Anak-anak di Myanmar yang menjalani hidup sebagai biksu

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Menjadi calon biksu adalah sebuah kehormatan besar bagi keluarga di Myanmar.

Walaupun masih susah menyebut nama mereka sendiri, bayi-bayi yang masih mengenakan popok sudah dapat menjalani ajaran biksu dan memasuki biara Buddha di Myanmar.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Anak-anak mulai umur 18 bulan sudah dapat menjalani kehidupan sebagai calon biksu.

Keyakinan adalah hadiah yang paling agung

Di Myanmar, menjadi calon biksu adalah kehormatan besar bagi keluarga. Ini adalah adat bagi setiap anak laki-laki untuk memasuki wihara Buddha, dimulai dengan upacara inisiasi yang dikenal dengan nama Shin Pyu, di mana anak-anak mulai umur 18 bulan sudah dapat mengikutinya.

Praktik adat ini berasal dari kisah anak Buddha, Rahula, berabad-abad lalu yang datang untuk mencari kekayaan materi ayahnya sebagai warisan tapi sebaliknya dia diberikan hadiah yang lebih besar yaitu dipersilakan masuk ke dalam wihara.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Calon biksu bangun pagi pukul 04.00 setiap hari untuk bersembahyang.

Hidup yang penuh dengan disiplin

Calon biksu belajar keras di wihara, bangun pagi pada pukul 04.00 pagi untuk bersembahyang sebelum pergi untuk mengumpulkan sedekah, siang harinya dihabiskan di ruang kelas untuk mempelajari kitab suci dan mata pelajaran akademis.

Salah satu dari tantangan-tantangan terbesar untuk anak laki-laki yang sedang dalam masa pertumbuhan adalah berpuasa setiap hari mulai dari tengah hari hingga senja.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Anak-anak usia sekolah dianjurkan oleh keluarga untuk tinggal di wihara untuk mengambil pendidikan gratis.

Anak perempuan tidak diperbolehkan

Calon biksu dapat tinggal di wihara sejak mereka berumur satu minggu, walaupun beberapa di antaranya akan menetap di sana selama bertahun-tahun.

Calon biksu yang masih sangat kecil tinggal di sana dengan orang tua mereka, dan hanya menghadiri upacara-upacara saja.

Tapi, anak-anak usia sekolah dianjurkan oleh keluarga-keluarga yang lebih miskin untuk ikut mengambil keuntungan dari pendidikan gratis.

Jika ada keluarga yang tidak memiliki keturunan laki-laki, mereka bisa memilih untuk menginisiasi anak laki-laki yang orang tuanya tidak memiliki cukup uang untuk membayar upacara-upacara mewah.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Februari, Maret, dan April adalah bulan-bulan populer untuk ikut upacara Shin Pyu.

Prosesi agung

Upacara Shin Pyu dapat berlangsung hingga dua hari dan melibatkan prosesi agung melewati kota-kota atau desa-desa. Februari, Maret, dan April adalah bulan-bulan yang populer, pada saat itu kebanyakan petani telah memperoleh dana yang cukup dari hasil panen mereka untuk membayar tontonan besar tersebut.

Dalam foto di atas, iring-iringan di jalan berdebu tersebut berada di pinggiran pedalaman Bagan, sebuah kota candi kuno di Myanmar tengah.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Di daerah pedalaman, bayi-bayi seumur 18 bulan sudah ikut upacara pemberkatan agama.

Tidak ada batasan umur

Kebanyakan anak laki-laki menjadi calon biksu antara umur lima sampai 15 tahun, tapi di daerah pedalaman di mana angka kematian bayi lebih tinggi, bayi-bayi seumur 18 bulan sudah ikut upacara-upacara untuk diberikan pemberkatan agama.

Sering kali, bantuan diperlukan untuk menjaga mereka tetap duduk aman di atas kuda.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Dulu, calon biksu diarak dengan naik gajah atau tandu. Tapi, sekarang lembu yang populer di pedesaan dan kuda yang lebih sering digunakan di perkotaan.

Transportasi berwarna-warni

Pada masa lalu, calon biksu diarak dengan menaiki gajah atau tandu (usungan rumah-rumahan kecil atau kursi yang dipanggul oleh empat orang).

Saat ini, lembu yang populer di daerah pedalaman dan kuda yang lebih sering digunakan di kota-kota. Jika orang tua memiliki sedikit uang, mereka mungkin memilih untuk memanggul 'pangeran kecilnya'.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Calon biksu berpakaian seperti keluarga raja karena menghormati kisah Rahula.

Berpakaian layaknya raja cilik

Menghormati kisah Rahula, calon biksu berpakaian seperti keluarga raja dengan mahkota kecil atau hiasan kepala, berselempang emas dan bersepatu beludru, dengan seorang pengiring yang melindunginya dari sinar matahari dengan payung bersulam.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Anak-anak perempuan juga ambil bagian mengikuti prosesi ini.

Anak-anak perempuan memainkan peran mereka

Keluarga dan anak-anak perempuan mengikuti prosesi dengan membawa nampan bermacam-macam makanan, bunga teratai, dan hadiah-hadiah seperti gelas minuman dan kotak-kotak hadiah.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Setelah selesai arak-arakan, para calon biksu berkumpul di wihara atau di tempat bernama pandal.

Saat perayaan berakhir

Perjalanan berakhir kalau tidak di wihara atau tempat khusus yang dibangun dan dikenal dengan nama pandal, di mana ada tari-tarian dan nyanyi-nyanyian.

Di sini, rambut calon biksu dicukur dan dikumpulkan serta dibungkus dengan kain putih sebagai lambang lepasnya dari kesenangan duniawi.

Anak-anak laki-laki lalu harus membaca sebuah permohonan untuk mendapatkan akses ke ordo Buddha dan dengan sedikit perubahan, mereka yang belum bisa membaca, mengandalkan pada orang tua mereka untuk meminta permohonan.

Hak atas foto Renato Granieri
Image caption Begitu mencapai usia dewasa, mereka dapat memutuskan apakah ingin meneruskan menjadi biksu atau tidak.

Jalan menuju kehidupan biksu

Begitu upacara selesai, calon biksu berganti pakaian dengan mengenakan jubah warna merah tua dan masuk ke wihara setidaknya selama seminggu.

Begitu mencapai usia dewasa (umur 20-21 tahun), mereka dapat memutuskan apakah mereka ingin menjadi biksu yang dinobatkan sepenuhnya.

Myanmar, negara di mana 90% dari 56 juta penduduknya mempraktikkan ajaran Buddha, maka banyak dari mereka yang meneruskan kehidupan di wihara.

Versi bahasa Inggris artikel yang ditulis oleh Sarah Marshall ini bisa Anda baca di Burma's Buddhist baby monks di laman BBC Travel.

Berita terkait