Bangkitnya 'pulau hantu' di Hong Kong

hong kong Hak atas foto Kate Springer

Di timur laut Hong Kong, sebuah pulau yang awalnya diabaikan kini hidup kembali setelah berpuluh tahun menyendiri.

Kota padat Hong Kong bukanlah tempat pertama yang Anda harapkan untuk menemukan pulau yang ditelantarkan. Tetapi di sudut sunyi distrik Sai Kung, sekitar 25km timur laut dari pusat Hong Kong, sebuah pulau kecil menawarkan kesempatan langka untuk mengintip masa lalu. Lebih dikenal dengan sebutan 'Pulau Hantu'. Yim Tin Tsai adalah pulau yang subur dan hijau - yang dipadati dengan rumah-rumah berlumut.

Pulau ini dulunya adalah rumah bagi komunitas Hakka, sebuah klan yang bermigrasi dari Cina utara berabad-abad lalu. Mereka menetap di pulau kosong dan mendulang garam untuk bertahan hidup. Bahkan, Yim Tin Tsai berarti 'pendulangan garam kecil' dalam bahasa Kanton.

Ketika industri ini ditutup lebih dari 100 tahun yang lalu karena kalah saing dengan produksi Vietnam dan Cina, mayoritas warganya beralih menjadi petani, nelayan, dan peternak.

Hak atas foto Kate Springer
Image caption Pulau ini dipenuhi denan rumah-rumah lapuk.

Ketika populasi mencapai puncaknya pada 1940-an, diperkirakan ada sekitar 500 hingga 1.200 orang hidup di pulau itu. Tapi pada 1960-an, semakin banyak keluaga pergi untuk mengakses pendidikan di luar sekolah dasar yang ditawarkan desa. Mereka pindah ke Kowloon atau bahkan semakin jauh ke Inggris.

Warga desa terakhir di Yim Tin Tsai pindah pada tahun 1990-an dan beberapa tahun sesudahnya, pulau itu kosong dengan rumah-rumah yang ditinggalkan semakin lapuk.

Tapi bagi beberapa warga desa, pulau ini melambangkan sesuatu yang istimewa - sisi unik sejarah Hong Kong dan budaya yang seharusnya tak dilupakan.

Hak atas foto Kate Springer
Image caption Yim Tin Tsai awalnya adalah rumah bagi komunitas Hakka.

Awal yang baru

Jika turis mengunjungi Yim Tin Tsai sepuluh tahun lalu, mereka tidak akan menemukan apapun selain rumput-rumput yang tumbuh liar, rumah-rumah rusak, dan lapangan cokelat berdebu. Itu persis yang dilihat oleh perwakilan warga Colin Chan ketika dia datang ke pulau itu setelah 40 tahun kemudian.

"Saya datang ke sini untuk memperbaiki sesuatu yang terasa hilang," kata Colin. "Saya melihat bahwa pulau ini rusak dan saya sangat kecewa. Ini adalah tempat saya tumbuh. Ini adalah rumah ayah dan kakek saya."

Leluhur Chan menetap di pulau ini lebih dari 300 tahun lalu. Sebagai generasi ke delapan, dia tinggal di Yim Tin Tsai hingga usia tujuh tahun, lalu pundah ke Sai Kung dan kemudian ke Inggris untuk sekolah.

"Waktu kecil, saya ingat berlari di pegunungan ini," katanya. "Saya rindu rasa pedesaan. Saya tidak menemukannya di tempat lain di Hong Kong - tapi itu masih terasa di sini."

Hak atas foto Kate Springer
Image caption Peninggalan jaman dahulu tersebar di mana-mana.

Pada 1999, Colin terpilih sebagai perwakilan desa dan memulai misi panjangnya: membangkitkan lagi pulau itu. Dalam beberapa tahun awal, dia fokus membangun jejaring bekas warga pulau yang kini terpencar di seluruh dunia, berharap menciptakan komunitas dengan pemikiran yang sama tentang leluhur dan menjaring relawan yang bisa membangun kembali Yim Tin Tsai secara berkelanjutan.

Momentum yang sebenarnya dimulai pada 2003 ketika Gereja Katolik mengkanonisasi Josef Freinademetz, seorang misionaris berpengaruh yang pernah hidup bersama warga desa di tahun 1800-an. Setelah berita itu tersebar, umat Katolik dari berbagai belahan dunia menandai pulau kecil itu sebagai tempat ziarah dan Colin ingin memastikan bahwa mereka yang datang diterima dengan tangan terbuka.

Museum yang hidup

Bersama komite yang beranggotakan 10 mantan penduduk, Colin menggalang dana untuk membangun pusat turis. Pada 2004, lembaga amal mendonasikan dana melalui Gereja Katolik untuk merenovasi kapel bersejarah di pulau itu. Dibangun pada 1890 oleh para misionaris Katolik, ini adalah yang tertua di Hong Kong.

Elegan dan sederhana, kapel berdinding putih itu memiliki jendela kaca yang bercahaya dan ruang doa yang kusyuk. Beberapa baris bangku kayu menghadap altar minimalis yang dibalut warna merah dan emas. Pada tahun 2005, Unesco Asia-Pacific Heritage Awards for Heritage Conservation menganugerahkan kapel itu dengan penghargaan.

Termotivasi dengan pengakuian ini, warga desa mengkoordinir jadwal feri reguler yang memungkinkan pengunjung datang ke pulau itu dan memasang semacam pameran yang menunjukan sejarah unik wilayah itu. Mereka membuat rute jejak sejarah, merenovasi rumah leluhur Hakka, menciptakan museum keramik dan alat dapur, serta bahkan mulai membangun kebun organik.

Hak atas foto Kate Springer
Image caption Kapel ini adalah salah satu yang tertua di Hong Kong.

"Saya ingin membuat pulau ini seperti museum yang hidup," kata Colin. "Sepuluh tahun lalu, orang-orang tidak terlalu berpikir tentang jejak sejarah dan pelestariannya. Mereka ingin menghasilkan uang dan membangun gedung tinggi. Tapi sekarang orang mulai menyadarinya."

Garamnya bumi

Setelah rangkaian renovasi yang sukses, komite mengalihkan fokus mereka ke pendulangan garam. Apa yang tadinya adalah lapangan kotor yang berdebu beberapa dekade lalu, kini berubah menjadi pendulangan garam yang beroperasi penuh, lengkap dengan pusat informasi pengunjung yang menjelaskan langkah-langkah pembuatan garam.

Pada 2015, pendulangan garam ini meraih pengakuan UNESCO terkait konservasi sejarah industrial Hong Kong, yang diperkirakan dimulai pada 2.000 tahun lalu.

Hari ini, tempat produksi garam itu bergelimang sinar matahari dan dikelilingi oleh pohon bakau. Mereka tidak memproduksi cukup garam untuk terus dijadikan bisnis, tetapi sebagai satu-satunya pendulangan garam yang masih berfungsi di Hong Kong, tempat ini dimaksudkan sebagai sebuah nostaliga.

"Membuat kembali lapangan garam membuat saya sangat senang karena itu mendekatkan saya pada leluhur," kata Rosa Chan, pemandu tur dan generasi ke delapan pulau itu. "Sangat menyenangkan untuk dapat melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan keluarga kami dulu, ratusan abad yang lalu."

Hak atas foto Kate Springer
Image caption Pendulangan garam mendapat penghargaan dari UNESCO.

Rosa hidup di pulau ini sampai usia 13 tahun dan kemudian pindah ke Kowloon City untuk sekolah. Kemudian dia pindah ke Inggris bersama keluarganya sampai pensiun.

"Ketika saya kembali ke Hong Kong, saya merasa kewajiban saya-lah untuk membantu," katanya. "Saat saya kembali, semuanya rusak. Dan tumbuhan meninggi. Rumput menggores kaki saya."

Keluarganya pindah ketika dia masih muda untuk mencari kehidupan yang lebih baik, tetapi bagi Rosa, kehidupannya ada di pulau itu. "Saya merasa di rumah jika berada di alam," katanya. "Saya suka menangkap kepiting, memancing, alam membawa saya ke sini, saya tidak bisa melakukannya di Kowloon."

Sekarang ini, dia mengunjungi pulau itu dua kali seminggu dari rumahnya di Kowloon untuk merawat kebun dan memberikan tur. Ada banyak pengunjung yang harus disambut: pulau dengan luas satu kilometer persegi ini kedatangan 34.000 pengunjung pada 2016, dan kebanyakan dari mereka ingin belajar soal pendulangan garam, mengeksplorasi jejak sejarah, mendaki bukit-bukit atau sekedar menemukan tempat sunyi untuk bermeditasi.

Berjalan di desa, pengunjung bisa merasakan adanya kehidupan masyarakat lama. Ini berkat deretan rumah lapuk yang indah dengan atap dan fasad ubin ala Hakka. Dan meskipun banyak rumah-rumah desa masih rusak, Rosa tidak mau melewatkan pentingnya deretan jendela pecah itu."

Anda bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris berjudulHong Kong's ghost island atau artikel lain diBBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait