Akankah kita bisa mengendalikan cuaca dengan satelit?

BADAI Hak atas foto RGB Ventures / SuperStock

Bagaimana seandainya jika kita bisa menghentikan badai sebelum terjadi, dengan menggunakan satelit? BBC Future mencoba menyelidiki berbagai kemungkinannya.

Dari film fiksi ilmiah Star Trek hingga serial kartun futuristik The Jetsons, salah satu yang diyakini sebagai capaian besar sebuah peradaban di masa depan adalah kemampuan mengendalikan cuaca.

Bahkan, di film teranyar, Geostorm, manusia diceritakan sudah menciptakan satelit yang bisa mencegah terjadinya badai besar.

Seiring berjalannya waktu dan banyaknya badai yang menghujam bumi tahun lalu, kemampuan untuk mengendalikan cuaca terasa semakin mendesak untuk dikuasai. Namun, apakah mungkin kita memanipulasi cuaca dari ruang angkasa?

Konsep mengubah cuaca sebenarnya bukanlah hal baru. Seperti yang dilaporkan BBC Future tahun 2014 silam: ilmuwan telah bertahun-tahun menggunakan pesawat untuk merekayasa cuaca.

Pada 1962 hingga 1983, pemerintah Amerika Serikat menjalankan Proyek Stormfury, yang berupaya melemahkan kekuatan badai dengan menerbangkan pesawat terbang masuk ke pusat badai dan menebar Iodide Perak,

Iodide Perak adalah bahan non-organik yang biasa digunakan sebagai antiseptik. Bahan ini akan membuat 'air super dingin' pada badai, membeku. Hasilnya, struktur badai pun terhenti dan hancur.

Hak atas foto Warner Brothers
Image caption Film Geostorm menceritakan bagaimana satelit pengatur cuaca yang malah mengakibatkan bencana di bumi.

Namun, teknik tersebut tidak lagi digunakan, ketika terungkap bahwa badai tidak selalu mengandung materi 'air super dingin', sehingga Iodide Perak tidak akan selalu efektif juga.

Isu lain adalah soal ukuran. "Pesawat kecil tidak akan begitu berpengaruh menghentikan gejolak badai yang tersebar berkilo-kilometer," ungkap Chris Bell, seorang dosen meteorologi di Universitas East Anglia, Inggris.

Teknik yang kemudian dipertimbangkan untuk digunakan adalah laser. Laser disebut akan digunakan untuk membekukan badai, bukan memanaskannya.

Proses menggunakan laser ini disebut Jean-Pierre Wolf dari Universitas Jenewa akan berujung dengan terbentuknya awan, yang akan memicu petir. Kejutan di atmosfer karena petir ini akan membuat energi badai beralih menjadi hujan biasa.

Meskipun begitu, masalah yang dialami metode laser, serupa dengan metode Iodide Perak: soal ukuran. Harus sebesar apa penembak laser dimiliki hingga efektif untuk meredakan badai yang luar biasa tersebar puluhan kilometer?

Image caption Banyak yang khawatir kemampuan mengendalikan cuaca akan digunakan sebagai senjata.

Lalu muncullah satelit, yang juga punya masalahnya sendiri.

Tidak hanya membutuhkan teknologi yang memonitor cuaca, satelit juga harus terus menjaga orbitnya dan mengangkut berbagai peralatan memanipulasi cuaca, yang tentunya tidak ringan dan tidak murah.

"Membawa peralatan tersebut ke satelit tentu butuh upaya besar. Dan memastikan alat-alat tersebut berfungsi dengan baik ketika sampai di ruang angkasa, juga merupakan pertaruhan besar," kata Andreas Lindenthal, salah satu petinggi AG, yang juga adalah penggemar berat kisah-kisah fiksi ilmiah.

Jika konsep yang digunakan satelit tetap dengan memasukkan materi kimia tertentu, mengirim persediaan barang ke satelit juga harus jadi pertimbangan. Dan jelas, untuk melakukan ini, secara ekonomi juga bukanlah hal yang murah. "Akan sulit dan tidak efisien," ungkap Lindenthal.

Lebih jauh lagi, menjatuhkan atau menembakkan materi pemanipulasi cuaca dari satelit juga dikhawatirkan malah akan membuat satelit keluar orbit. Selain itu, juga sangat sulit untuk mengarahkan materi tersebut jatuh tepat di pusat badai.

Image caption Saat Perang Vietnam, Amerika mengganggu kesiapan tentara Vietnam dengan meningkatkan curah hujan.

Rasanya jauh lebih mungkin dilakukan, jika yang digunakan pada satelit untuk meredam badai adalah laser. Laser tidak perlu materi tambahan yang harus dikirim dari bumi. Kebutuhan energinya bisa dipenuhi dengan panel surya.

"Sudah banyak contoh laser yang digunakan dalam waktu singkat, sehingga operasinya tidak perlu dana terus-menerus," ungkap Lindenthal.

Namun, tetap ada kekhawatiran: apa yang akan terjadi pada satelit pengontrol cuaca jika terjadi badai matahari besar? Badai matahari terbesar yang pernah dicatat, terjadi pada 1859. Jika peristiwa serupa terjadi lagi, maka satelit cuaca bisa saja hilang dan hancur.

Akibatnya bahkan bisa sangat mengerikan, seperti di film Geostorm.

Dan cuaca ternyata bukan hanya soal keselamatan. Manipulasi cuaca bisa juga berujung politis. Ingat saat Perang Vietnam, ketika Amerika Serikat melaksanakan Operasi Popeye, merusak konsentrasi tentara Vietnam dengan menurunkan hujan lebat, dengan memodifikasi materi di awan.

Dengan pengungkapan fakta sejarah itu, dunia internasional telah melarang penggunaan manipulasi cuaca dengan tendensi politik dan merugikan lawan politik.

Melihat kenyataan itu, kita sebenarnya sudah pernah mengontrol cuaca, memanipulasi kondisi, yang kini lebih diakibatkan oleh gas rumah kaca dan pemanasan global. Dampaknya tidak hanya pada satu area polutif saja, tetapi ke seluruh dunia.

Image caption Meskipun mungkin, teknologi untuk mengontrol cuaca diprediksi baru akan terwujud dalam jangka waktu yang masih panjang.

Alhasil, upaya untuk mengontrol cuaca juga memerlukan skala global. Diperlukan kesepakatan internasional, karena memanipulasi dan meredam badai di satu tempat, bisa mendorong munculnya badai di tempat lain.

Pendek kata, hingga saat ini, mengontrol cuaca seperti yang kita idam-idamkan, belum bisa dilakukan - terlalu mahal, dan menggunakan sangat banyak sumber daya manusia.

"Namun, peneliti terus melakukan riset untuk menciptakan laser yang paling efisien agar bisa dibawa mengorbit dengan satelit," tutur Lindenthal. "Menurut saya, ini tinggal menunggu waktu."

"Kita suatu hari pasti punya teknologi yang bisa mengontrol cuaca," tambah Bell, "tetapi itu baru akan terjadi ribuan, bukan ratusan ya, tapi ribuan tahun yang akan datang."

Anda bisa membaca versi asli artikel ini dalam Bahasa Inggris dengan judul Will we ever have satellites that can control the weather? di BBC Future.

Berita terkait