Kegunaan baru bekas istana Saddam Hussein di Irak

Irak, Saddam Hussein Hak atas foto Getty Images
Image caption Bekas istana Saddam Hussein diubah menjadi museum di Irak.

Kapankah pembukaan suatu museum bisa menarik perhatian dunia? Ketika itu di Irak, di Istana Lakeside yang dahulu dimiliki oleh Saddam Hussein.

Waktu Yazan Fadhli mengenalkan dirinya kepada orang-orang dan menyebut bahwa dirinya berasal dari Irak, spontan memunculkan berbagai pertanyaan di benak orang-orang, yaitu tentang organisasi yang menyebut diri ISIS, kekerasan sekte-sekte, senjata-senjata kimia, dan bom-bom mobil.

Namun, daerah asal dia dianggap sebagai tempat lahirnya peradaban, ilmu matematika, astronomi, dan obat-obatan. Ini karena gelombang demi gelombang kedatangan kerajaan-kerajaan kuno, dikenal karena kontribusi mereka dalam ilmu pengetahuan, seni dan arsitektur.

"Irak secara historis penting untuk banyak alasan, tapi di daftar alasan teratas adalah karena negara ini meliputi daerah-daerah di mana beberapa peradaban paling awal muncul," kata Seth Cantey, profesor ilmu politik di Universitas Washington dan Lee di Lexington, Virginia, Amerika Serikat.

Dia menambahkan bahwa "Irak dulunya ada di antara pusat-pusat paling terkemuka dalam pembelajaran global."

Tapi, itu bukan seperti yang dilihat oleh kebanyakan orang di seluruh dunia tentang negara yang telah menjadi berita utama selama berpuluh-puluh tahun.

"Karena perang-perang yang kami alami sejak 1980… media dan pemerintah Amerika Serikat lebih fokus pada sisi buruk negara ini dan tidak pernah memperlihatkan sejarahnya," kata Fadhli, yang lahir di Baghdad dan bekerja dengan tentara AS sebagai penerjemah di kota tersebut sebelum pindah ke AS pada 2008.

Sebuah museum baru dibentuk untuk mengubah semua pemberitaan tersebut.

Terletak di kota yang kaya minyak, Basra, di Irak selatan dan penuh dengan peninggalan-peninggalan kuno dari kekayaan sejarah negara tersebut, Museum Basra yang dibuka pada 27 September 2016 adalah museum pertama yang dibuka di negara tersebut semenjak berpuluh-puluh tahun yang lalu.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Museum Basra, bertempat di bekas istana Saddam Hussein, baru saja dibuka untuk umum.

Tapi, lokasi museum tersebut yang juga menjadi berita utama, yaitu di Istana Lakeside yang dulunya milik Saddam Hussain, sebuah struktur tiruan Rokoko yang merupakan salah satu dari hampir 100 hunian mewah mantan diktator tersebut yang dibangun semasa pemerintahannya.

Qahtan al-Obaid, direktur museum tersebut mengatakan kepada kantor berita AP dia dengan sengaja memilih lokasi tersebut untuk "mengganti nuansa-nuansa kediktatoran dan kezaliman dengan peradaban dan perikemanusiaan."

Museum tersebut merupakan puncak dari proyek yang digarap selama delapan tahun untuk menceritakan sejarah Irak selatan dan membantu mencetuskan kebangkitan kultur di Basra.

Akibat kekurangan dana, maka hanya satu pameran yang telah dibuka, yaitu sebuah galeri yang memajang artefak-artefak yang berumur lebih dari 2.000 tahun, seperti koin-koin perak yang dibuat di Basra, barang-barang tembikar, peti mati-peti mati, dan berbagai ubin.

Ketika selesai, museum tersebut akan mencakup tiga ruang lagi dengan memamerkan 3.500-4.000 benda dari masa peradaban negara-negara kuno -yang kini adalah Irak- seperti Babilonia, Asyur, Sumeria dan periode Islam.

Meskipun pembukaannya merupakan suatu keberhasilan, al-Obaid harus mengatasi banyaknya tantangan untuk mencapai sampai titik ini.

Karena baru-baru ini pada April, kelompok milisi Syiah mengancam untuk menyita bekas Istana Lakeside tersebut, yang mana di sana masih terdapat sisa-sisa bom-bom mobil saat pasukan Inggris menggunakannya sesaat sebagai ruang berkumpul para prajurit setelah invasi tahun 2003.

Dan selama berpuluh-puluh tahun di bawah pemerintahan otoriter, invasi dari negara asing, perang sektarian, dan yang terjadi baru-baru ini munculnya ISIS, maka telah meninggalkan 'bopeng-bopeng' dari bom di Irak.

Kekerasan yang terjadi telah mengakibatkan peninggalan-peninggalan sejarah hilang, infrastruktur hancur, dan tidak ada lembaga-lembaga sipil.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Sampai saat ini hanya satu pameran yang dibuka yang memajang artefak-artefak berusia 2.000 tahun.

Setelah tentara Inggris meninggalkan Irak pada 2008, al-Obaid dan orang-orang Irak lokal lainnya bertahun-tahun melakukan kampanye, birokrasi, dan penggalangan dana untuk menjadikan istana tersebut menjadi museum.

Ada fitur-fitur baru tertentu, seperti pintu-pintu besi tebal dipasang di pintu masuk tiap-tiap galeri yang bisa tertutup secepatnya jika ada orang yang mencoba menjarah atau mencuri, adalah pengingat tantangan-tantangan yang masih ada.

Tapi, tantangan-tantangan itulah yang membuat Museum Basra merupakan suatu kebanggaan bagi orang-orang Irak.

"Museum Basra akan membantu orang-orang Irak untuk memahami lebih baik sejarah kami sendiri… dan menunjukkan kepada dunia sebuah gambaran berbeda tentang Irak," kata Fadhli.

"Ini adalah cahaya di ujung akhir sebuah terowongan yang sangat gelap. Tanpa sejarah, tidak ada masa depan (dan museum tersebut mengingatkan) saya dan banyak orang lainnya untuk tidak menyerah dan pasrah," pungkasnya.

Lebih dari sekadar peninggalan-peninggalan bersejarahnya, harapanlah yang mungkin merupakan harta terbesar museum tersebut.

Versi bahasa Inggris tulisan ini bisa Anda baca di A new use for Saddam Hussein's palace di laman BBC Travel.

Topik terkait