Gelombang cahaya serempak dari kunang-kunang yang surealis

kunang-kunang Hak atas foto Event Photo
Image caption Tempat ini menawarkan pertunjukan paling dramatis dari kunang-kunang sinkronisasi.

Mekipun ada sekitar 2.000 spesies di dunia, kunang-kunang sinkronisasi - yang bisa berkoordinasi menciptakan pola cahaya - hanya ada beberapa saja di bumi. Dan untuk melihat pertunjukan cahaya paling dramatis itu di belahan bumi bagian barat, Anda harus pergi ke Amerika Serikat, tepatnya di Taman Nasional Pegunungan Great Smoky.

"Kami memiliki 19 spesies kunang-kunang di sini," kata Becky Nichols, entomologis yang telah mempelajari fenomena ini selama 20 tahun. "Mereka memiliki pola cahaya sendiri pada tiap individu, tapi hanya Photinus carolinus yang bisa bercahaya serempak."

Empat spesies kunang-kunang sinkronosasi juga bisa ditemukan di hutan Asia Tenggara (terutama di Malaysia, Thailand, dan Filipina), "tetapi mereka tidak terbang dan berkelip seperti yang ada di sini," jelas Nichols.

"Kunang-kinang di Asia Tenggara hinggap di pohon dan berkedip. Dan mereka sepenuhnya berkedip serempak."

Dalam artian mereka bisa menyalakan dan mematikan cahaya mereka bersamaan. Ini bertolak belakang dengan kunang-kunang yang ada di Pegunungan Smokies yang kelipnya tampak seperti efek gelombang.

Taman Nasional Congaree di Carolina Selatan memiliki spesies kunang-kunang sinkornisasi yang berbeda, tambah Nichols, "tetapi keserempakan mereka tidak sedramatis yang ada di sini."

Hak atas foto Getty Images
Image caption Ada 19 spesies kunang-kunang di Pegunungan Smokeis.

Tepat yang paling mempesona untuk melihat pertunjukan cahaya ini adalah di area Elkmont, Taman Nasional Pegunungan Great Smoky - yang membentang dari perbatasan Tennessee ke Carolina Utara.

Wilayah ini adalah rumah populasi terbesar kunang-kunang di belahan bumi barat yang dikenal juga dengan sebutan 'serangga petir' atau lightning bugs.

Fenomena ini hanya ada pada musim kawin, yang di Amerika Serikat terjadi selama dua minggu di akhir musim semi.

Kunang-kunang betina dewasa bertelur di atas atau di bawah tanah dan ketika larva menetas, mereka menggeliat ke bahwa tanah, memakan organisme. Masa larva ini berlangsung selama satu hingga dua tahun. Selagi larva berubah menjadi kunang-kunang dewasa, mereka hanya hidup selama 21 hari - dan berkembang biak adalah prioritas utama.

Tiap tahun di pertengahan hingga akhir April, Nichols menganalisa data temperatur lokal untuk memprediksi puncak musim kawin - ketika pertunjukan kelap-kelip itu tampak paling mempesona - sehingga mereka bisa menjadwalkan acara tahunan pengamatan selama delapan hari.

Puncak musim kawin dipengaruhi beberapa faktor lingkungan. Jika musim panas sebelumnya terasa panas dan kering, misalnya, musim kawin bisa lebih singkat dari biasanya. Dan musim dingin yang diikuti dengan musim semi yang basah bisa membuat masa kawin mundur ke akhir bulan.

Ketika efek ini pertama kali didokumentasikan secara ilmiah pada 1993, fenomena puncak terjadi pada akhir May. Sering berjalannya waktu, puncaknya telah bergeser ke awal Juni.

Hak atas foto Floris Van Breugel/Nature Picture Library
Image caption Hutan ini adalah rumah bagi populasi kunang-kunang terbesar di belahan bumi barat.

Faktor lingkungan juga berpengaruh pada kecantikan penampilan cahaya. Yang diperlukan, jelas Nichols, adalah tanah berlapis yang kaya dengan daun-daun busuk dan segala bahan organik sehingga larva punya banyak makanan, ditambah wilayah terbuka yang tidak terlalu banyak semak belukar sehingga kunang-kunang bisa melihat satu sama lain. Dan juga tidak boleh ada polusi udara.

"Mereka membutuhkan kegelapan pekat untuk fase reproduksi ini," ujar Nichols.

Walau kunang-kunang masih akan berkedip jika hujan (kecuali kalau hujannya deras), malam yang berkabut dan gerimis setelah hujan mengguyur bisa menciptakan ketidakpastian, dan jika suhu turun di bawah 10C, sudah pasti tidak ada pertunjukan.

Taman nasional membatasi akses malam hari di Elkmont selama acara, dengan total 6.000 hingga 8.000 orang datang tiap tahun (pemesanan lokasi kemah dibuka enam bulan sebelumnya).

Banyak orang membawa kursi lipat atau selimut ke tempat pengamatan, tetapi alat pendingin dan makanan tidak diperbolehkan. Ranger hutan menjawab pertanyaan dan mendistribusikan plastik merah untuk melapisi senter - meminimalkan gangguan.

Hak atas foto Floris Van Breugel/Nature Picture Library
Image caption Menunggu malam gelap untuk mencari pasangan.

Serangga akan menunggu hingga gelap pekat untuk mencari pasangan, umumnya mulai pada 09.30 dan 10.00 malam, walau ketika bulan bersinar terang, mereka mungkin menunggu agak lebih lama.

Pejantan mulai menyalakan sinar dengan kedip singkat, dari enam hingga delapan kali selama delapan detik sebelum malam menjadi sangat gelap. Lalu siklus itu mulai lagi. Selagi bertambah malam, efeknya kian dramatis. Kunang-kunang berkedip menciptakan efek gelombang yang menyerupai lampu Natal. Pertunjukan ini biasanya berakhir tengah malam.

"Pejantan berkedip selagi mereka terbang," jelas Nichols. "sementara betina biasanya tinggal di tanah dan merespon dengan kedipan ganda yang tipis yang tidak memiliki interval. Pejantan melihat mereka di rerumputan lalu turun ke bawah, dan pada tahap ini, menemukan pasangan menjadi kompetitif. Kami pikir betina membutuhkan lebih banyak cahaya untuk mengeluarkan respons mereka, dan itu alasannya pejantan berkedip serempak - untuk menciptakan stimulasi cahaya untuk betina."

Anda bisa melihat pertunjukan semacam ini di wilayah lain, tapi Smokies menawarkan penampilan paling dramatis. "Kantong-kantong populasi Photinus carolinus ada di seluruh Appalachian selatan, sejauh Hutan Nasional Allegheny di Pennsylvania," kata Nichols. Tetapi karena kerusakan habitat dan polusi cahaya, ia menjelaskan, mereka tidak banyak atau terlihat di tempat lain. "The Smokies kebetulan memiliki populasi benar-benar baik dari mereka."

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudul A surreal synchronised wave of light atau tulisan lain dalam BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait