Kepulauan Sundarbans yang dipenuhi 'harimau pemangsa manusia'

afp Hak atas foto AFP

Tiap tahun, sekitar 30 orang mati diserang harimau di Sundarbans - tapi mengapa warga lokal malah memuja bukan justru takut dengan makhluk buas ini?

"Pada 23 Juni 1984, saya diterkam."

Phoni Gyen duduk di dermaga memandang air yang tenang di Sundarbans, kepulauan di Ganges Delta, dan mulai memberikan ceramah berdarahnya. Garis rambut abu-abu bersembunyi di belakang wajah berbekas luka yang kulitnya tampak gosong karena matahari itu - seperti pinggir sungai penuh sampah kering, retak.

"Kami menghabiskan pagi itu dengan memancing," katanya. "Saya berada di tepi sungai ketika mendengar suara dari pepohonan."

"Saya mencoba lari, tetapi saya tak bisa kemana-mana karena dia ada di atas saya."

Hak atas foto Jack Palfrey
Image caption Phoni Gyen diserang harimau pada 1984 ketika memancing di Sundarbans.

Sebuah harimau menerkam Gyen dari pohon palem di dekatnya, menjepit dia ke tanah. Kaki harimau itu menekan dada dan tajam cakarnya merobek wajahnya.

"Saya yakin saya akan mati."

Hanya bermodal tongkat kayu, seseorang yang ikut memancing bersama Gyen melompat dari kapal mereka dan mencoba mengusir predator itu.

"Harimau itu melihatnya," lanjut Gyen, mengusap keringat dari wajahnya, "lalu harimau melepas saya, menerkam rahang orang itu dan lari ke hutan."

Harimau mulai menjadi ancaman rutin bagi warga Sundarbans, yang terletak di perbatasan antara Bangladesh selatan dan negara bagian Bengal Barat. Di sini sebuah komunitas tangguh menjadikan lokasi yang dikelilingi hutan bakau itu sebagai rumah mereka. Hutan yang menjadi cagar budaya UNESCO itu menjadi habitat dari populasi besar harimau Bengal, dengan perkiraan sekitar 150 harimau aktif di wilayah itu.

Saya bisa melihat luka-luka dari serangan semacam itu di antara kerumunan kecil yang berkumpul dengan saya di pinggir Desa Dayapur, pintu masuk menuju Sundarbans, untuk mendengar dongeng mengerikan itu.

Duduk di samping saya adalah Nirajan, yang menyaksikan harimau membunuh ayahnya ketika dia berusia 11 tahun. Di sebelahnya, menatap tanpa berkedip dengan matanya yang berwarna merah, adalah Sunil, yang melihat harimau menyeret istrinya dari perahu menuju hutan.

Menurut Saptarshi Mondal, pemandu hutan Sundarbans yang ditugasi membantu saya mencari kaitan antara wilayah itu dan harimau - selagi menjaga saya agar tak menjadi korban - perubahan iklim menjadi salah satu faktor kuat yang membuat ketersediaan makanan harimau di hutan menipis.

"Sudah dua atau tiga pulau tenggelam," katanya. "Jadi kawasan hijau semakin berkurang, berkurang untuk rusa dan babi hutan [makanan utama harimau]."

Sebagai konsekuensinya, manusia, terutama nelayan yang masuk ke dalam hutan bakau, menelusuri lokasi-lokasi pemancingan baru, adalah makanan pengganti yang cocok untuk harimau.

Konflik yang berkelanjutan ini biasanya mendorong kebencian terhadap kucing besar itu, namun ketika saya mengutarakannya pada Gyen dan pendengarnya, respon mereka berada di antara kebingungan dan sedikit kemarahan.

Melihat kebingungan saya, Saptarshi meminta kami untuk pergi; mengusulkan agar kami berbicara dengan seseorang yang akan membantu saya memahami dikotomi ini.

Hak atas foto STDDEL/Getty
Image caption Nelayan yang berkelana di hutan berisiko diserang si kucing besar

Kami berjalan susah payah ke dalam pulau, mengikuti jalan batu bata rusak melewati danau-danau dan melewati sawah ke sebuah pondok kayu yang soliter. Di luar, Kaushalya Mondal, yang dikenal sebagai 'janda harimau', duduk sendirian di depan api kecil untuk memasak.

"Suami saya adalah nelayan," jelas Kaushalya. "Kami mencari ikan bersama jauh ke dalam hutan ketika harimau menyerang. Dia langsung mengincar suami saya, menyeretnya ke dalam air. Dia membawanya ke hutan dan dalam beberapa detik mereka menghilang. Saya tidak bisa melakukan apa-apa."

Penderitaannya jelas terlihat, saya bertanya pada Kaushalya jika dia memusuhi makhluk yang membawa suaminya.

"Saya tidak menyalahkan harimau itu," katanya. "Itu adalah kesalahan kami. Kami menghampiri harimau, bukan sebaliknya. Saya masih memuja Dakshin Rai."

