Menyantap si kantong semar, tanaman pemakan daging

Getty Hak atas foto Getty Images

Sekilas Anda tidak mungkin mengira bahwa makanan ringan Malaysia ini dibalut oleh 'pemburu yang pernah berevolusi dengan cepat'.

Butuh beberapa kali ganti baju untuk mendaki Gunung Kinabalu di Kalimantan Utara, Malaysia. Di puncaknya, lempeng bebatuan tidak menawarkan tempat berlindung, dan dengan ketinggian 4.095m, cuacanya terasa lebih dingin daripada yang mungkin Anda harapkan di jantung daerah tropis.

Jauh menuruni gunung, pepohonan rimbun sebetulnya menyediakan tempat berlindung, tapi ada kabut di dalam hutan sejuk ini yang menetes-netes. Dan di dasar gunung, adalah hutan hujan tropis yang sedikit terlalu hangat.

Tampak tak terusik dengan kelembaban yang lengket, pedagang pasar di kota Kinabalu menjual berbagai makanan lokal untuk para pendaki. Tempat ini ramai karena di sinilah perjalanan naik dan turun ke gunung biasanya dimulai.

Di tengah hiruk-pikuk kedai makanan dan aroma udang mentega dan ikan bakar lezat, beras ketan dalam balutan bungkusan kusam bukanlah jenis makanan ringan yang menarik perhatian.

Tapi kudapan sederhana ini adalah sesuatu yang sangat luar biasa. Terbuat dari nasi ketan beraroma kelapa yang dibungkus tanaman karnivora kantong semar, kudapan ini bisa ditemukan di beberapa negara di Asia Tenggara. Tapi di Borneo, Malaysia, konsumsi nasi pelut (nasi putih) di periuk kera (kantong semar) - juga dikenal sebagai lemang periuk kera- sedang digemari.

Hak atas foto Jonathan Lin / Flickr
Image caption Nasi ketan yang dibalut kantong semar ini populer disebut lemang periuk kera.

Gunung Kinabalu adalah salah satu tempat keanekaragaman hayati terkaya di dunia. Di sana terdapat beragam kehidupan, termasuk beberapa hewan dan tumbuhan yang tidak hidup di tempat lain seperti beberapa spesies tanaman karnivora, kantong semar.

Tanaman ini menggunakan berbagai teknik - seperti nektar, bau dan warna - untuk memancing serangga, dan kantongnya memiliki lapisan tipis dan halus yang membuat mangsa mereka sulit melarikan diri dan terperangkap.

Kantong semar sering tampak dalam brosur turis sebagai simbol dari keragaman spesies di Gunung Kinabalu, tetapi di berbagai pasar di Kota Kinabalu dan wilayah Borneo di Malaysia, kantong semar menjadi bagian dari budaya kuliner yang kaya dari suku asli di sana.

Dr Rachel Schwallier, dosen di Departemen Biologi, Grand Valley State University di Michigan, berada di Borneo pada tahun 2012-2013 untuk melakukan penelitian tentang evolusi dan keragaman kantong semar.

Saat mendengar bahwa kantong semar digunakan dalam masakan lokal, dia memperluas risetnya dan berkunjung kembali untuk melihat budaya dan warisan kuliner dari kantong semar.

Lemang periuk kera diakui sebagai makanan warisan Malaysia yang berbeda dengan metode memasak nasi ketan lainnya karena menggunaan kantong semar.

Hak atas foto Getty Images
Image caption Gunung Kinabalu menyimpan banyak keanekaragaman hayati.

Untuk membuat kudapan ini, kantong semar dibersihkan dan diisi nasi, disusun tegak lurus ke dalam kukusan, disiram santan dan kemudian dikukus selama satu jam. Dimasak dengan cara ini, nasi ketan yang kenyal alami akan beraroma kelapa yang enak.

Seseorang yang diwawancarai oleh Schwallier menggambarkan pengalaman memakan kudapan ini ketika menempuh dataran tinggi di Kalimantan.

Bentang alam menyediakan segala yang dibutuhkan: pemandunya yang berasal dari suku lokal mengumpulkan kantong semar, melapisinya dengan lumpur dan meletakkannya di atas bara api agar nasinya matang.

"Saya cukup beruntung untuk memasak kudapan ini bersama keluarga lokal di Borneo, dan nampaknya rasa yang kaya itu berasal dari santan kelapa yang meresap ke nasi sehingga membuatnya manis dan penuh rasa," kata Schwallier.

Punya nilai konservasi

Di kios-kios pasar di Kota Kinabalu dan di seluruh Kalimantan, para vendor membuat versi mereka sendiri: sedikit daun pandan menambah aroma, sementara bumbu kacang atau udang fermentasi menciptakan rasa yang kuat.

Kantong semar yang berbentuk seperti labu sangat ideal untuk menampung nasi, meskipun tanaman kantong semar rawa biasa juga bisa jadi pembungkus. #

Salah satu cara untuk membedakan satu dari yang lain adalah bahwa lemang periuk kera yang dibuat dengan tanaman kantong semar rawa bisa dimakan sekali hap karena tanaman tersebut punya kantong yang lebih lentur dan mudah dikunyah.

Sementara kantong semar yang berbentuk labu teksturnya jauh lebih mirip kardus - sulit dikunyah tapi mudah untuk mengelupas nasinya.

Terkadang, memasak tanaman - seperti bunga asli Myanmar dan Thailand, Curcuma candida - dibatasi untuk melestarikannya. Tapi kantong semar tidak berisiko punah.

Hanya kantong semar tertentu yang diambil dari tanaman: kantongnya harus kecil (tapi tidak terlalu kecil) dan tidak terlalu tua atau rapuh. Sisa tanaman dibiarkan tumbuh di hutan, sehingga terus menghasilkan lebih banyak kantong semar.

"Saya benar-benar tidak dapat mengambil satu langkah pun tanpa menginjak kantong semar di bawah kaki saya - beginilah banyaknya kantong semar seakan mengkarpeti lantai hutan," kata Schwallier ketika diajak ke hutan oleh keluarga lokal yang hendak memanen tanaman itu di Kampung Duyoh, Borneo sebelah barat daya.

Schwallier meyakini ada nilai konservasi dalam konsumsi kantong semar. "Melestarikan makanan tradisional bisa meningkatkan hubungan masyarakat dengan lingkungan alam dan praktik keberlangsungan hutan," katanya.

"Mempertahankan hubungan ini ... memperkuat nilai hutan lokal, yang memperkuat kemungkinan masyarakat akan menyerukan pelestarian hutan mereka saat terancam oleh pendorong deforestasi."

Sejalan dengan pendekatan konservasi yang berusaha mempertahankan penggunaan tanaman tradisional, pengunjung dapat menikmati rasa kudapan ini - yang menceritakan sebuah kisah tentang orang-orang yang tinggal di beberapa hutan terkaya di dunia.

Dan bagi para pejalan kaki yang turun ke pasar di Kota Kinabalu, gigitan lemang periuk kera yang sederhana adalah pengingat perjalanan mereka melalui hutan dan tanaman eksotis yang tinggal di dalamnya.

Anda bisa membaca tulisan ini dalam bahasa Inggris berjudul Where people eat carnivorous plantsatau artikel lain diBBC Travel.

Berita terkait