Pekerjaan ini paling berwarna di dunia

Afghanistan Hak atas foto Alexandra Reynolds

Meskipun dilanda perang dan kerusuhan selama beberapa dekade, sekelompok pengrajin Afghanistan masih terus bekerja keras, dengan ketelitian membuat kerajinan dan mengukir ubin baru untuk Masjid Agung di Herat.

Sebuah dunia yang cerah

Di Afghanistan, sejumlah orang tengah bekerja di ruang yang diselimuti asap hitam. Mereka duduk diantara ember bercat abu-abu pekat, bekerja di bangku yang terbuat dari batu berwarna abu-abu tua. Sorotan cahaya putih menembus langit-langit berkubah ke tumpukan ubin tanah liat yang dilapisi debu tipis berwarna abu-abu. Adegan itu terlihat monokromatik, tapi orang-orang ini memiliki pekerjaan yang paling berwarna di dunia: membuat ubin untuk Masjid Jami Herat (Masjid Agung) (Kredit: Alexandra Reynolds).

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Mutiara di Herat

Berlokasi di sebuah taman kecil di pusat kota yang sibuk di Afghanistan, masjid yang berwarna-warni ini merupakan tempat berisitirahat dari bisingnya klakson sepeda motor dan teriakan para pedagang di pasar yang berada di sekitar jalanan (Kredit: Alexandra Reynolds).

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Memanjakan mata

Mosaik yang rumit membalut bagian luar masjid. Meskipun seluruh efeknya masih membuat kita menghela napas, tahun-tahun yang sulit dan kehancuran akibat perang Anglo-Afghan menyebabkan ubin-ubin dan perluasan baru-baru ini menuntut desain yang baru. Tanggung jawab upaya restorasi ini sebagian besar berada di tangan sembilan orang pria yang bekerja keras di bengkel-bengkel yang terletak di pinggir masjid. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Pria di balik semua itu

Hassan mengontrol karya delapan murid dan para guru, dan bertanggung jawab untuk menyambut turis yang datang ke bengkel. Meskipun kemampuan bahasa Inggrisnya sangat pas-pasan, tampak jelas dia sangat mengenal tempat ini luar dalam: konsekuensi bekerja selama 16 tahun di sini. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Sedikit ini dan itu

Berjalan di bengkel, jari-jari Hassan berlarian di atas bermacam-macam benda yang berada di serambi, sebelum memilih sebuah potongan logam yang tampak berkarat. "Campuran tembaga teroksidasi ," kata dia dalam bahasa Inggris yang terbata-bata, sambil berpura-pura menggilingnya menjadi bedak, "untuk warna". Dia kemudian mengambil potongan logam lain, gelas dan batu dari bangku, pertama menunjuk ke sebuah lesung dan alu, kemudian ke salah satu dari delapan koordinasi warna pada palet ubin. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Sulit menerjemahkan

Ketika sulit untuk menerjemahkan dalam bahasa Inggris, dengan cermat Hassan merujuk pada sebuah buku kecil yang memuat tulisan deskripsi dalam bahasa Farsi dan terjemahan bahasa Inggris yang buruk. Ketika ditanya di mana dia belajar bahasa Inggris, dia meminta maaf sambil menyeringai. "Terjemahan dari internet." (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Membangun kekuatan

Berjalan ke dalam bengkel, Hasan menunjukkan langkah-langkah pembuatan ubin. Di ruangan sebelah, batu dan kaca yang hancur digunakan untuk glasir yang melindungi ubin. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Menuangkan ide ke dalam kertas

Banyak pola ubin ditulis dengan pensil oleh seorang guru tua yang bekerja dengan diam di pojok ruangan. Begitu pola selesai, lubang kecil dibuat disepanjang garisnya, dan pola itu kemudian dipindahkan ke glasir ubin putih dengan menekan arang ke lubang. Garis dari arang itu kemudian dijiplak dengan tinta hitam. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Dilarang merokok

Alat pembakaran ubin berada di sebuah ruang gelap di pintu masuk bengkel, berada di sebelah tumpukan kayu putih yang diberasal dari pinggiran Herat. Meskipun Hassan tidak dapat menemukan nama kayu itu dalam bahasa Inggris, dia menekankan kayu khusus ini digunakan untuk pembakaran: menghasilkan abu yang halus, terkadang digunakan untuk membuat glasir, dan sedikit menghasilkan asap. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Beberapa kesalahan kecil

Tumpukan ubin yang tidak sempurna dan rusak berserakan di seluruh bengkel, warnanya yang cerah secara bertahap memudar ditutupi debu. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Pekerjaan sampingan

Di antara beberapa ubin jadi yang dipajang adalah hadiah bagi organisasi yang menyumbang untuk masjid. Beberapa penyumbang merupakan pengusaha kaya Afghanistan, sementara lainnya berasal dari kedutaan besar negara asing dan yayasan. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Perjuangan nyata

Merestorasi dan membangun kembali adalah usaha yang mahal. Perang yang terjadi di Afghanistan telah menguras anggaran, dan pemulihan objek wisata bukanlah prioritas tertinggi pemerintah; terlalu sedikit wisatawan yang datang untuk menciptakan permintaan yang riil. Sejumlah warga kaya di Afghanistan dan yayasan telah berjanji untuk mendanai upaya pembangunan, tetapi tidaklah cukup. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Awal yang terlupakan

Kemegahan masjid pada saat ini mengingkari kesederhanaan pada awalnya. Fondasinya dibangun di era Ghurid pada tahun 1200, tetapi satu-satunya yang tersisa dari masjid asli yang mungil itu ialah gerbang masuk di luar bengkel ubin. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Lapisan demi lapisan

Pada akhir abad tersebut, masjid, seperti banyak bangunan di Afghanistan, menjadi sasaran penghancuran oleh Genghis Khan. Hampir hancur seluruhnya, arsitek sebelum dan sesudah era Timurid (1300-1400 sesudah masehi) membangun kembali sebuah masjid yang megah di atas reruntuhannya. Lapisan bawah yang rumit merupakan peninggalan fondasi Ghurid, sementara hamparan batu bata berasal dari era Timurid. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Siklus berlanjut

Untuk beberapa ribu tahun ke depan, masjid akan terus berkembang bersama dengan kota Herat, sampai kemudian dihancurkan selama perang Anglo-Afghan pada abad ke 19 dan 20. Saat ini yang masih bertahan merupakan produk dari restorasi yang dilakukan pada tahun 1945 sampai 1970, tetapi Afghanistan kemudian terlibat dalam perang lainnya, dan belum juga selesai. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Pertunjukan harus tetap berjalan

Walaupun dilanda perang dan kerusuhan selama beberapa dekade, Hassan dan para pengrajin lain masih bekerja, dengan hati-hati mereka membuat kerajinan dan mengukir ubin baru untuk mosaik masjid. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Keterampilan yang sesungguhnya

Dari kotak sederhana hingga bunga yang meliuk-liuk, setiap motif diukir dengan tangan menggunakan beliung kecil yang tajam. Setiap titik warna pada mosaik itu merupakan potongan ubin tersendiri, dengan hati-hati diukir dan dipasang pada tempatnya. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Lingkungan yang sederhana, hasil yang luar biasa

Interior putih yang mencolok dari bengkel ini sangat pantas: tempat sementara untuk mosaik yang belum selesai, dan tidak melanggar kemegahan bagian masjid lainnya. Diwarnai dengan suara denting beliung kecil yang memecahkan ubin yang mengkilap, dindingnya dilapisi dengan mosaik yang hampir selesai menunggu untuk dipulihkan atau dihias. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Hak atas foto Alexandra Reynolds

Sebuah cendera mata, mungkin?

Para pengrajin menambah sumbangan dan pendanaan yang mereka terima dengan menjual ubin kepada sedikit wisatawan yang berkunjung. Uang itu digunakan untuk membeli material yang kecil seperti kertas dan pensil untuk membuat pola.

Pintu masjid terbuka bagi seluruh pengunjung, kecuali selama namaz, waktu salat lima waktu yang diwajibkan dalam agama Islam. Ubin dari bengkel ini dapat ditemukan di sudut di banguan tenggara masjid. Biaya masuk gratis, tetapi sumbangan sangat akan sangat dihargai. (Kredit: Alexandra Reynolds)

Anda bisa membaca artikel aslinya dalam The most colourful job in the world atau artikel lain dalam BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait