Penambang emas di Peru bekerja ‘tanpa bayaran’

Peru Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Suhu ekstrem senantiasi mengancam kehidupan di lokasi pertambangan.

Para pria berkerumun di daratan yang keji dan tanpa hukum ini, kadang-kadang mereka bersama seluruh anggota keluarga, dalam pencarian peruntungan yang akan memberi kehidupan lebih baik.

Dunia para lelaki

Di pegunungan Andes (atau juga dikenal sebagai Andean) di Peru selatan dengan ketinggian lebih dari 5.000 meter, ada kota pertambangan emas, La Rinconada, yang merupakan permukiman tertinggi yang dihuni manusia di muka Bumi.

Tempat ini dikenal dengan sebutan 'daratan para lelaki' karena kondisi kerja yang berat yang dihadapi oleh para pria.

Kota tersebut menarik perhatian para pekerja dari seluruh kawasan Andean untuk mencari peruntungan. Beberapa dari mereka dapat mengatasi cuaca dingin yang ekstrem dan lingkungan pegunungan. Sementara itu, mereka juga menghadapi panas dan kelembaban di terowongan-terowongan pertambangan yang dapat hampir tak tertahankan.

Mencari nasib baik

Selama lebih dari beberapa dekade yang lalu, ribuan pria telah pindah ke pegunungan ini dari kota-kota kecil di seluruh kawasan Peru untuk mencoba peruntungan. Beberapa di antara mereka sudah tinggal di sana selama 20 tahun.

Lebih dari 100 ton hasil tambang dikeluarkan dari tambang-tambang tersebut tiap tahunnya dan lonjakan harga emas menyebabkan jumlah populasi kota tersebut berlipat ganda selama kurun waktu lima tahun menjadi sekitar 50.000 orang.

Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Jalan-jalan berlumpur banyak dijumpai.

Kehidupan keras

Ada sedikit kenyamanan di La Rinconada. Jalanan-jalanan di sana selalu berlumpur dari salju yang mencair, tidak ada air mengalir, maupun sistem pembuangan air atau kakus umum. Bahkan danau-danau terdekat, tempat penduduk sekitar mengumpulkan air, juga tercemar oleh buangan zat merkuri yang digunakan untuk memisahkan emas dari bebatuan.

Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Layanan dasar tak tersedia di kawasan pertambangan yang terletak di atas pegunungan ini.

Kondisi kesehatan yang minim

Setiap hari, para penambang berjalan sepanjang satu kilometer di jalanan sempit yang menghubungkan kota dengan tambang-tambang di pegunungan terdekat. Sampah-sampah berserakan di sepanjang jalan tersebut karena tidak ada pelayanan dasar seperti pemungutan sampah.

Oleh karena kondisi kurang sehat seperti itu dan juga cuaca buruk, masalah pernafasan akut serta penyakit infeksi diare umum terjadi.

Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Kelembaban di terowongan berdampak buruk bagi kesehatan pekerja.

Bekerja secara cuma-cuma

Para penambang bekerja dalam sistem buruh tradisional yang dinamakan cachorreo, di mana mereka bekerja selama 30 hari tanpa bayaran untuk perusahaan pertambangan, diikuti dengan satu atau dua hari menambang emas untuk mereka sendiri.

Bukan hal tidak biasa lagi bagi para penambang yang selesai bekerja tanpa memperoleh apapun. Tapi, meskipun dengan taruhan tinggi, upaya yang dilakukan baru-baru ini untuk perbaikan sistem cachorreo ke dalam sistem model penggajian nasional di Peru sangat ditentang oleh para penambang itu sendiri.

Sistem cachorreo memberikan peluang lebih besar untuk memperoleh uang, apalagi peluang untuk menyelundupkan emas dari tambang pada waktu mereka bekerja tanpa bayaran.

Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Tak banyak kegiatan lain di kawasan permukiman penambang.

Kawasan tanpa hukum

La Rinconada menawarkan pemasukan ekonomi dengan sedikit pilihan untuk mengeluarkan uang, selain ke kedai minum atau ke tempat ajojing yang banyak sekali, juga penari telanjang dan pelacur.

Tidak ada penegakan hukum yang didirikan sehingga menyebabkan seringnya kasus orang-orang mabuk di tempat umum dan bahkan penikaman, karena para penambang berkelahi atas alasan perempuan.

Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Kadang-kadang, seluruh anggota keluarga terlibat dalam mencari peruntungan.

Perempuan-perempuan di pertambangan

Ada sebuah komunitas perempuan di sini yang bekerja sebagai pallaqueras, sebutan di daerah setempat untuk kelompok-kelompok perempuan yang menyortir bebatuan yang tak diinginkan dan puing-puing yang dibuang di luar tambang emas.

Mereka mencari potongan-potongan emas kecil yang mungkin terlalaikan atau tak sengaja terlewatkan oleh para penambang.

Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Perempuan juga terjun di area dekat pertambangan.

Mengais di puing-puing

Berjumlah sekitar 700 orang, para pallaqueras ini -yang kebanyakan ibu-ibu tanpa suami, janda, dan istri penambang- memukul-mukul bebatuan dengan palu selama delapan jam tiap hari atau tergantung pada kekuatan mereka. Mereka tidak diperbolehkan untuk masuk ke tambang karena dipercayai akan membawa kesialan.

Hak atas foto Sebastian Castañeda
Image caption Para pekerja bermain sepak bola ketika tidak menambang.

Sepakbola yang menggigil

Karena rerumputan tidak tumbuh di kawasan tinggi ini, para penambang bermain sepak bola di lapangan dengan rumput sintetis. Lingkungannya berat.

Orang-orang yang datang ke dataran tinggi tersebut menghadapi berbagai bentuk 'sakit mabuk gunung' di mana mereka mengalami keletihan, sakit kepala, pusing, mual, dan insomnia (susah tidur).

Dikatakan bahwa pertambangan La Rinconada 'membunuh' para pekerja dengan cepat karena kecelakaan dan tertimbun di tambang, juga meninggal secara pelan-pelan karena masalah kesehatan parah dari kondisi hidup yang buruk.

Tapi, para pria tetap terus berkerumun di sini, kadang-kadang ditemani oleh seluruh keluarga mereka dalam pencarian peruntungan yang akan memberikan mereka kehidupan lebih baik.

Versi bahasa Inggris artikel yang ditulis oleh Sebastian Castañeda ini bisa Anda baca di The gold miners who work for freedi laman BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait