Perahu Pustaka yang berlayar untuk anak-anak di Sulawesi

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption Perahu Pustaka yang membawa ribuan buku ke pulau-pulau di Sulawesi Barat ini dipelopori oleh Muhammad Ridwan Alimuddin.

Seorang nakhoda perahu memposisikan kemudinya. Pelaut kedua menyeimbangkan kaki telanjangnya pada sebuah cadik, 'membujuk' mesin tua perahunya agar hidup. Sedangkan, pelaut ketiga mendorong perahu tersebut dengan galah untuk meninggalkan pantai yang berserakan sampah.

Di Sulawesi Barat, perpustakaan 'berpindah-pindah' pertama tersebut sedang berlayar menuju tempat tujuannya.

Perahu Pustaka sangat dibutuhkan. Pada studi baru-baru ini di 61 negara, Indonesia menempati peringkat kedua negara terburuk dalam hal melek huruf, hanya satu peringkat di atas Botswana.

Lebih dari 10% penduduk dewasa di Sulawesi Barat tidak bisa membaca, sementara di banyak desa lainnya di kawasan tersebut, satu-satunya buku yang tersedia adalah salinan Al Quran.

Jadi, tahun 2015 wartawan lokal Muhammad Ridwan Alimuddin memutuskan untuk menggabungkan dua kegemarannya, yaitu buku dan perahu, dengan membuat perpustakaan berjalan di sebuah perahu tradisional baqgo, begitulah orang Mandar menyebutnya.

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption Kecintaannya terhadap perahu dan buku membuat Alimuddin mencetuskan ide membuat Perahu Pustaka.

Apa tujuannya? Untuk membawa buku-buku anak yang menyenangkan dan berwarna-warni ke desa nelayan terpencil dan pulau-pulau kecil di kawasan dengan angka melek huruf yang rendah dan kegemaran membaca yang tidak ada.

Dia mengajarkan suka citanya membaca.

"Segera setelah perahu dibuat, saya mengirim email ke bos saya untuk mengundurkan diri," ujarnya. Bukan berarti perahu tersebut adalah batas ambisi Alimuddin untuk membentuk perpustakaan.

Dia juga sudah membentuk sebuah perpustakaan tetap di kampung halamannya di Pambusuang di pesisir pantai Sulawesi Barat dan terdapat ribuan buku, yang membuat banyak siswa dari SMA setempat bahkan mahasiswa universitas maupun kawanan anak desa datang ke perpustakaan tersebut.

Alimuddin mempunyai sepeda motor dan becak untuk mengirim buku-buku lewat jalan darat. Dia juga mempunyai ATV atau sepeda motor empat roda yang digunakan untuk menjangkau desa-desa pegunungan terpencil, beberapa di antaranya hanya bisa dicapai dengan menyeberangi sungai-sungai dengan naik rakit bambu.

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption Perahu Pustaka membawa berbagai jenis buku untuk segala umur.

Namun, perpustakaan perahu lah yang paling dekat di hati Alimuddin.

Kendati dia tidak pernah menyelesaikan kuliahnya di bangku universitas, dia telah menulis 10 buku tentang kultur maritim dan membantu 'melayarkan' kerajinan tangan miniatur perahu tradisional, pakur, dari Sulawesi ke Okinawa di Jepang.

Kecintaannya pada laut dapat terlihat di museum bahari miliknya, berisi kumpulan perahu dan perahu-perahu antik, yang berbagi ruang dengan perpustakaannya.

Dan dia menggunakan perahu untuk perjalanan lautnya -yang artinya menghabiskan waktu hingga 20 hari di laut- untuk melakukan riset dan membuat dokumentasi YouTube tentang kehidupan berlayar dan menangkap ikan oleh warga asli sukunya yaitu suku Mandar.

Sejak 2015, Alimuddin telah melakukan perjalanan silang-menyilang antara Sulawesi Selatan, Tengah, dan Barat, dengan membawa kotak-kotak berisi buku-buku dan komik-komik, yang berjumlah 4.000 eksemplar dari perpustakaan tetapnya kepada anak-anak di komunitas terpencil dengan sesering mungkin jika anggarannya mengizinkan.

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption Sekarang anak-anak di desa-desa terpencil dapat menerima akses bahan-bahan bacaan.

Kadang-kadang putra kecilnya, yang menjalani pendidikan rumah (home-schooled), juga ikut serta.

Saat kami mendekati desa peternakan kerang, desa Mampie, di pesisir pantai Sulawesi Barat, kawanan anak-anak muncul dari balik pepohonan palem untuk menonton perpustakaan perahu bersandar.

Warga lainnya lain menghentikan kerja keras dan pekerjaan berulang-ulang mereka yakni mengupas kerang, ketika Alimuddin, seorang sukarelawan dari kampung halamannya dan tiga awak mereka membuka gulungan tikar plastik dan menaruh buku-buku di atasnya.

Anak-anak yang bergembira langsung 'terjun ke dalam lautan' buku-buku tebal berwarna cerah, sedangkan ibu-ibu mereka -beberapa di antaranya sambil menggendong bayi- lebih berhati-hati.

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption Perahu Pustaka biasanya membawa 4.000-an buku.

"Kami mempunyai harapan yang rendah," kata Alimuddin. "Kami ingin mereka menggunakan buku-buku tersebut, itu saja," lanjutnya.

Dengan lebih dari 17.000 pulau bertebaran di sekitar samudra Hindia dan Pasifik -beberapa terlihat dari Filipina, yang lainnya dekat Australia atau berhadapan dengan Singapura- maka pendidikan di Indonesia adalah suatu perjuangan yang berkelanjutan.

Meskipun ada banyak SD, bahkan di pulau-pulau kecil dan di desa-desa terpencil, fasilitas yang ada sering kali sudah lapuk. Sumber-sumber belajar dan guru-guru susah didapatkan. Bukan tidak umum lagi, para guru yang 'tersekat' oleh kendala-kendala sosial dalam kehidupan pulau, tak bekerja di sana.

Setelah tiga jam di Mampie menonton anak-anak 'melahap' buku-buku, kami pun berkemas-kemas dan berlayar untuk menuju ke pulau seberang yaitu pulau Battoa yang dihuni sekitar 2.000 orang yang tersebar di antara beberapa desa.

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption Alimuddin hanya ingin anak-anak di pelosok-pelosok Sulawesi Barat dapat menggunakan buku-buku tersebut.

Perahu Pustaka berlabuh di pepohonan bakau dan ditambatkan di timbunan buangan kulit kerang, Alimuddin bersusah payah berjalan menuju daratan untuk mencari anak-anak.

Di bawah pepohonan, buku-buku pun dikeluarkan, ada komik, kartun, buku-buku tentang mesir kuno, dinosaurus, sains, ikan lumba-lumba, putri-putri, pahlawan Indonesia dan dongeng-dongeng dari Al-Quran.

Dalam hitungan detik, 20-an anak muncul dari pedalaman. Komik-komik laku keras, begitu juga buku-buku bergambar dengan warna-warna cerah yang ditulis sebagian dalam bahasa Indonesia dan sebagian dalam bahasa Inggris yang tak sempurna.

Alimuddin menjalankan perpustakaannya tersebut seluruhnya dari dukungan sumbangan-sumbangan, sebagian dari rekan-rekan bisnisnya, sebagian lain dari teman-temannya, dan selebihnya dari orang-orang yang melihat kegiatannya di media sosial.

Seorang penyumbang baru-baru ini memberikan beberapa jigsaw puzzle (teka-teki potongan-potongan gambar yang dimainkan untuk disusun) yang dia gunakan sebagai hadiah-hadiah untuk memotivasi pembaca agar berdiskusi tentang buku-buku.

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption Kedatangan Perahu Pustaka selalu disambut suka cita oleh anak-anak.

Kami berlabuh semalam di sebuah pulau pasir putih yang mencolok tidak jauh dari Battoa, yang dihuni oleh sekelompok kucing-kucing liar, makan malam sederhana dan memandang matahari terbenam yang menakjubkan. Karena dekat dengan garis khatulistiwa, pada malam hari cukup hangat bagi kami untuk tidur di geladak perahu.

Jauh sebelum pukul 07.00 pagi, kami sedang dalam perjalanan ke sekolah desa di pulau Tangnga, beberapa kilometer di bagian timur Battoa, tempat siswa-siswi cilik dengan seragam rapinya menunggu kedatangan guru-guru mereka dari pulau besar.

"Kita hanya berada 3 km dari ibu kota wilayah Polewali," kata Alimuddin sambil berisyarat menunjuk pada bangunan-bangunan reyot dengan perabotan yang rusak, tak ada buku maupun karya seni, "Dan Anda bisa lihat kan?" sambungnya.

Hak atas foto Theodora Sutcliffe
Image caption "Sewaktu kita melihat seorang bocah tersenyum dan membuka buku, segala masalah kita hilang," kata Alimuddin.

Anak-anak menyerbu kumpulan buku-buku lalu berkumpul di kelompok-kelompok kecil di bawah pepohonan bambu. Terdengar suara-suara kecil bersenandung membaca buku-buku. Beberapa di antaranya membacakan cerita kepada adik-adik mereka, beberapa membaca sendiri.

"Sewaktu kita melihat seorang bocah tersenyum dan membuka buku, segala masalah kita hilang," kata Alimuddin sambil tersenyum.

Versi bahasa Inggris artikel yang ditulis oleh Theodora Sutcliffe ini bisa Anda baca di A library that brings books by sailboat di laman BBC Travel.

Topik terkait