Dakshin Rai, dikenal sebagai dewa harimau, adalah dewa yang dihormati di Sundarbans, yang, bersama dengan penjaga hutan, Bon Bibi, dikatakan melindungi semua penduduk di kawasan itu. Sebelum merambah jauh ke dalam hutan, kolektor madu dan nelayan membuat persembahan di salah satu dari banyak kuil dewa, berharap untuk kembali dengan selamat.

Meskipun penghormatan ini terhadap harimau dapat berakar pada takhayul agama, ada unsur praktis juga.

"Penduduk Sundarbans perlu harimau," kata Saptarshi, selagi kami berjalan cepat kembali ke pelabuhan; cahaya memudar, rasa takut saya terhadap serangan harimau yang fatal mulai muncul. "Jika tidak, hutan tidak akan bertahan."

Nama Sundarbans konon diambil dari nama pohon langka sundari, spesies bakau yang tumbuh subur di wilayah ini. Kayunya yang keras dan halus adalah bahan yang diminati untuk produk kayu mahal, termasuk furnitur.

"Tanpa harimau [dan upaya pemerintah melindungi habitatnya] penebang kayu akan datang dan membabat hutan," katanya.

Dedikasi pemerintah untuk melindungi rumah kucing besar ini juga menjaga Sundarbans dari pembangunan, dan menyediakan sumber pendapatan melalui pariwisata berbasis harimau.

"Hutan ini memberi orang banyak hal," kata Saptarshi. "Hutan melawan kenaikan permukaan air dan bertindak sebagai penahan tsunami dan siklon [yang lazim di Teluk Benggala]."

Inilah sebabnya, meskipun warga melihat teman dan kerabat menjadi cacat di depan mata mereka, orang-orang dari Sundarbans tidak membenci harimau. Mereka tahu nasib mereka pada akhirnya terhubung dengan kucing pembunuh itu: harimau melindungi hutan dan hutan melindungi rakyat.

Setelah berbagi rumah dengan makhluk pemakan manusia selama beberapa generasi, akan dianggap wajar jika Anda percaya bahwa tidak ada yang komunitas baja ini takuti. Tapi sayangnya, Anda salah.

Hak atas foto Jack Palfrey
Image caption Walau banyak serangan, warga masih memuja harimau dan menjaga kuil untuk menghormati mereka.

Ketika Saptarshi dan saya mencapai dermaga di mana feri berangkat menuju daratan, matahari membentang malas, sementara angin menggoyang-goyangkan pepohonan. Dekat saya, Gyen, sendirian sekarang, setia menyapu kuil Dakshin Rai. Dia ditunjuk sebagai perawat kuil setelah pensiun dari mencari ikan.

Suara gemuruh rendah memecah suasana tenang selagi kapal barang menerobos perairan tenang Sundarbans. Gumpalan asap berbau tajam muncul dari kapal tanker, menodai warna langit yang merah muda menjadi kecoklatan.

Pada akhir 2016, Bangladesh memulai pembangunan stasiun energi batu bara terbesar di negara itu hanya 65km dari hulu hutan Sundarbans.

Rampal Coal Power Station menuai kecaman berbagai organisasi lingkungan, termasuk Unesco - yang melabelinya sebagai "ancaman serius" terhadap ekosistem Sundarbans.

Laporan detail dari Unesco mengklaim polusi dari debu batu bara dan air limbah, juga peningkatan pengiriman dan pengerukan, akan mengakselerasi efek perubahan iklim di wilayah yang rentan dan menimbulkan "dampak yang tak bisa dibalikkan."

Dr Punarbasu Chaudhuri, kepala ilmu lingkungan di Universitas Kalkuta, 70km utara dari Sundarbans, setuju dengan prognosis Unesco ini, dan khawatir tentang potensi dampak luas dari pendirian stasiun energi itu.

"Sekitar 2,5 juta orang bergantung pada hutan bakau di wilayah ini untuk mata pencaharian mereka," katanya. "Mereka, harimau, vegetasi dan semua hewan yang mengandalkan daerah itu akan menderita secara signifikan jika ekosistem rusak secara permanen."

Meskipun pejabat pemerintah Bangladesh yakin pembangunan itu tidak akan memiliki efek merugikan pada hutan, baik Chaudhuri dan Unesco menyimpulkan bahwa proyek harus dipindahkan atau dihapus sepenuhnya.

Saat saya naik perahu kembali ke daratan, saya mengambil melihat Gyen untuk terakhir kali. Dia sekarang duduk diam di tangga kuil. Di belakangnya, patung Dakshin Rai abadi.

Mungkin sulit memahami bagaimana sebuah komunitas bisa menghormati makhluk yang membawa penderitaan, tapi dalam banyak hal itu adalah sikap yang sangat tepat.

Harimau Sundarban, walau berbahaya, adalah pelindung utama tempat tinggal manusia. Manusia di sisi lain bisa tak lama lagi disalahkan karena kehancurannya.

Apa yang lebih menakutkan dibandingkan harimau pemakan manusia?

Manusia.

Anda juga bisa membaca artikel ini dalam bahasa Inggris dengan judul An archipelago of killer cats atau artikel lain dalam BBC Travel.

Berita terkait