Ketika cedera otak mengubah kepribadian dari jelek menjadi baik

otak Hak atas foto ANDREW WINNING/AFP

Cedera otak tidak selalu menyebabkan perubahan kepribadian yang tidak diinginkan, menurut Christian Jarett.

Di dalam cerita romantis-komedi klasik tahun 80an, Overboard, karakter Goldie Hawn yang manja dan egois menderita cedera otak dalam kecelakaan kapal.

Bersamaan dengan hilangnya ingatannya, kecelakaan itu mengubah kepribadiannya menjadi positif - dia menjadi seseorang yang penyayang, penuh perhatian, dan tidak materialistis.

Suatu cedera otak yang dapat menyebabkan perubahan kepribadian semacam ini mungkin terdengar tidak masuk akal.

Namun, pertimbangkan kehidupan "Patient 3534", seorang perempuan yang melakukan pengangkatan tumor otak pada usia 70 tahun, menyebabkan kerusakan di bagian depan kedua sisi otaknya.

Menurut suaminya, yang telah mengenalnya selama 58 tahun, sebelum operasi dia mempunyai kepribadian yang "keras", sangat mudah tersinggung dan pemarah. Setelah operasi otak, menurut suaminya, dia menjadi "lebih bahagia, lebih sopan dan lebih ramah daripada sebelumnya".

Hak atas foto Hulton Archive

Patient 3435 bukan satu-satunya yang mengalami perubahan seperti itu. Sekarang ada bukti sejenis bahwa, setidaknya untuk sebagian kecil pasien, perubahan kepribadian yang menguntungkan adalah sebuah kenyataan, suatu pengetahuan yang pasti akan mendorong timbulnya suatu perspektif baru mengenai dampak kerusakan otak terhadap kepribadian.

Meskipun sudah lama diketahui bahwa kerusakan otak dapat mengubah kepribadian, naskah akademis hampir secara eksklusif berfokus pada gangguan kepribadian.

Misalnya saja kasus Phineas Gage yang terkenal di abad ke 19, tentang pekerja rel kereta api yang digambarkan oleh teman-temannya sebagai "bukan Gage lagi" setelah sebatang besi menembus otak depannya dalam suatu kecelakaan yang mengerikan.

Orang yang dulunya cerdas dan cerdik itu dikatakan telah menjadi agresif dan impulsif (walaupun menurut catatan modern, dia kemudian dapat mengatasi masalah ini dan memulai kehidupan baru sebagai kusir kereta kuda).

Hak atas foto NASA/Hulton Archive

Mirip dengan cerita Gage, ada banyak laporan lain tentang pasien yang mengalami kerusakan di bagian depan otak mereka, yang kemudian menunjukkan perilaku yang tidak sesuai (secara sosial tidak pantas), atau bahkan perilaku yang menjurus ke arah psikopat.

Tetapi gambaran negatif ini "hanya bisa menangkap sebagian ceritanya" menurut sebuah penelitian terbaru dalam jurnal Neuropsychologia.

Sebuah tim yang dipimpin oleh psikolog Marcie King di University of Iowa menemukan bahwa dari 97 orang pasien sehat yang sebelumnya menderita kerusakan permanen pada area khusus di otak mereka, 22 di antara mereka memperlihatkan perubahan kepribadian yang positif setelahnya.

Sekitar 54 orang mengalami perubahan kepribadian secara negatif dan sisanya tidak memperlihatkan perubahan apapun.

Pengamatan ini berdasarkan pertanyaan-pertanyaan yang diajukan dengan meminta seorang anggota atau teman dekat untuk menilai 26 aspek kepribadian mereka sebelum dan setelah cedera.

Hak atas foto Topical Press Agency/Hulton Archive

Penelitian sebelumnya telah menunjukkan tentang cara yang merusak wilayah otak tertentu terkadang menimbulkan efek positif.

Misalnya, sebuah penelitian di tahun 2007 terhadap para veteran Perang Vietnam, menemukan bahwa mereka yang mengalami kerusakan pada area yang dianggap berperan dalam gangguan pengembangan stres pasca trauma (wilayah yang terlibat dalam emosi dan pengambilan keputusan) cenderung tidak mengembangkan PTSD.

Penelitian serupa menemukan bahwa pasien-pasien dengan kerusakan di area yang penting untuk emosi, tidak terlalu mengalami depresi.

Namun, penelitian baru ini adalah yang pertama kali yang mendokumentasikan perubahan kepribadian ke arah positif yang lebih luas pada sekelompok besar pasien.

Sebagai contoh yang lain, ambillah "Patient 2410", seorang lelaki berusia 30 tahun yang membutuhkan operasi setelah menderita aneurisma otak. Berdua, dia dan istrinya, menjelaskan bagaimana, sebelum cedera, dia cepat tersinggung dan cepat marah, dan biasanya "muram". Pasca cedera, sebaliknya, dia tertawa dan bercanda, dan "lebih pasif dan santai".

Hak atas foto Hulton Archive

Jadi apa yang terjadi, bagaimana kerusakan otak bisa menimbulkan efek yang tidak terduga? Kemungkinan para pasien memperlihatkan peningkatan kepribadian tampaknya tidak terkait dengan jenis kelamin, umur, latar belakang pendidikan atau kecerdasaan.

Sebaliknya, apa yang sepertinya relevan adalah sejarah kepribadian yang sulit, seperti cepat tersinggung dan sifat-sifat negatif lainnya, dikombinasikan dengan pola kerusakan otak tertentu.

Untuk memahami hal ini lebih jauh, King dan para koleganya memindai otak semua pasien. Mereka menemukan bahwa mereka yang memperlihatkan peningkatan kepribadian lebih mungkin terjadi pada mereka yang mengalami kerusakan di bagian otak yang paling depan, wilayah bilateral frontal polar, yang penting untuk memahami perspektif orang lain dan mengambil keputusan.

Meski begitu, metoda-metodanya sangat eksploratif dan oleh karena itu para penulis mendesak beberapa kewaspadaan.

Hak atas foto Hulton Archive

Pendekatan mereka hanya memungkinkan mereka untuk menemukan pola yang luas antara kerusakan otak dan penampakan kepribadian, dan penelitian selanjutkan dapat membantu mengidentifikasi secara akurat area mana yang terkait dengan perubahan kepribadian tertentu.

Selain itu, sementara perubahan kepribadian untuk beberapa pasien dianggap positif, hal ini seharusnya tidak dilakukan untuk mengurangi betapa seriusnya cedera otak.

Pemulihan yang menyeluruh dari kerusakan otak yang parah sangat jarang terjadi, dan bahkan ketika seorang pasien tampak baik-baik saja, mereka mungkin mengalami tantangan tersembunyi yang tidak terselesaikan, seperti kesulitan mempelajari informasi baru.

Cedera otak dapat membuat seseorang menjadi rentan terhadap kondisi seperti dementia.

Hak atas foto Fox Photos/Hulton Archive

Oleh karena itu, tampaknya luar biasa bahwa kerusakan otak bisa mengakibatkan perubahan kepribadian yang bermanfaat.

Meski begitu, rasanya tidak terlalu aneh ketika Anda mempertimbangkan bahwa operasi otak kadang-kadang dipilih sebagai pilihan terakhir terhadap suatu penanganan psikologis modern, seperti obsessice compulsive disoreder.

Hal ini mengingatkan pada sejarah gelap "Psychosurgery", seperti yang diketahui, terutama karena penerapan yang berlebihan dari lobotomi frontal yang intensif oleh para ahli bedah seperti Walter Freeman di pertenganan abad ke 20.

Namun seperti yang dicatat oleh King dan para koleganya, teknik modern biasanya lebih hati-hati dan halus, dan tujuan mereka seringkali adalah untuk mengurangi sirkuit otak yang dianggap overaktif terhadap beberapa kondisi kesehatan mental (misalnya, ada bukti bahwa depresi terkait dengan koneksi yang berlebihan antara wilayah otak depan dan jaringan saraf lainnya yang terlibat dalam kognisi dan emosi).

Hak atas foto Hulton Archive

Bahwa otak dapat dengan sengaja dikejutkan dengan cara ini memberikan petunjuk bagaimana kerusakan otak kadang-kadang dapat menyebabkan perubahan yang bermanfaat.

Sebenarnya, beberapa rangkaian saraf menjadi target oleh psychosurgery modern berada di bagian otak yang sama yang rusak pada pasien yang menunjukkan perbaikan kepribadian pada penelitian terbaru King.

Penemuan terbaru ini juga melengkapi penelitian tentang dasar neurologis kepribadian, termasuk temuan bahwa ekstravert kurang sensitif terhadap stimulasi saraf, misalnya, atau bahwa orang yang sangat mudah setuju memperlihatkan lebih banyak aktivitas otak di wilayah yang terlibat dalam mengontrol emosi negatif.

Adalah hal yang logis dengan mengubah jenis pola-pola saraf, kerusakan otak kadang-kadang menghasilkan keuntungan yang paradoks.

Hak atas foto General Photographic Agency/Hulton Archive

Meski begitu perlu diulang lagi, bahwa cedera otak, termasuk gegar otak ringan harus selalu ditangani dengan sangat serius. Bahkan dalam kasus yang sangat jarang terjadi dari sesuatu yang tampaknya efek samping yang menguntungkan, kesulitan-kesulitan akan hampir selalu menjadi bagian dari gambaran klinis.

Dan sementara perubahan kepribadian yang positif tampaknya dapat diterima, ingatlah bahwa kepribadian kita mencerminkan esensi dari diri kita - mungkin akan mengganggu para pasien, dan teman-teman mereka serta keluarga, untuk menyesuaikan diri dengan perubahan kepribadian, sekalipun perubahan yang positif.

Konon, perubahan kepribadian yang positif mungkin terjadi, menunjukkan bahwa cerita tentang apa yang terjadi setelah kerusakan otak lebih kompleks dan mengejutkan daripada yang kita sadari.

Versi bahasa Inggris tulisan ini When personality changes from bad to good dan artikel-artikel lain sejenis bisa Anda baca di BBC Future.