Pulau surgawi dengan masa lalu yang keji di Thailand

Tarutao adalah salah satu pulau terindah di Thailand, tapi dulunya pulau dengan pantai pasir putih dan hutan rimbun itu merupakan rumah bagi para narapidana.

Sebuah surga terpencil

Hak atas foto Dave Stamboulis

Pulau Tarutao mungkin satu dari surga terakhir di Asia Tenggara, dengan pantai-pantainya yang tak berpenghuni dan hutan-hutannya yang penuh dengan satwa. Namun, pulau terpencil di Thailand yang terletak di bagian selatan Laut Andaman ini lebih dikenal dengan masa lalunya yang suram.

Kawasan perawan di Thailand yang terakhir

Hak atas foto Dave Stamboulis

Taman Nasional Laut Ko Tarutao di Thailand terdiri dari beberapa pulau paling indah di negara tersebut. Walaupun tidak banyak pulau di Thailand yang berhasil lolos dari 'pedang' para pengembang, 51 pulau yang membentuk taman nasional tersebut masih mempertahankan pantai berpasir putih yang indah, teluk zamrud, dan dedaunan tropis yang hijau. Tarutao, pulau terbesar di taman tersebut, pun tak berbeda.

Penjara di pulau tropis

Hak atas foto Dave Stamboulis

Namun Tarutao tidak selalu terkait dengan keindahan. Pada akhir 1930-an, Lembaga Pemasyarakatan Thailand mulai menyurvei pulau-pulau di negara itu sebagai kawasan untuk penghukuman guna meringankan kapasitas penjara-penjara di Bangkok yang penuh sesak. Mereka akhirnya memilih Pulau Tarutao.

Terletak 40 km di lepas pantai barat daya Thailand, keterpencilan Pulau Tarutao membuat para narapidana di sana susah untuk melarikan diri.

Tahun 1939, pulau tersebut dihuni oleh beberapa ribu penjahat bengis dan tahanan politik. Mereka hidup di pondok-pondok kecil yang tersebar di hutan, dipenjara oleh laut di sekelilingnya.

Tempat bagi pelanggar hukum

Hak atas foto Dave Stamboulis

Ketika Perang Dunia II mencapai Asia Tenggara pada 1941 dengan invasi Jepang di Thailand, Pulau Tarutao berhenti menerima pasokan makanan dan obat-obatan dari Thailand daratan. Para narapidana dan sipir menjadi bajak laut untuk bertahan hidup.

Selat Malaka menjadi surga tanpa hukum. Kapal-kapal yang membawa barang-barang ke Penang, Malaysia -saat itu merupakan daerah jajahan Inggris- diserang dan dirampok.

Pada tahun 1946, situasi menjadi sangat buruk hingga militer Inggris pun dilibatkan dengan mengumpulkan semua orang di pulau penjara tersebut dan bekerja sama dengan pemerintah Thailand untuk memulihkan ketertiban. Tahun 1948, Tarutao diabaikan sama sekali hingga dibangunnya Taman Nasional Laut Ko Tarutao pada 1974.

Sisa-sisa masa lalu yang suram

Hak atas foto Dave Stamboulis

Walaupun terjadi perambahan hutan, sisa-sisa kehidupan para narapidana (seperti yang tampak pada foto-foto) masih terukir di pulau ini. Lokasi penjara di Teluk Talo Wao di tepi timur pulau sekarang kini bisa dicapai dengan jalan beraspal, dan sepeda sewaan menjadi pilihan berkendara bagi para pengunjung.

Selain itu, sebuah museum kecil dan pusat informasi pengunjung yang merinci sejarah Tarutao dibangun di Talo Wao.

Namun, sebagian besar kawasan pulau tersebut masih tak tersentuh. Pengembangan komersial dilarang sini kecuali beberapa bungalo dan lokasi perkemahan. Kelembaban dan hutan lebat mencegah banyak pengunjung pergi ke sana kecuali mereka yang tahan banting.

Tempat 'pelarian' yang indah

Hak atas foto Dave Stamboulis

Bagi mereka yang datang untuk menjelajahi Tarutao mendapat 'hadiah' dengan jalur hutan yang bebas macet, pasir pantai yang elok tanpa bekas jejak-jejak kaki, dan perkemahan kosong yang siap untuk satu tenda.

Silahkan membaca artikel aslinya dalam Bahasa Inggris, Thailand's nefarious island paradise dan tulisan-tulisan lain tentang perjalanan di BBC Travel.

Berita terkait