Negara-negara yang paling dermawan di dunia

Biksu Hak atas foto ROMEO GACAD/ AFP
Image caption Seorang biksu Budha di Myamnar

Kami berbicara dengan orang yang tinggal di lima negara berperingkat tertinggi, untuk menemukan apa yang menjadi motivasi mereka untuk menyumbangkan waktu dan uang mereka, dan bagaimana itu berdampak pada masyarakat di sana.

Tampaknya mengulurkan tangan bantuan terhadap orang lain bisa menjadi sesuatu yang lebih dari sekedar perbuatan baik.

Ternyata, menurut riset perusahaan konsultan Gallup, budaya kerelaan untuk membantu sesama merupakan sebuah indikator faktor ekonomi yang positif, sebagaimana GDP dan pengangguran jangka panjang, juga manfaat beuntun lainnya seperti mendorong kesejahteraan yang lebih baik secara menyeluruh.

Untuk mengetahui lebih jauh, Gallup melakukan survey terhadap lebih dari 145.000 orang di lebih dari 140 negara, bertanya kepada penduduk apakah mereka baru-baru ini mendonasikan uang untuk lembaga amal, menjadi relawan pada sebuah organisasi atau membantu orang asing yang membutuhkan.

Hasil yang menggembirakan, dihimpun dalam sebuah Laporan Global Civic Engagement 2016, lalu diproyeksikan untuk mencakup jumlah penduduk di seluruh dunia - yang saat ini mencapai 7,4 milliar orang - dan menemukan bahwa pada bulan apa saja, 1,4 milliar orang menyumbangkan uang mereka untuk amal, hampir 1 milliar menjadi relawan dan 2,2 milliar untuk membantu orang asing.

Skor masing-masing negara sangat bervariasi, bagaimanpun, dengan penduduk negara-negara tertentu secara signifikan tampak lebih banyak terdorong memberikan bantuan dengan berbagai cara.

Kami berbicara dengan orang yang tinggal di lima negara- negara dengan peringkat tertinggi, untuk menemukan apa yang menjadi motivasi mereka untuk menyumbang waktu dan uang mereka, dan bagaimana tindakan itu berdampak pada masyarakat di sana.

Burma

Burma atau Myanmar - sebagian besar penduduk di negara kecil di Asia Tenggara ini menjawab 'ya' untuk setiap pertanyaan tentang memberi, membuatnya jadi negara yang mendapatkan skor tertinggi dalam survei.

Tradisi Buddha yang kuat sangat mempengaruhi kemurahan hati di sini. Dr Hninzi Thet, aslinya berasal dari Yangon, dibesarkan oleh ayah yang seorang Katolik asal Goa dan seorang ibu Burma beragama Buddha, dan menjeaskan bagaimana konsep karma dalam Buddhisme Theravada, madzhab Buddha terkenal di Asia Tenggara memainkan sebuah peranan.

Hak atas foto Stefano Politi Markovina
Image caption Di Burma, menyumbangkan makanan kepada biksu merupakan praktik yang umum dilakukan dalam tradisi Buddha.

"Segala perbuatan yang baik yang dilakukan (penganut Buddha ) akan menopang inkarnasi mereka nantinya dan mereka akan memiliki kehidupan yang lebih baik," kata dia." Sebagai contoh, pada ulangtahun anak, mereka akan menawarkan makanan kepada biksu, yang bergantung pada pemberian publik untuk dapat makan. (Sksi ini) akan memberikan pahala bagi mereka."

Hninzi Thet mengatakan bahwa donasi makanan dan uang seringkali hanya diberikan pada biksu dan biara."Hanya baru-baru ini ada sebuah upaya untuk memulai menyumbangkan pada panti asuhan dan sejenisnya secara terorganisasi," kata dia. Ini merupakan pengaruh dari diaspora Burma yang banyak bersentuhan dengan keyakinan dan kebiasaan barat dalam berderma.

Seiring stabilitas politik dan pemilihan umum yang mulai berlangsung di negara ini dalam beberapa tahun terakhir, jumlah orang asing yang pindah ke Burma telah meningkat. Selain mendapatkan peringkat sebagai negara dermawan, Burma juga dijuluki sebagai negara yang paling ramah di dunia dalam survei InterNations Expat Insider 2015, dengan lebih dari 96% responden memberikan respon positif untuk kebaikan mereka terhadap orang asing.

Amerika Serikat

Dibandingkan dengan Burma, Hninzi Thet, yang sekarang tinggal di Baltimore, menyadari bahwa alasan menyumbang di Amerika Serikat, negara yang menduduki urutan kedua dari daftar Gallup, kebanyakan bukanlah agama.

"Sedikit sekali faktor pamrih dalam perilaku itu," katanya. "Apa yang saya kagumi dari AS adalah menyumbang adalah model sedekah, yang lebih berkaitan dengan kebersamaan sipil."

Menyumbang dalam budaya AS berbeda-beda bentuknya, tergantung pada wilayahnya: apakah pendesaan atau perkotaan, atau pinggiran.

Naomi Hattaway, yang aslinya berasal dari Nebraska dan merupakan pendiri kelompok budaya internasional I Am Triangle yang dibentuk untuk orang yang pernah tinggal di luar negeri, memiliki pengalaman di semua jenis kawasan -desa, kota, pinggiran.

"Banyak sekali LSM dan lembaga nirlaba di (Washington) DC Metro, tetapi jika menjelajah ke wilayah pinggiran, saya sering kali mendengar orang mengatakan mereka tidak mengetahui bagaimana terlibat dalam kegiatan relawan atau di mana," kata dia.

Hak atas foto Andrea Booher
Image caption Memberi di AS seringkali melibatkan sesuatu yang tanpa imbalan, menjasi relawan dan aksi sosial untuk masyarakat.

Tetapi di kota kecil di Lucketts di Virginia, dia menemukan bahwa "semangat untuk memberi, kegiatan sosial dan filantropis merupakan sesuatu yang tampaknya menjadi kewajiban bagi sebagian besar penduduk. Ketika ada yang mengabarkan suatu kebutuhan, para penduduk akan berlmba membantu. Dalam kegiatan penggalangan dana, setiap orang melakukannya tanpa pikir."

Ini merupakan sifat yang telah diwariskan dari generasi ke generasi. "Nenek dan kakek saya waktu itu selalu memberi dan memberi dan memberi. Mereka tidak pernah membangga-banggakan hal itu tetapi mereka sekadar bercerita saja kepada saya, bagaimana mereka menyediakan makanan dan sup selama bertahun-tahun saat Depresi Besar dan Perang Dunia I dan Perang Dunia II," kata Zoe Helene, yang tinggal di Massachusetts.

"Saya pikir mereka ingin saya mengetahui bahwa perasaan belas kasih untuk sesama merupakan hal utama untuk akhlak dan bahwa orang harus peduli sesama, jika tidak peradaban akan runtuh."

Ketika mereka yang berasal dari negara yang secara relatif sejahtera kadang merasa mereka dapat dan harus lebih banyak melakukannya, penduduk asing memiliki perasaan berbeda. "Sebagai orang Australia yang tinggal di Amerika, saya melihat kedermawanan orang Amerika sunggu luar biasa," kata komedian Jim Dailakis, yang berasal dari Perth.

"Tinggal di New York City selama 9/11, saya menyaksikan kebaikan dan kemurahan hati yang luar biasa. Secara personal itu tidak mengejutkan saya. Saya menemukan penduduk New York adalah orang paling ramah di dunia."

Australia

Memastikan bahwa setiap orang memiliki peluang yang setara untuk sukses - merupakan bagian inti dari budaya Australia.

"Dengan kata lain, peluang untuk sukses dengan ketentuan yang sama dengan orang lain. tamnpa ketimpangan," kata Erik Stuebe, general manager InterContinental Melbourne The Rialto, yang berasal dari sebuah kota kecil di New South Wales.

"Sebagai sebuah negara yang masih muda, dan sebuah negara benua dengan populasi yang kecil, kami sangat bangga dengan kemampuan kami untuk tampil di sebagian besar upaya nasional. Orang yang sukses sangat dihormati namun tetap rendah hati dan dan tulus, tetap berpijak ke bumi dan mendukung orang lain dengan segala upaya mereka masing-masing."

Hak atas foto Eva Rinaldi
Image caption Yayasan Movember, dididrikan pada 2003 di Australia, mempromosikan kesehatan pria di seluruh dunia.

Melbourne khususnya memiliki semangat komunitas yang kuat, dan seringkali menggelar acara yang mengumpulkan jutaan dollar untuk sumbangan bagi warga setempat atau warga dunia lain. Bahkan ada yang kemudian berkegiatan secara global, seperti Yayasan Movembe, yang bermula di kota itu pada 2003 dan sekarang mendorong laki-laki dari seluruh dunia untuk menumbuhkan kumis pada bulan November untuk menganjurkan sumbangan untuk kegiatan terkait kesehatan laki-laki.

Krisis juga memunculkan kemurahan hati yang ekstrem orang-orang Australia. "Ketika tsunami menerjang Indonesia pada 2004, warga Australia menyumbangkan $42 juta," kata Dailakis. "Ingatlah jumlah penduduk negara pada saat itu mungkin tidak lebih dari 20 juta."

Kemudian pada tahun 2009, ketika kebakaran hutan menelan jiwa begitu banyak dan menghanguskan banyak rumah, penduduk segera melangkah maju.

"Warga Melbourne membuat sistem kewalahan dengan sumbangan waktu, uang, pakaian, tawaran tempat tinggal dan pesan dukungan," kata Stuebe. "Saya pikir orang Australia memberikan apa saja yang diperlukan secara murah hati hingga batas kemampuan mereka."

Warga Australia sangat bangga dengan kepercayaan sosial dan jaring pengaman mereka yang dilindungi oleh hukum, dengan hukum kepemilikan senjata yang ketat, tunjangan pengangguran yang melimpah, dan jaminan kesehatan yang baik membuat warga merasa aman. Itu tidak berarti mereka tidak menikmati gesekan-gesekan yang baik antar sesama warga - Warga Australia bisa mengejek diri sendiri dan humor yang jahil, dan sering harus meyakinkan orang luar bahwa olok-olok itu merupakan tanda kedekatan.

Selandia Baru

Sebagai penduduk di negara pulau kecil dan salah satu yang secara historis sebagian besar merupakan pedesaan, mereka memiliki tradisi yang panjang untuk peduli pada tetangga.

"Kadang-kadang ada suatu perasaan bahwa setiap orang mengetahui satu sama lain, jadi ada semacam tugas untuk saling peduli satu sama lain," kata Katherine Shanahan, yang aslinya berasal dari Wellington dan sekarang bekerja di situs perjalanan GoEuro.co.uk. "Mungkin ikatan kemasyarakatan yang kuat ini juga merupakan salah satu alasan mengapa sebagai negara, Selandia Baru tampaknya memiliki sifat dermawan ini."

Hak atas foto Phil Walter/Getty
Image caption Peserta dalam acara Great Kids Can Santa Run di Selandia Baru menggunakan kostum Sinterklas untuk mengumpulkan bantuan bagi anak-anak miskin.

Wellington merupakan tuan rumah dari prakarsa seperti The Free Store. dalam prakarsa ini, restoran dan toko roti menyumbangkan makanan yang tidak terjual pada hari itu, dan orang dapat mengambil makanan yang biasanya mereka tidak mampu mendapatkannya. Pada bulan Desember, 18 lokasi di seluruh Selandia Baru akan menjadi tuan rumah Great Kids Can Santa Run, acara lari 2 atau 3 km yang setiap pesertanya berpakaian seperti Sinterklas, untuk mengumpulkan sumbangan bagi anak-anak yang menderita kemiskinan.

Gempa Christchurch tahun 2011 yang menewaskan ratusan orang dan melukai ribuan lainnya juga menghidupkan lagi semangat Selandia Baru dalam memberi.

"Ketika saya mengunjungi Christchurch lima tahun setelah gempa bumi, tampak jelas bahwa kota ini masih mengalami kesulitan berat untuk kembali berdiri di atas kaki sendiri. Saya terkejut melihat papan reklame bertuliskan 'All Right?' ini," kata Shanahan.

"Saya pikir itu merupakan iklan yang menarik, yang sederhana dan tulus. Iklan itu tidak berusaha membujuk Anda untuk membeli sesuatu, tetapi hanya mengingatkan orang untuk saling mengulurkan tangan bantuan setiap waktu."

Those who live in New Zealand can also take plenty of time to enjoy the country's natural beauty. As an island nation with a relatively small population, it's easy to find and get to empty beaches, as no part of the country is more than 130km from the ocean.

Mereka yang tinggal di Selandia Baru juga punya begitu banyak waktu untuk menikmati kecantikan alam negeri itu. Sebagai negara pulau dengan populasi yang relatif kecil, sangat mudah untuk menemukan dan mencapai pantai yang sepi, tidak ada bagian negara ini yang berjarak lebih dari 130 km ini dari laut.

Sri Lanka

Serupa dengan Burma, menyumbang di Sri Lanka sangat diajarkan oleh agama. "Sebagian besar warga Sri Lanka merupakan penganut Buddha dan Hindu dan kedua agama itu menganjurkan derma dan sumbangan," kata Mahinthan So, yang tinggal di ibukota Colombo.

Hak atas foto ISHARA S.KODIKARA/ AFP
Image caption Seorang anak di Sri Lanka tengah memasukan donasi uang ke dalam kaleng.

Niat membantu sangat tampak di Matara, kota paling selatan. "Ada pepatah di Sri Lanka, bahwa "Ke mana pun Anda pergi di pulau ini, jika membutuhkan sesuatu Anda akan selalu menemukan rekan dari Matara dan mereka pasti akan senang untuk membantu," kata Supun Budhajeewa, dari Matara. "Kami memilki perasaan kebersamaan di dalam diri kami. Saya pikir itu mencerminkan diri kami."

Dari donor darah sampai kegiatan sosial di sekolah, selalu ada acara di Matara yang dorongan untuk berbuat kebajikan. Banyak organisasi yang tersebar di seantero kota dan permukiman sering menyelenggarakan dansel (kios-kios makan gratis) di acara khusus seperti hari-hari Poya, liburan-liburan nasional selama bulan purnama. Liburan merupakan waktu yang populer untuk shramadhanas, atau menyumbangkan tenaga kerja, dalam semacam 'kerja-bakti' seperti pembersihan jalan umum, jadi relawan di rumah sakit dan membangun rumah bagi para tunawisma.

Selain warga yang murah senyum dan gampang mengulurkan tangan bantuan, Sri Lanka juga dikenal untuk keragaman makanan. Dipengaruhi oleh Portugis, Belanda, pedagang Inggris, India dan Persia, hidangan Srilanka sering penuh aromatik dan kaya rempah, biasanya dengan makanan pokok nasi dan kari. Hopper, semacam serabi atau panekuk yang terbuat dari telur, madu dan susu, merupakan makanan populer lain, dan pulau itu juga dikenal di seluruh dunia dengan teh Ceylon-nya yang kaya aroma.

Anda bisa membaca artikel ini dalam The worlds most generous countries atau artikel lain dalam BBC Travel.

Topik terkait

Berita terkait