Pornografi sering menjadi kambing hitam karena dianggap memicu perilaku seksis dan melatari ekspektasi seksual yang tidak realistis. Banyak penelitian yang menunjukkan hasil yang bertolak belakang. Tapi ada satu penelitian yang coba mempelajari lebih jauh. Peneliti dari Universitas Kopenhagen dan UCLA menanyai 200 orang dewasa soal konsumsi pornografi dan melakukan penilaian kepribadian khususnya yang terkait seberapa ramah dan santai mereka.

Kepribadian semacam ini adalah satu dari lima kepribadian yang mengindikasikan seberapa altruistik, suka membantu, mudah percaya, dan seberapa sosial seseorang.

Setelah peserta menonton video porno di lab, peneliti mendapati kenaikan konsumsi pornografi berasosiasi dengan perilaku negatif terhadap perempuan, termasuk dalam hal stereotipe dan sikap memusuhi - tetapi hanya di kalangan laki-laki yang kurang ramah.

Hak atas foto Javier Hirschfeld
Image caption Pernyataan soal sebab dan akibat banyak muncul dalam penelitian tentang pornografi

KESIMPULANNYA?

Menonton video porno sering dikaitkan dengan banyak persoalan terkait individu dan masyarakat luas - tapi di saat penelitian lain menyudutkan posisi pornografi, penelitian lain justru memberi pembelaan. Seringkali pula, temuannya campur aduk dan metode riset serta ukuran sampel dari studi tersebut punya keterbatasan tertentu.

Akankah bisnis pornografi yang terus berkembang bisa mengakibatkan persoalan yang lebih besar? Terlalu dini untuk menyimpulkannya.

Pertanyaan soal sebab dan akibat sering terlontar terkait riset tentang pornografi: apakah pornografi membuat seseorang punya tendensi agresif secara seksual, khususnya bagi mereka yang sedang tidak bahagia dengan hubungan dengan pasangan, mereka yang sistem penghargaan diri di otaknya lebih kecil, dan mereka yang punya kecanduan seksual - atau justru pornografi adalah biang dari sederet masalah ini?

Persoalan tersebut masih sulit sekali diteliti - tetapi sampai ada jawaban yang lebih pasti, bukti-bukti yang ada selama ini menunjukkan bahwa efek negatif dari menonton video porno sangat bergantung pada individu yang mengonsumsinya.


Baca artikel lain dari BBC Future atau versi Bahasa Inggris artikel ini yang berjudul Is porn harmful? The evidence, the myths and the unknowns.

Topik terkait

Berita terkait